/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 25 Juli 2010

Kecut, Bebal, Timpang...

Peluh membasahi kulit, pula menembus pakaian kumal terhantam polusi...

Rambut semrawutan ditebas laju angin terhias di atas wajah dekil berminyak...

Jari-jari berkuku hitam mahir memilah-milah uang, lembar demi lembar, receh demi receh...

Bau badan kecut menyengat seolah berteriak:"Akulah pekerja keras !!!"

Tuli sudah telinganya mendengar jerit marah klakson --mewahnya mobil kota...

Hatinya pun sudah mengeras, bebal, tidak mempan oleh cacian, hinaan kasar mereka yang murka...

Anak, Istri menunggu seraya berharap ia akan pulang mengantongi uang banyak...

Demi urusan perut, ia terjang semua ketakutan,ketidakpastian dan ketimpangan yang selalu disajikan oleh sang Metropolitan...

La Revelacion

Terpatri dalam lamunan siang itu...

Mengapa wajahmu menyembulkan gundah ?
Rasa-rasanya paras murammu itu tidaklah cocok terus menerus ada di sana

Dulu kau menganggap dunia ini indah dan mudah...Wajar saja, karena dirimu masih kuat tertopang oleh bermacam sendi

Sekarang perlahan topangan itu terkikis, hanya mampu mengandalkan diri yang bergerak maju...mau tidak mau...

Jangan..Janganlah sampai terbersit untuk menyalahkan mereka..karena murammu itu kau sendirilah yang bentuk

Mereka menghujanimu salju, bukan dengan kerikil tajam seperti yang kau duga

Sedangkan yang lain pergi tidak untuk menjauhi, melainkan bersiap kembali untuk menghampiri dirimu diiringi tawa

Kini tiba waktunya engkau melesat, tidak perlu terlalu kencang...Cukup bergerak, sekalipun tertatih, sekalipun berguncang...

Jumat, 23 Juli 2010

Hamka Van Der Wijck

Saya turutkan permintaan itu, saya akan pulang. Tetapi percayalah Zainudin bahwa saya pulang ke kampungku,hanya dua yang kunantikan : pertama kedatanganmu kembali, menurut janjiku yang bermula, yaitu akan menunggumu,biar berbilang tahun, biar berganti musim. Dan yang kedua ialah menunggu maut, biar saya mati dengan meratapi keberuntungan yang hanya bergantung di awang-awang

Agak terenyuh saya sekejap setelah membaca salah satu penggalan surat terakhir Hayati untuk Zainudin, di atas.

Mungkin terkesan cengeng, namun tidak bagi siapapun yang membaca utuh keseluruhan roman "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" karya Buya Hamka ini. Si penulis berhasil mengombang-ambingkan emosi laki-laki saya dalam cerita ini. Kemenangan yang luar biasa hebat bisa menjadi hambar bila masih ada luka yang menganga lebar yang didapat di hari lampau.

Zainudin benar-benar sudah benci dan muak terhadap Hayati. Namun pada akhirnya iapun menyesal karena perasaan benci itu hanya bergerumul di emosinya saja, tidak di hatinya yang terdalam. Sesal yang teramat sangat dideritanya kemudian, dan hingga saatnya itu datang, Zainudin merasa menjadi orang yang paling hina sedunia. Karena ia tak mampu memberikan maaf, sedangkan tuhannya, ALLAH SWT selalu mampu memberikan itu pada setiap umatNya.

Juga, dalam roman ini ada beberapa quote Hamka yang berhubungan dengan wanita yang menarik buat saya:

"Orang yang sampai gugur rambut di kepala mencari uang kian kemari, hanyalah semata-mata lantaran diperintah oleh senyuman perempuan"


"Tetapi itulah perempuan, dia kerap kali sampai membunuh orang dengan perbuatannya yang tidak disengaja"

"Ya, demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain walaupun bagaimana besarnya"


Awalnya,agak terkejut saya membaca kutipan-kutipan, yang menurut saya cukup sinis dan sangat menohok itu. Entah mengapa Hamka begitu luwes melepas pemikiran yang sebetulnya sederhana itu ,hingga saya menjadi tersadar bahwa pandangan seperti itu benar adanya. Saya dapat melihat hal tersebut di hari-hari saya hingga saat ini.

Setelah membaca habis "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck", terbesit kesimpulan seperti ini: Mungkin saja Hamka pernah mengalami kisah cinta yang kurang beruntung di hari mudanya, pula bahkan "luka" yang dideritanya itu pernah sebegitu parah hingga lahirnya roman mengagumkan ini. Tokoh Zainudin yang seorang pujangga sungguh lekat dan kuat merefleksikan bahwa ia sebenarnya adalah Hamka sendiri.

Meminjam perkataan teman yang mengatakan bahwa cerita yang baik selalu lahir dari penciptanya memposisikan diri sebagai pembaca. Dan benar, sebagai pembaca, saya menilai Hamka sangat berhasil mempermainkan laju emosi saya pada cerita ini. Ceritanya begitu tajam dan mengalir seolah semuanya itu terhampar di depan mata kita: Percintaan dua anak manusia yang berujung nyata menyakitkan.

Di sisi lain saya juga beranggapan bahwa cerita yang bagus akan muncul dari pencerita yang berusaha menelusuri dalam-dalam tokoh cerita,menempatkan diri masuk ke dalam cerita...Atau bahkan si penulis pernah mengalami kejadian seperti yang ia ceritakan, sehingga tertanam pada kisah itu sebuah nyawa yang kuat.

Ya, saya yakin anggapan saya itu tidak meleset,setidaknya tidak terlalu.

Karena, siapa yang berani menjamin bahwa seorang ulama seperti Hamka tidak pernah patah hati??

Bye..Dudu...


Cukup emosional para pendukung Arsenal melepas kepergian Eduardo Da Silva ke Shakhtar Donetsk.Perjalanan karir dia di Arsenal terbilang singkat, hanya 3 tahun. Tapi hal itu cukup membuat kami (baca: para Gooners) mempunyai rasa simpatik yang tinggi terhadapnya.

Diawali dengan kedatangannya di Arsenal, yang diproyeksikan sebagai suksesor sang legenda: Thierry Henry. Kita semua tahu bahwa Henry merupakan salah satu "raja" yang mengharumkan dinasti Arsenal sepanjang sejarah. Iapun memegang rekor sebagai pemain Arsenal yang paling banyak mencetak gol -- belum tertandingi sampai saat ini. Tentunya, siapapun yang ditasbihkan menjadi penerusnya akan membopong beban yang maha berat di pundaknya.

Namun, faktanya Dudu, panggilan Eduardo, mampu menjawab tantangan tersebut. Di musim perdananya ia berhasil mencetak 12 gol plus 8 assist untuk Arsenal. Itu jelas merupakan hal yang luar biasa bagi seorang debutan, dan karena ini pula para Gooners pelan-pelan mampu menghapus tangis air mata akibat kepergian King Henry. Dudu mampu membuat kami segera "melupakan" legenda super Arsenal itu.

Hingga datanglah mimpi buruk itu. Ketika ada seseorang pemain yang mempunyai niat jahat atas keindahan permainan Arsenal. Dan berhasil, ketika sang nasib memilih Dudu sebagai tumbalnya. Dalam suatu pertandingan, pemain Birmingham City, Martin Taylor, sukses mencederai Dudu hingga engkelnya rusak parah...

Meskipun pada akhirnya Dudu dapat kembali pulih, namun mentalnya belumlah dapat dikatakan normal kembali. Wajar karena cedera yang menghantuinya itu sangatlah fatal, bahkan bagi saya itu adalah salah satu kasus cedera yang paling parah dalam dunia persepakbolaan. Arsene Wenger jarang memberikannya waktu bermain karena permainannya yang tidak lagi sehebat dulu, pula tambahan faktor cedera hamstring kambuhan yang sering menggerogoti.

Sekarang ia sudah berlabuh ke Shakhtar Donetsk demi mendapatkan jam terbang main yang lebih banyak. Kepergiannya cukup memberikan duka bagi para Gooners, bahkan levelnya cukup melebihi moment ketika Henry cabut ke Barcelona.

Dia sudah menjadi pahlawan bagi Arsenal karena pernah memberikan inspirasi pada kami semua: jangan menyerah, karena waktu selalu tersedia bagi mereka yang mau bangkit. Ya,cedera parah yang sudah hampir mematikan karirnya dulu tidak lantas membuatnya takut dan berhenti. Sebaliknya, ia lawan itu semua dan tetap maju ke depan.

Salah satu kutipan pesan terakhirnya untuk keluarga besar Arsenal :

I want to say thank you to the Arsenal supporters - you have been fantastic to me and always sung my name and I will never forget this.

Although I have now left the Club, Arsenal will always be in my heart. I will always look for the Arsenal results and of course, I wish Arsène Wenger and the great players at the Club well for next season and the future.


Ya, saya juga tidak akan pernah melupakanmu Mr.Dudu...Karena tidak seperti yang lain, anda meninggalkan kami dengan cara yang baik...

GOOD LUCK FOR YOUR NEXT DAY DUDU....

Senin, 12 Juli 2010

Unknown Rock Musician

Bagian yang gue tunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari sang vokalis itu :

I’ve been walking these street at night...
Just trying to get it right...


Iya, itu adalah bagian teriakan atau lengkingannya AXL Rose saat dia menyanyikan lagu PATIENCE by Guns n Roses. Malam itu gue dan kedua temen gue (Igo dan Feby) sedang berada di depan salah satu gerai produk Handphone, pelataran PRJ. Di gerai tersebut tersaji akustikan musik yang menampilkan dua musisi Rock (gue nggak tahu siapa nama mereka). Kira-kira umur mereka berdua baru sekitar awal 30an. Yang memegang gitar berambut panjang sebahu sedangkan sang vokalis lebih nyentrik lagi : berambut gondrong sepunggung sedikit keriting –di cat pirang pula—, dan tato memenuhi sekujur kedua lengannya. Sepintas mirip Robert Plant, atau lebih tepatnya Robert Plant wanna be,,hehehe...

Hal ini pula yang membuat gue yakin kalau Rocker seperti mereka itu pastinya juga menggemari Led Zeppelin. So, ketika mereka menawarkan para pengunjung untuk mengajukan request lagu, gue tanpa segan langsung menuju ke stage kecil itu.

“Bang, LED ZEPPELIN ya !!” seru gue.

Merekapun agak terkejut. “Wuehhh, LED ZEPPELIN !! Gila..gila jarang banget tuh yang request lagu beginian “ kata sang vokalis, diikuti anggukan bahagia si gitaris. Terlihat jelas mereka salut atas pilihan lagu gue yang mungkin cenderung Rare.

Kemudian langsung saja mereka memainkan STAIRWAY To HEAVEN dengan cantiknya. Meskipun hanya bermodalkan satu gitar akustik, namun lagu keramat itu nggak hilang esensinya. Lengkingan Vokalisnya pun ikut menghidupkan suasana –sekalipun kualitasnya masih cukup jauh di bawah si empunya lagu – ini terbukti dari menjadi penuhnya pengunjung berhenti di depan stage untuk menonton. Padahal sebelum request an gue ini muncul animo pengunjung nggak terlalu besar terhadap sajian musik akustik tersebut.

Dari hal itu gue semakin menyadari bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang mencintai musik Rock klasik dan tentunya berkualitas tinggi.

Seusai mereka membawakan lagu Stairway to Heaven, tepuk tangan kamipun riuh memecah. Sang gitaris tertawa puas dapat mampu menyelesaikan “amanat” dari Mbah Jimmy Page dengan baik. Lalu, diapun mengarahkan jempolnya kepada kami yang menonton agak paling depan. Pula, nggak mau ketinggalan Si Vokalis gondrong itu mengayunkan tangannya ke atas lalu membentuk simbol salam tiga jari pada kami.

“Setelah ini masih ada Rock n Roll nya Led Zeppelin, jadi tunggu aja” suara si Vokalis membahana melalui mikrofon.

Lagu Going Where The Wind Blow dari MR BIG kemudian mereka mainkan. Cukup memikat mereka memainkan karena masih saja para pengunjung memadati sekitar stage. Sehingga datanglah lagu berikut yang gue tunggu-tunggu, lagu yang mereka sudah janjikan : ROCK AND ROLLL!!!

It’s been a long time since i rock and rolled...
It’s been a long time since i did a stroll...


Perform mereka sungguh memukau, meskipun lagi-lagi mereka memainkan itu hanya dengan satu gitar akustik, namun kali ini Sang Vokalis memamerkan kebolehannya dalam memainkan harmonika. WOW AWESOME!!!

Agak aneh memang, mengingat di saat yang bersamaan Panggung Utama PRJ sedang tampil pula beberapa band papan atas Indonesia, namun gue sama sekali nggak tertarik menonton perform mereka. Mungkin beda ceritanya kalau yang tampil misalnya The Gribs atau bahkan God Bless, pasti gue lebih memilih menonton di panggung utama PRJ itu ketimbang hanya menyaksikan dua musisi unknown, di stage yang mini pula.

Hujan yang terus menerus turun di PRJ dari sore hingga menjelang maghrib ditambah kondisi kami – gue,Igo dan Feby— yang sempat basah kuyup membuat suasana hari menjadi dingin. Namun, permainan gitar yang ciamik dan teriakan canggih dari kedua musisi Rock itu mampu membuat PRJ diliputi kehangatan tersendiri untuk kami, malam itu.

Sabtu, 10 Juli 2010

DUA PENGAMEN KECIL

Saya sudah duduk di tepian kursi –tepat di bagian belakang kursi sang sopir— ketika angkot yang saya tumpangi masih “mengetem”, menunggu penuhnya penumpang mengisi kapasitas mobil. Sengaja saya memilih duduk di situ agar dapat keluar dengan mudah, karena pemberhentian yang saya tuju tidaklah terlalu jauh jaraknya. Di luar sana, saya melihat ada beberapa pengamen kecil sedang asyik bermain di pelataran ruko, tak jauh dari tempat angkot ini terparkir.

Tak lama kemudian, penuhlah seisi angkot oleh beberapa penumpang. Agak ganjil mengingat saat itu jam tangan saya sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam. Bangku kecil yang selalu tersedia di dekat pintu belakangpun sampai harus terisi dua orang, saking penuhnya.

Segera saja Pak Sopir memulai menancap gas. Namun, ketika Pak Sopir baru saja memasukkan gigi 1, muncullah dua anak kecil pengamen –yang sedang asyik bermain tadi—sekejap menyelinap dan berdiri,bergelantung di pintu masuk angkot. Saya terka salah satu anak kecil itu berumur 10 tahun sedangkan yang satunya lagi berumur kira-kira 6 tahun. Kemudian, berjalanlah angkot ini ketika terdengar teriakan kasar seorang pemuda (kalau boleh saya kembali menebak dia adalah salah satu “preman” terminal) yang mengarah kepada dua anak kecil itu : “ WOYY, PENGAMEN !!! BIKIN PENUH AJA LO !!”

Laju angkot agak kencang. Mungkin karena malam itu jalanan sudah berangsur sepi. Lalu, mulailah si pengamen 10 tahun bernyanyi –ya, hanya bernyanyi tanpa ada atribut musik lainnya—sedangkan satunya hanya diam, dengan sesekali angkat suara pula jarang-jarang. Tidak jelas lagu apa yang mereka nyanyikan kala itu. Yang mampu saya tangkap: Lagu yang dibawakan bertemakan rohani islami.

Lalu, muncullah rasa iba di hati. Melihat dua anak sekecil itu harus mengamen di malam hari. Kumalnya pakaian serta penampilan mereka menunjukkan bahwa pasti sudah hampir seharian mereka berkerja mencari nafkah dengan mengamen, di kerasnya kota.

Rasa ngeri dan takutpun muncul saat melihat mereka mengamen dengan cara yang bahaya: Bergelantung di ambang pintu angkot dengan minim pijakan maupun pegangan. Tentu saya tidak seberani mereka dalam hal ini. Mungkin saja mereka sudah terbiasa, atau mungkin pula mereka tidak peduli atas bahaya yang bisa saja terjadi pada mereka, ke depannya. Ya, mereka masihlah sangat terlalu kecil untuk berpikir sepanjang itu.

Lucu mendengar nyanyian mereka yang terkesan semaunya, tidak beraturan dan agak malas-malasan. Namanya juga anak kecil. Maka dari itu, seketika angkot ini baru saja berhenti di sekitar stasiun Tebet untuk menuruni salah satu penumpang, merekapun langsung selesaikan nyanyiannya. Kemudian segera saja si pengamen 10 tahun mengedarkan tangannya kepada seluruh penumpang untuk menagih “bayaran”.

Angkot ini baru hendak melanjutkan perjalanan menyeberangi rel stasiun Tebet, ketika dua pengamen cilik itu turun. Kemudian sayup-sayup telinga ini mendengar:

“Ah, anj*ng...dapetnya cuma sedikit !!“ keluhan itu keluar dari mungilnya suara si pengamen 6 tahun.

Rabu, 30 Juni 2010

Si Jenaka Emmanuel Eboue



Entah kenapa gue ngerasa mesti nulis sesuatu tentang orang ini. Emmanuel Eboue, namanya. Dia adalah bek/gelandang sayap milik Arsenal, berdarah Pantai Gading.

Gue baru aja ngeliat satu video yang buat gue kocak parah, yang pelakunya jelas Eboue itu sendiri. Silahkan dilihat ini linknya : http://www.youtube.com/watch?v=k_pkYxX7VQc&feature=player_embedded

Sumpah, moment itu adalah salah satu kekonyolan yang pernah terjadi di dunia persepakbolaan ini. Betapa jenakanya dia ikut mendengarkan instruksi dari pelatih Korea Utara, padahal 100% dia sama sekali nggak mengerti bahasa korea. Dan itu terjadi di tengah-tengah pertandingan !!!!hahahahaha...

Jadi, ingat satu kejadian dalam suatu pertandingan Arsenal, dimana pernah Eboue menjadi korban cacian suporter Arsenal sendiri. Saat itu Eboue baru saja masuk ke lapangan menggantikan salah satu pemain Arsenal lainnya. Permainannya yang buruk kala itu sangat merugikan Arsenal, bahkan cenderung membahayakan pertahanan Arsenal.

Sayang, saat itu para Suporter nggak menyadari bahwa Eboue baru saja pulih dari cedera serius. Tak pelak sepanjang pertandingan dia mendapat sorakan negatif (Boooooo....) dari para Gooners, sebelum pada akhirnya Arsene Wenger menariknya keluar demi menjaga mental salah satu anak didik kesayangannya itu.

Bukannya mengeluh, marah, atau benci dengan para Gooners, malah sebaliknya dia terus terpacu membuktikan kehebatannya, sehingga kemampuannya dia semakin beranjak seperti sedia kala. Para Gooners pun puas dengan performanya yang kembali normal.

Yang membuat Eboue menjadi pemain kesayangan bagi kebanyakan para Gooners --selain keloyalannya terhadap fans,pelatih,rekan pemain, pelatih dan klub-- adalah sikapnya yang lucu. Bukan rahasia lagi kalau di kalangan sesama pemain Arsenal, dia adalah badut yang senantiasa melawak dan menghibur rekan-rekannya. Bahkan, hebatnya lagi --dan ini adalah bagian terpenting yang membuat kami, para Gooners, menyukainya-- seringkali kala rekan lainnya mencetak gol, dia nggak akan segan untuk menggendong si pencetak gol tersebut di punggungnya. Hal itu nggak dia lakukan saat menjadi pemain starter saja, karena sekalipun dia menjadi pemain cadangan pun dia akan selalu "setia" beranjak dari bench lalu berlari mengejar si pencetak gol itu dan kemudian menggendongnya.

Meskipun Eboue gagal membawa Pantai Gading ke tahap yang lebih jauh di World Cup 2010 ini, setidaknya dia masih mampu memberikan "hiburan" berupa kekonyolannya ini --yang gue yakin akan jadi pembicaraan hangat yang santai di masa depan.

Juga gue berharap dia akan mampu mengantar Arsenal menuju tahta Juara EPL, Champions League dan sebagainya, musim depan pula seterusnya.