Sore itu suasana dalam rumah terasa hening. Di luar, awan mendung pertanda sebentar lagi bakal jatuh hujan. Keheningan terus berjalan hingga akhirnya terpecahkan oleh suatu suara tangisan. Tangisan itu datang dari bilik pembantu kami : Mbak Ani. Raungannya begitu keras. Ibu, Kakak saya dan saya sendiri langsung berhamburan menengoknya. Saya lihat Mbak Ani masih dalam berbusana mukena dan sarung. Dia menangis sejadi-jadinya, terlentang di lantai, sesekali tubuh yang gemetar itu berputar-putar tak tentu arah mengikuti ke mana luapan emosinya berjalan.
Tangisan itu...tangisan itu begitu pilu terdengar. Mbak Ani sudah sangat lama bekerja di rumah kami. Bahkan, dia sudah bekerja di sini jauh sebelum saya lahir. Rasanya selama itu tidak pernah saya lihat dan dengar dia menangis sehebat ini. Bulu kuduk ini merinding melihat pemandangan itu. Ibu terus menerus bertanya apa yang sudah terjadi, namun Mbak Ani tetap meronta. Hingga sejumput kemudian terdengar oleh saya bahwa : Bapaknya Mbak Ani baru saja meninggal dunia, di kampung halaman.
Suasana begitu haru bertambah. Untuk sesaat tidak ada yang dapat Ibu lakukan, kecuali meminta Mbak Ani untuk beristighfar. Kak Gina pun terdiam sepertiku. Sayapun tidak tega melihat mbak Ani tidak henti-hentinya menangis. Saya mencoba mengerti. Memang menangislah senjata ampuh untuk menghadapi hal semacam ini. Mungkin saya belum pernah merasakan, namun pastinya suatu saat nanti akan tiba waktunya untuk saya.
Lalu, Kak Gina mencoba untuk menenangkan Mbak Ani, yang masih menangis bertelungkup di lantai, sembari terus berucap : Sabar...
Tidak lama sebelumnya, Mbak Ani dapat telepon dari anaknya di kampung, bahwa Bapaknya terjatuh di WC. Jauh sebelum ini ternyata Bapaknya Mbak Ani sudah terkena penyakit Stroke. Belakangan ini memang Mbak Ani sudah berkeinginan untuk segera pulang –mungkin ini yang namanya firasat—karena memang seminggu sebelum lebaran, biasanya adalah waktunya ia untuk mudik. Namun, sesal tak dapat ditolak kala Mbak Ani tidak bisa berada di samping Bapaknya menjelang dikuburnya jasad beliau. Hal ini yang membikin hati ini tambah meringis.
Mbak Ani seperti yang saya ceritakan tadi, sudah cukup lama berkerja dengan kami dan itu membuat dia sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Dia sangat baik, cerewet dengan suara cemprengnya dan poin terhebatnya adalah dia sangat jago dalam urusan mengenyangkan perut. Kami akan merindukan itu untuk sementara.
Terhitung beberapa jam setelah cerita ini ditulis dia akan mudik ke kampung halaman dengan membawa duka. Kami hanya bisa berdoa untuk kebaikan Mbak Ani dan keluarga di sana. Dan seperti kata Ibu kala ia mencoba menenangkan Mbak Ani : “ Sudah, yang sabar ...Ini bulan Ramadhan, bulan yang baik, bulan penuh berkah di mana pintu neraka ditutup...Jadi, bapak kamu beruntung bisa langsung masuk ke surga, Insya Allah...” Semoga doa kami itu terkabul, Amin Ya Allah...
Hati-hati dalam perjalanan pulang ya mbak. Seketika nanti kau kembali ke rumah ini, kami ingin melihatmu melangkah dengan senyuman yang jauh lebih cerah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar