Menjelang pertandingan 2nd leg UCL antara Arsenal vs Porto ( Rabu, 10 Maret 2010 ), saya dikejutkan oleh pemadaman listrik secara tiba - tiba, di Pare. desa kecil yang pada malam biasanya cukup diterangi banyak lampu kecil dari rumah - rumah, mushola, ataupun warung - warung, kini mendadak gelap gulita. Saya tidak tahy apa alasan PLN memadamkan listrik saat itu. Jadilah mereka yang "terlupakan" (baca: lilin0 kembali menjadi andalan untuk membantu penerangan di segala sudut.
Padahal di siang harinya saya sudah berencana untuk menumpang menonton bola di rumah kosan teman. Saya harus menonton pertandingan hidup-mati ini, karena Arsenal masih berada di posisi yang berbahaya, sedangkan Porto berpeluang cukup besar lolos ke babak berikutnya dengan simpanan agregat 2-1 di pertemuan pertama. Namun, pemadaman listrik ini tak pelak berpotensi membuyarkan rencana awal saya.
Akhirnya saya memilih tidur saja, dengan harapan ketika nanti saya bangun keesokan harinya, saya akan mendapat kabar bahwa Arsenal mampu mengalahkan Porto, dan berhak melaju ke babak selanjutnya. Namun, ya memang dasar sudah jodoh atau boleh dikatakan sudah "sehidup semati" dengan Arsenal, mata saya terbuka dan terbangun dari tidur saya pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat -- kurang lebih 30 menit lagi peluit kick off babak 1 akan segera ditiup, dan tahukah kamu? Saat itu saya menemukan listrik kembali menyala, yang artinya saya bisa menyaksikan ARSENAL vs Porto, yang artinya saya tanpa ragu akan langsung bergerak menuju kosan teman, yang artinya...
Mengayuh sepeda dengan kecepatan yang terkendali --karena rem sepeda sewaan saya tidak berfungsi dengan baik, saya melesat menerjang dinginnya malam dan membelah kesunyian desa, hanya untuk ARSENAL. Dalam benak ini berkata, sekiranya ARSENAL yang memenangi pertandingan ini, itu artinya pengorbanan ini tidak akan sia - sia. Sedangkan kalaupun nantinya kalah, setidaknya saya dapat menyaksikan laga terakhir Gunners tercinta, di UCL musim ini, dan dapat bersama larut dalam kesedihan dengan para Gooners di seluruh belahan dunia.
Kick Off babak 1 pun dimulai, dan benar pemberitaan media bahwa Kapten Fabregas tidak dimainkan karena cedera. Komando lapangan tengah pun diambil alih oleh Samir Nasri, dan didukung oleh Diaby dan Song.
WOW !!! saya hampir berteriak keras di tempat orang, ketika Bendtner menceploskan bola ke gawang porto, setelah sebelumnya racikan manis ala duet Nasri-Arshavin meracuni bek-bek Porto. 1-0 untuk Arsenal...
Setelah itu, Porto seperti lebih ingin bermain aman dengan banyak menumpuk pemain di daerah pertahanan sendiri. Sayangnya, Porto seakan lupa bahwa Arsenal cukup menggemari bentuk perlawanan seperti itu. Penguasaan bola digenggam oleh Arsenal secara absolut. Ketika mereka terus menekan Porto, Arshavin dengan kecanggihannya mem'bullying" 3 bek Porto, kemudian memberi assist kepada Bendtner yang dengan mudahnya mendorong bola masuk ke dalam gawang Porto. 2-0 untuk Arsenal. Turun minum...
Kedudukan 2-0 malah semakin membuat ARSENAL meradang. serangan demi serangan bertubi-tubi mengarah daerah pertahanan Porto, sehingga munculllah fenomena ajaib itu...
Saya melihat Zinedine Zidane berkostum Arsenal nomor 8 -- bukan 10, 21 atau 5, menari-nari indah, meliuk-liuk kejam memperdaya 3 bek Porto selaligus, dari sisi kanan kotak penalti Porto. Lalu, menerobos masuk sendirian menuju gawang. Sepersekian detik saya mengira bahwa Zidane itu akan mengirim umpan datar kepada Bendtner, yang lebih berpeluang mencetak gol.
Saya salah !!... Nyatanyadia lebih memilih untuk langsung menendang bola dari sudut yang sangat sangat sangat sempit ke arah gawang. MUSTAHIL !! namun ia berhasil. 3-0... Zidane nomor 8 itu bernama asli Samir Nasri...
Kalimat " Gila, itu bukan orang, jelas itu bukan orang !! gue yakin banget dia itu bukan manusia dari bumi ini !! " spontan keluar dari mulut ini. Saya sungguh takjub melihat betapa indahnya gol itu. betapa beruntungnya ARSENAL masih memiliki pemain sejenius itu ketika sang jenius lain, Fabregas, tidak dapat dimainkan... thanks ya Nasri, skill dan gol anda itu cukup mampu mengobati kerinduan saya akan keberadaan manusia luar biasa seperti Zidane, di persepakbolaan dunia, saat ini...
Porto semakin melemah ketika gol Eboue datang menyusul sebelum Bendtner menghakimi Porto dengan gol pamungkasnya, lewat penalti di menit - menit akhir... Skor akhir ARSENAL 5-0 Porto...
Seabgai info saja, ini adalah hattrick pertama Bendtner sepanjang karirnya di Arsenal. Namun, tampaknya para pundit ataupun para Gooners lainnya harus sepakat dengan saya bahwa MOTM kali ini bukanlah striker asal Denmark tersebut. Melainkan Nasri yang lebih layak menerimanya, karena indahnya permainan dan gol rancaknya tadi cukup mengubur euforia hattrick Bendtner.
Tidak sia - sia saya menonton pertandingan ini, karena kejayaanlah yang kami, para Gooners, dapati hari ini. Dan tahukah anda, saya di sini, di Pare menemukan teman baru yang seorang Gooner pula, yang berarti dia itu saudara bagi saya. Saya menonton match ini bersama, dan dia banyak bercerita tentang kekagumannya dengan ARSENAL beserta Arsene Wengernya.
Satu hal yang menarik dari obrolan kami malam itu adalah ketika kami sepakat bahwa ARSENAL jauh berbeda dan lebih baik daripada MU yang selalu mengandalkan kejayaan masa lalu dan terlebih lagi Chelsea yang terlalu mengandalkan kekuatan uangnya...
Akhir kata, terima kasih Ya ALLAH, terima kasih ARSENAL, terima kasih Perusahaan Listrik Negara...
(Jumat 12 Maret 2010, Pare-Kediri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar