/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 09 September 2016

SOLO RUN DAY 2

SOLO, Sabtu, 16 Januari 2015

-DAY 2-

KUNJUNGI STADION MANAHAN = MABRUR!

Salah satu alasan gue melancong ke Solo adalah agar bisa mengnjungi stadion Manahan. Dengan mengusung alasan yang sedikit sensitif, gue sukses menyambangi stadion Manahan dengan wajah berseri-seri. Tepat jam 9 pagi, gue sudah ada di sekitaran stadion untuk mencari makanan. Tetapi, sejurus kemudian gue melihat ada gerai bertulisakan “PASOEPATI” di luar stadion, yang menjual kaos dan jersey bola khususnya klub Persis Solo. Sudah menjadi “ritual” tersendiri bagi gue untuk membeli jersey klub lokal tiap daerah yang gue sambangi. Sebelum ini, gue pernah membeli jersey di stadion-stadion daerah setempat. Sebut saja, Persik Kediri, Sriwijaya Paembang, PSBL Blitar, dan kali ini adalah Persis Solo.

Setelah membali jersey Persis warna hitam dan kaos PASOEPATI (sebutan untuk suporter Persis), gue pun segera cari sarapan. Dan pilihan pun tertuju pada nasi liwet. Again, this is not kind of food I love to eat, actually. Karena ini samadengan kebanyakan masakan khas Jawa lainnya, yang memilki rasa manis. But it’s fine, mumpung gue sedang ada di Solo, tidak ada salahnya gue mencoba panganan khas kota ini.

Selesai sarapan, gue pun tidak membuang waktu dan segera masuk ke dalam arena stadion. Sayang, gue tidak bisa masuk ke dalam tribun dan lapangannya, karena seperti lapangan/stadion besar pada umumnya, ini hanya dibuka saat ada pertandingan saja. Toh, itu bukan masalah besar, gue tetap bisa mengabadikan sedikit kondisi lapangan dan tribun dari celah pagar. Indah! Tidak terlalu sentimentil, tetapi perasaan bahagia tetap muncul ketika akhirnya gue berhasil mendatangi stadion yang sarat makna tersendiri bagi gue. So, “ibadah” gue ke Solo sudah afdhol dan MABRUR!

Setelah puas mengambil foto di banyak spot stadion Manahan, gue pun beranjak ke destinasi berikutnya: Taman Balekambang. Dari stadion Manahan, gue berjalan kaki karena jaraknya tidakterlalu jauh. Oh iya, di Solo ini gue lebih sering jalan kaki ke mana-mana. Iya, karena emang gue ngirit! Hahahaha… Lagipula, Solo itu enak dan nyaman diakrenakan area pedestriannya cukup luas dan lebar, tidak seperti di jakarta yang selain sudah sempit semakin dipersempit lagi dengan adanya lahan parkir liar ataupn lapak pedagang kaki lima. So, thumbs up buat pemerintah kota Solo, siapapun itu, yang sudah memanjakan diri gue yang memang berjalan kaki ke mana-mana.

Akhirnya, gue sampai di Taman Balekambang. Satu kata untuk tempat ini: Teduh! Ini seperti Kebun Raya Bogor versi super mininya. Pepohonan rindang, terdapat beberapa rusa dan hewan unggas yang dibiarkan berkeliaran bebas sedikit membuat tubuh ini adem di tengah teriknya matahari kota Solo. Saat gue di sana, pengunjung tidaklah terlalu ramai (Apa jangan-jangan memang tidak pernah ramai?), karena mungkin mal Paragon lebih menarik bagi banyak orang untuk dikunjungi.

Whatever it is, yang penting gue jadi bisa menikmati ketenangan taman. Setelah memotret banyak objek, gue pun langsung masuk ke Taman Reptil, yang tak jauh dari empang Taman Balekambang. Dengan cukup membayar Rp 5000 saja, gue bisa bebas memotret binatang-binatang reptil di sana. Ngeri sekali! Karena gue melihat ada satu iguana dan satu ular yang sama sekali dilepas bebas, tidak dikandangkan. Untung saja ular python raksasanya tidak ikut “dibebaskan” oleh pawang setempat. Gue benar-benar tidak nyaman dan takut, hehehe…

Gue bahkan harus menahan gengsi melihat seorang Ibu dan balitanya yang dari tadi “anteng” saja duduk di tengah apitan iguana dan ular. Akhirnya, gue tidak tahan lagi berlama-lama di tempat ini. Cukup 10 menit, setelahnya gue langsung keluar dari Taman Reptil dan Taman Balekambang.

Setelah dari sini, gue dengan menaiki becak, beranjak ke Benteng Vastenburg yang berada di daerah Gladak. Kecewa gue! Karena rupanya benteng ini bukanlah lagi tempat wisata, melainkan hanya digunakan sebagai tempat event maupun konser. Jadi, gue tidak bisa masuk dan memotret di dalamnya. Gue hanya bisa memotret kemegahan pintu gerbangnya saja.

Perjalanan pun dilanjutkan ke Keraton Kasunanan. Untuk menuju ke sana gue sempat melewati alun-alun Selatan dan Pasar Klewer yang tersohor itu. Alun-alunnya tidak menarik karena penuh dengan kendaraan yang terparkir. Sedangkan Pasar Klewer ini hanya bersifat sementara (bukan yang asli), yang aslinya tengah direnovasi ulang setelah sempat terbakar hebat beberapa Desember 2014 lalu.

Untuk masuk kedalam Keraton Surakarta (Kasunanan) gue hanya merogoh kocek Rp 13.000; Rp 10.000 untuk tiket masuk, Rp 3000 biaya untuk penggunaan kamera. Di dalam, gue melihat banyak barang peninggalan sejarah Kerajaan Solo di masa lampau. Gue juga bisa melihat info tentang silsilah atau garis keturunan keluarga kerajaan. Di keratonnya, kita bisa menjumpai banyak abdi dalem. Beberapa spot pun disterilkan, di mana para pengunjung tidak bisa bebas masuk ke dalam keratonnya. Satu hal yang disayangkan adalah pada museum keratonnya –seperti kebanyakan museum di Indonesia lainnya— isinya tidak terawat dan kotor berdebu. Ruangannya pengap, membuat gue tidak betah berlama-lama di dalamnya. Padahal, banyak info menarik di tiap-tiap barang peninggalan sejarahnya, seperti senjata, kereta pikul, perkakas rumah, dll.

Ada satu hal yang mengeglitik gue perihal Keraton Kasunanan ini. Tidak seperti keraton lain pada umumnya, di keraton ini terdapat lumayan banyak patung bernuansa yunan, di beberapa sudut. Cukup kontras, bukan?

Keluar dari keraton, gue sempat menyicipi es dawet. Di teriknya cuaca kota Solo, es dawet ini terasa bak Audrey Tautou di film “The Da Vinci Code” … menyegarkan!

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, gue pun langsung pergi ke Masjid Ageng Surakarta. Indah sekali masjid ini, apalagi jika tidak ada banyak orang yang bergelimpangan di bagian terasnya. Sekelar shalat, gue pun duduk “menyender ngaso” di salah satu tiang penyangga dalam masjid, beberapa menit. Ingin rasanya tidur jika gue tidak ingat kalau gue belum makan siang. Pantas, kepala gue sedikit pusing. Ini pasti karena perut gue sudah gusar minta diisi.

Tak sampai dua hari, gue sudah “mengkhianati” kota Solo. Gue tidak tahan makan tanpa sedikit pun rasa pedas. Akhirnya, (lagi-lagi) pilihan kembali tertuju pada MASAKAN PADANG> Yup, ada satu rumah makan Padang “Mentari Pagi” yang terletak tidak jauhdari Bank Indonesia (Solo). Nasi, ayam goreng, tempe goreng, telor balado, dan siraman kuah gulai plus bumbu rendang gue habiskan tidak sampai 15 menit. Kenyangeee puuuoooll! Perut ini semakin jemawa seraya mengatakan, “I’m so sorry, Solo!”

Cuaca kemudian sedikit mendung, namun gue harus ke ATM terlebih dahulu sebelum pulang ke hotel. Tetapi, gue masih belum ingin pulang. Dalam perjalanan pulang, gue menemukan sebuah kafe. The nice one. So, gue ke sana untuk menikmati segelas guava juice dan secangkir kopi susu sembari menulis blog ini.

Setelah kurang lebih satu jam setengah di kafe tersebut, gue pun langsung menuju hotel. Badan gue sudah bau dan lengket karena bermandikan keringat. Setelah selesai mandi, gue pun bersantai sejenak sambil menunggu malam tiba. Ya, di jalan Pangeran Diponegoro, dekat dengan hotel gue menginap, akan ada “Night Market” atau pasar malam yang memang hanya digelar pada malam minggu. Gue akan ke sana untuk berburu makanan untuk makan malam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar