Seringkali kita sebagai manusia mempertanyakan dimana kasih sayang
sejati itu?.. Sebagian orang mungkin akan menjawab kasih sayang yang sejati
akan kita dapatkan dari seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pasangan
hidup kita kelak. Jawaban ini tidak sepenuhnya salah mengingat memang tiap
manusia diciptakan untuk saling berpasangan, untuk kemudian menghasilkan
keturunan. Namun, bagi Gea kasih sayang sejati bukan datang dari pasangan
hidupnya kelak, melainkan murni selalu datang dari Ayahnya tercinta, Nirwan.
Nirwan harus menerima kenyataan pedih ketika Arini meninggal saat melahirkan Gea. Jadilah ia mengurus Gea dari kecil, hidup hanya berdua dengan anak tercintanya itu, berusaha memegang peranan seorang ibu dan ayah dengan sama baiknya. Namun, jelas Nirwan gagal, didikan pria tegas macamnya nyatanya membuat Gea menjadi anak yang berwatak keras.
Nirwan harus menerima kenyataan pedih ketika Arini meninggal saat melahirkan Gea. Jadilah ia mengurus Gea dari kecil, hidup hanya berdua dengan anak tercintanya itu, berusaha memegang peranan seorang ibu dan ayah dengan sama baiknya. Namun, jelas Nirwan gagal, didikan pria tegas macamnya nyatanya membuat Gea menjadi anak yang berwatak keras.
Dalam kesehariannya, ia
lebih menyukai mengenakan celana jeans panjang, dengan kaus kasual, sangat jauh
minatnya terhadap fashion gadis seumurnya. Badannya cukup tinggi semampai,
tegap, berkulit kuning langsat, dan berparas ayu seperti ibunya. Meskipun
tomboi, namun kecenderungan sexnya normal, ia sering menyukai teman laki –
lakinya di sekolah, dan pula gadis manis itupun tidak jarang ditaksir oleh
teman laki – lakinya itu. Namun sengaja
ia menolak itu semua, bahkan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia
tidak akan menjalin cinta, selama Ayahnya masih hidup di dunia ini. Gea terlalu
mencintai dan menyayangi Ayahnya, ia tidak ingin perhatiannya terpecah dan
jelas ia akan merasa berlaku sangat tidak adil terhadap sang Ayah jika berani
melanggar sumpahnya itu.
Tidak ada yang mampu pungkiri betapa besar cinta Nirwan terhadap
anaknya itu, sering dalam sujud malamnya ia menangis, bertanya pada tuhannya
apa alasanNya tidak memberi Gea kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang
seorang ibu. Ia seringkali merasa kasihan pada Gea, maka dari itu dalam
hidupnya ia bertekad untuk selalu menjaganya apapun yang terjadi.
Hubungan keduanya sangatlah akrab, kedekatan mereka sudah
selayaknya dua orang sahabat. Hampir tiap malam Gea membantu Ayahnya memasak,
dan dalam hal memasak dua orang ini termasuk ahlinya. Lalu, seringkali Gea
lebih memilih hang out dengan Ayahnya ketimbang bersama para temannya. Bagi
kita yang melihatnya akan berkata, sungguh betapa indahnya persahabatan Ayah –
anak tersebut.
Namun, “masalah” seketika datang, dikala Gea beranjak dewasa, saat
umurnya mencapai dua puluh lima tahun, saat ia perlahan menjelma menjadi
sesosok wanita yang cantik dan matang. Seorang pemuda bernama Adi, yang dalam
beberapa bulan ini cukup dekat dengannya, melamarnya untuk dinikahi. Perdebatan
lahir antara Gea dengan Ayahnya. Gea tidak ingin menikah, dengan alasan hal ini
akan membuatnya terpisah jauh dengan Ayahnya, ditambah fakta bahwa saat ini Adi
bekerja dan tinggal di Australia. Sedangkan sang ayah merasa bahwa saatnya
sudah tepat untuk “melepas” anaknya, meskipun berat untuk itu.
“Gea, apa mungkin kamu menunggu Ayah mati dulu, sebelum kamu menikah, hah? Kelak Ayah ingin menimang cucu dari kamu, anakku,” kalimat itu terlontar dari mulut Nirwan.
Segera saja pelukan hangat menimpa tubuh tua Nirwan. Menempel di bahu Ayahnya, wajah manis Gea basah oleh air matanya. Sang Ayah juga tidak mampu menahan laju tangisnya. Keduanya larut dalam kesedihan. “Baik, yah…Aku akan nikah dengan Adi,” kata Gea sambil sesenggukan.
“Gea, apa mungkin kamu menunggu Ayah mati dulu, sebelum kamu menikah, hah? Kelak Ayah ingin menimang cucu dari kamu, anakku,” kalimat itu terlontar dari mulut Nirwan.
Segera saja pelukan hangat menimpa tubuh tua Nirwan. Menempel di bahu Ayahnya, wajah manis Gea basah oleh air matanya. Sang Ayah juga tidak mampu menahan laju tangisnya. Keduanya larut dalam kesedihan. “Baik, yah…Aku akan nikah dengan Adi,” kata Gea sambil sesenggukan.
Sehari sebelum pernikahan, Nirwan mengajak Gea ke suatu tempat. Sore
itu, sengaja Nirwan menutup mata anaknya dengan kain, hingga ia membukanya
sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan. Arena Fantasi. Gea tertawa bahagia,
diselingi senyum Ayahnya. Ini adalah tempat nostalgia mereka, dan ini adalah salah
satu memori terindah mereka berdua. Di tempat ini, saat masih kecil, pernah Gea
mengompoli punggung Ayahnya, saat tertidur dalam gendongan Nirwan. “Ayah dulu
lupa menyuruhmu ke toilet dulu sebelum kamu ayah gendong,hahaha..,” tawa Nirwan
membuat pipi Gea memerah karena malu. Sungguh menggemaskan.
DI BANDARA
Adi, Gea, dan Nirwan sudah berada di Bandara. Adi, pemuda baik
hati itu sekarang resmi menjadi suami Gea, mereka benar – benar pasangan yang
serasi. Lalu, tiba saat mereka harus berpisah, hati Gea bergemuruh keras saat
ingin berpamitan pada Ayahnya, untuk pergi ke Australia. Dia memeluk Ayahnya
lama, erat, tangisanpun meledak dari Gea. Pipinya kembali basah oleh air
matanya. Sedangkan tangisan Nirwan agak samar tertutupi oleh kaca mata plus,
coklat mudanya. Hatinya pun bergejolak hebat saat itu.
Sejurus kemudian, Nirwan sudah terpisah dengan Adi dan Gea yang
sudah menuju boarding room. Sebuah tangan Gea melambai ke arah Ayahnya,
sementara tangan yang lain menutup separuh mukanya, masih menangis.
Ketika anaknya sudah hilang dari penglihatan, Nirwan melepas
kacamatanya. Terjangan angin di pelataran bandara hanya mampu menyapu rambut
putihnya, tetapi tidak mampu menyapu deras air matanya. Nirwan masih berdiri
mematung.
Story by: Randy A Islamy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar