SOLO, Sabtu, 16 Januari 2015
-DAY
2-
KUNJUNGI
STADION MANAHAN = MABRUR!
Salah
satu alasan gue melancong ke Solo adalah agar bisa mengnjungi stadion Manahan.
Dengan mengusung alasan yang sedikit sensitif, gue sukses menyambangi stadion
Manahan dengan wajah berseri-seri. Tepat jam 9 pagi, gue sudah ada di sekitaran
stadion untuk mencari makanan. Tetapi, sejurus kemudian gue melihat ada gerai
bertulisakan “PASOEPATI” di luar stadion, yang menjual kaos dan jersey bola
khususnya klub Persis Solo. Sudah menjadi “ritual” tersendiri bagi gue untuk
membeli jersey klub lokal tiap daerah yang gue sambangi. Sebelum ini, gue
pernah membeli jersey di stadion-stadion daerah setempat. Sebut saja, Persik
Kediri, Sriwijaya Paembang, PSBL Blitar, dan kali ini adalah Persis Solo.
Setelah
membali jersey Persis warna hitam dan kaos PASOEPATI (sebutan untuk suporter
Persis), gue pun segera cari sarapan. Dan pilihan pun tertuju pada nasi liwet.
Again, this is not kind of food I love to eat, actually. Karena ini samadengan
kebanyakan masakan khas Jawa lainnya, yang memilki rasa manis. But it’s fine,
mumpung gue sedang ada di Solo, tidak ada salahnya gue mencoba panganan khas
kota ini.
Selesai
sarapan, gue pun tidak membuang waktu dan segera masuk ke dalam arena stadion.
Sayang, gue tidak bisa masuk ke dalam tribun dan lapangannya, karena seperti
lapangan/stadion besar pada umumnya, ini hanya dibuka saat ada pertandingan
saja. Toh, itu bukan masalah besar, gue tetap bisa mengabadikan sedikit kondisi
lapangan dan tribun dari celah pagar. Indah! Tidak terlalu sentimentil, tetapi
perasaan bahagia tetap muncul ketika akhirnya gue berhasil mendatangi stadion
yang sarat makna tersendiri bagi gue. So, “ibadah” gue ke Solo sudah afdhol dan
MABRUR!
Setelah
puas mengambil foto di banyak spot stadion Manahan, gue pun beranjak ke
destinasi berikutnya: Taman Balekambang. Dari stadion Manahan, gue berjalan
kaki karena jaraknya tidakterlalu jauh. Oh iya, di Solo ini gue lebih sering
jalan kaki ke mana-mana. Iya, karena emang gue ngirit! Hahahaha… Lagipula, Solo
itu enak dan nyaman diakrenakan area pedestriannya cukup luas dan lebar, tidak
seperti di jakarta yang selain sudah sempit semakin dipersempit lagi dengan
adanya lahan parkir liar ataupn lapak pedagang kaki lima. So, thumbs up buat pemerintah
kota Solo, siapapun itu, yang sudah memanjakan diri gue yang memang berjalan
kaki ke mana-mana.
Akhirnya,
gue sampai di Taman Balekambang. Satu kata untuk tempat ini: Teduh! Ini seperti
Kebun Raya Bogor versi super mininya. Pepohonan rindang, terdapat beberapa rusa
dan hewan unggas yang dibiarkan berkeliaran bebas sedikit membuat tubuh ini
adem di tengah teriknya matahari kota Solo. Saat gue di sana, pengunjung
tidaklah terlalu ramai (Apa jangan-jangan memang tidak pernah ramai?), karena
mungkin mal Paragon lebih menarik bagi banyak orang untuk dikunjungi.
Whatever
it is, yang penting gue jadi bisa menikmati ketenangan taman. Setelah memotret
banyak objek, gue pun langsung masuk ke Taman Reptil, yang tak jauh dari empang
Taman Balekambang. Dengan cukup membayar Rp 5000 saja, gue bisa bebas memotret
binatang-binatang reptil di sana. Ngeri sekali! Karena gue melihat ada satu
iguana dan satu ular yang sama sekali dilepas bebas, tidak dikandangkan. Untung
saja ular python raksasanya tidak ikut “dibebaskan” oleh pawang setempat. Gue
benar-benar tidak nyaman dan takut, hehehe…
Gue
bahkan harus menahan gengsi melihat seorang Ibu dan balitanya yang dari tadi
“anteng” saja duduk di tengah apitan iguana dan ular. Akhirnya, gue tidak tahan
lagi berlama-lama di tempat ini. Cukup 10 menit, setelahnya gue langsung keluar
dari Taman Reptil dan Taman Balekambang.
Setelah
dari sini, gue dengan menaiki becak, beranjak ke Benteng Vastenburg yang berada
di daerah Gladak. Kecewa gue! Karena rupanya benteng ini bukanlah lagi tempat
wisata, melainkan hanya digunakan sebagai tempat event maupun konser. Jadi, gue
tidak bisa masuk dan memotret di dalamnya. Gue hanya bisa memotret kemegahan
pintu gerbangnya saja.
Perjalanan
pun dilanjutkan ke Keraton Kasunanan. Untuk menuju ke sana gue sempat melewati
alun-alun Selatan dan Pasar Klewer yang tersohor itu. Alun-alunnya tidak
menarik karena penuh dengan kendaraan yang terparkir. Sedangkan Pasar Klewer
ini hanya bersifat sementara (bukan yang asli), yang aslinya tengah direnovasi ulang
setelah sempat terbakar hebat beberapa Desember 2014 lalu.
Untuk
masuk kedalam Keraton Surakarta (Kasunanan) gue hanya merogoh kocek Rp 13.000;
Rp 10.000 untuk tiket masuk, Rp 3000 biaya untuk penggunaan kamera. Di dalam,
gue melihat banyak barang peninggalan sejarah Kerajaan Solo di masa lampau. Gue
juga bisa melihat info tentang silsilah atau garis keturunan keluarga kerajaan.
Di keratonnya, kita bisa menjumpai banyak abdi dalem. Beberapa spot pun
disterilkan, di mana para pengunjung tidak bisa bebas masuk ke dalam
keratonnya. Satu hal yang disayangkan adalah pada museum keratonnya –seperti
kebanyakan museum di Indonesia lainnya— isinya tidak terawat dan kotor berdebu.
Ruangannya pengap, membuat gue tidak betah berlama-lama di dalamnya. Padahal, banyak
info menarik di tiap-tiap barang peninggalan sejarahnya, seperti senjata,
kereta pikul, perkakas rumah, dll.
Ada
satu hal yang mengeglitik gue perihal Keraton Kasunanan ini. Tidak seperti
keraton lain pada umumnya, di keraton ini terdapat lumayan banyak patung
bernuansa yunan, di beberapa sudut. Cukup kontras, bukan?
Keluar
dari keraton, gue sempat menyicipi es dawet. Di teriknya cuaca kota Solo, es
dawet ini terasa bak Audrey Tautou di film “The Da Vinci Code” … menyegarkan!
Karena
waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, gue pun langsung pergi ke Masjid Ageng
Surakarta. Indah sekali masjid ini, apalagi jika tidak ada banyak orang yang
bergelimpangan di bagian terasnya. Sekelar shalat, gue pun duduk “menyender
ngaso” di salah satu tiang penyangga dalam masjid, beberapa menit. Ingin
rasanya tidur jika gue tidak ingat kalau gue belum makan siang. Pantas, kepala
gue sedikit pusing. Ini pasti karena perut gue sudah gusar minta diisi.
Tak
sampai dua hari, gue sudah “mengkhianati” kota Solo. Gue tidak tahan makan
tanpa sedikit pun rasa pedas. Akhirnya, (lagi-lagi) pilihan kembali tertuju
pada MASAKAN PADANG> Yup, ada satu rumah makan Padang “Mentari Pagi” yang
terletak tidak jauhdari Bank Indonesia (Solo). Nasi, ayam goreng, tempe goreng,
telor balado, dan siraman kuah gulai plus bumbu rendang gue habiskan tidak
sampai 15 menit. Kenyangeee puuuoooll! Perut ini semakin jemawa seraya
mengatakan, “I’m so sorry, Solo!”
Cuaca
kemudian sedikit mendung, namun gue harus ke ATM terlebih dahulu sebelum pulang
ke hotel. Tetapi, gue masih belum ingin pulang. Dalam perjalanan pulang, gue
menemukan sebuah kafe. The nice one. So, gue ke sana untuk menikmati segelas
guava juice dan secangkir kopi susu sembari menulis blog ini.
Setelah
kurang lebih satu jam setengah di kafe tersebut, gue pun langsung menuju hotel.
Badan gue sudah bau dan lengket karena bermandikan keringat. Setelah selesai
mandi, gue pun bersantai sejenak sambil menunggu malam tiba. Ya, di jalan
Pangeran Diponegoro, dekat dengan hotel gue menginap, akan ada “Night Market”
atau pasar malam yang memang hanya digelar pada malam minggu. Gue akan ke sana
untuk berburu makanan untuk makan malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar