
Akhir-akhir ini kita semua sering mendengar pemberitaan yang cenderung negatif mengenai kepolisian Indonesia. Berbagai isu bertubi-tubi menyerang hingga menyebabkan citra buruk menyemat di tubuh salah satu institusi negara itu . Tidak sedikit masyarakat yang mulai membenci pihak kepolisian. Tidak perlulah saya membahas kasus penyuapan dan sebagainya seperti yang sudah terpampang di berbagai media tanah air, karena itu cukup rumit untuk saya pahami.
Saya lebih tertarik mengambil sudut pandang masyarakat mengenai "pertarungan"nya dengan para polisi di lalu lintas. Keluhan tentang kinerja polantas sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat, khususnya di kota besar macam Jakarta ini. Mari saya kerucutkan menjadi kasus tilang.
Di beberapa kawasan di Jakarta, sering terjadi penilangan yang dianggap tidak beralasan. Seolah para polisi itu mengantongi segudang cara untuk mencari kesalahan para pengguna kendaraan. Jujur saya pun juga turut resah jika faktanya sudah seperti ini. Namun, kali ini saya punya cerita yang mungkin bisa mengurangi citra buruk Polisi, setidaknya membimbing hati agar kita mampu jernih berpikir bahwa tidak semua polisi itu ber-cap "Kotor".
Maghrib itu saya dan beberapa teman saya sudah dalam perjalanan menuju tempat Futsal, di daerah Kalimalang. Agak tergesa dan ngebut saya menyetir mobil, karena kami sudah telat dari jadwal main kami. Sungguh tidak beruntung saya tidak dapat menemukan jalur putar balik di sana, jadinya saya terpaksa mengambil jalan yang agak jauh. Namun, tetap tidak terlihat jalur putar balik hingga saya melihat sebuah bajaj berputar arah secara ilegal di lampu merah, di ujung jalan --dekat bantaran kalimalang. Saya yang saat itu ingin cepat-cepat tiba di tempat futsal, sama sekali tidak berpikir panjang.
Langsung saja saya mengikuti "jejak" bajaj tadi dan PRRIITTTTTT !!!!!
Di trotoar, dekat emperan toko yang sudah tutup, sudah berdiri seorang polisi yang marah sedang meniup peluitnya kencang. Sungguh saya tidak melihatnya sebelumnya. Mungkin karena mata saya yang kurang awas memerhatikan keadaan sekitar, jika malam tiba. Sudah sangat jelas, saya yang melanggar peraturan maka saya yang bersalah.
" Aduh, gimana nih...Masya Allah...Ya Allah..Ya Allah " seru saya panik karena memang baru kali inilah saya kena tilang. It was the first time.
" Tam, please ya lo temenin gue,, sumpah gue ngeri banget neh " jelas saya yang sangat membutuhkan partner untuk menghadapi ini.
Lalu, saya dan Tama langsung digiring masuk ke posko polisi.
Singkatnya, seperti biasa polisi itu segera mengecek SIM dan STNK saya, lalu selanjutnya meminta saya untuk menjalani sidang. Sayangnya, kalau tidak salah ingat, saya harus menjalani ujian kampus di hari sidang yang sudah ia tentukan itu. Saya benar-benar panik, dan saya yakin sekali wajah saya sudah sangat pucat saat itu. Kehadiran Tama tidak terlalu membantu dalam me"lobi", namun cukuplah menenangkan hati ini sedikit, bahwa ada seorang teman yang mendampingi saya.
Polisi itu masih terbilang muda, dan hal itulah yang membuat diri ini semakin cemas karena biasanya yang muda itu darahnya masih panas dan menggebu-gebu dalam bersikap. Dia akhirnya meminta pengganti berupa sejumlah uang --saya lupa berapa nominalnya--, namun yang diminta tidak cocok dengan yang ada di dompet saya.
"Pak, beneran deh uang saya ya cuma segini aja, RP.15000. Uang ini buat nanti patungan main futsal" kata saya jujur,sembari menunjukkan isi dompet saya padanya. Tama pun juga membawa uang yang pas untuk patungan futsal.
"Aduh...kamu ini...bandel sekali sih kamu !!! Kamu tau kan kalau kamu salah dan melanggar tadi??" kata Polisi itu tegas.
"Iya..iya pak saya ngaku salah banget. Tadi saya bener-bener nggak kepikiran sama sekali, karena buru-buru jadinya saya ikutin aja bajaj itu. Maafin saya pak..."
Mungkin karena iba melihat rupa saya yang sudah amat sangat memelas ditambah sikap tulus minta maaf atas kesalahan yang saya buat, akhirnya polisi muda itu melunak.
"Ya sudah, kali ini nggak apa-apa...Cuma saya nggak mau tanggung jawab ya kalau hal ini terulang lagi"
"Iya pak, pasti...InsyaAllah lain kali saya akan lebih hati-hati" ketakutan saya perlahan mereda.
Polisi muda itupun lalu mengantarkan kami kembali ke mobil. "Oh iya, kamu pada main futsalnya di mana?"
"Itu lho, pak, nggak jauh dari sini, terus aja dan tempatnya di sisi kiri jalan" kata gue.
"Saya sama teman-teman juga sering lho main futsal, cuma kayaknya bukan di tempat kalian itu, deh" kata Polisi itu sangat Friendly.
Karena keramahan plus keberadaan satu fakta bahwa sepakbola adalah alat pemersatu, sayapun jadi leluasa untuk berbasa-basi. "Wah, boleh donk kalau kapan-kapan kita sparring, pak "
Polisi itupun mengangguk setuju sembari tersenyum, ketika kemudian saya meralat tawaran saya itu. "Eh, nggak jadi deh, pak. Ntar kaki saya bisa patah adu kaki lawan bapak-bapak polisi, hehehehe. Yaudah, terima kasih ya pak, saya jalan dulu", sebelum berlalu saya sempat menyalami tangan polisi baik hati itu.
Pengalaman itu sampai kini masih kuat terekam di kepala. Ketika saya melihat berbagai pemberitaan maupun gambaran buruk mengenai polisi --khususnya yang beroperasi di jalanan-- saya selalu mencoba berhenti memaki, laluu membuka lagi ingatan itu. Sehingga saya sadar bahwa Polisi itu masihlah berwujud manusia. Di samping ada yang menyalahgunakan wewenang, masih banyak pula yang mau menjaga dan bertanggungjawab penuh atas profesinya.
Ke depannya, saya selalu mengharapkan keberadaan polisi tidak lagi meresahkan bahkan menakuti masyarakat, karena sejatinya mereka mengemban tugas yang teramat mulia yaitu melayani masyarakat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar