Juni identik dengan bulannya Jakarta.
Bicara tentang Jakarta saya jadi teringat akan salah satu sahabat saya, seorang Betawi tulen, Hafidz namanya. Saya akan ceritakan bagaimana pertama kali kami bertemu hingga dia menjadi salah satu sahabat saya sampai saat ini.
Masih segar ingatan saya, ketika hari pertama saya masuk ke sekolah Taman Kanak-kanak. Saya yang kala itu sangat tidak percaya diri harus masuk kelas ditemani oleh ibu saya. Di kala anak-anak lain sudah menduduki kursinya masing-masing, saya masih duduk di sebelah ibu saya, dipojokkan kelas . Sengaja ibu guru (saya memanggilnya bu Fat) yang baik itu menyediakan dua buah kursi untuk kami – dia mengerti kalau saya belum siap untuk “bergabung” dengan mereka.
Namun, itu tidaklah lama, karena setelah itu Ibu saya pergi meninggalkan saya. Teganya dia meninggalkan saya dengan alasan ingin pergi ke pasar –belakangan saya menyadari mungkin Ibu bermaksud untuk membuat saya belajar berani. Sontak saya begitu ketakutan, karena suasana baru yang harus saya hadapi itu seakan ingin menelan saya hidup-hidup. Ditambah anak-anak lain yang sudah mengenakan seragam itu lalu menoleh ke arah saya yang masih mengenakan pakaian biasa –belum mengenakan seragam – membuat saya tidak ragu untuk menangis sekencang-kencangnya.
Ibu Fat (bacanya dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Inggris) sampai perlu mendiami saya, berusaha keras untuk menghentikan tangisan saya. Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya saya diam. Lalu, Bu Fat menuntun saya untuk duduk di kursi meja paling belakang, di pojok kanan. Meja itu sudah ditempati satu anak, namun kursi di sebelahnya masih kosong, jadilah saya duduk di sana. Lalu, saya dikenalkan oleh Bu Fat dengan teman sebangku itu, namanya Hafidzullah Amin.
Sejak saat itu saya selalu lewatkan waktu TK bersamanya, hingga datang “ritual” itu dalam hari-hari kami. Bentuknya seperti ini : Kami bersepakat untuk selalu membawa bekal makanan yang berjenis sama tiap harinya. Makanannya beragam, namun lebih sering makanan seperti nasi goreng atau mie goreng . Dan ketika jam makan tiba kami berdua saling mencoba atau mencicipi makanan satu sama lain. Biasanya Hafidz yang selalu komplain, karena menurutnya makanan yang saya bawa selalu pedas –mungkin karena saya orang minang, jadi dari kecil memang sudah suka masakan yang pedas – sedangkan miliknya sama sekali tidak pedas bagi saya.
Namun, meskipun saya kurang bisa menikmati masakan tidak pedas, tidak pernah terbersit diri ini untuk mengurungkan atau menyudahi ritual ini. Begitu juga sebaliknya, Hafidz, meskipun setelah mencicipi makanan saya dia perlu meminum banyak air putih – karena mulutnya terbakar—sekalipun dia tidak pernah berniat untuk mengakhiri ritual ini. Sepertinya kami sedang belajar untuk saling memahami dan tenggang rasa saat itu.
Waktu semakin cepat berjalan, dan kamipun semakin dekat hingga kami memasuki Sekolah Dasar yang sama. Ada cerita lucu ketika kami memasuki kelas 1 SD yang sampai sekarang saya akan tertawa, minimal tersenyum kecil jika mengingatnya.
Pak Harun, Guru kami, menyuruh kami satu per satu ke depan kelas,untuk
membawakan lagu daerahnya masing-masing. Seingat saya teman-teman baru saya di kelas itu cukup beragam daerahnya. Ada yang dari daerah Jawa, Sumatra bahkan kalau saya tidak salah ada pula yang berasal dari Kalimantan. Saya tidak mampu mengingat baik lagu apa yang saya nyanyikan waktu itu – atau malah jangan-jangan saya menolak untuk menyanyi di depan kelas, karena rasa tidak percaya diri saya yang akut. Tapi, yang jelas saat itu tidak ada yang bisa menyanyikan lagu daerah masing-masing dengan baik dan benar, mengingat keterbatasan diri. Maklum saat itu kami masihlah sangat hijau. Hingga datanglah giliran Hafidz, sahabat saya itu untuk menyanyi di hadapan kami. Kami menantikan lagu Betawi apa yang akan dia nyanyikan. Tak lama dia berdiri di depan, langsung saja tanpa berbasa-basi dia bernyanyi:
Anak Betawi. Ketinggalan jaman, katenye...
Anak Betawi, nggak bebudaye, katenye...
Sontak tawa khas anak-anak membahana seisi kelas mendengar itu. Namun, Hafidz sama sekali tidak berpikir untuk berhenti.
Aduh, sialan...Si Doel anak Betawi asli...
Kerjaannye sembahyang,mengaji...
Tapi, jangan bikin die sakit hati...
Tawa kami sama sekali tidak berhenti. Mengapa kami tertawa sejadi-jadinya saat itu? Karena meskipun kami masih kecil kami tahu kalau itu bukanlah lagu daerah Betawi, melainkan Soundtrack dari serial TV Si Doel Anak Sekolahan. Saat itu Sinetron Si Doel adalah tontonan nomor satu di Indonesia, jadi tidak mungkin tidak ada yang mengenal lagu yang dibawakan oleh sahabat saya itu.
Seketika itu saya menyadari bahwa kelak Hafidz akan menjadi seseorang yang supple, lucu, atraktif, aktif, gila dan iseng. Dan sepertinya dugaan saya tidak meleset. Kelas satu, dua, tiga dia memang benar tumbuh menjadi anak yang super aktif –kalau tidak mau disebut nakal – khas anak-anak. Dia menjadi salah satu murid yang terkenal di SD. Banyak yang mengenalnya karena kenakalannya tersebut, tak terkecuali para guru. Bagi saya itu tidaklah masalah, karena dengan sikapnya itu berarti dia bisa mengimbangi sifat saya yang pendiam dan cenderung pemalu.
Tentang ritual “Mencicipi Makanan” kami, sayangnya mengalami ke vakum-an selama itu. Ini tak lain karena beragamnya aneka jajanan di kantin maupun jajanan di luar sekolah. Namun, suatu hari, tepatnya saat kami menduduki kelas 4 SD, dia mencetuskan ide untuk mengadakan ritual itu lagi. Saya tidak mungkin menolaknya, mungkin karena saat itu saya sedang merindukan hal itu kembali. Kalau saya tidak salah ingat, waktu itu kami kembali merencanakan membawa makanan nasi-mie goreng-Telor.
Keesokannya, kami berdua terkejut, karena tempat makanan yang kami bawa ternyata identik. Yaitu tempat makanan plus minuman yang merupakan hadiah dari salah satu restoran cepat saji Amerika yang terkenal itu. Bedanya adalah miliknya berwarna kuning, sedangkan saya hijau. Kamipun tetap tertawa girang sekalipun mulut ini sudah dipenuhi makanan.
Kembali tentang keBetawi-an Sahabat saya itu. Ada suatu saat di mana kami bersama teman kami lainnya membangga-banggakan daerahnya masing-masing. Memang terdengar seperti kejahatan SARA, namun kami sama sekali tidak memikirkannya –maklum kami masihlah sangat hijau saat itu. Tapi, pada akhirnya kami semua akan kalah dan menyerah ketika sahabat saya itu berkata : “ Kalau memang daerah kalian – Padang, Jawa, dll – yang paling hebat, mengapa kalian sekarang tinggal di sini? Di tanah Betawi milik saya ?”
Wow, jawaban yang hebat dan cukup telak untuk kami. Sehingga terhentilah pertengkaran khas anak kecil itu.
Seiring berjalannya waktu. Masa SMP hingga SMA saya sudah jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Hafidz. Sahabat saya itu pun pindah rumah, dari yang awalnya cukup dekat dengan rumah saya hingga dia harus tinggal ke tempat yang agak jauh. Benar-benar saya tidak mendengar kabarnya sampai tiba suatu hari dia datang ke rumah saya bersama.
Betapa terkejutnya saya –setelah beberapa lama tidak bersua—ketika melihat perawakannya sekarang. Tidak seperti dulu yang kurus kecil, kali ini dia datang dengan bentuk badan yang begitu besar berisi, dan tingginya pun beberapa centimeter di atas tinggi saya. Belum usai keterkejutan ini, ketika ditambah lagi dengan kabar bahwa dia ingin segera menikah. Sengaja ia datang ke rumah untuk mengenalkan calon istrinya dan memberikan undangan pernikahannya.
Kabar bahagia kembali sahabat saya dapatkan. Beberapa waktu yang lalu, dia mengabari bahwa istirnya sedang mengandung bayi, yang sudah jalan 1 bulan. Betapa hebatnya sahabat saya yang satu ini.
Kelak saya harap si Hafidz Junior akan menjadi “pejuang Betawi” seperti Ayahnya. Semoga dia mampu membanggakan kota Jakarta tercinta ini melebihi Ayahnya, dan pula tentu harus berbuat banyak hal yang berarti untuk tanah Betawi ini.
Berhubung ini masih bulan Juni, jadi saya masih berkesempatan untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk kota Jakarta kita tercinta ini.
Dirgahayu DKI JAKARTA ke 483 !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar