Saya sudah duduk di tepian kursi –tepat di bagian belakang kursi sang sopir— ketika angkot yang saya tumpangi masih “mengetem”, menunggu penuhnya penumpang mengisi kapasitas mobil. Sengaja saya memilih duduk di situ agar dapat keluar dengan mudah, karena pemberhentian yang saya tuju tidaklah terlalu jauh jaraknya. Di luar sana, saya melihat ada beberapa pengamen kecil sedang asyik bermain di pelataran ruko, tak jauh dari tempat angkot ini terparkir.
Tak lama kemudian, penuhlah seisi angkot oleh beberapa penumpang. Agak ganjil mengingat saat itu jam tangan saya sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam. Bangku kecil yang selalu tersedia di dekat pintu belakangpun sampai harus terisi dua orang, saking penuhnya.
Segera saja Pak Sopir memulai menancap gas. Namun, ketika Pak Sopir baru saja memasukkan gigi 1, muncullah dua anak kecil pengamen –yang sedang asyik bermain tadi—sekejap menyelinap dan berdiri,bergelantung di pintu masuk angkot. Saya terka salah satu anak kecil itu berumur 10 tahun sedangkan yang satunya lagi berumur kira-kira 6 tahun. Kemudian, berjalanlah angkot ini ketika terdengar teriakan kasar seorang pemuda (kalau boleh saya kembali menebak dia adalah salah satu “preman” terminal) yang mengarah kepada dua anak kecil itu : “ WOYY, PENGAMEN !!! BIKIN PENUH AJA LO !!”
Laju angkot agak kencang. Mungkin karena malam itu jalanan sudah berangsur sepi. Lalu, mulailah si pengamen 10 tahun bernyanyi –ya, hanya bernyanyi tanpa ada atribut musik lainnya—sedangkan satunya hanya diam, dengan sesekali angkat suara pula jarang-jarang. Tidak jelas lagu apa yang mereka nyanyikan kala itu. Yang mampu saya tangkap: Lagu yang dibawakan bertemakan rohani islami.
Lalu, muncullah rasa iba di hati. Melihat dua anak sekecil itu harus mengamen di malam hari. Kumalnya pakaian serta penampilan mereka menunjukkan bahwa pasti sudah hampir seharian mereka berkerja mencari nafkah dengan mengamen, di kerasnya kota.
Rasa ngeri dan takutpun muncul saat melihat mereka mengamen dengan cara yang bahaya: Bergelantung di ambang pintu angkot dengan minim pijakan maupun pegangan. Tentu saya tidak seberani mereka dalam hal ini. Mungkin saja mereka sudah terbiasa, atau mungkin pula mereka tidak peduli atas bahaya yang bisa saja terjadi pada mereka, ke depannya. Ya, mereka masihlah sangat terlalu kecil untuk berpikir sepanjang itu.
Lucu mendengar nyanyian mereka yang terkesan semaunya, tidak beraturan dan agak malas-malasan. Namanya juga anak kecil. Maka dari itu, seketika angkot ini baru saja berhenti di sekitar stasiun Tebet untuk menuruni salah satu penumpang, merekapun langsung selesaikan nyanyiannya. Kemudian segera saja si pengamen 10 tahun mengedarkan tangannya kepada seluruh penumpang untuk menagih “bayaran”.
Angkot ini baru hendak melanjutkan perjalanan menyeberangi rel stasiun Tebet, ketika dua pengamen cilik itu turun. Kemudian sayup-sayup telinga ini mendengar:
“Ah, anj*ng...dapetnya cuma sedikit !!“ keluhan itu keluar dari mungilnya suara si pengamen 6 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar