Saya baru saja menonton pertunjukkan teater berjudul OBASUTE di IKJ. Obasute adalah legenda di masyarakat Jepang tentang sebuah adat yang mengharuskan meninggalkan Baba(nenek-nenek yang sudah sangat tua) di gunung untuk menghemat persediaan makanan.
Malam itu pertunjukkannya begitu indah. Akting para lakon sungguh memukau meskipun beberapa aktor berasal dari Jepang yang mengharuskan berbicaranya mesti dengan bahasa Jepang pula. Namun, kami para penonton masih dapat mengerti jalannya cerita lewat bantuan Voice Over (suara latar) berbahasa Indonesia untuk menjelaskan isi cerita. Dalam beberapa adegan, tubuh sayapun bergetar, terlena oleh backsound musik yang menghipnotis diri.
Hingga tiba adegan pada suatu ketika, sang anak harus melepaskan orang tuanya (Baba) di gunung sendirian. Setelah sebelumnya sang anak harus menggendong Baba --yang sudah teramat tua itu -- di balik punggungnya, menuju ke atas gunung. Seketika mereka sudah sampai, sang anak tetap tidak rela meninggalkan Baba sendiri di sana. Baba sudah berkeyakinan kuat bahwa dia harus pergi meninggalkan keluarga dan hidup menyendiri. Sang anakpun tidak menyerah, dia terus menerus menceritakan momen indah mereka berdua semasa kanak-kanak, lalu terus menerus bercerita kisah lucu juga menari hanya untuk membuat si Baba tersenyum. Karena alkisah menceritakan bahwa jika si anak mampu membuat Babanya tersenyum atau tertawa, maka Baba berhak kembali tinggal bersama anaknya di rumah.
Ketika si anak ingin menarik Baba, si Baba langsung memerintahkan anaknya untuk berhenti dan segera ia membuat garis batas di tanah, dengan tongkatnya.
"Baba...Tolong aku, baba...Maafkan aku jika selama ini aku tidak pernah menjadi anak yang sebagaimana kau harapkan" teriak si anak memohon, sambil menangis. Pada momen ini sungguh bulu kuduk ini merinding mendengar dan menyaksikannya.
Baba hanya setengah duduk lemas, sembari menundukkan kepalanya. Tak sampai hatinya melihat anaknya menangis seperti itu. Dia hanya mampu diam.
"Aku mohooonnnn Baba...Ubahlah keputusanmu ini!!! aku mohon..." teriakan sang anak menggelegar seisi ruangan. Tidak ada tanggapan dari Baba, si anakpun akhirnya luluh dan putus asa. Ketika ia sudah terduduk lemas, Baba memberinya sebuah permen. Lalu, keduanya tersenyum bahagia.
"Baiklah, Baba...Kini aku rela melepasmu...Selamat tinggal Baba" lirih sang anak sebelum pergi meninggalkan Babanya. Sang Baba lalu memperhatikan anaknya pergi jauh, seperti ada seonggok penyesalan yang luar biasa besarnya menyelimuti hatinya. Sakit ia rasakan hingga tangis air mata keluar segera.
Iringan musik latarnya menambah haru suasana dalam adegan itu. Pemandangan itu terasa menyesakkan dan menusuk. Hingga air mata saya keluar tiba-tiba. Entah mengapa saya begitu emosionalnya melihat itu. Yang jelas, saat itu saya membayangkan peristiwa itu terjadi dalam hidup saya dalam suatu dimensi dan arti yang lain.
Dimensi itu berupa: ketika mungkin suatu saat nanti saya yang meninggalkan orangtua saya, ataupun sebaliknya, mereka yang meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Sama seperti yang si anak dalam lakon itu rasakan, bahwa saya --sampai saat ini-- rasanya belum pernah menjadi anak yang diharapkan oleh orang tua saya.
Sebelum semuanya tiba, sebelum semuanya telat, jelas sekali bahwa saya ingin membahagiakan mereka. Karena mereka berhak mendapatkannya...berhak atas kebahagiaan dalam hidup, sebelum lenyap dan lepas nilai sebuah nafas...
sadis nh.. gw masukin majalah yaah.. baca blogspot gw jg doong.. :D
BalasHapusHahaha...ada lo neh kupat,,ga ngomong2 lo jd penggemar setia gw...ahahhaa
BalasHapusiye pasti gw baca lah li...
BalasHapus