/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Rabu, 08 September 2010

See You Next Year...Ramadhan

Sesal maupun berbagai keluhan selalu datang ketika kenyataannya Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. "Aduh, kok cepat sekali ya bulan Ramadhan berjalannya", "Yah ibadah Ramadhan gue kayaknya kurang pol neh tahun ini", atau kalimat "Nyesel banget, nggak bisa manfaatin bulan Ramadhan ini untuk beribadah sebaik-baiknya" selalu muncul kala akhir Ramadhan hanya tinggal menanti hitungan jam. Tak terkecuali keluhan macam itu muncul dari mulut saya sendiri.

Saya masih mengingat waktu hari-hari pertama bulan Ramadhan, ketika begitu banyak jamaah tarawih yang memenuhi masjid Raya Al-Ittihad (mesjid favorit kami untuk bertarawih). Bahkan sampai ada yang rela solat di pelataran parkir, lalu ada juga yang sampai "membuat saf" sendiri di rerumputan, di pinggir parkiran.

Nah, menjelang berakhirnya Ramadhan, ceritanya pun menjadi berbeda. Tidak ada lagi itu yang namanya jamaah sampai luber di pelataran parkir, luar mesjid. Yang ada barisan saf semakin irit --hanya setengah dari kapasitas indoor mesjid. Saking sedikitnya jamaah dan bertambahnya space yang kosong, nyatanya membuat beberapa jamaah terkadang membuat saf sendiri atau juga solat berjamaah individu.

Berjamaah individu apa itu?? itu hanyalah sebutan buatan sendiri, yang maksudnya orang itu ikut solat berjamaah namun memisahkan diri dari jamaah. Tujuannya beragam : salah satunya mungkin karena ingin mendapatkan angin segar, dan lepas dari kesumpekan atau kegerahan...Hahaha kalau melihat hal ini hati ini tertawa sembari miris. Sejauh pengetahuan agama saya yang dangkal ini, cara solat seperti itu tidak dapat dibenarkan. Logikanya: jika ingin dapat pahala solat berjamaah, maka berjamaahlah --jangan memisahkan diri dari mereka. Sebaliknya jika ingin solat sendiri, maka solatlah sendiri tidak perlu mengikuti imam.

Ya sudahlah, itu urusan mereka dengan sang Pencipta.

Kembali pada tentang kegelisahan hati menjelang Ramadhan pergi. Entah ibadah yang saya lakukan kesemuanya diterima atau tidak. Yang pasti saya ingin selalu kembali berada di bulan Ramadhan berikutnya bersama orang-orang terkasih.

Kemarin malam, sepulang tarawih, ketika saya dan Papa sudah berada di dalam mobil hendak pulang ke rumah. Seorang Bapak tukang parkir Mesjid Al-Ittihad menghampiri kami. Seketika kami berdua menyalaminya, dia berkata pada Papa "Terima kasih pak, semoga kita bisa ketemu lagi ya, di bulan Ramadhan tahun depan". Mendengar itu, hati ini seperti bergetar sedikit.

Ya Allah, ijabahlah doa Bapak Tukang parkir yang baik itu. Dan hamba mohon agar keindahan & keberkahan Ramadhan ini akan selalu menemani kami di bulan-bulan berikutnya...Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar