Masih cerita mengenai hari – hari saya selama menetap di Pare, Kediri. Mengapa akhir-akhir ini cerita saya hampir tidak lepas dari Pare??,,ya, harus diakui bahwa keberadaan saya di Pare—tepatnya di desa Tulungrejo-- yang “hanya” sebulan ternyata membuat saya tidak mampu menepikan banyak cerita maupun buah pikiran yang saya dapatkan di sana. Jadi, jangan heran bahwa kali ini atau mungkin tulisan selanjutnya akan tidak jarang yang menyinggung tentang Pare. Saya sudah terlanjur cinta dengan Pare, yang dengan pasti memberikan saya cukup banyak inspirasi di dalamnya.
Siang itu --waktu dan hari tidak dapat saya ingat--, seperti biasa desa Tulungrejo disinari oleh terik panasnya matahari yang amat sangat menyengat kulit. Saya dan Igo, teman saya merasa bahwa perut kosong ini butuh diisi sesuatu yang lezat. Kami memutuskan untuk menyantap nasi Padang demi memuaskan nafsu lapar ini, dan kebetulan jatah nasi Padang kami untuk seminggu ini memang belum kami ambil.
Sebagai informasi, lama sebelumnya kami berdua telah sepakat untuk menjatahkan makan nasi Padang hanya sekali dalam seminggu, atau bahkan tidak sama sekali jika dompet sedang tidak akrab dengan para Rupiah, demi penghematan tentunya. Namun, kali ini alhamdulillah kocek kami mencukupi, dan ditambah kebetulan kami belum mengambil “jatah mingguan” kami itu, maka jadilah kami pergi meluncur ke rumah makan Padang itu. Hehehe for me ,it’s time to satisfy my Padang tounge...Saya sungguh merindukan hidangan lezat,pedas dan mengenyangkan...
Kami rela bersepeda panas-panasan dengan jarak tempuh kurang lebih setengah kilometer demi menyantap nasi Padang. Memang lokasi Rumah makan Padangnya berada di pusat Pare, dan tahukah anda bahwa rumah makan Padang (yang sudah menjadi langganan dan andalan kami) ini adalah satu-satunya di Pare !!!
Dan ini dia !!! Nasi+Paru kering+sayur+sambal ( masyaAllah pedas dan lezatttt) +aneka kuah nan menggoda menjadi menu saya kali ini, dan Igo memilih Nasi+Gulai Usus+aneka kuah. Kami sengaja memilih menu hemat mengingat keterbatasan isi dompet kami. Namun, toh dengan lauk “satu macam” itu saja sudah mampu membuat mulut kami menghasilkan sendawa kepuasan. Peluh membasahi wajah kami, yang bagi kami urang awak berarti makanan yang telah kami makan lezat dan mengenyangkan. Bibir saya memerah kepedasan, dan saya sungguh menikmati momen itu, karena ketika saya makan di rumah-rumah makan biasa lainnya, di desa ini, hampir semua berasa manis dan tidak mampu membakar lidah saya....Puas dan Kenyang !!!
“ Ibu sepertinya bukan orang sini ya? “ kata seorang pria berumur kira-kira 40 tahun kurang, dari balik kasir kepada seorang ibu pembeli.
“ Maksudnya?” tanya si Ibu, sembari memberikan uang dan mengambil lauk yang telah dibungkus dari pria tersebut.
“ Maksud saya Ibu sepertinya bukan orang Kediri ya?” kata pria itu dengan nada yang simpatik.
“ Oh, iya saya memang bukan orang sini, saya asli Bengkulu” timpal Ibu lagi.
Pecakapan itu kami perhatikan ketika kami sedang memberikan kesempatan pada perut kami untuk “beristirahat” sebentar. Lalu, tak lama kemudian si Ibu berlalu keluar. Saya dengan sok akrabnya mulai mengajak ngobrol si Pria itu, yang pada akhirnya saya tahu kalau dia adalah owner dari rumah makan Padang ini.
“ Mas, emang bener ya ini rumah makan Padang satu-satunya di Pare? “
“ Iya begitulah “, jawab dia menanggapi.
“ Saya bener-bener salut lho mas,,masakannya masih bener-bener Padang banget”, kata saya sambil memberi isyarat tangan tanda kutip di bagian akhir kalimat.
Dia tertawa ramah. “ Memang begitu ya? “ katanya “ Ya, dulu saya pernah berpikiran untuk menyesuaikan rasa dan selera dengan orang-orang sini, dengan membuatnya menjadi tidak terlalu pedas dan cenderung agak manis. Namun, saya lebih memilih beralih kembali menjadi sebagaimana mestinya seperti apa itu masakan Padang”.
“waaahh bagus mas, emang udah seharusnya gitu soalnya saya ga tahan sama masakan-masakan yang manis, yang jauh dari kata pedas” .Saya melanjutkan, “ hmmm ngomong –ngomong mas orang asli Padang bukan? “
“ Oiyaa tentu !!! “ kata dia bersemangat.
“Wueehhhhh oke banget !!”, saya pun menjawab tak kalah antusiasnya.
Tidak tahu mengapa selama saya di Pare, saya selalu senang kalau bertemu dengan orang Padang. Seperti ada kebanggaan tersendiri melihat fakta bahwa urang awak itu memang tersebar di mana-mana, dan saya merasakannya langsung saati itu.
“ Saya dari Silungkang-Sawahlunto mas, kalo mas Padangnya mana?” kata saya
“ Saya dari Pariaman. “ jawabnya .“ Saya dulu bersama keluarga hijrah ke Bali, sayapun menghabiskan masa muda saya di sana”.
“ Lha, Bali ??, emang banyak ya mas orang kita yang rantau di sana?. Mata pencahariannya apa tuh mas? “
Kepribadiannya yang simpatik dan ramah membawa kami ke dalam perbincangan yang lebih jauh dan hangat. Dan satu pengetahuan bertambah buat saya, ternyata bukan hanya Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya saja yang “dijajah” orang Padang, ternyata Bali juga termasuk di dalamnya.
“ Lah iya mas, cukup banyak kok. Leluhur saya itu termasuk yang menjadi pionir orang Padang yang merantau ke Bali, dan itu ada perkumpulan orang Padangnya kok, di sana. Mata pencahariannya ya tidak jauh dari berwirausaha, antara lain usaha Furniture, usaha Kain dan tentunya rumah makan Padang.” Kata dia memberi penjelasan. “ Saya sempat juga kok buka rumah makan Padang di Bali, sebelum saya buka rumah makan ini di sini. “
“ Oh gitu... Nah, trus yang buat mas akhirnya buka rumah makan Padang di Pare ini apa?”
Dia tersenyum menjawab, “ saya menemukan jodoh saya di sini. Istri saya orang Jombang yang tinggal di sini. “ Lalu dia menambahkan.” Saya ini selama 8 tahun berlayar—awak kapal pesiar, sebagai waiters. Saya sudah pergi ke mana-mana, namun saya menemukan jodoh saya di sini, Alhamdulillah.”
Wow, saya agak takjub mendengar bahwa dia adalah seorang awak kapal, dan hal ini menggelitik rasa penasaran saya yang sering timbul ketika bersua dengan orang hebat macam dia ( namanya: Mak Uncu, sesuai dengan nama rumah makannya). Setelah kami membayar makanan kami, diapun mengantar kami keluar menuju sepeda kami. Dan pertanyaan pamungkas saya muncul.
“ Mas selama 8 tahun berlayar, kira-kira berapa banyak negara yang udah disinggahi ?“
“ More than 60 countries !!” jawabnya mantap.
Wowwww!!!! Hebatttt!!! Saluttttt!!!!... Gila, Subhanallah !!! Ya Allah betapa hebatnya orang ini. Saya ingin bisa seperti dia suatu saat nanti, dapat merasakan aneka rupa banyak negara, menjelajahi seisi wajah bumi ini. Hati saya berdoa khusyuk saat itu.
Ya begitulah cerita saya kali ini. Kembali ke topik utama, yaitu lidah dan perut Padang saya. Untuk hal ini sepertinya saya harus mengucapkan beribu terima kasih pada istrinya ma’ Uncu, ya untung saja ia bukan orang Padang atau orang Kalimantan atau orang Medan, untung saja ia itu adalah orang Jombang, untung saja Mak Uncu ( Mak: sebutan om untuk orang Sumatra Barat ) bertemu dengan istrinya itu di Pare. Dampaknya, jadi Mak Uncu membuka usaha rumah makan Padangnya di Pare, tidak lagi di Bali. Lebih jauh lagi, dampaknya adalah saya dapat mengobati rasa kangen akan masakan Padang yang pedas dan lezat di kota kecil ini. Karena bagi saya, arti makanan yang sesungguhnya hanya ada pada masakan Padang !!!!
Jadi, kalau suatu saat anda berkunjung atau bahkan mungkin tersesat di Pare, dan lidah Padang/ Sumatra anda tidak cocok dengan berbagai hidangan yang manis-manis, maka datanglah dan HAJARRR masakan padang di RUMAH MAKAN MA’ UNCU !!!...
Rumah makannya tidaklah terlalu besar, namun kelezatan cita rasa asli Padang plus pelayanan ramah & simpatik dari sang Owner mampu membuat rumah makan ini menjadi yang terbaik dan nomor 1 , di Pare. Setidaknya menurut saya--tanpa ada maksud berAdvertise, sungguh saya hanya mencoba memberikan rekomendasi terbaik...hehehehe
RUMAH MAKAN MA’ UNCU jl. B.P Sudirman 81, Pare – Kediri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar