Seringkali saya mendengar cerita dari beberapa teman yang hidup terpisah jauh dari keluarga ataupun orangtua...
Kerinduan atau bahasa kerennya " HOMESICK " kerap kali melanda. Ketakutan dan kecemasanpun muncul ketika sakit menghampiri. Di saat kondisi buruk seperti itu semua yang dibutuhkan hanyalah keberadaan keluarga, dikerucutkan lagi menjadi orang tua.
Kali ini saya yang mendapatkan gilirannya. Saya tidak lagi hanya mendengar dan mencoba simpatik membayangkan berada dalam situasi seperti itu, melainkan saya merasakan langsung apa yang teman - teman saya pernah rasakan.
Selama saya di Pare, cuaca seringkali berganti dengan ekstrim. Ketika terik siang, cuacanya luar biasa panas, sedangkan sore atau malamnya akan berubah menjadi hujan deras. Alhasil saya jadi korbannya sekarang.
Demam, flu menyerang saya tiba - tiba. Ketika biasanya jika di rumah sudah ada mereka yang akan mengurus saya atau juga membelikan obat ini-itu, sekarang, saya harus mengandalkan diri sendiri untuk menghadapinya... Terima kasih ya Allah, saya telah diberikan pengalaman berharga seperti ini. Namun, tolong jangan biarkan saya terkena DBD ( saat ini Kediri termasuk daerah rawan DBD ), karena saya masih ingin belajar dan berguru di sini sampai akhir.
Dengan kepala lumayan pening sempoyongan dan badan yang terasa tidak konsisten (baca: panas-dingin), saya mengayuh sepeda beratus-ratus meter menuju apotek "terdekat". Alhamdulillah, obat yang direkomendasikan oleh teman tersedia di sana.
Setelah itu saya kembali menuju kosan, tempat saya tinggal. Badan ini sudah terlalu gontai untuk dihajar lagi oleh kegiatan apapun. Jadi, sayapun memutuskan untuk tidur sebentar setelah sebelumnya saya menenggak obat.
Menjelang maghrib saya terbangun oleh deringan handphone. HADDDAAHHH!!! itu Ibu saya...Dari awal saya memang bermaksud untuk tidak memberitahukan sakit ini kepada keluarga saya terutama Ibu. Namun, seolah ada satu malaikat yang bersahabat baik dengan Ibu saya dan mereka "bersekongkol" untuk mengawasi keadaan saya di sini.
Sayapun akan berpura - pura mengaku bahwa saya dalam kondisi sehat walafiat selalu, saya berbohong murni hanya karena tidak ingin membuat mereka cemas.
" Ndy, lagi ngapain? " , suara Ibu di telinga saya.
" Baru bangun tidur, bu ", jawab saya, seraya berusaha untuk "menormalkan" suara yang terlanjur bindeng ini. Namun...
" Kamu lagi sakit ya? kok suaranya beda? " , tanya Ibu lagi.
" Nggak apa - apa kok, emang kayak gini kan suaranya dari dulu, bu ", saya berusaha berkelit.
" Yang bener?"
" beneran kok bu, nggak apa - apa "
" Ibu tuh nggak bisa kamu bohongin, ndy ", kata Ibu akhirnya.
Aduh, berarti memang benar ada malaikat yang mengadukan ini pada Ibu. Saya tidak mampu lagi berkelit lebih jauh.
" Iya bu, agak sedikit flu aja kok " , kata saya.
" Tuh kan bener, mau coba boongin ibu"
Lalu terdengar suara Ibu yang menyuruh Papa untuk memberikan "wejangan" pada saya.
" Eh Ndy, kalau sakit pergilah kamu ke dokter", suara bariton Papa terdengar, " Kamu tuh harus fit kalau mau belajar dengan baik ".
" Iya pa, gampang. Untuk sementara Ndy minum obat aja dulu" , kata saya.
" Jangan dianggap remeh penyakit itu, Ndy. Yaudah pokokny langsung ke dokter kalau dianggap sudah perlu ", kata Papa mengakhiri pembicaraan sebelum kembali memberikan teleponnya pada Ibu.
Suara Ibu pun terdengar kembali.
" Ndy pokoknya jangan lupa minum obat "
" He-eh...", jawab saya.
" Inget, minum yang banyak-jangan dikurang-kurangin. Makan yang banyak jangan irit, dan jangan sampai telat, pkoknya."
Kalimat terakhir Ibu terasa sedikit menekan dada saya. Jauh sebelumnya beliau sering mengatakan kalimat serupa, namun saya seringkali hanya menanggapinya seolah hanya angin lalu. Tapi sekarang berbeda, ketika kalimat indah dari Ibu itu muncul saat saya terpisah jauh darinya, dalam waktu yang cukup lama, dengan kondisi kesehatan yang buruk pula.
Saya rindu Ibu, saya rindu lawakan Ibu ( Beliau adalah seorang Ibu yang jahil, usil dan suka melawak).
Sisi melankolis saya hampir saja tumpah saat itu. Untung saja, pada saat bersamaan gema Adzan Maghrib meraung-raung ramai bersahutan. Jadilah kemelankolisan saya tertelan kembali.
" Bu, udah maghrib...Udahan dulu ya", kata saya.
" Iyaudah, pokoknya jangan lupa apa kata Ibu"
" InsyaAllah... Assalamualaikum, bu"
" Waalaikumsalam " jawab Ibu mengakhiri.
Maafkan saya Ibu, yang selama ini seringkali melupakanmu hanya demi mengejar sesuatu yang abu - abu keberadaannya...
( Selasa 16/03/2010. Pare, Kediri, 21.00 waktu setempat )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar