/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 30 April 2010

Merekam polos dan lugunya

Bersepeda saya sedang berusaha menikmati kebosanan hari-hari. Senyum kecilpun tidak saya simpan tatkala ada sesuatu yang menekan hati ini...

Lalu, ujug-ujug satu titik kecil muncul dari ujung sana, berlawanan dari arah saya. Lama-lama titik itu berangsur menjadi besar dan tambah jelas ketika ia semakin mendekat. Oh, saya mengenalnya...

Saya bersepeda dari arah jam 6 menuju jam 12, di sisi kiri jalan. Sedangkan ia datang dari arah sebaliknya, di sisi kanan jalan. Kemudian berlalulah beberapa truk besar pengangkut barang melintasi jalan besar di mana kami sedang berada. Asap knalpot hitam berhamburan ke luar kesana kemari, juga angin bersekutu dengan debu jalanan latah ikut terbang menghempas, tak tentu arah. Ya, ini ulahnya truk-truk pongah itu.

Saya lihat ia menutup hidung dan mulutnya dengan jaket, yang tampaknya sengaja tidak ia kenakan, melainkan hanya digantungkan di kedua tangan kecilnya. Berjalan terus ia di atas sepedanya, kendati lalu ia bersin beberapa kali, tidak tahan terhadap terjangan peluru-peluru milik para truk tadi.

Kenyataanya, momen itu berjalan cukup cepat. Namun, entah mata saya sekejap merekayasanya menjadi berjalan sungguh lambat. Sehingga saya dapat melihat betapa lugu dan polosnya wajah itu, wajah tertutup setengah oleh jaket, wajah bersin-bersin dengan mata yang berusaha kuat untuk terus menatap lurus ke depan. Jika mungkin hal itu dapat saya rekam, mungkin rekaman ini akan selalu saya nikmati sebelum terlelap oleh malam...Sungguh !!

Sayapun segera memanggilnya, memanggil namanya...Menghampirinya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar