/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 17 Juli 2012

Siang di Pasar Silungkang


                                                SIANG DI PASAR SILUNGKANG

            Teringat olehku saat kunjunganku ke desa Silungkang, Sumatera Barat, beberapa tahun yang lalu. Silungkang adalah desa yang masuk di dalam kawasan kota Sawahlunto, yang menjadi perbatasan antara kota Sawahlunto dengan kota Solok. Desa yang sangat sejuk ini terbagi oleh beberapa bagian , yang masing – masing memiliki wilayahnya sendiri, diantaranya yaitu Palakoto, Sawahjuai, Panai, Dalimo Jao, Malowe ,dan masih banyak lagi yang tidak aku sebutkan.

Aku pergi ke sana bersama Agung, sahabatku. Sebenarnya tidak ada rencana besar yang akan kita lakukan di sana kecuali mendokumentasikan Prosesi adat Pernikahan Silungkang, yang kebetulan mempelai pria nya adalah saudara sepupuku. Sungguh sebelumnya sekalipun aku tidak pernah menyaksikan prosesi itu, dan beruntung sekali saat itu kuliah kami berdua sedang dalam masa liburan. Jadi, kami meluangkan waktu untuk pergi ke sana, sekalian berlibur.

            Namun, bukan Prosesi pernikahan adat itu yang ingin aku jadikan bahasan utama kali ini. Ada hal lain yang membuatku benar – benar tidak bisa melupakan desa itu. Desa yang jika anda melihatnya langsung anda akan percaya bahwa “karpet hijau raksasa” itu benar keberadaannya. Mereka berwujudkan hamparan sawah –sawah luas nan hijau, juga perbukitan tinggi bersandangkan pepohonan hijau, yang terisi penuh hingga kaki tebing. Seakan dari berbagai arah-- kanan atau kiri, mereka terus menyapa ketika kami melewati mereka sepanjang menembus perjalanan  . Apa yang sulit aku lupakan tentang desa itu?  Semoga tidak terdengar aneh jika  jawabannya adalah pasar. 

            Saya ceritakan sedikit tentang Pasar Silungkang. Dari yang saya ketahui, mayoritas penduduk Silungkang bermatapencaharian sebagai Pedagang, selain bertani, dan menenun songket. Pernah suatu saat, mungkin bertahun – tahun yang lalu, Pasar Silungkang menjadi primadona desa. Tempat dimana kita dapat melihat kesuksesan dan kemapanan para pedagang, yang tidak pernah sepi dikunjungi para pembelinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi perdagangan di pasar itu berangsur sepi, dikarenakan banyak dari mereka yang merantau ke luar kota dengan harapan akan mendapat peruntungan yang lebih baik. 

            Namun, setidaknya terdapat dua hari di mana Pasar Silungkang akan terlihat lebih hidup. Jumat dan terutama Minggu terpilih menjadi hari pelipur lara bagi Silungkang, karena pada hari – hari itu kondisi pasar akan dipenuhi oleh para pedagang, baik dari Silungkang, maupun yang datang dari berbagai daerah lain di luar Silungkang, seperti Solok, Muaro Kalaban,atau juga Sungai Lasi. Transaksi jual beli pun akan sesak, berbeda dengan hari – hari lainnya yang cenderung sangat sepi .

            Waktu terasa cepat berlalu, sudah hampir seminggu aku dan Agung berada di sini. Tugas kami untuk mendokumentasikan Prosesi adat pernikahanpun sudah selesai kemarin. Lusa, yaitu hari Senin kami akan kembali ke Jakarta. Selama di Silungkang kami menginap di rumah kerabatku. Dan di sana, kami berkenalan dengan seorang pemuda baik bernama Rahmat, dia pulalah yang menjadi “guide” kami selama kami di Silungkang. 

            Sabtu malam, Rahmat mengajak untuk pergi ke balai oko’ besok pagi. Balai oko’ adalah bahasa Padangnya Pasar Minggu, atau Pasar di hari Minggu. Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, bahwa hari Minggu termasuk hari yang ramai di pasar Silungkang. Tentunya aku dan Agung tidak mau melewatkan itu.

            “ Kosongkan perut kalian sekosong mungkin malam ini, agar besok pagi kalian bisa memburu makanan lezat ala pasar Silungkang, sepuasnya… “, kata Rahmat. “ sebagai makanan pembuka silahkan kalian menikmati kue Ale – ale , lalu makanan utama Kupuak Samba atau juga Sate Padang Mak Sukur, sedangkan Es Tebak untuk hidangan penutup “.  

            Belakangan aku ketahui dari Rahmat, bahwa kue Ale – ale itu sejenis kue serabi, sedangkan Kupuak Samba mirip dengan Lontong Sayur, lalu Es Tebak mungkin hampir bisa disamakan dengan Es Campur. Namun, tetap saja kesemuanya itu berbeda dari yang pernah aku rasakan selama ini dan makanan – makanan itu  memiliki cita rasa tersendiri, yaitu cita rasa khas Silungkang yang sangat mengagumkan.  


           
Embun dingin sedang mendekap erat bumi , dan matahari sedang memulai usahanya untuk menghangatkan desa Silungkang,  ketika Rahmat membangunkan kami pagi itu.  

“Cepatlah kalian bangun, jangan sia – siakan hari terakhirmu disini ! “ seru Rahmat.

“ Tunggu sebentar lah, Rahmat. Bangunkan kami sekitar sejam lagi…” kataku sambil menahan berat kantuk.

“ Memang sudah jam berapa ini, mat? “ tanya Agung, dalam kondisi setengah sadar.

“ Jam 7 pagi, teman”

“ HAH !!!! “ teriak aku dan Agung serempak. 

Sebenarnya aku dan Agung sudah merencanakan bahwa sebelum kami menuju Balai Oko’, kami ingin mengelilingi seluruh desa Silungkang terlebih dahulu. Kami ingin mendokumentasikan keseluruhan areanya, itupun juga jika sempat. Namun, kami agak sedikit telat bangun karena malam sebelumnya kami menonton sepakbola di TV hingga larut.

Rahmat, aku dan Agung sudah berada di pinggir rel kereta Silungkang tepatnya berada di wilayah Panai, ketika sesosok kereta hitam nan panjang melintas begitu saja tanpa menghiraukan kami. Kontan saja aku langsung merekam momen indah tersebut dengan Handy cam ku, dan Agung memotretnya dengan kamera SLR nya.

“ Kereta batu bara itu hanya lewat sekali dalam seminggu, yaitu pada hari Minggu ini saja,” kata Rahmat ,“ Kereta itu hanya diperuntukkan sebagai fasilitas wisata, berangkat dari stasiun kota Solok, lalu melintasi desa Silungkang ini, sampai nanti berhenti di stasiun kota Sawahlunto. Setelah itu kembali melintasi Silungkang untuk kemudian menuju stasiun kota Solok kembali. “

“ Habis itu selesai? “ tanyaku.

“ Ya..”

Kami terus berjalan di atas rel menelusuri kampung Panai, yang jika kita menengok ke atas akan tampak tebing hijau, berisikan pepohonan dan beberapa rumah warga, yang tentunya kebanyakan masih berupa rumah adat. Sebenarnya setelah kami melewati Panai, kami akan langsung berada di kawasan Pasar Silungkang. Namun mengingat tujuan awal kami adalah mengelilingi Silungkang, maka jadilah kami menskip Pasar Silungkang, dan terus melanjutkan perjalanan. Kali ini kami sudah berada di daerah Paliang, yang letaknya bisa dikatakan tepat dibelakang Pasar Silungkang. Paliang terdiri menjadi dua bagian, yaitu Paliang Ateh (Paliang atas) yang posisinya berada menanjak di atas tebing dan Paliang Bawah, yang tentunya berada di bawah tebing.

Lalu, seterusnya kami melewati kampung Tanah Sirah, Lokuang, hingga tiba kami di suatu daerah yang berisi hamparan sawah, yang dikelilingi pepohonan rindang bertemankan beberapa rumah penduduk. Kampung tersebut bernama Sawah Juai. Sungguh siang itu sebenarnya cukup panas, namun entah mengapa saat aku melihat pemandangan maha hijau seperti ini, mataku terasa sejuk, dan kesejukan ini mengalir sampai ke otak, dan apa yang kurasakan? SEMPURNA… Sudah hampir tidak mungkin aku mengemis dan mengharap meminta lukisan tuhan macam ini, di Jakarta. Aku tersenyum girang, sambil terus merekam daerah ini. Agungpun tak kalah terpesonanya, itu terlihat dari rasa antusiasnya memotret tanpa henti. Dari kami bertiga, hanya Rahmat yang tampak seperti manusia normal. 

Setelah kami melewati jembatan Kuti Anyir barulah kami berputar arah menuju Pasar Silungkang. Sayup – sayup terdengar panggilan shalat dari salah satu surau, hari sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tepat saat perut kami sudah lapar bukan main. Benar saja, pasar saat itu sangatlah ramai. Di pinggir jalan sudah terparkir banyak motor. Jalan – jalan disulap menjadi lapak para pedagang tersebut. Mereka menjual aneka sayur, daging, buah – buahan, dan yang pasti kebutuhan pangan hampir semuanya ada di sana. Layaknya pasar – pasar lain, kita juga bisa menemukan pakaian, maupun alat tulis disana. 

Namun itu semua masih dibungkus dalam balutan pasar tradisional, dimana sebagian pedagang menggelar dagangannya di tikar, dan berlesehan di bawah langit yang lebar terbuka. Juga berpayungkan tenda – tenda warna – warni, yang jika kita melihat itu dari atas, kita akan melihat kombinasi warna yang menarik dari gabungan beberapa tenda yang memayungi pedagang. 

Karena aku dan Agung tidak tahu menahu arah jalan, jadilah mengikuti Rahmat, dari belakang menyusuri space sempit di antara para pedagang, di kanan-kiri kami. Tadi kami sepakat, bahwa pertama yang akan kami makan adalah Sate Padang Mak Sukur.  

Lalu, tiba-tiba mata ini menunjuk ke satu titik, beberapa meter di samping kananku. Aku melihat ada sesosok gadis yang menarik perhatianku. Dia berbaju hitam, mengenakan rok putih panjang selutut, dan sedang membeli sesuatu di lapak sayuran.  Rambut sebahunya menambah kesan elok pada parasnya. Dia kulihat hanya sendiri waktu itu. Sangat ingin aku menghampirinya saat itu juga. Namun karena waktu terasa cepat, dan langkah kakiku cepat pula mengikuti Rahmat dan Agung, yang ada di depanku, jadilah tertunda niatku itu. 

Di tengah kesesakan dan kelaparan seperti itu, sementara aku lebih memilih mengikuti dua sahabatku itu untuk mencari makan. Setelah itu aku pasti akan kembali, dan menghampirinya. Toh aku sangat yakin di pasar yang tidaklah terlalu luas ini, aku pasti bisa menemukannya kembali.

Satu piring Sate Padang sudah kami lahap dengan rakusnya. Cukup hanya lima menit untuk kami memanjakan perut kami menghabiskan satu porsi. Es tebak pun menunggu gilirannya untuk disantap. Namun, sebelum itu datang di meja kami, aku langsung mengingat gadis itu tadi. Akupun berpamitan sebentar pada dua sahabatku itu. Aku hanya mengatakan ingin mengambil gambar lagi suasana keramaian pasar.

Lagi – lagi aku harus melewati space sempit saat itu. Aku terus berjalan tanpa hentinya merekam, sampai suatu ketika ada seorang bapak meneriakiku dari arah belakang.

“ Hei, Minggir !!! “, teriak bapak itu tentunya dengan bahasa Padang.

“ Iya ,maaf pak “, kataku.

Aku tidak kesal sama sekali, karena aku tahu mungkin bapak itu sedang sibuk dan diburu oleh waktu. Di pundaknya teronggok karung tebal berisi beras. Berat memang…

Setelah itu aku langsung meluncur ke tempat gadis itu tadi berada, dan… Dia sudah tidak ada…

Aduh kemana perginya gadis itu??... Mataku mengelilingi seisi pasar mencarinya, siapa tahu dia masih ada di sekitar sini. Akupun setengah berlari ke segala penjuru untuk menemukannya. Tapi, tidak bisa kutemukan sama sekali. Dia benar – benar menghilang.

 Lalu aku teringat sesuatu. Ya, handycam !!. Aku akan merewind rekamanku, siapa tahu ada yang tidak terlihat olehku, namun terlihat oleh mata kameraku. Jantungku berdegup kencang,  hingga benar – benar aku merasakan kecewa karena gadis itu luput pula dari penglihatan kameraku.

Keriuhan transaksi sekelilingku perlahan memudarkan harapanku. Aku menyesal, sangat menyesal. Coba saja tadi aku langsung menemuinya, berkenalan dengannya, mengobrol… Bodoh !! Aku mengutuk diriku sendiri.

Lalu aku kembali menemui kedua sahabatku. Mereka masih melahap es tebaknya. Ketika mereka bertanya mengapa mukaku terlihat lesu, aku hanya menjawab hanya sedikit lelah saja. Kelezatan Es tebak pun menjadi sedikit hambar di mulutku. Tanpa para sahabatku sadari, aku terus saja menyesali diriku sendiri, dan pikiranku terus melayang menuju sosok gadis elok itu.

Hei, gadis elokku, mengapa kau lenyap begitu saja ? Siapakah namamu ?

Berasal dari kampung manakah kamu?

Mengapa pilihanmu aneh sekali? Ketika cuaca sangat terik seperti ini kamu memilih pakaian berwarna hitam? 

Tapi, itu tidak masalah bagiku, mungkin hitam memang warna favoritmu…Hei aku juga sedang mengenakan warna hitam !! dan aku juga memprioritaskan hitam dalam hari - hariku…

Bukankah kita sama? Bukankah kita berjodoh?... 



Hari berangsur menjadi gelap milik maghrib. Besok aku dan Agung akan kembali ke Jakarta. Silungkang telah memberikan warna lain untuk perjalananku kali ini. Ini adalah kampungku, tempat di mana para nenek moyangku bertempur melawan kebengisan Jepang. Di Silungkang pula orangtuaku pertama kalinya menghirup nafas bumi. Ini berarti jelas bahwa darah Silungkang mengalir deras di dalam tubuhku.

Pada akhirnya aku merasakan seperti ada sesuatu yang tertinggal di sini, tepatnya di Pasar itu. Tapi, aku pasti akan kembali ke sini suatu hari nanti, dan saat itu aku harap tuhan mempertemukan aku kembali dengannya. Percayalah bahwa si keledai ini tidak akan sebodoh keledai – keledai lainnya yang jatuh terperosok dua kali dalam lubang yang sama…

End
RG

(Diselesaikan tgl 22-02-2010, jam 3 pagi…)

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar