Tidak. Saya tidak sedang ingin membahas judul lagunya salah satu band Indonesia --namanya memiliki unsur pohon-- yang tengah naik daun itu.
Saya baru saja menonton Film Dokumenter bertajuk "TOUCH THE SOUND" di Kineforum, Cikini. Film itu menceritakan tentang kehidupan Evelyn Glennie, seorang percusion wanita yang cukup terkenal di dunia, dalam mengeksplorasi hubungan antara suara, irama, waktu, dan tubuh dengan kondisi diri yang hampir tuli.
Di tengah cerita, tiba-tiba muncul pemikiran sederhana dari otak saya. Betapa kayanya jumlah suara dalam hidup ini. Dan betapa dibutuhkannya suara dalam kehidupan manusia, yang menurut saya sama tarafnya dengan kita yang membutuhkan oksigen dari hari ke hari. Tanpa mengucilkan peran indera manusia lainnya yang tentunya sama-sama besar, kebutuhan kita akan indera pendengar mutlak kita dapatkan bila ingin mendapatkan kehidupan yang sempurna.
Coba bayangkan jika suatu waktu Tuhan mencabut pendengaran kita.
Contohnya,mungkin saja kita yang tiba-tiba tuli ini akan menyesal tidak pernah mendengar indahnya suara adzan lagi, karena biasanya kita menutup telinga kita dengan bantal saat terdengar adzan subuh bersahut-sahutan di udara. Bahkan tidak jarang kita mengencangkan volume musik Rock kita saat Adzan mulai berkumandang.
Atau kita yang selalu malas mendengar monotonnya ocehan maupun perintah orang tua : "Nak, tolong antarkan ibu ke pasar" , "Nak, kamu di sekolah harus belajar yang benar" , akan menangis sejadi-jadinya kalau memang benar tiba saatnya pendengaran kita tidak berfungsi, suatu saat nanti. Jika kondisinya sudah terlanjur seperti ini saya berani bertaruh bahwa kita semua pasti akan merindukan ocehan cerewet para orang tua kita.
Lalu, bayangkan lagi jika semua alunan musik lenyap atau tidak pernah ada lagi di muka bumi ini karena di ambil oleh yang maha kuasa. Kita pastinya akan tidak kenal lelah untuk mengemis-ngemis padaNya agar musik itu dikembalikan pada kita. Maka ucapan syukur otomatis akan keluar jika Tuhan pada akhirnya mau memberikan kembali alunan musik di dunia ini, sekalipun mungkin itu hanya lagunya Band Hijau Daun.
Kalau saya tidak salah tangkap, dalam film itu sempat Evelyn berujar "We all are sound". Ya, kita semua adalah suara itu sendiri. Otak saya mencoba menyimpulkan maksud itu yaitu semua yang ada di bumi ini bersuara, sekalipun itu benda mati. Dipersempit lagi, pendapat saya mengatakan bahwa ternyata manusia memang membutuhkan suara dalam kehidupannya.
Bukankah dua tim kesebelasan sepakbola sangat membutuhkan sorak sorai pendukungnya, di tiap pertandingan, agar semangatnya terus meluap ?. Itu contoh sederhananya, untuk yang lebih kompleks mari sama-sama kita memikirkannya di kala kita memiliki waktu untuk berdiam diri dan merenung. Bersyukur dan beruntunglah mereka yang alat pendengarnya masih berkerja dengan baik, tanpa suatupun alat bantu.
Jadi, nikmatilah suara yang ada --sekalipun hambar terdengar-- selagi oksigen belum ditarik peredarannya oleh yang maha kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar