/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Jumat, 09 September 2016

SOLO RUN DAY 1

SOLO, Jumat, 15 Januari 2015

-DAY 1-

“CHAOS” DI KERETA EKONOMI

Ingin melihat kehancuran tata krama dan sopan santun? Lo bisa dengan mudah menemukan pemandangan itu di kereta ekonomi jalur Jawa. Pada Kamis siang, sehari sebelumnya Jakarta dikejutkan oleh ancaman bom dan penembakan di daerah Thamrin (Sarinah). Lewat pemberitaan media massa maupun media sosial, serta tekanan dari video amatir para netizen gue bisa melihat “chaos” besar terjadi di sana. Baku tembak terjadi antara teroris dengan polisi. Masyarakat sipil pun ketakutan terutama bagi mereka yang memang tengah mencari nafkah di sekitaran daerah Thamrin. Jakarta mencekam!

Himbauan orangtua serta keluarga nyaris membatalkan rencana traveling gue ke Solo. Tidak aman kondisi saat ini, begitu kata mereka. Namun, keteguhan hati serta kekeraskepalaan gue memaksa diri untuk tetap berangkat ke Solo.

Tiba di stasiun Pasar Senen, situasi normal tidak seperti prediksi gue yang mengira akan banyak sejumlah penjagaan dan pemeriksaaan ketat. Namun demikian, tetap saja stasiun dipenuhi oleh banyak penumpang. Aneh, padahal ini bisa dikatakan tengah minggu bukannya akhir pekan.

Sesampainya gue di dalam gerbong kereta, situasi jadi menyebalkan ketika kursi yang sudah gue pesan (pinggir jendela) sudah diambil olehseorang mbak2 (sebut saja mbak Lastri) yang tengah bersama sang suami. Kursi sempat dengan sopan gue minta, sebelum akhirnya si mbak bersabda, “Udahlah, mas nya di kursi pinggir saja. Saya tetap di sini, ya!”

Dasar orang Indonesia! Mudah sekali diajak kompromi, terlebih hak gue yang tengah dirampas oleh mbak Lastri ini. Ya, gue tidak bisa protes lebih jauh. Gue pasrahkan kursi gue untuknya.

Selayaknya kereta ekonomi pada umumnya, kondisi di dalam begitu “kacau”. Aroma kurang sedap juga menyebar seantero gerbang. Tas keril gue pun nyaris tidak mendapatkan tempat pada awalnya. Berkali-kali gue menaiki kereta ekonomi, rasanya baru kali ini gue merasa tersiksa luar biasa.

Tingkah polah beberapa penumpang yang sembarangan membuat gue naik darah. Seolah mereka tidak pernah dididik tata krama dan sopan santun di sepanjang hayatnya. Jadi begini. Semua penumpang, termasuk gue, merasakan betapa pegal kedua kaki karena harus beradu kaki dengan kaki orang lain. Jadi, amat wajar jika kami ingin meluruskan kaki jika ada kesempatan. Tetapi, ini bukan berarti lo bisa bebas meluruskan kaki ke atas jendela, ketika tepat di hadapan lo terdapat seorang yang jauh lebih tua dari lo. Dan sebaliknya, para orang tua juga tidak bisa seenaknya meluruskan kaki mereka di… kursi tempat gue duduk! Sumpah, hal ini terjadi pada gue. Setelah dari toilet, gue mendapati seorang Ibu paruh baya (sebut saja bu Suti) yang duduk di depan gue, sudah meletakkan kakinya (selonjoran) di kursi gue dan tertidur pulas!

Gue mencoba membangunkannya dengan lembut, hati-hati, sopan hingga gue sampai menggoyangkan kakinya. Tetap tidak mempan, ia tetap tertidur! Gue sempat berpikir kalau bu Suti memang tengah berpura-pura tidur dan sengaja tidak memedulikan protes gue. Wallahu Alam, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang pasti gue hanya bisa membatin seraya mengucapkan aneka sumpah serapah. Ya, Ibu itu sukses memaksa gue untuk menambah pundi-pundi dosa!

Akhirnya, saya memaksakan diri untuk tetap duduk di sebelah dua kaki bu Suti berada. Hari kian larut sehingga mata pun mengantuk. Tetapi, tidak cukup sampai di situ rupanya. Kini giliran mbak Lastri yang seolah tidak mau kalah ingin “menyiksa” dan membuat gue jengkel.

Tak lama setelah bu Suti menurunkan kedua kakinya, mbak Lastri dengan cepat menaikkan kedua kakinya (selonjoran) di atas paha sang suami. FYI, kursi kereta tidaklah terlalu panjang, jadi otomatis kedua kaki mbak Lastri tadi (lagi-lagi) “menjajah” lahan duduk gue!

Gue yang tadinya ngantuk berat jadi tidak bernafsu lagi untuk tidur. Gue hanya bisa berharap, kereta bisa melaju lebih cepat sehngga gue bisa turun di stasiun SOLOJEBRES tepat waktu (dijadwalkan 10 jam perjalanan dari Jakarta). Muak gue terus-terusan berada di dalam kereta itu!













SOLO, Jumat, 15 Januari 2015

-DAY 1- (Lanjutan)

ASYIKNYA BER-SOLO TRAVELING!

Ternyata begini toh rasanya traveling sendirian. Gue bukanlah traveler sejati seperti kebanyakan orang. Gue cuma pelancong biasa yang berniat merasakan langsung keindahan dan kearifan lokal setiap daerah yang gue kunjungi. Jika selama ini gue traveling selalu dengan teman, sahabat maupun pacar, maka pada kunjungan ke Solo gue jalan sendiri.

Ada beberapa alasan mengapa gue ke Solo sendiri. Pertama, tidak ada teman atau sahabat yang bisa ambil cuti untuk ikut gue ke Solo. Gue juga baru saja putus dengan pacar gue beberapa minggu lalu (gue ke Solo bukan buat pelarian dari masalah cinta ya, melainkan hanya ingin menyegarkan tubuh dan otak untuk mendapatkan peace of mind).

So, gue tidak mau hanya karena alasan-alasan tersebut gue urungkan niat ke Solo. Well, kenapa harus Solo? Jika dipaparkan maka akan panjang. Yang pasti perjalanan gue ke Solo ada kaitannya denganmantan terdahulu gue. Ah, lo bahas mantan terus, Ren, udah kayak blog-blog labil sebelah aja. Hehehe… Tapi serius, bisa dikatakan Solo merupakan destinasi impian gue yang sudah lama. Karena untuk kota besar di pulau Jawa, cuma Solo saja yang belum gue datangi. Bandung, Cirebon, Sukabumi, Semarang, Yogyakarta, Blitar, Kediri, Malang dan Surabaya alhamdulillah sudah pernah gue sambangi sebelumnya. Lucunya, dulu beberapa tahun lalu sempat pas gue traveling dari Kediri ke Jogja, bis sempat transit dulu di terminal Solo beberapa menit. Saking ingin merasakan kota Solo, gue sampai harus turun dari bis dan menginjakkan kaki ke tanah. “Meskipun belum jalan-jalan ke Solo, setidaknya gue pernah merasakan tanah kota Solo,” begitu pikir gue saat itu.

Kembali ke satu hal yang gue singgung di awal. Baru kali ini gue merasakan traveling sendiri alias solo traveling. Bukan kebetulan pula jika gue melakoni solo traveling di kota Solo itu sendiri. Untuk bisa ke sini, gue tidak sepenuhnya “nekat”, sebab sebelumnya gue sudah menghubungi salah seorang teman yang asli Solo, yang kini bekerja di Jakarta, uuntuk meminta rekomendasi tempat wisata dan kuliner yang harus “ditaklukkan”.

Traveling sendiri ternyata benar-benar menawarkan sensasi yang jauh berbeda. Ketika traveling dengan teman, maka lo akan memiliki banyak kesempatan untuk berdiskusi atau berunding. Hal ini positif sekaligus negatif. Positifnya, lo punya seseorang atau lebih yang bisa diajak mengobrol agar tidak “mati gaya”. Negatifnya, pergerakan loe akan cenderung terbatas.

Sedangkan traveling sendiri, asyiknya lo bisa bebas melakukan apa saja sekehendak lo tanpa ada aturan dari orang lain. Lo akan menjadi lebih dinamis dan mobile. Pahitnya, lo tidak memiliki seseorang yang bisa diajak tukar pikiran selama melakukan perjalanan. But again, it’s like a blessing in disguise. Lo bisa “menyiasati” ini dengan berbaur dengan banyak orang asing di luar sana.

Yup, dari satu hari perjalanan ini saja, gue sudah bisa mengobrol panjang dengan dua abang becak, plus dua resepsionis hote. FYI, resepsions hotel tempat gue menginap itu cantik-cantik, lho! Hotelnya apa? You’d better find out yourself, ya. Hehehe…

Di dalam kunjungan gue ke Keraton Mangkunegaran pun gue berkenalan dengan dua pemuda asyik. Yang satu berdomisili di Solo dan pernah lama bekerja di Jakarta. Zazid, namanya. Bahkan Zazid pun bercerita bahwa ia pernah ngekost di daerah Tebet, dekat rumah gue. Sedangkan satunya lagi bernama Ale. Sudah tiga hari belakangan kedua sahabat yang saling kenal semasa kuliah di Universitas Indonesia ini, mlaku-mlaku di kota Solo. Dari mereka pun gue mendapatkan tambahan rekomendasi tempat wisata dan kuliner leat di sini. Jelang berpencar, kami pun bertuka nomor handphone. Oh iya, selama mengobrol kami sembari menikmati segelas beras kencur di sekitar pelataran keraton. Gue pun minum dengan gratis karena Ale yang pada pagi itu hendak balik ke Jakarta mentraktir semua minuman kami. Anak gratisan banget, ya! Hehehe…


Saat sedang menulis blog ini, gue tengah berada di Café Tiga Tjeret untuk makan malam sekaligus mengemil pisang goreng dan menyeruput secangkir wedang jahe cokleat panas. Dua item yang gue sebut terakhir luar biasa nikmat terasa di lidah. Café Tiga Tjeret merupakan sebuah tempat makan dengan dekorasi dan konsep yang apik, berada tepat di seberang Keraton Mangkunegaran. Gue duduk di meja kursi nomor 9, obviously sendiri, hanya bertemankan kertas binder, kamera SLR dan tas day-pack, melihat sekeliling di mana orang-orang tengah bercengkerama dengan keluarga, teman maupun pacar. Sungguh, merupakan pemandangan indah yang dengan mudahnya menyentil diri ini yang kadang melupakan sebuah fakta. Ya, fakta bahwa manusia harus selalu bersosialisasi. Sebab dengan bersosialisasi, maka seseorang akan bersilaturahimi. Selanjutnya, dengan silaturahmi seseorang bisa mendapatkan rezeki dalam bentuk apapun. Setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar