/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 05 September 2010

Seniman Rabab Padang Panjang


Tak terasa bulan Ramadhan sebentar lagi akan menuju akhir. Itu artinya waktu mudik tidak lama lagi akan datang. Korelasi yang paling hakiki ketika kita bicara tentang mudik adalah kampung halaman. Saya jadi teringat setahun yang lalu (2009) saya berkunjung ke kampung halaman kami : Silungkang, SawahLunto, Sumatra Barat. Kunjungan kami ke sana tidak dalam rangka hari raya, karena kami pergi ke sana beberapa bulan setelah lebaran. Saat itu salah satu saudara kami akan melaksanakan pernikahan.

Waktu kunjungan kami ke kampung halaman tidaklah terlalu panjang –hanya seminggu—kami manfaatkan untuk berlibur ke luar kota. Suatu hari kami : Saya, Papa, Ibu dan beberapa sanak saudara, pergi ke Bukit Tinggi. Saya sangat beruntung karena sudah terhitung lama sekali saya tidak pernah berkunjung ke sana lagi. Ditambah saat itu pula kami mengunjungi Penjara Bawah Tanah Jepang. Berbeda dengan Papa yang sudah pernah ke sana sebelumnya –itupun sudah lama sekali—bagi saya ini adalah debut.

Ibu sudah mewanti-wanti agar kami tidak usah masuk ke penjara itu, karena terowongannya amat sangat dalam dan jauh di bawah permukaan tanah yang kami pijak. Sebelumnya, butuh keberanian tinggi hingga saatnya kami memutuskan “lanjut” masuk ke penjara bawah tanah itu. Ketakutan Ibu dan juga kami tentunya sesungguhnya cukup beralasan. Hari saat itu sudah sore, yang artinya penerangan akan sangat minim di dalam. Belum lagi ditambah fakta bahwa akhir-akhir ini –jika tidak mau dikatakan sering— Sumatra Barat dilanda gempa. Ingatan kita masih segar bukan? Banyak korban jiwa pada gempa dahsyat yang menggoyang Padang dan sekitar.

Alhamdulillah kami masih diberi keselamatan. Ketika kami keluar dari penjara simbol kekejaman tentara Jepang itu, hari sudah semakin sore, menjelang magrib. Tak ayal kamipun langsung melanjutkan perjalanan pulang. Namun, sebelumnya kami sempatkan untuk solat magrib dan makan malam di Rumah Makan Pak Datuak, Padang Panjang. Perut kami semua sudah terlalu lapar. Kabar tentang kenikmatan masakan di Rumah makan itu sudah cukup lama aku dengar. Hanya Ibu yang pernah mencicipinya, Saya dan Papa belum sama sekali. Saya jadi penasaran.

Benar saja, setelah solat maghrib, kami langsung “menghajar” hidangan yang tersaji. Sangat nikmat dan bercita rasa mumpuni. Saya yang awalnya sedikit mual efek perjalanan yang cukup jauh, langsung amnesia menanggapi keinginan saya untuk muntah. Kelezatannya mengalahkan itu semua !!!

Setelah selesai makan, saya iseng berkeliling memutari penjuru Rumah Makan itu. Saya lihat di permukaan dinding, banyak terpajang berbagai foto sang pemilik dengan beragam tokoh publik. Diantaranya, bahkan terdapat foto sang pemilik berdiri sejejer dengan RI 1 : SBY !!! Gambar yang merupakan kunjungan SBY ke Rumah Makan itu membuat diri ini berpikir: Kalau sudah begini tentunya reputasi restoran Padang ini sudah tidak bisa dianggap remeh. Dan reputasinya itu saya akui memang sangat sejalan dengan kenikmatan berbagai hidangannya. Salut.

Kemudian, terdengar sayup alunan musik dan nyanyian minang dibawakan merdu oleh seseorang, di luar sana. Saya penasaran lalu mengikuti ke mana arah sumber suara itu. Seorang Bapak paruh baya sedang memainkan alat musik sebentuk Biola –namun akhirnya saya mengetahui bahwa itu bernama Rabab, berbeda dengan biola, cara memainkannyapun berbeda— sambil berdendang berbahasa minang/melayu, di pelataran teras Rumah Makan. Saya tidak sepenuhnya mengerti keseluruhan isi lirik, namun meskipun begitu saya cukup bisa menikmati.

Rupanya, selain “mengamen” bapak itu juga menjajakan dagangannya berupa kaset-kaset dan CD lagu minang. Dan kalian pasti akan tercengang –sama seperti tercengangnya saya—ketika tahu bahwa diantara kaset-kaset maupun CD itu terdapat album minang milik Bapak itu sendiri. Dahsyat bukan !!! sembari mengamen live, dia pula menjual CD album karya miliknya.

Saya yang dari tadi terus merekam perform Bapak itu dengan Handycam, berkesempatan mengobrol sedikit dengannya. Dari penjelasannya, saya ketahui bahwa CD itu adalah album duet bersama istrinya bertajuk DUYA AKHIRAIK bersama : Erman & Ernie. Ya, nama bapak itu ternyata Erman, dan Ernie adalah istrinya sendiri.

Selagi terus merekam penampilan Bapak Erman, sekali lagi saya mengamati alat musik Rabab itu. Bentuknya benar-benar mirip dengan biola, bunyi hasil gesekannya pun tidak terlalu jauh berbeda, namun ada perbedaan dalam cara menggunakannya. Berbeda dengan biola yang ditopangkan dan ditekan di leher pemain, kalau rabab ini tidak perlu digencetkan di leher, cukup diletakkan di paha pun jadi. Nah, satu poin belakangan ini yang memungkinkan si pemain dapat bermain sambil bernyanyi pula. Dari info yang saya dapat Rabab ini adalah salah satu alat tradisional minang / melayu bahkan Arab. Yang saya tidak tahu, dan sampai sekarang tetap menjadi misteri adalah : Apakah awalnya Biola yang merupakan modifikasi hingga terbentuknya Rabab, atau bahkan malah sebaliknya, Rabab yang merupakan modifikasi dalam terciptanya Biola??

Tak lama kemudian Papa, Om dan Ibu pun menghampiri. Mereka tertarik melihat-lihat berbagai kaset minang itu. Saya tahu perhatian mereka tidak akan pernah terlepas dari yang namanya Tiar Ramon. Mengapa? Karena bagi saya jangan pernah mengaku minang kalau tidak menyukai Tiar Ramon. Apalagi tidak menahu sosok itu sendiri. Ibaratnya: murtadlah seorang Betawi jika tidak tahu atau tidak menyukai sosok Benyamin S.

Almarhum Tiar Ramon adalah musisi dan penyanyi kondang seantero minang. Suaranya yang khas berkarakter sangat melegenda di Sumatra Barat. Lagu-lagunya pun sangat apik didengar. Salah satunya yang terkenal adalah : Dindin Badindin.
Mungkin karena melihat saya amat tertarik merekam penampilan Bapak Erman, timbul niat iseng Papa.

“ Pak, ini anak saya wartawan TVOne lho “ kata Papa ke Bapak Erman.” Jadi, bapak mainnya yang bagus ya, biar nanti masuk TV”

Saya cukup terkejut mendengar itu, namun saya hanya tersenyum saja, menikmati candaan itu dan menunggu reaksi si Bapak. Sialnya, Bapak Erman malah serius menanggapinya. Dia tampak sangat percaya terhadap apa yang Papa katakan, meskipun sebenarnya Papa mengatakannya dengan tawa-tawa kecil.

“ Bener, Pak ? “ tanya Bapak Erman.

Entah kemasukan apa, Papa malah melanjutkan candaannya. Batinku, mungkin ini efek dari kelezatan hidangan si Datuak hingga “kegilaan” Papa keluar sejadi-jadinya karena tertimpa kekenyangan yang sempurna.

“ Beneran, Pak. Bapak tunggu dan tonton aja berita TVOne minggu depan ya”, jawab Papa.

Lagi-lagi Bapak Erman tidak dapat menangkap candaan Papa, dia terus saja percaya dan mungkin mulai membayangkan dirinya muncul di layar kaca. Usaha saya pun jadi sia-sia ketika mencoba untuk “menyadarkan” Bapak Erman, kalau itu semua hanya candaan belaka.

Setelah beberapa kaset Tiar Ramon dibayar, kamipun langsung menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Di teras Rumah makan itu, kami tinggalkan Bapak Erman, musisi asli minang itu, bertemankan mimpinya: Mimpi tampil di layar kaca, ditonton oleh khalayak seisi Indonesia...

Tetap Semangat Bapak Erman !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar