Saat ini jam menunjukkan pukul 23.35. Saya sedang berada di dalam kereta menuju Kediri, Jawa Timur. Mata saya sulit terpejam, disaat bersamaan hampir semua para penumpang gerbong 1 ini sedang larut menikmati bunga tidurnya.
Salat Isya tadi sudah dijamak sama Maghrib, makan sudah, menonton televisipun membuatku bosan bukan main --kebetulan TV keretanya sudah dimatikan saat itu-- , dan mata saya pun sudah kelewat lelah untuk "bertarung" melawan Novel yang sengaja saya bawa.Jadilah saya mengambil notes kecil dari ransel dan mulai menulis ini.
Berawal dari munculnya pikiran sok tahu saya ketika saya melihat pemandangan di sekeliling saya, yaitu beraneka ekspresi mereka yang sedang tertidur lelap. Bapak tua di sebelah saya, tidur berdengkur kecil dengan mengambil langsung "jatah" lahan dua kursi. Raut wajahnya tenang dan santai. Mungkin ia berencana menjenguk anaknya yang kuliah di luar kota--dalam hal ini mungkin di Jawa Timur--.
Lalu, mata saya beralih ke deretan bangku tepat di depan saya. Di sana terlihat seorang ibu bersama balitanya yang kompak tertidur saat itu juga. Wajah sang ibu terlihat lelah, jadi saya beranalisa (baca:sok tahu) bahwa ia dan anaknya mungkin baru saja menemui sanak saudaranya, di Jakarta. Dan sekarang mereka sedang dalam perjalanannya kembali pulang ke kampung halaman.
Perjalanan saya dan mereka, para penumpang hampir bisa dipastikan sama - sama menuju Jawa Timur. Entah itu ke Kediri, Surabaya, Blitar, atau Malang tentunya kesemuanya itu sudah mengantongi tujuannya. Alangkah indahnya jika saya diberi kesempatan bisa melihat langsung mereka nantinya akan bertemu dengan orang-orang terkasih setelah beberapa lama tidak bersua.
Saya membayangkan kala sang Ayah akan menerima salam tangan yang erat dari anaknya, atau juga si anak yang akan luar biasa bahagia ketika mendapatkan pelukan hangat dari sang Ayah. Saya lalu berpikir, "jika benar seperti ini, kesempurnaan apa lagi yang lebih diharapkan dari orang tua itu maupun si anak? "
Lalu, dapatkah terbayangkan ketika ada seorang suami yang yang menanti cemas akan kehadiran seorang istri dan si buah hati, akan mendapatkan ganjaran berupa emas sekarung ketika mereka yang dinanti akhirnya tiba. Memeluk, mencium kening istri serta mendengar ocehan bocah, bukankah tak terbantahkan lagi bahwa itu merupakan gambaran nyata surga dunia??
Berawal dari kereta gerbong 1 ini, mereka akan menemukan seseorang yang dirindu. Sedangkan saya?? malahan sebaliknya. Jelas sekali bahwa kepergian ini akan menjauhkan diri saya dari dia yang selalu saya nantikan. Tapi saya yakin, ini bukanlah sebuah pilhan, melainkan sebuah destinasi. Destinasi yang Tuhan alamatkan pada diri saya, yang mengharuskan saya berjalan mengikuti jalur rel ketentuan-Nya.
Saya harus tegaskan tekad ini kepadanya. Dia harus tahu dan memang sudah seharusnya tahu, bahwa saya bukanlah insan pengecut yang sedang berupaya melarikan diri darinya. Jelas saya tidak mau kalah dengan mereka yang memilih berjalan di atas jalur yang benar, jalur yang mengantarkan mereka menuju peron penantian rindu.
Pada waktunya, pasti saya akan kembali... Menemuinya... Memintanya...
(22 Februari 2010. Kereta Gajayana)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar