Rabu, 9 Juli 2013.
Tuhan melalui JakartaNya langsung
memberikan ujian berat buat gue di hari pertama bulan Ramadhan. Pulang kerja
yang sudah seharusnya jam 5 sore, agak tertunda ketika gue masih ingin
melanjutkan pekerjaan. Terlebih di luar hujan dari siang nggak
berhenti-berhenti. Akhirnya pun gue keluar kantor tepat pukul 17.22 WIB.
Seperti biasa, Transjakarta di kondisi
hujan seperti ini sulit untuk diharapkan, karena hujan sedikit saja sudah pasti
membuat lajunya tersendat sehingga diharuskan menunggu waktu yang lama,
ditambah kondisi jalanan macet membuat gue lebih memilih kereta sebagai
transportasi alternatif.
Sial buat gue ketika angkot yang gue naiki
ternyata harus berputar mencari jalan lain saat sang sopir menemui kebuntuan di
kemacetan Jakarta. Padahal gue harus naik angkot ke-dua di step berikutnya.
Jadilah gue diturunkan di dekat jembatan Jati Petamburan yang untuk menaiki
angkot rute lain berikutnya.
Hujan benar-benar nggak mau berhenti dan
gue lupa bawa jaket parasut. Kuyup.
Angkot yang gue tunggu-tunggu nggak kunjung
datang. Akhirnya, gue memutuskan untuk jalan kaki di tengah guyuran hujan.
Jalanan yang becek penuh genangan air yang tinggi membuat gue harus
berhati-hati dalam berjalan. Trotoar yang semestinya sudah menjadi hak gue pun dijajah
oleh para pedagang makanan warung tenda. Bahkan, ada satu adegan yang memuakkan
ketika gue harus, “Permisi ya, pak. Numpang lewat, maaf,” mengatakan ini kepada
pedagang tersebut saat melewati warung tendanya. Gue pun bingung kenapa bisa
minta maaf pada mereka.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan gue
berjalan di sisi kali Jati Petamburan yang airnya sudah begitu tinggi.
Lagi-lagi gue harus berjibaku dengan motor-motor yang lewat plus trotoar yang
dijajah oleh para pedagang. Jarak tempuh yang harus gue lalui dengan jalan kaki
ini mungkin mencapai 1 km, dan hari sudah semakin senja, gue harus tetap bisa
mengejar kereta jam 6 karena gue bertekad untuk berbuka puasa hari pertama di
rumah.
Tak terhitung sudah berapa kali ucapan
kotor berbau kebun binatang keluar dari benak atau mulut gue, memaki kondisi
yang gue alami saat ini. Jarak yang jauh, cipratan genangan air dari pengendara
sepeda motor dan hujan yang kadang deras-kadang sedang.
Akhirnya, setelah jalan kaki cukup jauh gue
menaiki angkot yang mengarah stasiun Tanah Abang. Sebenarnya, nggak terlalu
jauh, tapi karena gue harus mengejar waktu jadilah gue naik angkot ini.
Sesampainya di stasiun, gue dan penumpang lainnya pun turun untuk lalu
memberikan ongkos ke sopir. Di sini gue kalut, hehehe. Gue yang buru-buru pun
kesal saat gue ingin kasih uang, sang Sopir malah sibuk menghitung uangnya.
Jadilah gue melempar duit gue ke jok samping Sopir. Gue pun harus menabrak
seorang penumpang untuk itu, saking nggak sabarnya.
Lalu, gue pun berlari menaiki tangga stasiun
Tanah Abang tanpa terlalu memperdulikan kondisi anak tangga yang becek terkena
hujan. Setelah membeli tiket, gue pun bertanya ke petugas, “kereta ke Bogor
sudah datang?.” “Itu baru saja datang, buruan cepat ke peron 3!” kata petugas. Gue pun berlari dan menerobos puluhan orang
yang baru turun kereta, di tangga stasiun menuju peron. Di sini gue sempat
khilaf dengan agak kasar mendorong pemuda yang berjalan lambat di depan gue,
untuk “overlapping."
Kereta masih menunggu, namun pintu sudah
siap tertutup sampai, Gue berlari secepat mungkin masuk ke dalam kereta. Tak
peduli, gue menabrak (lagi) sekumpulan penumpang kereta yang mengendap di mulut
pintu. Untuk yang satu ini gue nggak peduli, dan nggak merasa bersalah
sekalipun meskipun terdengar keluhan-keluhan minor dari mereka setelah gue
menabrak –sebenarnya kata menyenggol lebih tepat—, karena siapa suruh mereka
berkumpul di situ,di saat sebenarnya di deretan kursi masih banyak space kosong
untuk berdiri. Gue paham sih, hal itu mereka lakukan agar nggak sulit turun
ketika sudah sampai di stasiun tujuan.
Napas gue pun tersengal setelah melewati
berbagai macam “rintangan” tadi menuju stasiun dari kantor. Sebenarnya untuk
jadwal kereta Bogor berikutnya masih ada jam 18.33 WIB. Namun, butuh waktu
setengah jam lagi buat gue tunggu. Jelas gue nggak mau, karena gue sudah tekad
untuk berbuka puasa hari pertama di rumah.
Ahh, betapa durasi setengah jam sangat
berarti di Jakarta. Meleset sedikit saja semuanya bisa berantakan. Kalau saja
tadi gue telat beberapa detik saja, dipastikan gue bisa nggak ikut kereta 18.00
dan ini akan berujung pada kemacetan atau hambatan lain, sehingga gue akan
telat berbuka puasa di rumah.
Adzan sayup-sayup terdengar dari masjid di
dekat stasiun. Hampir saja gue lupa kalau saat ini gue sedang berpuasa. Korma 3
buah yang sudah gue siapkan pun jadi enggan gue cicipi karena kondisi dalam
kereta yang cukup penuh.
Akhirnya, setelah sukses mengatur napas , gue pun
membatalkan puasa pertama gue dengan tegukan air minum saja. Alhamdulillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar