/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 28 Juli 2013

Ke Jakarta Aku Kan Kembali

                                                                                                            16 Juni 2013




Saat ini saya baru saja melewati Stasiun Malang menuju jalan pulang ke Jakarta. Seperti yang sudah diperkirakan, kunjungan ke malang 2 hari 1 malam ini tidak cukup. Perjalanan banyak tersita di atas rel ketimbang jalanan aspal kota Malang.

Di hari pertama, setelah melalui kurang lebih 15-16 jam perjalanan keretam saya dan Igo langsung menemui Feby untuk segera ke rumah pengantin yakni teman kami, Dita. Tidak ada waktu istirahat, karena pada jam 11 acara resepsi akan berlangsung. Tak sia-sia perut kososng selama perjalanan, pada saat acara resepsi hampir semua jenis makanan yang tersedia kami lahap. Kenyang!

Setelah selesai acara resepsi, kami langsung menuju hotel untuk istirahat sejenak. Ema, teman kami menyusul ke hotel untuk kemudian mengajak kami untuk berwisata kuliner bakso bakar. FYI, Ema adalah teman kami –begitu juga Dita- saat  “berguru” di kampung Inggris-Pare, beberapa tahun yang lalu.

Malamnya, pengantun baru mengajak kami mlaku-mlaku alias jalan-jalan ke Batu. Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di daerah wisata Batu, tepat di alun-alunnya. Langsung saja kami menuju kedai susu murni yang terletak di pinggir alun-alun. Rasa susu hangatnya tetap sama, suegerr tenaaannn..

Suasana alun-alun begitu berbeda dibanding terakhir saya ke sini 4 tahun lalu. Orang lalu-lalang oenh dan disesaki pula oleh kendaraan bermotor yang memarkir di sana –sini. Kebetulan pula sedang ada BATU FAIR (sejenis Jakarta Fair) di sekitar alun-alun. Muda-mudi hilir mudik membuat mata yang mengantuk ini menjadi segar sekejap. Ditambah banyak penampakan gadis cantik rupawan di sini.

Alun-alunnya meriah sekali dikarenakan banyaknya arena bermain seperti kincir-kincir, playground dan mobil-mobilan kecil untuk anak bermain. Khusus kincir-kincir, bentuknya begitu megah mengingatkan saya kepada The London Eye-nya Inggris.




Di salah satu sudut pun kita bisa melihat anak-anak kecil main air. Airnya muncul dari bawah tanah, seperti permainan air mancur yang ada di Lollypop dalam mal-mal Jakarta. Tetapi yang ini berbeda, anak-anak bisa bermain secara cuma-cuma, ya Gratis. Hebat juga, ya, main air diselimuti udara dingin kota Batu..

Saya sungguh salut dengan pemerintah setempat yang bisa membaurkan masyarakat ke dalam suatu wadah yang meriah dan murah. Muda-mudi memadu kasih, anak kecil main yang ditemani para orang tua menjadi pemandangan lumrah di tengah warna-warni dan kelap-kelip alun-alun Batu.

Tidak lama kemudian kami pun pulang. Selain karena saya, Igo dan Feby sudah lelah tentu kami juga ingin mempersilakan Dita dan mas Fajar, suaminya, untuk melanjutkan “kegiatan” lainnya. If you know what I mean..

Pertandingan sepakbola antara Spanyol U-21 vs Norwegia U-21 pun menjadi tidak menarik bagi saya. Hanya sanggup menonton satu babak, akhirnya pun saya tertidur.

Keesokan paginya, saya menyempatkan diri untuk melihat aktivitas  “Car Free Day” di jalan raya sekitar hotel, sebelum sarapan pagi. Ya, ramai dan tertib.

Selepas dzuhur kami pun check out dari hotel kemudian kembali ke rumah Dita untuk pamitan. Seperti biasa, sambutan orangtua dan keluarganya begitu baik. Sang ibu memberi jaminan tempat numpang menginap bila suatu saat kami kembali datang ke Malang lagi. Kami benar-benar berterima kasih atas sambutan keluara Dita yang tulus. Keluarga yang hangat dan menyenangkan.

Empat stasiun sudah terlewati saat saya ingin mengakhiri tulisan ini. Oh iya, saat perjalanan kereta dari Jakarta menuju Malang kemarin saya mendapat kabar baik. Kakak saya melahirkan seorang putri cantik, Vania namanya. Tentu, sudah tidak sabar saya ingin bertemu dan mencium pipi imut si kecil Vania.

Bukan hanya itu, saya juga tidak sabar ingin bersua kembali denganmu, iya, kamu…

Ke Jakarta aku kan kembali…


Selasa, 09 Juli 2013

Ujian di Hari Pertama Ramadhan

Rabu, 9 Juli 2013.

Tuhan melalui JakartaNya langsung memberikan ujian berat buat gue di hari pertama bulan Ramadhan. Pulang kerja yang sudah seharusnya jam 5 sore, agak tertunda ketika gue masih ingin melanjutkan pekerjaan. Terlebih di luar hujan dari siang nggak berhenti-berhenti. Akhirnya pun gue keluar kantor tepat pukul 17.22 WIB.

Seperti biasa, Transjakarta di kondisi hujan seperti ini sulit untuk diharapkan, karena hujan sedikit saja sudah pasti membuat lajunya tersendat sehingga diharuskan menunggu waktu yang lama, ditambah kondisi jalanan macet membuat gue lebih memilih kereta sebagai transportasi alternatif.

Sial buat gue ketika angkot yang gue naiki ternyata harus berputar mencari jalan lain saat sang sopir menemui kebuntuan di kemacetan Jakarta. Padahal gue harus naik angkot ke-dua di step berikutnya. Jadilah gue diturunkan di dekat jembatan Jati Petamburan yang untuk menaiki angkot rute lain berikutnya.

Hujan benar-benar nggak mau berhenti dan gue lupa bawa jaket parasut. Kuyup.

Angkot yang gue tunggu-tunggu nggak kunjung datang. Akhirnya, gue memutuskan untuk jalan kaki di tengah guyuran hujan. Jalanan yang becek penuh genangan air yang tinggi membuat gue harus berhati-hati dalam berjalan. Trotoar yang semestinya sudah menjadi hak gue pun dijajah oleh para pedagang makanan warung tenda. Bahkan, ada satu adegan yang memuakkan ketika gue harus, “Permisi ya, pak. Numpang lewat, maaf,” mengatakan ini kepada pedagang tersebut saat melewati warung tendanya. Gue pun bingung kenapa bisa minta maaf pada mereka.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan gue berjalan di sisi kali Jati Petamburan yang airnya sudah begitu tinggi. Lagi-lagi gue harus berjibaku dengan motor-motor yang lewat plus trotoar yang dijajah oleh para pedagang. Jarak tempuh yang harus gue lalui dengan jalan kaki ini mungkin mencapai 1 km, dan hari sudah semakin senja, gue harus tetap bisa mengejar kereta jam 6 karena gue bertekad untuk berbuka puasa hari pertama di rumah.

Tak terhitung sudah berapa kali ucapan kotor berbau kebun binatang keluar dari benak atau mulut gue, memaki kondisi yang gue alami saat ini. Jarak yang jauh, cipratan genangan air dari pengendara sepeda motor dan hujan yang kadang deras-kadang sedang.

Akhirnya, setelah jalan kaki cukup jauh gue menaiki angkot yang mengarah stasiun Tanah Abang. Sebenarnya, nggak terlalu jauh, tapi karena gue harus mengejar waktu jadilah gue naik angkot ini. Sesampainya di stasiun, gue dan penumpang lainnya pun turun untuk lalu memberikan ongkos ke sopir. Di sini gue kalut, hehehe. Gue yang buru-buru pun kesal saat gue ingin kasih uang, sang Sopir malah sibuk menghitung uangnya. Jadilah gue melempar duit gue ke jok samping Sopir. Gue pun harus menabrak seorang penumpang untuk itu, saking nggak sabarnya.

Lalu, gue pun berlari menaiki tangga stasiun Tanah Abang tanpa terlalu memperdulikan kondisi anak tangga yang becek terkena hujan. Setelah membeli tiket, gue pun bertanya ke petugas, “kereta ke Bogor sudah datang?.” “Itu baru saja datang, buruan cepat ke peron 3!” kata petugas. Gue pun berlari dan menerobos puluhan orang yang baru turun kereta, di tangga stasiun menuju peron. Di sini gue sempat khilaf dengan agak kasar mendorong pemuda yang berjalan lambat di depan gue, untuk “overlapping."

Kereta masih menunggu, namun pintu sudah siap tertutup sampai, Gue berlari secepat mungkin masuk ke dalam kereta. Tak peduli, gue menabrak (lagi) sekumpulan penumpang kereta yang mengendap di mulut pintu. Untuk yang satu ini gue nggak peduli, dan nggak merasa bersalah sekalipun meskipun terdengar keluhan-keluhan minor dari mereka setelah gue menabrak –sebenarnya kata menyenggol lebih tepat—, karena siapa suruh mereka berkumpul di situ,di saat sebenarnya di deretan kursi masih banyak space kosong untuk berdiri. Gue paham sih, hal itu mereka lakukan agar nggak sulit turun ketika sudah sampai di stasiun tujuan.

Napas gue pun tersengal setelah melewati berbagai macam “rintangan” tadi menuju stasiun dari kantor. Sebenarnya untuk jadwal kereta Bogor berikutnya masih ada jam 18.33 WIB. Namun, butuh waktu setengah jam lagi buat gue tunggu. Jelas gue nggak mau, karena gue sudah tekad untuk berbuka puasa hari pertama di rumah.

Ahh, betapa durasi setengah jam sangat berarti di Jakarta. Meleset sedikit saja semuanya bisa berantakan. Kalau saja tadi gue telat beberapa detik saja, dipastikan gue bisa nggak ikut kereta 18.00 dan ini akan berujung pada kemacetan atau hambatan lain, sehingga gue akan telat berbuka puasa di rumah.


Adzan sayup-sayup terdengar dari masjid di dekat stasiun. Hampir saja gue lupa kalau saat ini gue sedang berpuasa. Korma 3 buah yang sudah gue siapkan pun jadi enggan gue cicipi karena kondisi dalam kereta yang cukup penuh.

Akhirnya, setelah sukses mengatur napas , gue pun membatalkan puasa pertama gue dengan tegukan air minum saja. Alhamdulillah.

Jumat, 29 Maret 2013

JAKARTA ADA-ADA SAJA, YA!


       Picture by: Gito Barkah


Ya, belum sampai seminggu kemarin ada mayat tergeletak di jembatan penyeberangan persis depan kantor gue. Beruntung gue tidak melihat langsung, berbeda dengan teman gue yang sempat melihat tubuh sang mayat mulai membiru. Tidak jelas disebabkan oleh apa, yang pasti fenomena itu cukup tidak lumrah buat gue sejauh gue tinggal di Jakarta.


Yaudahlah, topik tadi begitu menyeramkan. Bagaimana kalau kita membahas hal yang lebih menyenangkan?


Oke, suatu pagi seperti biasa gue berangkat kerja ke kantor via Transjakarta. Dan seperti biasa (lagi) gue berdiri, tidak dapat tempat duduk. Nah, pointnya di sini, nih. Ketika di depan gue ada seorang ibu dengan 3 anaknya, plus asisten rumah tangga.


Tidak ada yang aneh sampai tiba-tiba salah satu anak, yang gue takar kira-kira berumur 10 tahun, sedang menggenggam Samsung Tablet sambil duduk dengan sikap leyeh-leyeh. Yah, namanya juga anak-anak, mungkin dia belum dapat pelajaran sikap Tenggang Rasa, sehingga tidak mempedulikan gue yang berdiri sambil bersimbah peluh kegerahan. Well, gue tidak sedang mengeluh, ya. Hehehe.


Yang menarik adalah si anak Tab ini mendengarkan lagu dari Tabnya tanpa menggunakan earphone. Volumenya tak tanggung-tanggung: sepertinya mampu terdengar seantero Transjakarta. Lagunya? Jangan ditanya. Tak tanggun-tanggung lagunya Bruno Mars (maaf gue tidak tahu judulnya, yang pasti lagunya baru dan familiar di telinga) dan Laruku (gue juga tidak tahu judulnya). Dan bahasa tubuhnya pun sungguh menggemaskan. Mulutnya bergumam. Ya, dia hafal lirik lagu-lagu tersebut!


Yassalam, gue langsung flashback ke masa lalu saat gue seumuran dia kira-kira apa yang sering gue lakukan. Lalu, muncullah Galaksin, Tak Benteng, Taplak, Gundu alias Kelereng di benak, dan oh, timbullah “diobok-obok”nya Joshua, lagu-lagunya Sherina, (dulu gue naksir berat ini orang), Hits Trio Kwek-kwek yang dulu kadang segan gue nyanyikan karena gue pemalu. Ahh, pada pergi kemana kalian sekarang ini?


Tepat keesokan harinya, gue menemukan lagi cerita lain dari Jakarta. Sepulang kuliah, gue yang baru turun dari kereta langsung bergegas menuju angkot untuk pulang. Angkotnya ngetem seperti biasa (lagi-lagi). Pemandangan yang tidak lumrah, saat gue melihat sang sopir angkot sedang memangku anaknya, yang kira-kira masih 2 tahun, di depan kemudinya. Kesehariannya gue bisa melihat hal yang sama pada keponakan gue, yang dipangku bapaknya di depan setir, untuk jalan-jalan keliling sekedar untuk hiburan.


Yang ini jelas berbeda, si anak “dipaksa” orangtuanya untuk ikut dan menjadi saksi mata sang Ayah mencari nafkah. Tak lama, ibu nya datang. Pasangan suami-istri itu terbilang muda. Gue prediksi si Ayah tak lebih dari 24 tahun. Sedangkan istrinya mungkin sepantaran member JKT48 yang paling muda, deh.


Sepanjang perjalanan, si Ibu  menyuapi anaknya dengan tahu gorengan, yang tadi dibelinya dekat stasiun. Ayahnya merokok. Dan tak lama setelah ia selesai menghembuskan asap beracunnya itu, ia tarik lengan anaknya kembali ke pangkuannya. Sekarang, giliran sang Ibu yang merokok.


Gue sempat sedih waktu lengan anak itu ditarik Ayahnya, yang buat seumuran dia itu termasuk kasar. Keprihatinan gue tidak berhenti sampai di situ. Beberapa kilometer sebelum gue turun, angkot sempat menepi. Rupanya, duet maut Suami-Istri itu membeli sebungkus rokok tambahan serta minuman kopi kemasan. Yang namanya Ibu pasti rasa sayang ke anaknya begitu besar. Namun, masing-masing persona tentu memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan hal tersebut.


Setelah selesai menyuapi goreng tahu ke anaknya, sang Ibu memberikan minuman kopi kemasannya itu untuk si buah hati. Ya, gue ulang dan lengkapi, minuman kopi kemasan yang mungkin harganya cuma Rp 1.000 dengan komposisi kafein yang tinggi! Jaman kuliah D3 dulu, gue sering minum kopi kemasan itu dan itu ampuh buat gue dan kawan-kawan menyelesaikan tugas sampai larut dengan mata melek sempurna.


Gue sih tidak tahu dampak apa yang diterima oleh bayi bila mengonsumsi kafein. Yang jelas itu bukanlah suatu hal yang positif.


Well, gue di sini sama sekali tidak menghakimi atau menyalahkan kedua orang tua tangguh tersebut atas gorengan, tarikan lengan yang kasar, kopi kemasan dan asap rokoknya. Mungkin bagi mereka itu cara terbaik dalam mendidik anaknya untuk lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya Ibu Kota, kelak.


Saat menulis ini, ada satu kalimat yang langsung terngiang di otak gue: INI JAKARTA, BUNG!

Minggu, 17 Februari 2013

Surat Konvensional


Tidak ada maksud saya untuk merayakan hari Valentine. Namun, hanya kebetulan saja bila tulisan saya kali ini agak berhubungan dengan percintaan. Saya menyadari bahwa ada tulisan yang belum ter-posting di dokumen saya. Jadi, daripada tulisan ini nantinya akan terlupakan atau bahkan hilang, lebih baik saya dokumentasikan di blog ini.. Hehehe... So, here's the story begin:


Mungkin saya adalah satu dari sekian banyak orang yang merindukan penggunaan surat secara konvensional (surat tulis tangan + amplop) bisa kembali eksis. Tak bisa dipungkiri dalam beberapa tahun terakhir fungsi surat konvensional ini tergeser oleh maraknya penggunaan surat elektronik seperti email, sms, bbm, bahkan Whats App.

Mengapa saya merindukan hal tersebut? Karena saya yakin surat konvensional memiliki value yang lebih mengesankan, ditambah lagi esensinya lebih mengena dan yang pasti terkadang memiliki efek hasil akhir yang di luar perkiraan. Ya, mungkin perasaan ini dikarenakan kondisi yang ada sekarang (baca: email, bbm, dsb) “mempermudah” segala sesuatunya, sehingga tidak menimbulkan kesan tertentu pada akhirnya.

Ambil contoh, sebut saja sepasang kekasih bernama Kanda dan Dinda (Ingat, ini bukan tokoh di sinetron Ind*siar, ya). Sore itu, mereka merencanakan untuk jalan dan makan bareng dalam rangka merayakan 3 bulanan mereka. Beberapa hari sebelumnya, Kanda sudah menyiapkan surat (ya bisa dibilang surat cinta) untuk Dinda. Cuma ingat, Kanda tidak menuliskan suatu hal yang bersifat puitis, melainkan hanya surat biasa dengan topik pengalaman mereka berdua sejauh ini dan ucapan terima kasih.

Namun, ternyata hal-hal manis yang sudah dibayangkan oleh Kanda tidak semulus yang diharapkan. Ada beberapa kondisi yang membuat Kanda agak kesal dengan Dinda. Sore itu, perdebatan kecil terjadi di kostan nya Dinda. Kanda sebisa mungkin menahan amarah, karena dia tidak mau merusak kencannya malam nanti. Saat sudah menuju mobilpun situasi kaku pun kental terasa. Masing-masing menahan ego nya entah dengan tujuan apa.

Sesampainya di mobil, Kanda tidak langsung menginjak gasnya, melainkan berhenti sejenak, dan mempersilahkan Dinda membaca surat yang sudah Kanda letakkan di kursi depan. Perlahan suasana mencair. Ada seutas senyum dari mereka berdua. Kanda yang malu, memilih untuk agak menjauh beberapa meter untuk membiarkan Dinda membaca suratnya.

Selesai Dinda membacanya, Kanda melihat kekasihnya tersebut menangis. Lalu, didekatinya dan Kanda tidak menyangka situasinya akan seperti ini, “Kamu kenapa nangis?.”

“Aku sedih, terharu aja. Aku nggak nyangka kamu buat surat kayak gini,” kata Dinda dengan air mata sedikit menggenang. “Terima kasih ya, Kanda.”

Lalu, Kanda memberi seutas bunga mawar merah yang memang sudah dipersiapkan dari tadi. Tambahlah deras air mata Dinda.

Kali ini suasana begitu hangat. Hanya keindahan yang mereka berdua rasakan, saat masing-masing memeluk orang terkasihnya dengan sangat erat. Begitu dalam. Begitu lama. Hingga pudar segera rasa ego masing-masing.

“Maafin aku ya, Kanda.”

“Kamu yang mesti maafin aku. Karena aku ngerasa aku terlalu keras untuk masalah sesepele ini,” ujar Kanda, sesaat setelah mencium ubun-ubun kekasihnya itu.

Well, menulis surat secara konvensional memang menyenangkan. Sebab, sekalipun sederhana namun tak terduga efeknya begitu monumental.

Jumat, 16 November 2012

PSMS (Paul, Sheehan, Mike, Sherenian) @RockFest 2012


(photo by: Apri)

Malam itu saya dan 3 teman saya, Apri, Igo, dan Polin sudah berada di lapangan D Senayan untuk nonton RockFest. Jakarta yang baru saja diguyur air hujan nyatanya bersahabat dengan para pencinta music Rock. Lapangan yang dijadikan venue cukup kering dan tidak becek serta langit tidak menunjukkan “niat”nya untuk mengeluarkan hujan lagi.


“Gila, ini keren banget pawang hujannya,” celetuk Igo.

Di sana tampil begitu banyak band-band Rock yang notabene bukan mainstream seperti Besok Bubar Band, Miracle Band, dsb. Bahkan ada juga sebuah band, yang vokalisnya adalah Ringgo Agus Rahman (Artis Ibu kota) yang sayang musiknya tidak dapat saya cerna.

Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, yakni PSMS Band (Jangan heran akronimnya mirip dengan klub Sepakbola Indonesia milik Medan) bermaterikan Mike Portnoy (Drum), Derek Sherenian (Keyboard & Piano), Paul Macalpine, dan Billy Sheehan. Tak heran begitu banyak orang mengenakan kaos bertajuk Dream Theater dan MR BIG (saya pun mengenakan  kaos MR BIG). 

Terbersit di hati, “Wajar ya pakai baju MR BIG, soalnya kan Billy Sheehan masih menjadi salah satu personilnya. Nah, bagaimana dengan Dream Theater? Bukankah Mike Portnoy sudah terdegradasi dan belum lama ini digantikan oleh Mike Mangini?”

Langsung saja saya men-twit, “Menonton aksi Mike Portnoy dengan kaos Dream Theater kondisinya nyaris serupa dengan orang yang menonton aksi Manchester United dengan mengenakan jersey Arsenal bertuliskan nama punggung Van Persie. Susah Move On.”

Setelah gerai hitam diturunkan dari atas panggung, muncullah satu persatu sekelompok yang sudah lama kita nanti-nanti. Dimulai dari Derek Sherenian, disusul oleh Macalpine, lalu muncul sosok yang sudah kita “kenal” yakni Mr Billy Sheehan, dan terakhir Mike Portnoy maju dan menjadi pusat perhatian.

Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah seorang musisi, saya bukanlah pula seorang drummer, melainkan saya hanya penikmat music. Namun, saya mendadak berkeinginan menjadi seorang drummer setelah menikmati music Dream Theater. Tak lain ini karena jasa seorang Portnoy. Performanya menggebuk drum membuat saya menepikan “dogma” lama yang bodohnya sudah terlalu lama melekat di otak saya, bahwa: Drum hanyalah elemen music pelengkap yang tidak terlalu penting.

Saya mensejajarkan skill Portnoy dengan Joe Satriani dalam versi Drum. Ya, dengan ketukan, speed, dan teknik Drumnya, Portnoy seolah bisa membuat alunan drum menjadi sebuah music yang indah tanpa menggunakan instrument lainnya.

PSMS Band hanya menampilkan music instrument tanpa ada vokalis. Di sela-selanya, bergantian mereka melakukan solo. Pertama, Tony Macalpine memamerkan keahliannya bermain gitar, yang bagi saya – orang awam yang tidak tahu menahu tentang teknik music – permainannya ya kurang lebih sama seperti John Petrucci dan Guitar heroes lainnya. Tony terbilang personel yang cukup kalem di sini.

Sedangkan Derek Sherenian lebih terlihat arogansinya. Lucu, sesaat setelah dia melakukan solo yang disusul oleh sorakan decak kagum penonton, dia memilih memasang muka angkuh (tentu dengan gaya bercanda), mengingatkan saya dengan tokoh Severus Snape dalam film Harry Potter.

Beralih ke Billy Sheehan. Ya, dia tidak banyak berubah dibanding saat saya menonton MR BIG di Java Rockinland 2009 lalu. Bergaya flamboyan – namun kali ini rambut kuncir emasnya mengenakan topi hitam-- , masih dengan jeans hitam ketat, dan sepatu ber-heels (gaya pria tentunya) agak tinggi. Dalam solonya dia banyak mengeluarkan jurus-jurus aneh, dengan manuver kedua tangannya yang bergerak dinamis. Saya pernah berkata pada Igo, “Go, dia tuh kayak gitu cuma gaya-gayaan ya?.” Igo menepis itu dengan mengatakan bahwa itu memang skill dia yang pastinya bawa perubahan besar dalam musiknya, dalam artian itu bukan asal-asalan yang nirmakna, melainkan itu ada tekniknya.

Seperti saya sebutkan di awal, bahwa Portnoy menjadi sorotan utama dalam pertunjukan kali ini. Bahkan, Portnoy yang saat maupun pasca menjadi personel Dream Theater memang banyak membentuk band project menjadi juru bicara selama konser. Dia lebih lantang berkali-kali menyapa kami para penonton  dengan beragam lawakannya, di jeda antar lagu. Yang cukup fenomenal adalah saat ia suatu kali menyinggung DREAM THEATER – tentu tanpa menyebutkan nama. Seperti kita ketahui bahwa Portnoy dikeluarkan oleh John Petrucci cs. dari band yang ironisnya juga dibentuk oleh Portnoy sendiri. Derek Sherenian pun juga “alumni” Dream Theater, yang kini posisinya ditempati oleh Jordan Rudes.

Ya, sepertinya band ini memang bentukkannya dia dan secara tak tertulis ini memang bisa disebut sebagai “konser tunggal”nya.

Saya tak hentinya berdecak kagum melihat permainan mereka membawakan lagu-lagu yang hampir seluruhnya saya tidak tahu. Hanya satu lagu yang sangat akrab di telinga saya, yakni saat Billy memainkan reff “To be with you” di tengah-tengah solonya. Selebihnya, belakangan saya ketahui bahwa PSMS juga membawakan lagu “Acid Rain” dan “Hells Kitchen” milik Dream Theater (correct me if I am wrong), secara instrumental.

Konser berjalan hampir 2  jam lamanya hingga mereka ber-4 perlahan meninggalkan panggung. Ahh cerita lama, ini hanyalah sebuah “aksi wajib” yang memancing penonton untuk meneriakkan ENCORE. Tak sampai 2 menit, mereka sudah kembali ke atas panggung. Lagu SHY BOY milik David Lee Roth band (yang juga di-cover oleh MR BIG) dibawakan sebagai lagu pamungkas. Di lagu ini, Billy Sheehan didaulat sebagai vokalis juga dan tentu sang actor utama, Mike Portnoy, ikut bernyanyi.

Selama pertunjukkan konser, mata saya hampir selalu tertuju pada Mike Portnoy. Entah apa yang salah, beberapa kali Portnoy berdiskusi dengan salah satu teknisi drumnya sepanjang lagu dimainkan. Saya ulangi lagi: sepanjang lagu dimainkan! Kepalanya menoleh ke samping untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang teknisi, tanpa harus kehilangan tempo bermusiknya. Ingat, music yang mereka mainkan adalah rock progresif. Tentu dibutuhkan skill yang dahsyat untuk meladeni tempo yang random (kadang cepat, kadang lambat), ketukan aneh, dan banyaknya settingan drum (tidak selumrah yang digunakan para drummer pada umumnya) yang ia gunakan. Portnoy melakukan itu semua dengan tanpa melihat, dan tanpa merusak irama lagu yang sedang dimainkan! Semuanya terlihat dan terdengar tetap perfect!

Saya sempat berpikir kalau Portnoy bukanlah manusia. Sama seperti Lionel Messi dalam kancah persepakbolaan. Ajaib dan di luar nalar manusia!

Maklum, saya menulis ini dengan point of view saya sebagai penikmat music yang tidak mahir bermain music, jadi apa yang disajikan oleh Portnoy dkk. Menjadi salah satu hal paling gila yang  pernah saya lihat, ya secara langsung. Terutama Portnoy, saya tak bosan dan henti mengatakan bahwa ketukan drumnya begitu empuk, cepat, dan mampu “membentuk”  indah suatu lagu itu sendiri. Flashback ke belakang, saya mengaguminya saat ia bersama Paul Gilbert meng-cover lagu  Led Zeppelin – band favorit saya. Yup, Portnoy juga merupakan pengagum berat almarhum John Bonham (Zeppelin's Drummer)

Saya dan teman-teman sempat menerobos masuk ke tenda tempat PSMS beristirahat pasca tampil. Sayang seribu sayang, mereka masih terlalu lama untuk berdiam di dalam tenda. Padahal saya ingin sekali bertemu dengan jarak yang dekat dengan Portnoy cs. saat nantinya mereka menaiki bus untuk menuju hotel. Yang membuat saya penasaran adalah: setinggi apa Mike Portnoy itu? Sepertinya tidak jauh dengan tinggi badan saya. Berbeda dengan Billy Sheehan yang memang cukup jangkung.

Kalau saja besoknya hari libur – bukannya hari Senin – tentu saya akan rela menunggu berjam-jam, bahkan menyusul ke hotel tempat mereka menginap.  Ya sudahlah, pada akhirnya saya hanya berharap bahwa Portnoy bakal menepati janjinya, sesaat sebelum turun panggung, untuk segera kembali datang ke Indonesia suatu hari nanti.

Ya, saya sudah menyaksikan langsung Mike Portnoy, drummer idola saya!

-RG-
16 Nov 2012
                                                                                                             (sumber foto: kapanlagi.com)

Sabtu, 10 November 2012

"Nge-date" Bareng Ibu

Sore ini, akhirnya gue bisa ngajak Ibu untuk makan bareng lagi di luar. Kedengarannya standard banget ya tema tulisan ini. Tapi, setidaknya buat gue ini beda.

Sudah beberapa bulan terakhir gue agak kesulitan menemukan momen yang pas untuk ini. Ibu sudah lama "ngidam" ingin makan Tomyam, dan hampir selalu menagih ini di tiap Minggunya. Hal ini nggak terlepas dari sembuhnya Ibu dari sakit yang membatasinya untuk makan secara "bebas". Gue yang dari Senin sampai Jumat kerja plus Sabtu-Minggu (weekend) mesti kuliah, cukup bingung untuk memenuhi permintaan yang sejatinya sepele ini.

Hari ini, Sabtu sore sepulang UTS gue langsung cabut ke rumah dari kampus. Langsung saja gue ajak Ibu berangkat ke resto terdekat. Ibu pesan Tomyam, gue pesan Kwetiau. Dua makanan itu biasa aja rasanya di lidah gue, nggak ada yang istimewa. Bahkan porsinya cukup sedikit, agak ironi dengan harganya, hehehe. Yah, yang penting rasa penasaran Ibu terpenuhi, akhirnya. Ya, akhirnya..

Cuma ini aja sih yang ingin gue tulis.. Nggak ada yang istimewa, tapi jujur ini sangat berarti untuk gue. Seenggaknya, tulisan ini bisa jadi pengingat gue kalau sewaktu-waktu mulai jarang berdialog-makan bareng Ibu.  Ini akan menjadi "penampar" gue kalau gue mulai arogan dengan berkata, "Ah, gue sibuk nggak ada waktu..." atau "Aduhh, pengen main sama teman-teman, nih!"

Ya, gue nggak berani berjanji untuk ini. Tapi, gue akan berusaha..


Minggu, 04 November 2012

TANGISAN AYAH

       

           Seringkali kita sebagai manusia mempertanyakan dimana kasih sayang sejati itu?.. Sebagian orang mungkin akan menjawab kasih sayang yang sejati akan kita dapatkan dari seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pasangan hidup kita kelak. Jawaban ini tidak sepenuhnya salah mengingat memang tiap manusia diciptakan untuk saling berpasangan, untuk kemudian menghasilkan keturunan. Namun, bagi Gea kasih sayang sejati bukan datang dari pasangan hidupnya kelak, melainkan murni selalu datang dari Ayahnya tercinta, Nirwan.

            Nirwan harus menerima kenyataan pedih ketika Arini meninggal saat melahirkan Gea. Jadilah ia mengurus Gea dari kecil, hidup hanya berdua dengan anak tercintanya itu,  berusaha memegang peranan seorang ibu dan ayah dengan sama baiknya. Namun, jelas Nirwan gagal, didikan pria tegas macamnya nyatanya membuat Gea menjadi anak yang berwatak keras.
 Dalam kesehariannya, ia lebih menyukai mengenakan celana jeans panjang, dengan kaus kasual, sangat jauh minatnya terhadap fashion gadis seumurnya. Badannya cukup tinggi semampai, tegap, berkulit kuning langsat, dan berparas ayu seperti ibunya. Meskipun tomboi, namun kecenderungan sexnya normal, ia sering menyukai teman laki – lakinya di sekolah, dan pula gadis manis itupun tidak jarang ditaksir oleh teman laki – lakinya itu.  Namun sengaja ia menolak itu semua, bahkan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjalin cinta, selama Ayahnya masih hidup di dunia ini. Gea terlalu mencintai dan menyayangi Ayahnya, ia tidak ingin perhatiannya terpecah dan jelas ia akan merasa berlaku sangat tidak adil terhadap sang Ayah jika berani melanggar sumpahnya itu.
Tidak ada yang mampu pungkiri betapa besar cinta Nirwan terhadap anaknya itu, sering dalam sujud malamnya ia menangis, bertanya pada tuhannya apa alasanNya tidak memberi Gea kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ia seringkali merasa kasihan pada Gea, maka dari itu dalam hidupnya ia bertekad untuk selalu menjaganya apapun yang terjadi. 
Hubungan keduanya sangatlah akrab, kedekatan mereka sudah selayaknya dua orang sahabat. Hampir tiap malam Gea membantu Ayahnya memasak, dan dalam hal memasak dua orang ini termasuk ahlinya. Lalu, seringkali Gea lebih memilih hang out dengan Ayahnya ketimbang bersama para temannya. Bagi kita yang melihatnya akan berkata, sungguh betapa indahnya persahabatan Ayah – anak tersebut.
Namun, “masalah” seketika datang, dikala Gea beranjak dewasa, saat umurnya mencapai dua puluh lima tahun, saat ia perlahan menjelma menjadi sesosok wanita yang cantik dan matang. Seorang pemuda bernama Adi, yang dalam beberapa bulan ini cukup dekat dengannya, melamarnya untuk dinikahi. Perdebatan lahir antara Gea dengan Ayahnya. Gea tidak ingin menikah, dengan alasan hal ini akan membuatnya terpisah jauh dengan Ayahnya, ditambah fakta bahwa saat ini Adi bekerja dan tinggal di Australia. Sedangkan sang ayah merasa bahwa saatnya sudah tepat untuk “melepas” anaknya, meskipun berat untuk itu. 

       “Gea, apa mungkin kamu menunggu Ayah mati dulu, sebelum kamu menikah, hah? Kelak Ayah ingin menimang cucu dari kamu, anakku,” kalimat itu terlontar dari mulut Nirwan. 


             Segera saja pelukan hangat menimpa tubuh tua Nirwan. Menempel di bahu Ayahnya, wajah manis Gea basah oleh air matanya. Sang Ayah juga tidak mampu menahan laju tangisnya. Keduanya larut dalam kesedihan. “Baik, yah…Aku akan nikah dengan Adi,” kata Gea sambil sesenggukan.
Sehari sebelum pernikahan, Nirwan mengajak Gea ke suatu tempat. Sore itu, sengaja Nirwan menutup mata anaknya dengan kain, hingga ia membukanya sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan. Arena Fantasi. Gea tertawa bahagia, diselingi senyum Ayahnya. Ini adalah tempat nostalgia mereka, dan ini adalah salah satu memori terindah mereka berdua. Di tempat ini, saat masih kecil, pernah Gea mengompoli punggung Ayahnya, saat tertidur dalam gendongan Nirwan. “Ayah dulu lupa menyuruhmu ke toilet dulu sebelum kamu ayah gendong,hahaha..,” tawa Nirwan membuat pipi Gea memerah karena malu. Sungguh menggemaskan.

DI BANDARA
Adi, Gea, dan Nirwan sudah berada di Bandara. Adi, pemuda baik hati itu sekarang resmi menjadi suami Gea, mereka benar – benar pasangan yang serasi. Lalu, tiba saat mereka harus berpisah, hati Gea bergemuruh keras saat ingin berpamitan pada Ayahnya, untuk pergi ke Australia. Dia memeluk Ayahnya lama, erat, tangisanpun meledak dari Gea. Pipinya kembali basah oleh air matanya. Sedangkan tangisan Nirwan agak samar tertutupi oleh kaca mata plus, coklat mudanya. Hatinya pun bergejolak hebat saat itu. 
Sejurus kemudian, Nirwan sudah terpisah dengan Adi dan Gea yang sudah menuju boarding room. Sebuah tangan Gea melambai ke arah Ayahnya, sementara tangan yang lain menutup separuh mukanya, masih menangis. 
Ketika anaknya sudah hilang dari penglihatan, Nirwan melepas kacamatanya. Terjangan angin di pelataran bandara hanya mampu menyapu rambut putihnya, tetapi tidak mampu menyapu deras air matanya. Nirwan masih berdiri mematung.

Story by: Randy A Islamy