Sore itu, saya sedang menunggu bis Metromini 60 di depan pagar Kantor Pos Tebet Barat. Yang saya tau MetroMini 60 itu emang terkesan “lemot”, maksud saya jalannya lama (mungkin mau narik banyak penumpang kali ), contohnya waktu dulu saya jamannya SMA. Setiap saya pulang les Inggris, saya selalu nunggu itu bis di trotoar deket Pasar PSPT. Masya Allah !!! Nunggunya lama setengah hidup, dan pas bis itu dateng dan saya udah di dalemnya, saya ngerasa mending saya sekalian aja jalan kaki.
Jalannya lambat parah !!!, kasarnya saya bisa aja balapan sama bis itu (selanjutnya ditulis M60) dengan saya hanya berjalan kaki, dan saya yakin saya yang bakal juara.
Sebenarnya bukan itu sih pointnya, yah karena saya udah tau “tabiat” nya jadi saya bisa lebih sabar nungguin M60 tiba sore itu. Seetidaknya, keterlambatan M60 bisa buat saya duduk istirahat di trotoar depan Kantor pos. Saya ngerasa Tebet saat itu bener – bener sejuk. Mari saya deskripsikan sedikit. Sekitar jam 3 sore Awan Tebet sedang berwarna abu – abu khas mendung—namun tidak ada sedikitpun gejala ingin hujan, lalu di depan saya terhampar jalanan raya yang tidak begitu lebar, adapula orang – orang berlalu lalang yang jumlahnya tidak begitu banyak, pun mobil-motor yang melintas tidaklah begitu banyak. Hey, kenapa tiba – tiba terlintas Kota Yogjakarta di benak saya???
Di depan kantor pos itu sudah berjejer beberapa bajaj, yang dimana para sopirnya terlihat sedang beristirahat, hal itu terlihat dari air mukanya yang sangat lelah. Ditambah tidak satupun dari mereka menawarkan saya untuk menggunakan jasanya. Padahal biasanya, mereka tidak tahan melihat calon penumpang seperti saya , yang berdiri dengan bahasa tubuh menunggu di pinggir jalan.
Kemudian, Di tepian got, saya lihat sopir tua sedang baca Koran dengan mimik muka serius, entah artikel apa yang dibacanya?... Di sisi lain, terlihat sopir lainnya sedang mengutak – atik mesin bajajnya. Ada juga yang sedang mengobrol seru antar sesama sopir, di sudut lain. Saya melihat itu, dan tiba – tiba berpikir sampai kapan pemandangan ini akan terus ada di Jakarta, khususnya di Tebet?. Yang saya dengar akhir – akhir ini keberadaan bemo akan dilenyapkan keberadaannya oleh pemerintah. Bemo dan Bajaj bukankah dua angkutan umum itu tidaklah jauh berbeda, dari segala sisi ?.
Masih terekam jelas muka lelah nan cemas dari wajah para sopir bajaj tadi di otak saya. Jangan – jangan hantu kecemasan terus menggerayangi mereka setiap hari. Hantu kecemasan yang berlabel bajaj tinggal menunggu gilirannya untuk dilibas. Kita tidak bisa pungkirin fakta bahwa sudah bermunculan banyak angkutan umum lainnya yang lebih menawarkan keamanan dan kenyamanan, seperti taksi ataupun busway. So, Sampai kapankah keeksistensian bajaj? Kapanpun itu, semoga saja Negara memberikan solusi indah lain untuk mereka, para sopir bajaj , bemo maupun “si terpinggirkan” lainnya.
Masih saja saya duduk menunggu M60 di trotoar. Sudah hampir 20 menit, dan M60 itu tak kunjung pula kelihatan batang bempernya. Lalu, kemudian saya menengok ke arah kiri saya. Saya lihat pemandangan lain di sana, saya lihat ada seorang ibu yang sedang menjajakan bermacam pakaian . Oh tampaknya si ibu adalah penjual pakaian keliling, itu dilihat dari atribut yang ia kenakan, yaitu koper berukuran middle berisi tumpukan kaus – kaus. Transaksi sedang berjalan di warung, ia menawarkan bajunya kepada beberapa pemuda atau bapak – bapak yang sedang nongkrong di warung rokok tersebut. Sumpah, ini adalah sebuah pemandangan lama namun baru buat saya. Bisa dibilang hampir tidak pernah saya melihat hal ini, ditambah lagi bumi di mana saya berpijak sekarang ini adalah Tebet, yang konon termasuk kawasan “ bukan main – main “ di Jakarta.
Jelas saya kaget, ditengah – tengah gempuran distro maupun butik di Tebet, ternyata masih ada profesi penjual pakaian keliling seperti yang ibu itu lakoni, saat ini. Meskipun kualitas pakaian yang dijual tidaklah begitu kinclong, tapi setidaknya masihlah ada konsumen yang membutuhkan pakaian dengan harga yang jauh lebih miring macam itu. Saya tersenyum melihat itu, dan lalu dalam hati saya berdoa semoga si ibu bisa bertahan terhadap serangan “bukan main – main “ dari para distro dan butik itu.
Adzan Ashar kemudian terdengar dari toa sebuah mesjid yang terletak tidak begitu jauh dari tempat saya duduk. Saya masih aja diam, karena memang selain tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol, saya juga sedang menikmati berbagai macam lukisan hidup yang berfigurakan awan lembut Tebet, di sekeliling saya. Bahkan mungkin saja saat ini saya sudah melupakan sosok M60 yang sudah hampir setengah jam ini saya tunggu – tunggu, namun tidak kunjung datang. Panggilan solatpun saya abaikan saat itu, karena saya masih terhipnotis sayat oleh semua pesona itu. Ya meminjam perkataan seorang teman “ Allah itu kan maha pemaaf !! “.
Jadilah saya berdoa dalam hati “Hamba masih ingin menikmati berbagai scene ciptaanMu ini ya Allah,, maafkanlah hamba, tapi pasti nanti hamba akan shalat Ashar.”
Visual saya pun mendadak berpaling menuju ke utara saya, tepatnya di seberang jalan. Saya seperti bercermin ketika di depan sana ada seorang lelaki tua sedang duduk pula di trotoar jalan. Bedanya, saya masih muda sedangkan dia udah seperti bapak saya, saya keriting-dia hampir botak, saya berpakaian lengkap- dia bertelanjang dada. Aneh bukan? Ada seorang lelaki tua sedang duduk beralaskan tikar, di pinggir trotoar, tidak berbusana lengkap, dan sepeda miliknya disandarkan di batang pohon dekatnya. Orang – orang banyak, termasuk saya pasti bakal mengira dia adalah orang yang kurang waras.
Masa bodohlah !!! Saya mencoba untuk lebih berpikir positif kali ini. Mungkin saja ia seperti saya, sedang merenung akan banyak hal yang ada disekelilingnya. Mencoba menganalisis segala hal tentang manusia dan apa yang melintas di otak mereka. Atau mungkin saja sebenarnya dia itu seorang professor nyentrik yang otaknya jauh lebih berilmu dari saya . Masalah dia tak berbusana itu kan hanyalah opsi setelah melewati berbagai macam pertimbangan. Hal itu tidak dapat kita jadikan tolak ukur kualitas otak seorang manusia itu sendiri.
Sedangkan orang yang terlihat berperilaku normal seperti saya bisa saja menyimpan suatu rahasia buruk, yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Rahasia besar yang mengandung segala macam bentuk kegilaan, keabnormalan, keanehan yang mungkin saja tiba – tiba muncul dan menyerang ketenangan hidup di sekelilingnya.
Probabilitas akan hal itu bakal selalu ada, tanpa manusia sempat menyadarinya.
Setelah hampir 40 menit berlalu, akhirnya datang juga M60 itu. Saya sama sekali tidak menyesali keterlambatan M60, seperti biasanya. Malahan saya bersyukur pada Tuhan. Mungkin Dia sengaja “melambatkan” laju M60 demi sebuah kesempatan untuk saya membungkam mulut besar saya, dan membekukan tubuh saya hingga diam mematung.
Dia hanya memperkenankan mata saya untuk lebih bisa fokus menerjang masuk sangat dalam terhadap apa yang saya lihat. Lalu, menampar keras hati yang kelewat sombong ini. Sampai pada akhirnya, Dia membangunkan otak yang malas ini untuk berpikir dan merenung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar