/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 22 Juni 2010

Saya Sombong....

Sore itu entah mengapa perasaan saya tidak terlalu baik. Ada emosi yang tertahan, namun tidak mampu saya ungkap seperti apa itu rupanya dan disebabkan oleh apa. Akhirnya saya memutuskan untuk jogging di jalur hijau dengan harapan emosi buruk ini lenyap seiring keluarnya keringat dari dalam tubuh.

Belum saja memasang sepatu, telpon rumah sudah berdering. Ibu menyuruh saya untuk mengangkatnya. Mungkin itu dari customer service saluran televisi berlangganan (namanya tidak mungkin saya sebut, jadi saya akan menggunakan nama RRR TV), katanya. Benar memang itu telpon dari pihak customer service RRR TV.

Sebelum menceritakan lebih lanjut, saya akan menjelaskan perihal RRR TV ini terlebih dahulu. Jadi, baru beberapa hari saja kami memasang RRR TV di rumah. Satu-dua-tiga hari keadaan masih berjalan normal, hingga hari berikutnya tayangan lokal dari RRR TV itu lenyap, hilang dari TV kami. Singkatnya, kami langsung komplain ke pihak mereka. Berkali-kali kami menelpon pihak customer service RRR TV selalu saja kami tidak mendapatkan solusi yang baik dan tidak jelas.

Sudah hampir 3 hari tayangan lokal kami tidak pernah muncul seperti yang mereka janjikan. Hingga hari itu Pak Dion (bukan nama asli)--belakangan saya tahu namanya-- menelpon ke rumah.

" Dengan bapak **** (nama bapak saya) nya ada?" tanya Pak Dion.
" Bapaknya lagi kerja, ini siapa ya? " tanya saya.
" Kami dari pihak RRR TV. Kalau begitu dengan ibunya saja? "
" Oohh, yaudah pak sama saya saja, anaknya " perlahan emosi saya bergemuruh naik. " Ini jadinya bagaimana pak ?, sudah berhari-hari nih, padahal sempat kok dua hari awal kami tidak menemui masalah ".

" Iya, saya minta tolong siapkan foto kopi KTP bapaknya, 3 lembar "
" Hah, buat kapan itu pak?"
" Ya, sekarang lah kalau mau cepat ditangani " nada suaranya kali ini agak meninggi, dan membuat naik darah saya.

" Ya, sekarang bapak saya masih kerja, KTP nya jelas tidak sama kami sekarang !. Kalau begitu pihak bapak datang saja sehabis magrib, mungkin saat itu bapak sudah pulang "

" Ya, kami bisanya sekarang. Nanti Magrib tidak bisa " tegas Pak Dion.
" Kok gitu sih??! Lagian saya heran, kok baru minta fotokopi KTP nya sekarang. Kenapa tidak dari awal pemasangan dimintanya?! " hati saya menggebu-gebu saat berkata. " Kalau itu memang sudah jadi salah satu prosedur, mengapa kami dibiarkan sempat menikmati layanan TV anda selama 2 hari? dan kamipun sudah membayar sebelumnya !", nada suara saya meninggi dengan angkuhnya.

Bukan apa-apa, kami yang merasa dirugikan dan jelas sekali mereka yang salah, namun yang saya tangkap sepertinya malah dia yang menyalahkan kami. Seolah mereka sedang menikmati ketergantungan kami pada mereka.

" Ya, mungkin waktu itu eee...eeee...eeee " jawabannya tidak jelas. Saya tahu pasti dia sudah kehabisan akal dan kata-kata. Dan yang saya sayangkan, tidak ada keluar kata maaf dari mulutnya saat itu. Hal ini membuat saya sangat jengkel bukan main.

" Ya sudah, nanti saya telpon langsung saja ke Bapak " katanya melunak, sebelum mengakhiri pembicaraan. Emosi saya masih saja meledak-ledak --kata-kata kasarpun keluar dalam gerutu saya-- ketika saya agak sedikit membanting gagang telpon, namun hati kecil ini puas. Puas karena merasa telah "mengalahkan" mereka.

Beberapa saat kemudian saya sudah belari di Jogging Track Jalur hijau. Terbayang kembali perdebatan tadi dalam benak. Mungkin benar bahwa keringat mampu mencairkan emosi, karena pada saat itu mendadak saya mampu berpikir positif.

Betapa kasarnya saya terhadap Pak Dion --saya takar dari suaranya, umurnya mungkin 30 tahun ke atas-- yang jelas lebih tua dari saya. Memang, mungkin saya berada di pihak yang benar sedangkan dia sebaliknya. Namun, tidak sepantasnya saya membakar emosi saya dengan nada bicara yang tinggi saat berkomunikasi dengannya, meskipun hanya lewat telepon.

Kesalahan personal maupun teknis sesungguhnya dapat terjadi kapanpun dan oleh siapapun. Suatu kenyataan hidup yang saat itu saya tidak sadari. Padahal, bisa saja suatu hari nanti saya yang berada di posisi Pak Dion, dan orang lain yang berada di pihak saya --hal sederhana yang tidak pula sempat terpikirkan saat itu. Namun, emosi berlebihan saya mampu mencengkram kuat-kuat hati nurani ini, meremasnya hingga remuk kemudian tidak berfungsi.

Hingga saya pulang jogging, saya mendapati saluran TV Lokal kami kembali berjalan normal. Pihak RRR TV menempati janji mereka, pada akhirnya.

Setan apa yang saat itu merasuki ? Saya tidak tahu. Yang jelas saya ingin meminta maaf terhadap Allah SWT, dan memohon padaNya agar membukakan pintu maaf Pak Dion atas kesombongan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar