/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 23 Juli 2010

Hamka Van Der Wijck

Saya turutkan permintaan itu, saya akan pulang. Tetapi percayalah Zainudin bahwa saya pulang ke kampungku,hanya dua yang kunantikan : pertama kedatanganmu kembali, menurut janjiku yang bermula, yaitu akan menunggumu,biar berbilang tahun, biar berganti musim. Dan yang kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya bergantung di awang-awang

Agak terenyuh saya sekejap setelah membaca salah satu penggalan surat terakhir Hayati untuk Zainudin, di atas.

Mungkin terkesan cengeng, namun tidak bagi siapapun yang membaca utuh keseluruhan roman "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka ini. Si penulis berhasil mengombang-ambingkan emosi laki-laki saya dalam cerita ini. Kemenangan yang luar biasa hebat bisa menjadi hambar bila masih ada luka yang menganga lebar yang didapat di hari lampau.

Zainudin benar-benar sudah benci dan muak terhadap Hayati. Namun pada akhirnya iapun menyesal karena perasaan benci itu hanya bergerumul di emosinya saja, tidak di hatinya yang terdalam. Sesal yang teramat sangat dideritanya kemudian, dan hingga saatnya itu datang, Zainudin merasa menjadi orang yang paling hina sedunia. Karena ia tak mampu memberikan maaf, sedangkan tuhannya, ALLAH SWT selalu mampu memberikan itu pada setiap umatNya.

Juga, dalam roman ini ada beberapa quote Hamka yang berhubungan dengan wanita yang menarik buat saya:

"Orang yang sampai gugur rambut di kepala mencari uang kian kemari, hanyalah semata-mata lantaran diperintah oleh senyuman perempuan"


"Tetapi itulah perempuan, dia kerap kali sampai membunuh orang dengan perbuatannya yang tidak disengaja"

"Ya, demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain walaupun bagaimana besarnya"


Awalnya,agak terkejut saya membaca kutipan-kutipan, yang menurut saya cukup sinis dan sangat menohok itu. Entah mengapa Hamka begitu luwes melepas pemikiran yang sebetulnya sederhana itu ,hingga saya menjadi tersadar bahwa pandangan seperti itu benar adanya. Saya dapat melihat hal tersebut di hari-hari saya hingga saat ini.

Setelah membaca habis "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck", terbesit kesimpulan seperti ini: Mungkin saja Hamka pernah mengalami kisah cinta yang kurang beruntung di hari mudanya, pula bahkan "luka" yang dideritanya itu pernah sebegitu parah hingga lahirnya roman mengagumkan ini. Tokoh Zainudin yang seorang pujangga sungguh lekat dan kuat merefleksikan bahwa ia sebenarnya adalah Hamka sendiri.

Meminjam perkataan teman yang mengatakan bahwa cerita yang baik selalu lahir dari penciptanya memposisikan diri sebagai pembaca. Dan benar, sebagai pembaca, saya menilai Hamka sangat berhasil mempermainkan laju emosi saya pada cerita ini. Ceritanya begitu tajam dan mengalir seolah semuanya itu terhampar di depan mata kita: Percintaan dua anak manusia yang berujung nyata menyakitkan.

Di sisi lain saya juga beranggapan bahwa cerita yang bagus akan muncul dari pencerita yang berusaha menelusuri dalam-dalam tokoh cerita,menempatkan diri masuk ke dalam cerita...Atau bahkan si penulis pernah mengalami kejadian seperti yang ia ceritakan, sehingga tertanam pada kisah itu sebuah nyawa yang kuat.

Ya, saya yakin anggapan saya itu tidak meleset,setidaknya tidak terlalu.

Karena, siapa yang berani menjamin bahwa seorang ulama seperti Hamka tidak pernah patah hati??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar