SOLO, Jumat, 15 Januari 2015
-DAY
1-
“CHAOS”
DI KERETA EKONOMI
Ingin
melihat kehancuran tata krama dan sopan santun? Lo bisa dengan mudah menemukan
pemandangan itu di kereta ekonomi jalur Jawa. Pada Kamis siang, sehari
sebelumnya Jakarta dikejutkan oleh ancaman bom dan penembakan di daerah Thamrin
(Sarinah). Lewat pemberitaan media massa maupun media sosial, serta tekanan
dari video amatir para netizen gue bisa melihat “chaos” besar terjadi di sana.
Baku tembak terjadi antara teroris dengan polisi. Masyarakat sipil pun
ketakutan terutama bagi mereka yang memang tengah mencari nafkah di sekitaran
daerah Thamrin. Jakarta mencekam!
Himbauan
orangtua serta keluarga nyaris membatalkan rencana traveling gue ke Solo. Tidak
aman kondisi saat ini, begitu kata mereka. Namun, keteguhan hati serta
kekeraskepalaan gue memaksa diri untuk tetap berangkat ke Solo.
Tiba
di stasiun Pasar Senen, situasi normal tidak seperti prediksi gue yang mengira
akan banyak sejumlah penjagaan dan pemeriksaaan ketat. Namun demikian, tetap
saja stasiun dipenuhi oleh banyak penumpang. Aneh, padahal ini bisa dikatakan
tengah minggu bukannya akhir pekan.
Sesampainya
gue di dalam gerbong kereta, situasi jadi menyebalkan ketika kursi yang sudah
gue pesan (pinggir jendela) sudah diambil olehseorang mbak2 (sebut saja mbak Lastri)
yang tengah bersama sang suami. Kursi sempat dengan sopan gue minta, sebelum
akhirnya si mbak bersabda, “Udahlah, mas nya di kursi pinggir saja. Saya tetap
di sini, ya!”
Dasar
orang Indonesia! Mudah sekali diajak kompromi, terlebih hak gue yang tengah
dirampas oleh mbak Lastri ini. Ya, gue tidak bisa protes lebih jauh. Gue
pasrahkan kursi gue untuknya.
Selayaknya
kereta ekonomi pada umumnya, kondisi di dalam begitu “kacau”. Aroma kurang
sedap juga menyebar seantero gerbang. Tas keril gue pun nyaris tidak
mendapatkan tempat pada awalnya. Berkali-kali gue menaiki kereta ekonomi,
rasanya baru kali ini gue merasa tersiksa luar biasa.
Tingkah
polah beberapa penumpang yang sembarangan membuat gue naik darah. Seolah mereka
tidak pernah dididik tata krama dan sopan santun di sepanjang hayatnya. Jadi
begini. Semua penumpang, termasuk gue, merasakan betapa pegal kedua kaki karena
harus beradu kaki dengan kaki orang lain. Jadi, amat wajar jika kami ingin
meluruskan kaki jika ada kesempatan. Tetapi, ini bukan berarti lo bisa bebas
meluruskan kaki ke atas jendela, ketika tepat di hadapan lo terdapat seorang
yang jauh lebih tua dari lo. Dan sebaliknya, para orang tua juga tidak bisa
seenaknya meluruskan kaki mereka di… kursi tempat gue duduk! Sumpah, hal ini
terjadi pada gue. Setelah dari toilet, gue mendapati seorang Ibu paruh baya
(sebut saja bu Suti) yang duduk di depan gue, sudah meletakkan kakinya
(selonjoran) di kursi gue dan tertidur pulas!
Gue
mencoba membangunkannya dengan lembut, hati-hati, sopan hingga gue sampai
menggoyangkan kakinya. Tetap tidak mempan, ia tetap tertidur! Gue sempat
berpikir kalau bu Suti memang tengah berpura-pura tidur dan sengaja tidak
memedulikan protes gue. Wallahu Alam, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang pasti
gue hanya bisa membatin seraya mengucapkan aneka sumpah serapah. Ya, Ibu itu sukses
memaksa gue untuk menambah pundi-pundi dosa!
Akhirnya,
saya memaksakan diri untuk tetap duduk di sebelah dua kaki bu Suti berada. Hari
kian larut sehingga mata pun mengantuk. Tetapi, tidak cukup sampai di situ
rupanya. Kini giliran mbak Lastri yang seolah tidak mau kalah ingin “menyiksa”
dan membuat gue jengkel.
Tak
lama setelah bu Suti menurunkan kedua kakinya, mbak Lastri dengan cepat
menaikkan kedua kakinya (selonjoran) di atas paha sang suami. FYI, kursi kereta
tidaklah terlalu panjang, jadi otomatis kedua kaki mbak Lastri tadi (lagi-lagi)
“menjajah” lahan duduk gue!
Gue
yang tadinya ngantuk berat jadi tidak bernafsu lagi untuk tidur. Gue hanya bisa
berharap, kereta bisa melaju lebih cepat sehngga gue bisa turun di stasiun
SOLOJEBRES tepat waktu (dijadwalkan 10 jam perjalanan dari Jakarta). Muak gue
terus-terusan berada di dalam kereta itu!
SOLO, Jumat, 15 Januari 2015
-DAY
1- (Lanjutan)
ASYIKNYA
BER-SOLO TRAVELING!
Ternyata
begini toh rasanya traveling sendirian. Gue bukanlah traveler sejati seperti
kebanyakan orang. Gue cuma pelancong biasa yang berniat merasakan langsung
keindahan dan kearifan lokal setiap daerah yang gue kunjungi. Jika selama ini
gue traveling selalu dengan teman, sahabat maupun pacar, maka pada kunjungan ke
Solo gue jalan sendiri.
Ada
beberapa alasan mengapa gue ke Solo sendiri. Pertama, tidak ada teman atau
sahabat yang bisa ambil cuti untuk ikut gue ke Solo. Gue juga baru saja putus
dengan pacar gue beberapa minggu lalu (gue ke Solo bukan buat pelarian dari
masalah cinta ya, melainkan hanya ingin menyegarkan tubuh dan otak untuk
mendapatkan peace of mind).
So,
gue tidak mau hanya karena alasan-alasan tersebut gue urungkan niat ke Solo.
Well, kenapa harus Solo? Jika dipaparkan maka akan panjang. Yang pasti
perjalanan gue ke Solo ada kaitannya denganmantan terdahulu gue. Ah, lo bahas
mantan terus, Ren, udah kayak blog-blog labil sebelah aja. Hehehe… Tapi serius,
bisa dikatakan Solo merupakan destinasi impian gue yang sudah lama. Karena
untuk kota besar di pulau Jawa, cuma Solo saja yang belum gue datangi. Bandung,
Cirebon, Sukabumi, Semarang, Yogyakarta, Blitar, Kediri, Malang dan Surabaya
alhamdulillah sudah pernah gue sambangi sebelumnya. Lucunya, dulu beberapa
tahun lalu sempat pas gue traveling dari Kediri ke Jogja, bis sempat transit
dulu di terminal Solo beberapa menit. Saking ingin merasakan kota Solo, gue
sampai harus turun dari bis dan menginjakkan kaki ke tanah. “Meskipun belum
jalan-jalan ke Solo, setidaknya gue pernah merasakan tanah kota Solo,” begitu
pikir gue saat itu.
Kembali
ke satu hal yang gue singgung di awal. Baru kali ini gue merasakan traveling
sendiri alias solo traveling. Bukan kebetulan pula jika gue melakoni solo
traveling di kota Solo itu sendiri. Untuk bisa ke sini, gue tidak sepenuhnya
“nekat”, sebab sebelumnya gue sudah menghubungi salah seorang teman yang asli
Solo, yang kini bekerja di Jakarta, uuntuk meminta rekomendasi tempat wisata
dan kuliner yang harus “ditaklukkan”.
Traveling
sendiri ternyata benar-benar menawarkan sensasi yang jauh berbeda. Ketika
traveling dengan teman, maka lo akan memiliki banyak kesempatan untuk
berdiskusi atau berunding. Hal ini positif sekaligus negatif. Positifnya, lo
punya seseorang atau lebih yang bisa diajak mengobrol agar tidak “mati gaya”.
Negatifnya, pergerakan loe akan cenderung terbatas.
Sedangkan
traveling sendiri, asyiknya lo bisa bebas melakukan apa saja sekehendak lo
tanpa ada aturan dari orang lain. Lo akan menjadi lebih dinamis dan mobile.
Pahitnya, lo tidak memiliki seseorang yang bisa diajak tukar pikiran selama
melakukan perjalanan. But again, it’s like a blessing in disguise. Lo bisa
“menyiasati” ini dengan berbaur dengan banyak orang asing di luar sana.
Yup,
dari satu hari perjalanan ini saja, gue sudah bisa mengobrol panjang dengan dua
abang becak, plus dua resepsionis hote. FYI, resepsions hotel tempat gue
menginap itu cantik-cantik, lho! Hotelnya apa? You’d better find out yourself,
ya. Hehehe…
Di
dalam kunjungan gue ke Keraton Mangkunegaran pun gue berkenalan dengan dua
pemuda asyik. Yang satu berdomisili di Solo dan pernah lama bekerja di Jakarta.
Zazid, namanya. Bahkan Zazid pun bercerita bahwa ia pernah ngekost di daerah
Tebet, dekat rumah gue. Sedangkan satunya lagi bernama Ale. Sudah tiga hari
belakangan kedua sahabat yang saling kenal semasa kuliah di Universitas
Indonesia ini, mlaku-mlaku di kota
Solo. Dari mereka pun gue mendapatkan tambahan rekomendasi tempat wisata dan
kuliner leat di sini. Jelang berpencar, kami pun bertuka nomor handphone. Oh
iya, selama mengobrol kami sembari menikmati segelas beras kencur di sekitar
pelataran keraton. Gue pun minum dengan gratis karena Ale yang pada pagi itu
hendak balik ke Jakarta mentraktir semua minuman kami. Anak gratisan banget,
ya! Hehehe…
Saat
sedang menulis blog ini, gue tengah berada di Café Tiga Tjeret untuk makan
malam sekaligus mengemil pisang goreng dan menyeruput secangkir wedang jahe
cokleat panas. Dua item yang gue sebut terakhir luar biasa nikmat terasa di
lidah. Café Tiga Tjeret merupakan sebuah tempat makan dengan dekorasi dan
konsep yang apik, berada tepat di seberang Keraton Mangkunegaran. Gue duduk di
meja kursi nomor 9, obviously sendiri, hanya bertemankan kertas binder, kamera
SLR dan tas day-pack, melihat sekeliling di mana orang-orang tengah
bercengkerama dengan keluarga, teman maupun pacar. Sungguh, merupakan
pemandangan indah yang dengan mudahnya menyentil diri ini yang kadang melupakan
sebuah fakta. Ya, fakta bahwa manusia harus selalu bersosialisasi. Sebab dengan
bersosialisasi, maka seseorang akan bersilaturahimi. Selanjutnya, dengan
silaturahmi seseorang bisa mendapatkan rezeki dalam bentuk apapun. Setuju?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar