/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}
Tampilkan postingan dengan label MY POINT OF VIEW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY POINT OF VIEW. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2013

ARSENAL, GURUH GIPSY DAN NASIONALISME


ARSENAL, GURUH GIPSY DAN NASIONALISME


Sudah cukup lama saya tidak singgah di blog tercinta ini. Entah kenapa belakangan ini agak susah mengumpulkan niat dan mood untuk MEMULAI menulis. Saya mencoba mengambil kesimpulan: Mungkin disebabkan karena rutinitas harian yang menjemukan. Kerja dan Kuliah.

Tulisan yang akan saya tulis ini padahal sudah terjadi sekitar sebulan yang lalu, lho! Dan saya baru “berkesempatan” menulisnya sekarang. Ceritanya seperti ini..

Saya sebagai seorang Gooner alias fans Arsenal cukup beruntung bisa kedatangan tim asuhan Arsene Wenger itu ke Jakarta, Indonesia. Seorang saudara mengatakan kepada saya, “Wah, kamu beruntung banget ya, Ren. Belum tentu kalau suatu saat kamu ke Inggris bisa melihat langsung Arsenal. Ehh, malah sekarang mereka yang datang ke Jakarta dan samperin kamu.” Ya, saya mengamini itu.

Sekitar 3 bulan sebelum kick off  di Gelora Bung Karno, saya sudah membeli tiket pre-sale nya melalui komunitas fans Arsenal regional Jakarta. Sekedar jaga-jaga takut kehabisan dan harganya yang lebih miring.

Dan ternyata menjelang hari H saya mendapatkan durian runtuh. Di tempat saya bekerja sekarang ada salah satu klien, yang kebetulan fanpagenya saya pegang yakni beIN SPORT, melayangkan kepada kami untuk liputan di meet and greet bersama pemain Arsenal. Alhamdulillah, rejeki bulan Ramadhan sebut saya dalam hati. Namun, jujur saya tidak mau terlalu berharap banyak sebab dari beIN SPORT sendiri hanya menjatahkan 2 orang saja untuk meliput yang artinya bisa saja bukan saya yang diutus.

Namun, pada keesokan hari kepastiannya sudah jelas: Randy Angga Islamy berangkat ke hotel Keraton Indonesia, tempat di mana para pemain Arsenal menginap!

Kantor kami memang menawarkan aplikasi fanpage berupa Lucky Draw untuk meet and greet dengan pemain Arsenal. Gosipnya, yang akan kami temui adalah Olivier Giroud dan Theo Walcott. Namun, saya tidak terlalu peduli siapa pemainnya. Yang terpenting adalah saya bisa bertatap wajah langsung dengan para punggawa Arsenal. It’s great, it’s a dream come true for me. Terima kasih, Ya Allah!


HOTEL KERATON



Pagi itu saya sudah bersama mas Mike dan dua orang pemenang Lucky Draw di lobi Plaza Indonesia, untuk kemudian menuju ke hotel Keraton. Di sana sudah menunggu beberapa fans Arsenal, tidak begitu banyak ,sehingga pengamanannya meskipun cukup ketat namun berjalan dengan hangat dan bersahabat.

Wajah-wajah sumringah para Gooner dan Goonerettes menjadi pemandangan yang menyenangkan sehingga saya memotret mereka dengan kamera yang sengaja sudah saya persiapkan. Di sana saya juga berkenalan dengan seorang dari agency yang kebetulan sama seperti saya, merupakan seorang Gooner. Ya, kami adalah orang-orang beruntung dan terpilih! Hehehe..

Kami menunggu di lapangan bulu tangkis Hotel Keraton yang sudah dipersiapkan juga tenis meja. Tidak berapa lama kemudian seorang official Arsenal berseru, “Please Welcome, Wojceich Szcsezsny!” Lalu datanglah seorang kiper muda yang handal, bertubuh tinggi besar. Tak pelak, diri yang terkesima ini langsung menjepret kamera dengan jumlah yang banyak. Cezny, nama panggilan Wojceich, lalu menyalami kami satu persatu yang segera mengerubuti dan mengelilinginya. Dia begitu tinggi sehingga kepala saya harus mendongak ke atas. Tangannya pun besar, khas seorang kiper.

Selang semenit, Alex Oxlade Chamberlain datang menyusul! Wow, tubuhnya tak sekecil seperti yang terlihat di TV. Badannya kekar keras dan tingginya pun melampaui saya beberapa centimeter.

Sama seperti Cezny, Chambo, nama panggilan Chamberlain, menyapa dan menyalami kami satu persatu dengan ramah.

Kemudian mereka berdua langsung digiring oleh panitia untuk bermain tenis meja melawan fans Arsenal yang terpilih. Dan itu bukan saya tentunya. Padahal saya cukup mahir bermain olahraga ini. Serius.

Saya memang sudah tahu bahwa pemain-pemain Arsenal jago bermain tenis meja. Saya sudah pernah melihatnya di Youtube, pemain seperti Chambo dan Walcott dikenal handal main bola pingpong. Dan memang, itu terbukti di hari ini ketika Cezny dan Chambo apik bermain pingpong dengan teknik tinggi.

Susunan acara meet and greetnya terbilang kurang rapi dan cenderung random. Sehingga kami pun mencuri-curi kesempatan untuk berfoto atau meminta tanda tangan Cezny ketika Chambo sedang bermain tenis meja. Begitu juga sebaliknya ketika mereka secara bergantian bermain tenis meja. Ya, Alhamdulillah saya bisa berfoto bareng dengan keduanya!

Tak lama kemudian, acara meet and greet pun usai. Chambo dan Cezny segera ditarik untuk hadir di acara lain. Ya, mereka mesti datang ke acara music pagi yang terkenal itu, lho!



SESI LATIHAN ARSENAL DI GBK

Malamnya, setelah berbuka puasa, saya langsung pergi ke Gelora Bung Karno untuk menyaksikan para pemain Arsenal latihan. Hujan yang cukup deras pun tidak menjadi halangan bagi saya untuk menonton dan bagi para pemain Arsenal untuk terus berlatih.

Di sini, baru pertama kali saya melihat langsung bagaimana cara tim professional berlatih. Dari metode dan uji fisiknya sungguh memukau yang mana mereka, di tengah guyuran hujan, berlatih selama hampir 2 jam. Sesekali terdengar chants-chants beberapa pemain Arsenal dari para Gooners yang datang.

“Sagna.. Sagna.. Bacary Sagna! He’s a dodgy hair but we don’t care, Bacary Sagna!”

Untuk chants Sagna ini cukup lucu. Saya menangkap Lukas Podolski, saat chants dinyanyikan, ikut bernyanyi dan memain-mainkan pipi Bacary Sagna dengan gemas. Ya, Lukas Podolski memang termasuk “badut” di skuad Arsenal. Kehadirannya disukai oleh semua awak Arsenal karena sikapnya yang friendly dan bersahabat.

Berulang kali saya merekam suasana latihan dengan handphone. Momen ini sungguh harus diabadikan dan saya cukup menyesal tidak membawa kamera SLR karena takut tidak diperbolehkan dibawa masuk.

Diri ini pun “menyombongkan diri” saat beberapa fans meneriakkan nama Cezny yang berlatih sendiri (karena kiper memang berlatih terpisah). Dalam hati, “Hehehe kalian pasti capek kan teriakin nama Cezny. Gue enak dong bisa langsung ketemu dia dan bahkan Chamberlain juga! Hehehe..”



KICK OFF at GELORA BUNG KARNO: INDONESIA XI vs ARSENAL



Minggu 14 Juli 2013 menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesia khususnya para Gooners dan saya. Arsenal bermain di bumi pertiwi tercinta untuk kedua kalinya setelah David O’leary dan skuad Gunners sempat bertandang ke Indonesia pada dua decade yang lalu. Hari ini akan kami, para Gooners, kenang dan akan diceritakan kepada anak cucu kami bahwa tim terhebat pernah bermain melawan timnas Indonesia.

Sengaja saya buka puasa di rumah dulu sebelum pergi ke GBK. Di sini, sudah datang ribuan orang penggemar Indonesia dan Arsenal tentunya dengan semangat yang meluap.

Namun, hal ini agak ternoda saat ada sedikit kericuhan di pintu masuk. Rupanya, satu pintu masuk lainnya tidak dibuka sehingga massa yang harusnya terbagi dua mesti menjadi satu. Alhasil, saya kami harus berhimpitan masuk ke dalam stadion. Emosi meluap, cemoohan dan umpatan kotor pun pecah mengarah panitia. Dalam kondisi ini, saya hanya kasihan kepada Goonerettes yang harus bersesakan terkepung oleh badan-badan besar penonton laki-laki.

Di tribun, saya Alhamdulillah dapat spot duduk yang lumayan oke. Chants-chants Arsenal pun terdengar megah sebelum pertandingan. Saya pun ikut berteriak menyanyikan chants yang hanya beberapa saja dihapal.

Pukul 20.45 WIB peluit kick off pun ditiup. Agak sedikit kecewa karena tidak ada nama Jack Wilshere di list pemain Arsenal. Belakangan diinformasikan bahwa ia terkena flu. Namun, bisa jadi memang ia sengaja disimpan karena Arsenal masih harus melawat ke Vietnam dan Jepang dalam laga tur pra musim Asia ini. Begitu juga Ryo Miyaichi yang terkena cedera ringan saat latihan kemarin, sehingga tidak dapat bermain hari ini.

Pemain-pemain muda Arsenal pun dimainkan di sini. Ada nama Chuba Akpom, Thomas Eitsfeld, Kris Ollson, Gideon Zelalem, Serge Gnabri dan Ignasi Miquel. Dari nama-nama ini, saya mendukung Serge Gnabri dan Gideon Zelalem untuk masuk ke skuad utama musim ini. Gnabry memiliki tipikal bermain seperti Chamberlain yang memiliki footwork baik dan kecepatan dribble memukau. Sedangkan Zelalem, meskipun bertubuh kurus namun visinya begitu luar biasa sebagai seorang gelandang tengah. Dia pun kemudian disebut-sebut memiliki kemiripan bermain seperti eks gelandang Gunners, Cesc Fabregas. Dan memang, selama pra musim di Asia ini Zelalem menjadi “bocah” Arsenal yang paling bersinar.

Pertandingan berjalan seru dan cenderung berat sebelah, hingga akhirnya skor akhir menunjukkan 0-7 untuk Arsenal. Gol dicetak oleh Walcott, Akpom, Giroud (2 gol), Podolski, Ollson dan Eitsfield.

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyaksikan Arsenal secara langsung. Ini seperti “naik haji” bagi saya dan saya boleh berbangga untuk resmi melepas embel-embel “fans karbitan” hari ini. Sebab, selama ini saya hanya bisa membeli jersey KW Thailand alih-alih jersey original yang official. Nah, sekarang dari tiket yang saya beli itu artinya saya sudah memberi pemasukan langsung untuk Arsenal, yang dalam candaan saya bisa untuk tambahan pembelian Wayne Rooney atau Luis Suarez.

Setidaknya, saya tidak seperti fans klub sebelah. Yang selalu mengaku sebagai fans die hard tapi ketika tim mereka batal hadir, langsung mengamuk meminta uang tiketnya dikembalikan. Ya, kalau memang mengaku fans sejati mbo’ ya diikhlaskan saja uangnya. Is that what you called DIE HARD FANS, ha? Hehehe…

Beruntung saya bisa melihat langsung bagaimana besarnya tubuh Giroud yang membuatnya, tidak jauh seperti yang saya lihat di TV, terlihat agak lambat dan berat namun memiliki power, keeping ball juga positioning yang keren. Walcott dengan kecepatan larinya yang super, meskipun di pertandingan ini tidak terlalu ia perihatkan. Chamberlain yang di sini ditunjuk sebagai playmaker menggantikan posisi Cazorla. Kemampuan dribblingnya memang mengagumkan.

Menuju ke tengah, saya melihat begitu pesatnya perkembangan Aaron Ramsey sebagai penyeimbang tim dengan stamina yang di atas rata-rata. Lalu semakin sentralnya peran Mikel Arteta sebagai seorang pemimpin yang sanggup memberikan ketenangan kepada para pemain di tengah lapangan. Juga Tomas Rosicky yang di umurnya yang sudah tidak muda lagi tetap bisa memberikan kontribusi maksimal berupa dribbling dan visi bermain yang apik.

Mundur ke belakang. Per Mertesacker memang benar-benar seakan lamban dan melayang. Tubuhnya begitu tinggi namun dengan pengalamannya dapat membaca permainan dengan cukup baik di belakang. Laurent Koscielny merupakan sosok petarung sejati yang rela berjibaku demi mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Lalu ada Kierran Gibbs yang semakin membuat saya yakin bahwa dia bisa menjadi the next Ashley Cole di Arsenal. Juga Bacary Sagna, yang menurut feeling saya potensial menjadi bek tengah di samping menjadi right full back. Mengingatkan saya pada sosok Lilian Thuram, bek dan legenda Prancis dan Juventus. Dan terkahir, Carl Jenkinson yang besar di keluarga Gooners bisa berkembang menjadi pilihan utama bek kanan Arsenal menyaingi Sagna. Karena bagi saya ada satu faktor yang membuat Jenkinson lebih baik dari Sagna: Kemampuan offense dan teknik yang lebih baik.

Dari sisi kiper, Cezny memang tidak bermain di pertandingan ini. Namun, kehadiran Lukas Fabianski membuat saya berpikir bahwa Arsenal tidak terlalu membutuhkan kiper baru semisal Julio Cesar. Karena duo kiper Polandia ini sudah cukup bagus di mistar gawang Arsenal.

Sedangkan untuk Arsene Wenger, saya sama seperti kebanyakan Gooners lainnya yang mendesak ia untuk membeli pemain baru. Kedalam skuad di Arsenal diperlukan bila ingin bisa konsisten di berbagai kompetisi yang diikuti The Gunners. Pemain yang saya harapkan Wenger bawa adalah: Luis Suarez, Ashley Williams dan Maouranne Fellaini. Setidaknya, Wenger harus memboyong tiga pemain bagus di tiga posisi itu: Striker, gelandang jangkar, dan bek tengah untuk memperkuat tim.



GURUH GIPSY

Well, tetap saja, kemenangan 7-0 ini menimbulkan banyak cercaan atau kecurigaan terhadap kami para gooners. Via twitter, status BBM dan banyak lagi, public dan juga ada beberapa teman saya yang mengira gooners kehilangan semangat nasionalismenya. Kurang lebih pernyataan mereka seperti ini:
-          Wah, pada seneng ya Indonesia dibantai Arsenal!
-          Bukannya dukung Indonesia malah dukung tim luar!
-          Sedih ngeliat para penonton seneng pas Arsenal golin gawang Kurnia Meiga
-          Dan banyak sindiran lain yang mengarah ke kami para Gooners

Ironisnya, salah satu kerabat yang sama, yang nyinyir perihal kesadisan Arsenal mengalahkan timnas Indonesia dan mengagungkan (katanya) semangat Nasionalisme, sepekan kemudian malah datang dan mendukung Liverpool (tentu mengenakan jersey Liverpool juga) mengalahkan Indonesia di Gelora Bung Karno. So funny, isn’t it?

Anyway, di sini saya coba meluruskan keadaan. Saya berbicara ini dari sudut pandang saya pribadi, ya. Kami, gooners, bukannya tidak nasionalisme kok. Melainkan hanya menghormati tamu yang kebetulan adalah klub favorit kami. Bukankah bangsa ini sendiri yang menanamkan pada kita nilai-nilai menghargai dan menghormati orang lain dalam hal ini tamu?

Lagipula, hal ini sudah menjadi mimpi kami sejak lama untuk melihat secara langsung permainan Arsenal. Terlebih seperti saya yang belum memiliki kecukupan finansial untuk menonton langsung Arsenal di Inggris tentu kesempatan ini tidak bisa disia-siakan begitu saja.


Jujur, agak aneh bagi saya untuk mendengar seruan NASIONALISME dari mereka yang masih memenuhi playlist Coldplay, Maroon 5, atau Rihanna di mp3 player atau handphone mereka ketimbang mendengarkan lagu Afgan, Noah, Gigi atau Rossa. Gengsi atau kurang keren kalau mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu Indonesia, katanya.

Coba saya tanya, lagu apa yang terakhir kalian dengar dan dendangkan dari smartphone atau laptop kalian?

Pula saya yakin bahwa berita kepastian band legend rock Metallica akan manggung di Jakarta tanggal 25 Agustus 2013, lebih menarik perhatian kalian ketimbang fakta bahwa ada grup band legendaris Indonesia besutan Guruh Soekarno Putra dan gank pegangsaan (Chrisye dan Keenan Nasution) bernama Guruh Gipsy, yang piringan hitam atau vinylnya masih dicari pecinta music luar negeri hingga saat ini.

Jangankan tertarik, saya juga yakin  tidak banyak dari kalian yang tahu bahkan pernah mendengar band bernama Guruh Gipsy ini.

Atau jika kita kembali berbicara sepakbola, pasti kalian lebih tahu nama anak Lionel Messi yakni Thiago ketimbang anaknya Bambang Pamungkas. Sama seperti halnya, ketidaktahuan kalian akan nama istri dari Firman Utina sedangkan kita fasih sekali menyebutkan nama kekasih Cristiano Ronaldo, Irina Shayk.

Ayolah, berat bagi kita yang “sok peduli” ini untuk menyebutkan kata NASIONALISME. Sebab Nasionalisme ini sakral dan tidak sembarangan orang bisa memaknai ini dengan sejati. Dan kita belum cukup modal untuk itu.

Percayalah, kami para Gooners, juga sedih kok saat Boaz gagal menyelesaikan peluang emas di depan gawang Arsenal. Bahkan saya pribadi juga kesal dengan permainan si naturalisasi yang bermain untuk Persib itu, yang menurut saya hanya bisa berlari-lari kecil dan melompat tidak jelas selama pertandingan. Melihat penampilannya yang miris, muncul kerinduan saya akan sosok Widodo C Putro, Rocky Putiray, Budi Sudarsono atau Ilham Jayakusuma di lini depan Garuda.

Dalam hati, saya berharap setidaknya Indonesia mampu mencetak gol dan juga Arsenal seharusnya tidak perlu mencetak gol sebanyak itu. Namun, saya paham mereka adalah pesepakbola professional yang hanya ingin menghibur para fansnya yang sudah membayar mahal untuk itu.

Lagipula, para punggawa Arsenal sudah lama tidak bermain bola imbas dari libur kompetisi. Jadi, setelah lama tidak bermain tentu ada kecenderungan menjadi “gila” saat bertemu kembali dengan bola.  Dalam hal lain pun kalian pasti juga akan merasakan hal ini ketika memiliki passion yang kuat terhadap sesuatu. Benar tidak?

Seperti yang pernah dikatakan oleh legenda hidup sepakbola asal Argentina, Diego Maradona.

“To see the ball, to run after it, makes me the happiest man in the world”

Sahabat, meskipun jersey yang kami kenakan adalah Arsenal dan berlogokan meriam, percayalah kalian semua bisa pastikan lalu belah dada kami. Di sana akan terlihat bahwa jantung kami masih berbentuk gagahnya GARUDA, aliran darah kami masih pekat berwarna MERAH dan tulang kami pun akan tetap selalu berwarna PUTIH.

It’s all just about respecting people and fulfilling our passion on being a GOONERS. That’s it. Case closed.


  










Jumat, 29 Maret 2013

JAKARTA ADA-ADA SAJA, YA!


       Picture by: Gito Barkah


Ya, belum sampai seminggu kemarin ada mayat tergeletak di jembatan penyeberangan persis depan kantor gue. Beruntung gue tidak melihat langsung, berbeda dengan teman gue yang sempat melihat tubuh sang mayat mulai membiru. Tidak jelas disebabkan oleh apa, yang pasti fenomena itu cukup tidak lumrah buat gue sejauh gue tinggal di Jakarta.


Yaudahlah, topik tadi begitu menyeramkan. Bagaimana kalau kita membahas hal yang lebih menyenangkan?


Oke, suatu pagi seperti biasa gue berangkat kerja ke kantor via Transjakarta. Dan seperti biasa (lagi) gue berdiri, tidak dapat tempat duduk. Nah, pointnya di sini, nih. Ketika di depan gue ada seorang ibu dengan 3 anaknya, plus asisten rumah tangga.


Tidak ada yang aneh sampai tiba-tiba salah satu anak, yang gue takar kira-kira berumur 10 tahun, sedang menggenggam Samsung Tablet sambil duduk dengan sikap leyeh-leyeh. Yah, namanya juga anak-anak, mungkin dia belum dapat pelajaran sikap Tenggang Rasa, sehingga tidak mempedulikan gue yang berdiri sambil bersimbah peluh kegerahan. Well, gue tidak sedang mengeluh, ya. Hehehe.


Yang menarik adalah si anak Tab ini mendengarkan lagu dari Tabnya tanpa menggunakan earphone. Volumenya tak tanggung-tanggung: sepertinya mampu terdengar seantero Transjakarta. Lagunya? Jangan ditanya. Tak tanggun-tanggung lagunya Bruno Mars (maaf gue tidak tahu judulnya, yang pasti lagunya baru dan familiar di telinga) dan Laruku (gue juga tidak tahu judulnya). Dan bahasa tubuhnya pun sungguh menggemaskan. Mulutnya bergumam. Ya, dia hafal lirik lagu-lagu tersebut!


Yassalam, gue langsung flashback ke masa lalu saat gue seumuran dia kira-kira apa yang sering gue lakukan. Lalu, muncullah Galaksin, Tak Benteng, Taplak, Gundu alias Kelereng di benak, dan oh, timbullah “diobok-obok”nya Joshua, lagu-lagunya Sherina, (dulu gue naksir berat ini orang), Hits Trio Kwek-kwek yang dulu kadang segan gue nyanyikan karena gue pemalu. Ahh, pada pergi kemana kalian sekarang ini?


Tepat keesokan harinya, gue menemukan lagi cerita lain dari Jakarta. Sepulang kuliah, gue yang baru turun dari kereta langsung bergegas menuju angkot untuk pulang. Angkotnya ngetem seperti biasa (lagi-lagi). Pemandangan yang tidak lumrah, saat gue melihat sang sopir angkot sedang memangku anaknya, yang kira-kira masih 2 tahun, di depan kemudinya. Kesehariannya gue bisa melihat hal yang sama pada keponakan gue, yang dipangku bapaknya di depan setir, untuk jalan-jalan keliling sekedar untuk hiburan.


Yang ini jelas berbeda, si anak “dipaksa” orangtuanya untuk ikut dan menjadi saksi mata sang Ayah mencari nafkah. Tak lama, ibu nya datang. Pasangan suami-istri itu terbilang muda. Gue prediksi si Ayah tak lebih dari 24 tahun. Sedangkan istrinya mungkin sepantaran member JKT48 yang paling muda, deh.


Sepanjang perjalanan, si Ibu  menyuapi anaknya dengan tahu gorengan, yang tadi dibelinya dekat stasiun. Ayahnya merokok. Dan tak lama setelah ia selesai menghembuskan asap beracunnya itu, ia tarik lengan anaknya kembali ke pangkuannya. Sekarang, giliran sang Ibu yang merokok.


Gue sempat sedih waktu lengan anak itu ditarik Ayahnya, yang buat seumuran dia itu termasuk kasar. Keprihatinan gue tidak berhenti sampai di situ. Beberapa kilometer sebelum gue turun, angkot sempat menepi. Rupanya, duet maut Suami-Istri itu membeli sebungkus rokok tambahan serta minuman kopi kemasan. Yang namanya Ibu pasti rasa sayang ke anaknya begitu besar. Namun, masing-masing persona tentu memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan hal tersebut.


Setelah selesai menyuapi goreng tahu ke anaknya, sang Ibu memberikan minuman kopi kemasannya itu untuk si buah hati. Ya, gue ulang dan lengkapi, minuman kopi kemasan yang mungkin harganya cuma Rp 1.000 dengan komposisi kafein yang tinggi! Jaman kuliah D3 dulu, gue sering minum kopi kemasan itu dan itu ampuh buat gue dan kawan-kawan menyelesaikan tugas sampai larut dengan mata melek sempurna.


Gue sih tidak tahu dampak apa yang diterima oleh bayi bila mengonsumsi kafein. Yang jelas itu bukanlah suatu hal yang positif.


Well, gue di sini sama sekali tidak menghakimi atau menyalahkan kedua orang tua tangguh tersebut atas gorengan, tarikan lengan yang kasar, kopi kemasan dan asap rokoknya. Mungkin bagi mereka itu cara terbaik dalam mendidik anaknya untuk lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya Ibu Kota, kelak.


Saat menulis ini, ada satu kalimat yang langsung terngiang di otak gue: INI JAKARTA, BUNG!

Jumat, 16 November 2012

PSMS (Paul, Sheehan, Mike, Sherenian) @RockFest 2012


(photo by: Apri)

Malam itu saya dan 3 teman saya, Apri, Igo, dan Polin sudah berada di lapangan D Senayan untuk nonton RockFest. Jakarta yang baru saja diguyur air hujan nyatanya bersahabat dengan para pencinta music Rock. Lapangan yang dijadikan venue cukup kering dan tidak becek serta langit tidak menunjukkan “niat”nya untuk mengeluarkan hujan lagi.


“Gila, ini keren banget pawang hujannya,” celetuk Igo.

Di sana tampil begitu banyak band-band Rock yang notabene bukan mainstream seperti Besok Bubar Band, Miracle Band, dsb. Bahkan ada juga sebuah band, yang vokalisnya adalah Ringgo Agus Rahman (Artis Ibu kota) yang sayang musiknya tidak dapat saya cerna.

Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, yakni PSMS Band (Jangan heran akronimnya mirip dengan klub Sepakbola Indonesia milik Medan) bermaterikan Mike Portnoy (Drum), Derek Sherenian (Keyboard & Piano), Paul Macalpine, dan Billy Sheehan. Tak heran begitu banyak orang mengenakan kaos bertajuk Dream Theater dan MR BIG (saya pun mengenakan  kaos MR BIG). 

Terbersit di hati, “Wajar ya pakai baju MR BIG, soalnya kan Billy Sheehan masih menjadi salah satu personilnya. Nah, bagaimana dengan Dream Theater? Bukankah Mike Portnoy sudah terdegradasi dan belum lama ini digantikan oleh Mike Mangini?”

Langsung saja saya men-twit, “Menonton aksi Mike Portnoy dengan kaos Dream Theater kondisinya nyaris serupa dengan orang yang menonton aksi Manchester United dengan mengenakan jersey Arsenal bertuliskan nama punggung Van Persie. Susah Move On.”

Setelah gerai hitam diturunkan dari atas panggung, muncullah satu persatu sekelompok yang sudah lama kita nanti-nanti. Dimulai dari Derek Sherenian, disusul oleh Macalpine, lalu muncul sosok yang sudah kita “kenal” yakni Mr Billy Sheehan, dan terakhir Mike Portnoy maju dan menjadi pusat perhatian.

Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah seorang musisi, saya bukanlah pula seorang drummer, melainkan saya hanya penikmat music. Namun, saya mendadak berkeinginan menjadi seorang drummer setelah menikmati music Dream Theater. Tak lain ini karena jasa seorang Portnoy. Performanya menggebuk drum membuat saya menepikan “dogma” lama yang bodohnya sudah terlalu lama melekat di otak saya, bahwa: Drum hanyalah elemen music pelengkap yang tidak terlalu penting.

Saya mensejajarkan skill Portnoy dengan Joe Satriani dalam versi Drum. Ya, dengan ketukan, speed, dan teknik Drumnya, Portnoy seolah bisa membuat alunan drum menjadi sebuah music yang indah tanpa menggunakan instrument lainnya.

PSMS Band hanya menampilkan music instrument tanpa ada vokalis. Di sela-selanya, bergantian mereka melakukan solo. Pertama, Tony Macalpine memamerkan keahliannya bermain gitar, yang bagi saya – orang awam yang tidak tahu menahu tentang teknik music – permainannya ya kurang lebih sama seperti John Petrucci dan Guitar heroes lainnya. Tony terbilang personel yang cukup kalem di sini.

Sedangkan Derek Sherenian lebih terlihat arogansinya. Lucu, sesaat setelah dia melakukan solo yang disusul oleh sorakan decak kagum penonton, dia memilih memasang muka angkuh (tentu dengan gaya bercanda), mengingatkan saya dengan tokoh Severus Snape dalam film Harry Potter.

Beralih ke Billy Sheehan. Ya, dia tidak banyak berubah dibanding saat saya menonton MR BIG di Java Rockinland 2009 lalu. Bergaya flamboyan – namun kali ini rambut kuncir emasnya mengenakan topi hitam-- , masih dengan jeans hitam ketat, dan sepatu ber-heels (gaya pria tentunya) agak tinggi. Dalam solonya dia banyak mengeluarkan jurus-jurus aneh, dengan manuver kedua tangannya yang bergerak dinamis. Saya pernah berkata pada Igo, “Go, dia tuh kayak gitu cuma gaya-gayaan ya?.” Igo menepis itu dengan mengatakan bahwa itu memang skill dia yang pastinya bawa perubahan besar dalam musiknya, dalam artian itu bukan asal-asalan yang nirmakna, melainkan itu ada tekniknya.

Seperti saya sebutkan di awal, bahwa Portnoy menjadi sorotan utama dalam pertunjukan kali ini. Bahkan, Portnoy yang saat maupun pasca menjadi personel Dream Theater memang banyak membentuk band project menjadi juru bicara selama konser. Dia lebih lantang berkali-kali menyapa kami para penonton  dengan beragam lawakannya, di jeda antar lagu. Yang cukup fenomenal adalah saat ia suatu kali menyinggung DREAM THEATER – tentu tanpa menyebutkan nama. Seperti kita ketahui bahwa Portnoy dikeluarkan oleh John Petrucci cs. dari band yang ironisnya juga dibentuk oleh Portnoy sendiri. Derek Sherenian pun juga “alumni” Dream Theater, yang kini posisinya ditempati oleh Jordan Rudes.

Ya, sepertinya band ini memang bentukkannya dia dan secara tak tertulis ini memang bisa disebut sebagai “konser tunggal”nya.

Saya tak hentinya berdecak kagum melihat permainan mereka membawakan lagu-lagu yang hampir seluruhnya saya tidak tahu. Hanya satu lagu yang sangat akrab di telinga saya, yakni saat Billy memainkan reff “To be with you” di tengah-tengah solonya. Selebihnya, belakangan saya ketahui bahwa PSMS juga membawakan lagu “Acid Rain” dan “Hells Kitchen” milik Dream Theater (correct me if I am wrong), secara instrumental.

Konser berjalan hampir 2  jam lamanya hingga mereka ber-4 perlahan meninggalkan panggung. Ahh cerita lama, ini hanyalah sebuah “aksi wajib” yang memancing penonton untuk meneriakkan ENCORE. Tak sampai 2 menit, mereka sudah kembali ke atas panggung. Lagu SHY BOY milik David Lee Roth band (yang juga di-cover oleh MR BIG) dibawakan sebagai lagu pamungkas. Di lagu ini, Billy Sheehan didaulat sebagai vokalis juga dan tentu sang actor utama, Mike Portnoy, ikut bernyanyi.

Selama pertunjukkan konser, mata saya hampir selalu tertuju pada Mike Portnoy. Entah apa yang salah, beberapa kali Portnoy berdiskusi dengan salah satu teknisi drumnya sepanjang lagu dimainkan. Saya ulangi lagi: sepanjang lagu dimainkan! Kepalanya menoleh ke samping untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang teknisi, tanpa harus kehilangan tempo bermusiknya. Ingat, music yang mereka mainkan adalah rock progresif. Tentu dibutuhkan skill yang dahsyat untuk meladeni tempo yang random (kadang cepat, kadang lambat), ketukan aneh, dan banyaknya settingan drum (tidak selumrah yang digunakan para drummer pada umumnya) yang ia gunakan. Portnoy melakukan itu semua dengan tanpa melihat, dan tanpa merusak irama lagu yang sedang dimainkan! Semuanya terlihat dan terdengar tetap perfect!

Saya sempat berpikir kalau Portnoy bukanlah manusia. Sama seperti Lionel Messi dalam kancah persepakbolaan. Ajaib dan di luar nalar manusia!

Maklum, saya menulis ini dengan point of view saya sebagai penikmat music yang tidak mahir bermain music, jadi apa yang disajikan oleh Portnoy dkk. Menjadi salah satu hal paling gila yang  pernah saya lihat, ya secara langsung. Terutama Portnoy, saya tak bosan dan henti mengatakan bahwa ketukan drumnya begitu empuk, cepat, dan mampu “membentuk”  indah suatu lagu itu sendiri. Flashback ke belakang, saya mengaguminya saat ia bersama Paul Gilbert meng-cover lagu  Led Zeppelin – band favorit saya. Yup, Portnoy juga merupakan pengagum berat almarhum John Bonham (Zeppelin's Drummer)

Saya dan teman-teman sempat menerobos masuk ke tenda tempat PSMS beristirahat pasca tampil. Sayang seribu sayang, mereka masih terlalu lama untuk berdiam di dalam tenda. Padahal saya ingin sekali bertemu dengan jarak yang dekat dengan Portnoy cs. saat nantinya mereka menaiki bus untuk menuju hotel. Yang membuat saya penasaran adalah: setinggi apa Mike Portnoy itu? Sepertinya tidak jauh dengan tinggi badan saya. Berbeda dengan Billy Sheehan yang memang cukup jangkung.

Kalau saja besoknya hari libur – bukannya hari Senin – tentu saya akan rela menunggu berjam-jam, bahkan menyusul ke hotel tempat mereka menginap.  Ya sudahlah, pada akhirnya saya hanya berharap bahwa Portnoy bakal menepati janjinya, sesaat sebelum turun panggung, untuk segera kembali datang ke Indonesia suatu hari nanti.

Ya, saya sudah menyaksikan langsung Mike Portnoy, drummer idola saya!

-RG-
16 Nov 2012
                                                                                                             (sumber foto: kapanlagi.com)

Sabtu, 10 November 2012

"Nge-date" Bareng Ibu

Sore ini, akhirnya gue bisa ngajak Ibu untuk makan bareng lagi di luar. Kedengarannya standard banget ya tema tulisan ini. Tapi, setidaknya buat gue ini beda.

Sudah beberapa bulan terakhir gue agak kesulitan menemukan momen yang pas untuk ini. Ibu sudah lama "ngidam" ingin makan Tomyam, dan hampir selalu menagih ini di tiap Minggunya. Hal ini nggak terlepas dari sembuhnya Ibu dari sakit yang membatasinya untuk makan secara "bebas". Gue yang dari Senin sampai Jumat kerja plus Sabtu-Minggu (weekend) mesti kuliah, cukup bingung untuk memenuhi permintaan yang sejatinya sepele ini.

Hari ini, Sabtu sore sepulang UTS gue langsung cabut ke rumah dari kampus. Langsung saja gue ajak Ibu berangkat ke resto terdekat. Ibu pesan Tomyam, gue pesan Kwetiau. Dua makanan itu biasa aja rasanya di lidah gue, nggak ada yang istimewa. Bahkan porsinya cukup sedikit, agak ironi dengan harganya, hehehe. Yah, yang penting rasa penasaran Ibu terpenuhi, akhirnya. Ya, akhirnya..

Cuma ini aja sih yang ingin gue tulis.. Nggak ada yang istimewa, tapi jujur ini sangat berarti untuk gue. Seenggaknya, tulisan ini bisa jadi pengingat gue kalau sewaktu-waktu mulai jarang berdialog-makan bareng Ibu.  Ini akan menjadi "penampar" gue kalau gue mulai arogan dengan berkata, "Ah, gue sibuk nggak ada waktu..." atau "Aduhh, pengen main sama teman-teman, nih!"

Ya, gue nggak berani berjanji untuk ini. Tapi, gue akan berusaha..


Minggu, 09 September 2012

Si Malang Sahin, Si Pecundang Suarez dan Si Pejantan Vermaelen

Laga Liverpool vs Arsenal di Anfield berhasil menjadi pemecah kebuntuan skuad The Gunners. Bermodalkan 2 hasil seri di 2 pertandingan sebelumnya, membuat Arsenal (kembali) di-cap "tidak mampu" bersaing di Liga Utama Inggris. Point of Interestnya tentu mengarah pada kepergian 2 pemain andalan mereka, Robin Van Persie dan Alex Song dari Emirates Stadium.

Memang, cuma Arsenal yang bisa membuat saya betah berlama-lama menonton sepakbola di Televisi. Permainan "Arsenal Way" sudah mengalir dan mendominasi pertandingan sejak awal. Orang-orang berkata duet Cazorla dan Arteta telah men-Spanyolkan lini tengah Arsenal, dari segi bermain. Padahal tidak sepenuhnya benar. Jauh sebelum istilah Tiki-Taka Spanyol populer, Arsenal Way milik Gunners sudah dipraktekkan terlebih dulu. Permainan bola pendek dari kaki ke kaki sudah melekat dalam filosofi sepakbola Arsenal, yang mendobrak gaya sepakbola konvensional Inggris dengan kemonotonannya.

Lukas Podolski akhirnya mencetak gol debutnya di Arsenal, dalam partai resmi, setelah melakukan kerjasama apik dengan Santi Cazorla, pada babak I. Gelandang jenius asal Spanyol inipun kebagian giliran mendapat "service" apik dari Prince Poldi di babak kedua. Iapun berhasil mempecundangi kompatriotnya di timnas Spanyol, Jose Reina. 0-2 untuk Arsenal.

Usaha Steve Bould (Assisten Pelatih dan Ex Defender Arsenal) dalam memperbaiki kinerja defense Arsenal cukup berhasil sejauh ini. Kuartet Gibbs-Vermaelen-Mertesacker-Jenkinson nyatanya ber-Transformasi menjadi tembok nan kokoh bagi Gerrard cs. Saya pun melihat sebuah ironi dari sosok Luis Suarez. Bakat emasnya menjadi terkesan MURAHAN ketika ia berulangkali mempraktekkan aksi diving. Rupanya ini yang membuat progressnya seakan mandek di Liverpool, pikir saya.

Kembali ke BACK FOUR Arsenal. Jenkinson cukup apik berduel dengan Raheem Sterling dan Enrique di sisi lapangan. Kekurangannya hanya terlihat di awal pertandingan saat ia dan Mertesacker beberapa kali melakukan error passing. Nama terakhir melakukan aksi penting saat men-tackle bersih bola Sterling, di dalam kotak penalti Arsenal. Sterling lagi? Ya, cuma dia pemain Liverpool yang patut diberi kredit, karena aksinya yang sering merepotkan barisan pertahanan Arsenal sepanjang pertandingan.

Kierran Gibbs, bila selalu fit akan cukup mampu menggantikan peran Ashley Cole di timnas Inggris. Sedangkan Vermaelen.. Wah, determinasinya sungguh-sungguh melambangkan kejantanan seorang kapten (satu elemen yang tampaknya tidak dimiliki oleh kapten Arsenal sebelummnya). Ketangguhan plus komandonya memimpin tim dan menggalang pertahanan membuat ia pantas dijuluk The New Tony Adams.

Sang Kiper, Vito Mannone juga menunjukkan bahwa beruntungnya Arsenal memiliki sekumpulan stok kiper handal. Beberapa kali ia melakukan penyelamatan penting, terutama saat ia memblok dengan cara terbang, tendangan luar kotak penalti Shelvy. Tak heran, apabila Manuel Almunia hengkang. Dan ini menjadi peringatan keras untuk duo kiper Polandia, Woj Sczeszny dan Fabianski, bahwa persaingan di bawah mistar gawang akan semakin sengit.

Agak maju ke lini tengah, fokus akan pula tertuju pada Abou Diaby. Ah, saya harus memohon kepada Tuhan agar selalu menjaganya dari cedera dan tetap fit sepanjang musim. Visinya mungkin belum sebriliant Alex Song, namun kekuatannya bisa dikatakan hampir menyerupai. Kedisiplinan menjaga area tengah pun patut diacungi jempol. Skill dan Teknik bolanya berani saya adu dengan Yaya Toure, gelandang Man City. Rupanya ini alasan Wenger tidak berniat menjual pemain yang selalu dihujat oleh para Gooner itu.

FYI, Diaby adalah satu-satunya pemain Arsenal yang tersisa kini, yang sempat merasakan bermarkas di Highbury Stadion. Ya, Wenger lama mempertahankannya demi sesuatu yang spesial dalam diri Diaby. Semoga ini akan berlangsung dalam waktu yang lama.

Oliver Giroud kembali menggagalkan peluang emas mencetak gol dalam pertandingan ini. Assist cantk Diaby tidak mampu ia konversikan menjadi gol, kendati peluangnya sudah 95% gol. Gol dan assist yang dibuat oleh duo "rookie", Cazorla-Podolski, diharapkan bisa menjadi pelecut Giroud untuk mencetak gol di pertandingan selanjutnya.

Satu hal yang membuat bulu roma sedikit berdiri adalah ketika sorakan "ARSENE WENGER !" memekik dan membahana seisi Anfield, yang katanya selalu riuh dengan "You'll Never Walk Alone"nya. Ya, Wenger sedikit demi sedikit (hampir tiap musim seperti ini kondisinya) meredam kritik atas penjualan-penjualan pemain terbaiknya, di awal musim. Ditambah lagi, ia tidak menambah pemain baru di penutupan Transfer Window I, seperti yang diharapkan oleh para Gooner. Kebijakannya jauh tidak populer seperti Tottenham Spurs dengan pembelian Clint Dempseynya, Manchester City dengan perekrutan Douglas Maicon, atau juga Liverpool dengan peminjaman Nuri Sahin nya. Namun, tetap saja Gooners mencintai Wenger dan memang sang Profesor pantas dicintai atas kejeniusan otaknya itu.

Well, menyinggung nama Nuri Sahin, tampaknya kekalahan Liverpool ini akan menjadi salah satu penyesalan terdalamnya seumur hidup. Keinginan besarnya adalah berkostum Arsenal, namun apa daya bila Real Madrid dengan Jose Mourinho nya memaksa si pemain berkostum Liverpool dengan status pinjaman. Imbasnya, dia tidak bisa merasakan kenikmatan sepakbola Arsenal, alih-alih hanya bisa menyaksikan dan merasakan penderitaannya diperdaya oleh The Great Arsenal Way.

COME ON YOU GUNNERS !!

Sabtu, 21 Juli 2012

Tribute to Led Zeppelin


Rock n Roll
Masa muda identik dengan pencarian jati diri, di mana terkadang nafsu sulit terkontrol, dan kita tidak pernah peduli apa kata orang lain....

Heartbreaker
Mempermainkan hati seseorang terkadang membuat kita lupa diri, seakan kita tidak lagi memiliki hati....

Thank you
Namun perlahan ini semua akan segera berubah, di kala kita sudah memiliki dia yang sejati. Terima kasih telah datang menemani...

Stairway to Heaven
Berubahnya warna rambut menjadi putih menjadi peringatan bagi kita, bahwa pada akhirnya kulit yang keriput ini akan kembali bertemu dengan teman lamanya...


Ini hanya untuk pecinta LED ZEPPELIN…Karena hanya kalian yang akan mengerti ini…


                        Tribute to LED ZEP

Jumat, 13 April 2012

TELEPATI 08-07-09

Bulan Juli di hari ke-8, tepat sekitar pukul 00.00 wib. Ketika hari berganti menjadi rabu kelabu bagi saya, namun menjadi Rabu yang istimewa untuknya. Ya, ini hari ulangtahunnya. Entah mengaoa saya sealu merasa ingin dianggap special olehnya. Mendadak otak ini berputar cepat mencari kata-kata indah yang kemudian dipadu padankan untuk menjadi sebuah kalimat sempurna.

Ahh..saya tidak akan pernah ragu untuk mengirimkan “kado special” ini untuknya. Kado special berisikan kalimat sempurna tadi. Tinggal send to -> nomor ponsel dia ->ok. Itu bukan perkara sulit untuk jari ini. Serangkaian ucapan indah karya saya ini cukup bagus dan jujur, sekalipun tidak ada ungkapan puitis di dalamnya. Mengapa? Karena saya bukan ahlinya.

Setidaknya begitu ia menerima ucapan ini, ia akan kembali mengingat bahwa saya masih ada selama ini. Saya menyadari wujud saya sangat kecil dan samar baginya,saat ini. Rupanya ada sesosok yang lebih besar , jelas dan cemerlang yang menutupi wujud ini, di mata hatinya. Dan saya sadar itu.

Tetapi tidaklah mungkin hal itu meracuni otak saya untuk mengurungkan niat mulia ini, yaitu mengucapkan selamat ulang tahun padanya. DELIVERY FAILED !!...Dua kata itu selalu muncul ketika saya berulang kali mencoba mengirimkan kado spesial nan indah ini. Padahal, hanya ini yang bisa saya berikan. Padahal, sangat ikhlas hati ini mempersembahkan hadiah untuknya. Padahal, susah payah diri ini mengumpulkan keberanian untuk melakukannya. Padahal sudah mutakhir niat ini untuk tidak mempedulikan siapapun, termasuk seseorang lain yang ada di hatinya. Padahal, sudah jumawa diri ini bersiap mendapat sekedar balasan darinya. Padahal…

Jika memang sudah ia berganti nomor, bukankah seharusnya saya langsung saja menelpon rumahnya?...Pasti akan saya lakukan jika waktu berbalik, kembali mundur beberapa tahun yang lalu. Ketika saat itu saya masih berwujud jelas di mata hatinya. Saat ini, saya ini siapa baginya?..

Otak ini sesaat berpikir…Tak lama kemudian muncul ilham. Saya akan mengunjungi sebuah took, di mana took tersbut menjual sebuah alat bernama Telepati. Saya pasti akan langsung membelinya, mengirimkan serangkaian kalimat indah bersumber dari dasar hati, hanya untuk dia. Diapun pasti akan terpikat dengan sendirinya.

Ingat, tidak ada yang lebih indah daripada sebuah kejujuran seorang anak manusia, di muka bumi ini. Namun, gawat ! sayang seribu sayang si penjual mematok harga telepati itu sebesar 1 Milyar Rupiah. Jelas, saya tidak sanggup membayarnya. Kemudian, si penjual menurunkan harga menjadi 500 Juta Rupiah, hingga mentok menjadi 200 Juta Rupiah.

Saya tetap tidak mampu membelinya…

Bodoh!..Benar-benar ilham yang sungguh menyesatkan. Mana ada alat telepati ? sekalipun itu gratis…

Lalu, seketika mata ini tenggelam menuju kegelapan, saya berharap akan datang ilham lain, yang dapat memberikan cara untuk saya menghadiahkan kado paling sempurna untuknya…

Sabtu, 05 November 2011

ARSENAL KEMBALI !!


Chelsea 3-5 Arsenal …Sungguh siapapun tidak menyangka hasil akhirnya akan seperti ini. Tak terkecuali saya pecinta Arsenal yang awam sepakbola ini. Para pundit pun saya yakin tidak memprediksi hasil ajaib ini. Saya awalnya hanya berharap hasil realistis saja dari pertandingan ini, yakni seri. Sehebat-hebatnya Arsenal, dalam kondisi tim yang sedang cukup terpuruk ini, paling mentok menang tipis, bukannya menghajar habis Chelsea dengan skor mencolok, di Stamford Bridge.

Menit awal babak pertama terlihat sekali Arsenal sangat kehilangan sosok Sagna (right back) dan Gibbs (left back). Peran mereka digantikan oleh Djorou-Santos. Yang paling parah adalah Djorou. Setahu saya sudah lama dia tidak berposisi di bek kanan,karena selama ini dia hampir selalu berada di jantung pertahanan Arsenal. Lawan yang harus dihadapi : Juan Mata dan Bosingwa, yang notabene sayap-sayap lincah nan cepat. Agak berbanding terbalik dengan Djorou yang tinggi besar dan sedikit lebih lambat ketimbang kedua rivalnya itu. Alhasil dia jadi bulan-bulanan strategi menyerang Chelsea, yang sepertinya memang sudah tahu titik lemah pertahanan Arsenal. Beberapa kali serangan datang dari kedua sisi lapangan.

Sampai akhirnya terjadi…Mata yang be-rotasi menjadi sayap kanan mengelabui Santos dengan gocekannya yang sempurna, lalu mengirim umpan silang. Dan, yup tandukan Lampard menjadi gol yang pertama dalam pertandingan itu. Sebelumnya, bukan tidak pernah Arsenal menyerang kotak penalty Chelsea. Terhitung dua kali Gervinho dan Van Persie gagal menceploskan bola ke gawang Cech,meskipun pelayanan dari Walcott kepada keduanya begitu sempurna. Namun, sulit memungkiri bahwa penguasaan bola Chelsea lebih baik saat itu.

Pertandingan perlahan menjadi menarik ketika Van Persie berhasil menyarangkan gol ke gawang Chelsea, buah kejelian visi Ramsey dan ketidakegoisan Gervinho. Sial untuk Arsenal, saat injury time malah kebobolan oleh sontekan Kapten Terry menerima umpan dari tendangan pojok. Ya, backfour Arsenal cukup mengecewakan, karena saya merasa barisan tengah dan depan Arsenal sudah susah payah menelurkan gol ,dan itu menjadi sia-sia.

Jeda turun minum saya gunakan untuk makan malam. Tak disangka waktu mata ini kembali ke Stamford Bridge, WAHHH, saya melewatkan gol Santos. Meragukan awalnya, namun akhirnya dia memberikan pembuktian kalau dia bukan pembelian gagal. Ini gol ke-2 nya musim ini untuk Arsenal. Dia tidak secepat Clichy, pun tidak secermat Ashley Cole. Namun,naluri serang dan skill Brazilliannya terkadang memang dibutuhkan Arsenal ketika sedang menemui kebuntuan. Skor 2-2.

Lalu, tak lama dari itu Theo Walcott kembali menghasilkan gol untuk Arsenal. Agak kaget melihat performa dia malam itu. Dia yang biasanya hanya mengandalkan pace,kali ini terlihat dia bisa juga “menggocek”. Terbukti dari golnya yang melewati sekitar 4 orang pemain bertahan lawan. Caranya memang agak “nyeleneh” ketika dia terjatuh saat dribbling, dan pemain Chelsea menyangka itu pelanggaran, nyatanya wasit tetap menyatakan play on. Belum selesai. Part saat dia melakukan step over membelah 2 benteng Chelsea adalah moment menakjubkan sebelum dia menceploskan bola keras menuju ruang kosong gawang Cech.

Chelsea tidak mau menyerah begitu saja. Lewat Juan Mata, skor menjadi 3-3. Tendangan keras dari luar kotak penaltinya menembus gawang Arsenal. Pada detik itu, batin ini berkata “ sayang banget dia ngga jadi berkostum Arsenal.Chelsea beruntung banget punya pemain kayak dia. Pasti Mata pun berpikir kalau dia ngga salah pilih tim”. Di pinggir lapangan ,seakan Chelsea kembali dilatih oleh Jose Mourinho. Reaksi Villas Boas yang atraktif,kalau tidak mau disebut berlebihan, menyambut gol Mata, membuat diri ini membatin “ya, ga apa lah,wong masih muda,,masih berapi-api. Dimaklumi”
Namun, entah setan apa yang merasuki anak-anak Arsenal, yang pasti bukan Setan Merah, alih-alih menyerah dengan berupaya mempertahankan skor realistis tersebut, malah mereka semakin menggila.Kecerobohan John Terry, berujung malapetaka buat Cech,yang harus berjuang sendiri melawan “kesadisan” Van Persie. Dan kembali gol dicetaknya, setelah mengecoh Cech,lalu tinggal menceploskan bola ke gawang kosong. 3-4.

Anyway ada yang unik dalam pertandingan itu. Kalau Arsenal kerasukan setan,lain halnya dengan Chelsea yang seperti kerasukan waria. Para Big Man semisal Lukaku,Torres begitu mudahnya terjatuh, hingga tak jarang ini merugikan Arsenal. Nalar memaklumi mungkin karena ini partai tandang untuk Arsenal,yang mungkin sedikit wajar sedikit banyak menguntungkan si empunya rumah. Arsenal juga seperti itu terkadang,di Emirates. Namun,yang membuat emosi adalah tingkah Ivanovic saat terlibat konflik dengan Van Persie. Persie hanya “mencolek”nya namun reaksinya begitu teatrikal, hingga membikin Persie dapat kartu kuning. Namun, ke-femininan para pemain Chelsea pada akhirnya juga membawa keberkahan. Sentuhan angin sepoi membuat tubuh gemulai nan layu Terry terjatuh saat ingin mengejar bola, hingga membuat skor berbalik menaungi Arsenal.

Belum selesai saudara-saudara. Arsenal sedari dulu dikenal dengan serangan baliknya menasbihkan Van Persie menjadi satu-satunya kapten terbaik di laga tersebut. Serangan balik maut tersebut,membuahkan gol super Van Persie nan maut pula (saking kerasnya sampai-sampai Cech tidak mampu menahan bola) , yang ke-3 alias Hattrick. Skor akhir 3-5.

Memang istimewa sekali orang satu ini. First comebacknya Vermaelen ke EPL musim ini, di menit-menit akhir, nyatanya terasa hambar saja. Pula performa apik Ramsey (yang seperti merasakan blessing in disguise saat Wilshere cedera panjang) dalam menggantikan peran Fabregas,meskipun masih jauh,namun perlahan tapi pasti dia sedang menuju ke tempat di mana Fabregas berada dulu, belum mampu menyamai sinar RvP.

Semuanya itu menjadi biasa-biasa saja karena Persie, musim ini, selalu menjadi penyelamat Arsenal. Dia lah dewa Arsenal saat ini. Bahkan orang-orang yakin bahwa Arsenal sangat ketergantungan dengan Persie. Sayapun merasakan itu jua. Ucapan selamat dan pujian dari Fabregas, sahabat dan mantan partner sejatinya di Arsenal, terlontar dari akun twitternya. Senang rasanya dia masih concern dengan Arsenal, karena saya perhatikan di twitnya kalau dia masih mengikuti sepak terjang Gunners…Ya, karena memang dia sejatinya ber-DNA Gooner,bukan Catalan,ehehe..Saya yakin itu !!

Anyway, saya tidak ingin momen indah ini berujung nihil nantinya. Karena beberapa tahun belakangan ini Arsenal memang tidak pernah mengangkat trophy lagi, ketika sebenarnya di tengah musim Arsenal sering mendapati banyak keajaiban seperti ini. Cukup realistis kalau saya berharap Arsenal bisa kembali ke posisi 4 besar, dan menjuarai Carling dan FA Cup.

Well, yang pastinya saya ingin mendownload full highlight atau bahkan full match pertandingan ini nantinya. Pastinya saya tidak akan jemu menontonnya berkali-kali, karena ini melawan rival abadi sekota, di kandang lawan, menang telak pula !!...Tentu Villas Boas sesegera mungkin menelpon Sir Alex Ferguson untuk berkonsultasi dalam mengatasi trauma kekalahan tragis. Karena seperti yang diketahui, tepat seminggu sebelumnya Manchester United dihajar 1-6 oleh Manchester City, di Old Trafford.

30 okt 2011