/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Minggu, 04 November 2012

TANGISAN AYAH

       

           Seringkali kita sebagai manusia mempertanyakan dimana kasih sayang sejati itu?.. Sebagian orang mungkin akan menjawab kasih sayang yang sejati akan kita dapatkan dari seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pasangan hidup kita kelak. Jawaban ini tidak sepenuhnya salah mengingat memang tiap manusia diciptakan untuk saling berpasangan, untuk kemudian menghasilkan keturunan. Namun, bagi Gea kasih sayang sejati bukan datang dari pasangan hidupnya kelak, melainkan murni selalu datang dari Ayahnya tercinta, Nirwan.

            Nirwan harus menerima kenyataan pedih ketika Arini meninggal saat melahirkan Gea. Jadilah ia mengurus Gea dari kecil, hidup hanya berdua dengan anak tercintanya itu,  berusaha memegang peranan seorang ibu dan ayah dengan sama baiknya. Namun, jelas Nirwan gagal, didikan pria tegas macamnya nyatanya membuat Gea menjadi anak yang berwatak keras.
 Dalam kesehariannya, ia lebih menyukai mengenakan celana jeans panjang, dengan kaus kasual, sangat jauh minatnya terhadap fashion gadis seumurnya. Badannya cukup tinggi semampai, tegap, berkulit kuning langsat, dan berparas ayu seperti ibunya. Meskipun tomboi, namun kecenderungan sexnya normal, ia sering menyukai teman laki – lakinya di sekolah, dan pula gadis manis itupun tidak jarang ditaksir oleh teman laki – lakinya itu.  Namun sengaja ia menolak itu semua, bahkan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menjalin cinta, selama Ayahnya masih hidup di dunia ini. Gea terlalu mencintai dan menyayangi Ayahnya, ia tidak ingin perhatiannya terpecah dan jelas ia akan merasa berlaku sangat tidak adil terhadap sang Ayah jika berani melanggar sumpahnya itu.
Tidak ada yang mampu pungkiri betapa besar cinta Nirwan terhadap anaknya itu, sering dalam sujud malamnya ia menangis, bertanya pada tuhannya apa alasanNya tidak memberi Gea kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Ia seringkali merasa kasihan pada Gea, maka dari itu dalam hidupnya ia bertekad untuk selalu menjaganya apapun yang terjadi. 
Hubungan keduanya sangatlah akrab, kedekatan mereka sudah selayaknya dua orang sahabat. Hampir tiap malam Gea membantu Ayahnya memasak, dan dalam hal memasak dua orang ini termasuk ahlinya. Lalu, seringkali Gea lebih memilih hang out dengan Ayahnya ketimbang bersama para temannya. Bagi kita yang melihatnya akan berkata, sungguh betapa indahnya persahabatan Ayah – anak tersebut.
Namun, “masalah” seketika datang, dikala Gea beranjak dewasa, saat umurnya mencapai dua puluh lima tahun, saat ia perlahan menjelma menjadi sesosok wanita yang cantik dan matang. Seorang pemuda bernama Adi, yang dalam beberapa bulan ini cukup dekat dengannya, melamarnya untuk dinikahi. Perdebatan lahir antara Gea dengan Ayahnya. Gea tidak ingin menikah, dengan alasan hal ini akan membuatnya terpisah jauh dengan Ayahnya, ditambah fakta bahwa saat ini Adi bekerja dan tinggal di Australia. Sedangkan sang ayah merasa bahwa saatnya sudah tepat untuk “melepas” anaknya, meskipun berat untuk itu. 

       “Gea, apa mungkin kamu menunggu Ayah mati dulu, sebelum kamu menikah, hah? Kelak Ayah ingin menimang cucu dari kamu, anakku,” kalimat itu terlontar dari mulut Nirwan. 


             Segera saja pelukan hangat menimpa tubuh tua Nirwan. Menempel di bahu Ayahnya, wajah manis Gea basah oleh air matanya. Sang Ayah juga tidak mampu menahan laju tangisnya. Keduanya larut dalam kesedihan. “Baik, yah…Aku akan nikah dengan Adi,” kata Gea sambil sesenggukan.
Sehari sebelum pernikahan, Nirwan mengajak Gea ke suatu tempat. Sore itu, sengaja Nirwan menutup mata anaknya dengan kain, hingga ia membukanya sesaat setelah mereka sampai di tempat tujuan. Arena Fantasi. Gea tertawa bahagia, diselingi senyum Ayahnya. Ini adalah tempat nostalgia mereka, dan ini adalah salah satu memori terindah mereka berdua. Di tempat ini, saat masih kecil, pernah Gea mengompoli punggung Ayahnya, saat tertidur dalam gendongan Nirwan. “Ayah dulu lupa menyuruhmu ke toilet dulu sebelum kamu ayah gendong,hahaha..,” tawa Nirwan membuat pipi Gea memerah karena malu. Sungguh menggemaskan.

DI BANDARA
Adi, Gea, dan Nirwan sudah berada di Bandara. Adi, pemuda baik hati itu sekarang resmi menjadi suami Gea, mereka benar – benar pasangan yang serasi. Lalu, tiba saat mereka harus berpisah, hati Gea bergemuruh keras saat ingin berpamitan pada Ayahnya, untuk pergi ke Australia. Dia memeluk Ayahnya lama, erat, tangisanpun meledak dari Gea. Pipinya kembali basah oleh air matanya. Sedangkan tangisan Nirwan agak samar tertutupi oleh kaca mata plus, coklat mudanya. Hatinya pun bergejolak hebat saat itu. 
Sejurus kemudian, Nirwan sudah terpisah dengan Adi dan Gea yang sudah menuju boarding room. Sebuah tangan Gea melambai ke arah Ayahnya, sementara tangan yang lain menutup separuh mukanya, masih menangis. 
Ketika anaknya sudah hilang dari penglihatan, Nirwan melepas kacamatanya. Terjangan angin di pelataran bandara hanya mampu menyapu rambut putihnya, tetapi tidak mampu menyapu deras air matanya. Nirwan masih berdiri mematung.

Story by: Randy A Islamy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar