SIANG DI PASAR
SILUNGKANG
Teringat olehku saat kunjunganku ke desa Silungkang,
Sumatera Barat, beberapa tahun yang lalu. Silungkang adalah desa yang masuk di
dalam kawasan kota Sawahlunto, yang menjadi perbatasan antara kota Sawahlunto
dengan kota Solok. Desa yang sangat sejuk ini terbagi oleh beberapa bagian ,
yang masing – masing memiliki wilayahnya sendiri, diantaranya yaitu Palakoto,
Sawahjuai, Panai, Dalimo Jao, Malowe ,dan masih banyak lagi yang tidak aku
sebutkan.
Aku
pergi ke sana bersama Agung, sahabatku. Sebenarnya tidak ada rencana besar yang
akan kita lakukan di sana kecuali mendokumentasikan Prosesi adat Pernikahan
Silungkang, yang kebetulan mempelai pria nya adalah saudara sepupuku. Sungguh
sebelumnya sekalipun aku tidak pernah menyaksikan prosesi itu, dan beruntung
sekali saat itu kuliah kami berdua sedang dalam masa liburan. Jadi, kami
meluangkan waktu untuk pergi ke sana, sekalian berlibur.
Namun, bukan Prosesi pernikahan adat itu yang ingin aku
jadikan bahasan utama kali ini. Ada hal lain yang membuatku benar – benar tidak
bisa melupakan desa itu. Desa yang jika anda melihatnya langsung anda akan
percaya bahwa “karpet hijau raksasa” itu benar keberadaannya. Mereka
berwujudkan hamparan sawah –sawah luas nan hijau, juga perbukitan tinggi bersandangkan
pepohonan hijau, yang terisi penuh hingga kaki tebing. Seakan dari berbagai
arah-- kanan atau kiri, mereka terus menyapa ketika kami melewati mereka
sepanjang menembus perjalanan . Apa yang
sulit aku lupakan tentang desa itu? Semoga tidak terdengar aneh jika jawabannya adalah pasar.
Saya ceritakan sedikit tentang Pasar Silungkang. Dari
yang saya ketahui, mayoritas penduduk Silungkang bermatapencaharian sebagai
Pedagang, selain bertani, dan menenun songket. Pernah suatu saat, mungkin bertahun
– tahun yang lalu, Pasar Silungkang menjadi primadona desa. Tempat dimana kita
dapat melihat kesuksesan dan kemapanan para pedagang, yang tidak pernah sepi
dikunjungi para pembelinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi
perdagangan di pasar itu berangsur sepi, dikarenakan banyak dari mereka yang
merantau ke luar kota dengan harapan akan mendapat peruntungan yang lebih baik.
Namun, setidaknya terdapat dua hari di mana Pasar
Silungkang akan terlihat lebih hidup. Jumat dan terutama Minggu terpilih
menjadi hari pelipur lara bagi Silungkang, karena pada hari – hari itu kondisi
pasar akan dipenuhi oleh para pedagang, baik dari Silungkang, maupun yang
datang dari berbagai daerah lain di luar Silungkang, seperti Solok, Muaro
Kalaban,atau juga Sungai Lasi. Transaksi jual beli pun akan sesak, berbeda
dengan hari – hari lainnya yang cenderung sangat sepi .
Waktu terasa cepat berlalu, sudah hampir seminggu aku dan
Agung berada di sini. Tugas kami untuk mendokumentasikan Prosesi adat
pernikahanpun sudah selesai kemarin. Lusa, yaitu hari Senin kami akan kembali
ke Jakarta. Selama di Silungkang kami menginap di rumah kerabatku. Dan di sana,
kami berkenalan dengan seorang pemuda baik bernama Rahmat, dia pulalah yang
menjadi “guide” kami selama kami di Silungkang.
Sabtu malam, Rahmat mengajak untuk pergi ke balai oko’ besok pagi. Balai oko’ adalah bahasa Padangnya Pasar
Minggu, atau Pasar di hari Minggu. Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, bahwa
hari Minggu termasuk hari yang ramai di pasar Silungkang. Tentunya aku dan
Agung tidak mau melewatkan itu.
“ Kosongkan perut kalian sekosong mungkin malam ini, agar
besok pagi kalian bisa memburu makanan lezat ala pasar Silungkang, sepuasnya…
“, kata Rahmat. “ sebagai makanan pembuka silahkan kalian menikmati kue Ale – ale , lalu makanan utama Kupuak Samba atau juga Sate Padang Mak
Sukur, sedangkan Es Tebak untuk
hidangan penutup “.
Belakangan aku ketahui dari Rahmat, bahwa kue Ale – ale itu sejenis kue serabi,
sedangkan Kupuak Samba mirip dengan
Lontong Sayur, lalu Es Tebak mungkin hampir bisa disamakan dengan Es Campur.
Namun, tetap saja kesemuanya itu berbeda dari yang pernah aku rasakan selama
ini dan makanan – makanan itu memiliki cita
rasa tersendiri, yaitu cita rasa khas Silungkang yang sangat mengagumkan.
Embun
dingin sedang mendekap erat bumi , dan matahari sedang memulai usahanya untuk
menghangatkan desa Silungkang, ketika
Rahmat membangunkan kami pagi itu.
“Cepatlah
kalian bangun, jangan sia – siakan hari terakhirmu disini ! “ seru Rahmat.
“
Tunggu sebentar lah, Rahmat. Bangunkan kami sekitar sejam lagi…” kataku sambil
menahan berat kantuk.
“
Memang sudah jam berapa ini, mat? “ tanya Agung, dalam kondisi setengah sadar.
“
Jam 7 pagi, teman”
“
HAH !!!! “ teriak aku dan Agung serempak.
Sebenarnya
aku dan Agung sudah merencanakan bahwa sebelum kami menuju Balai Oko’, kami ingin mengelilingi seluruh desa Silungkang
terlebih dahulu. Kami ingin mendokumentasikan keseluruhan areanya, itupun juga jika
sempat. Namun, kami agak sedikit telat bangun karena malam sebelumnya kami
menonton sepakbola di TV hingga larut.
Rahmat,
aku dan Agung sudah berada di pinggir rel kereta Silungkang tepatnya berada di
wilayah Panai, ketika sesosok kereta hitam nan panjang melintas begitu saja
tanpa menghiraukan kami. Kontan saja aku langsung merekam momen indah tersebut
dengan Handy cam ku, dan Agung memotretnya dengan kamera SLR nya.
“
Kereta batu bara itu hanya lewat sekali dalam seminggu, yaitu pada hari Minggu
ini saja,” kata Rahmat ,“ Kereta itu hanya diperuntukkan sebagai fasilitas
wisata, berangkat dari stasiun kota Solok, lalu melintasi desa Silungkang ini,
sampai nanti berhenti di stasiun kota Sawahlunto. Setelah itu kembali melintasi
Silungkang untuk kemudian menuju stasiun kota Solok kembali. “
“
Habis itu selesai? “ tanyaku.
“
Ya..”
Kami
terus berjalan di atas rel menelusuri kampung Panai, yang jika kita menengok ke
atas akan tampak tebing hijau, berisikan pepohonan dan beberapa rumah warga,
yang tentunya kebanyakan masih berupa rumah adat. Sebenarnya setelah kami
melewati Panai, kami akan langsung berada di kawasan Pasar Silungkang. Namun
mengingat tujuan awal kami adalah mengelilingi Silungkang, maka jadilah kami
menskip Pasar Silungkang, dan terus
melanjutkan perjalanan. Kali ini kami sudah berada di daerah Paliang, yang
letaknya bisa dikatakan tepat dibelakang Pasar Silungkang. Paliang terdiri
menjadi dua bagian, yaitu Paliang Ateh (Paliang atas) yang posisinya berada
menanjak di atas tebing dan Paliang Bawah, yang tentunya berada di bawah
tebing.
Lalu,
seterusnya kami melewati kampung Tanah Sirah, Lokuang, hingga tiba kami di
suatu daerah yang berisi hamparan sawah, yang dikelilingi pepohonan rindang
bertemankan beberapa rumah penduduk. Kampung tersebut bernama Sawah Juai. Sungguh
siang itu sebenarnya cukup panas, namun entah mengapa saat aku melihat
pemandangan maha hijau seperti ini, mataku terasa sejuk, dan kesejukan ini
mengalir sampai ke otak, dan apa yang kurasakan? SEMPURNA… Sudah hampir tidak
mungkin aku mengemis dan mengharap meminta lukisan tuhan macam ini, di Jakarta.
Aku tersenyum girang, sambil terus merekam daerah ini. Agungpun tak kalah
terpesonanya, itu terlihat dari rasa antusiasnya memotret tanpa henti. Dari
kami bertiga, hanya Rahmat yang tampak seperti manusia normal.
Setelah
kami melewati jembatan Kuti Anyir barulah kami berputar arah menuju Pasar
Silungkang. Sayup – sayup terdengar panggilan shalat dari salah satu surau,
hari sudah menunjukkan pukul 12 siang. Tepat saat perut kami sudah lapar bukan
main. Benar saja, pasar saat itu sangatlah ramai. Di pinggir jalan sudah
terparkir banyak motor. Jalan – jalan disulap menjadi lapak para pedagang
tersebut. Mereka menjual aneka sayur, daging, buah – buahan, dan yang pasti kebutuhan
pangan hampir semuanya ada di sana. Layaknya pasar – pasar lain, kita juga bisa
menemukan pakaian, maupun alat tulis disana.
Namun
itu semua masih dibungkus dalam balutan pasar tradisional, dimana sebagian
pedagang menggelar dagangannya di tikar, dan berlesehan di bawah langit yang
lebar terbuka. Juga berpayungkan tenda – tenda warna – warni, yang jika kita
melihat itu dari atas, kita akan melihat kombinasi warna yang menarik dari
gabungan beberapa tenda yang memayungi pedagang.
Karena
aku dan Agung tidak tahu menahu arah jalan, jadilah mengikuti Rahmat, dari
belakang menyusuri space sempit di antara para pedagang, di kanan-kiri kami.
Tadi kami sepakat, bahwa pertama yang akan kami makan adalah Sate Padang Mak
Sukur.
Lalu,
tiba-tiba mata ini menunjuk ke satu titik, beberapa meter di samping kananku.
Aku melihat ada sesosok gadis yang menarik perhatianku. Dia berbaju hitam,
mengenakan rok putih panjang selutut, dan sedang membeli sesuatu di lapak
sayuran. Rambut sebahunya menambah kesan
elok pada parasnya. Dia kulihat hanya sendiri waktu itu. Sangat ingin aku
menghampirinya saat itu juga. Namun karena waktu terasa cepat, dan langkah
kakiku cepat pula mengikuti Rahmat dan Agung, yang ada di depanku, jadilah
tertunda niatku itu.
Di
tengah kesesakan dan kelaparan seperti itu, sementara aku lebih memilih
mengikuti dua sahabatku itu untuk mencari makan. Setelah itu aku pasti akan
kembali, dan menghampirinya. Toh aku sangat yakin di pasar yang tidaklah
terlalu luas ini, aku pasti bisa menemukannya kembali.
Satu
piring Sate Padang sudah kami lahap dengan rakusnya. Cukup hanya lima menit
untuk kami memanjakan perut kami menghabiskan satu porsi. Es tebak pun menunggu
gilirannya untuk disantap. Namun, sebelum itu datang di meja kami, aku langsung
mengingat gadis itu tadi. Akupun berpamitan sebentar pada dua sahabatku itu.
Aku hanya mengatakan ingin mengambil gambar lagi suasana keramaian pasar.
Lagi
– lagi aku harus melewati space sempit saat itu. Aku terus berjalan tanpa
hentinya merekam, sampai suatu ketika ada seorang bapak meneriakiku dari arah
belakang.
“
Hei, Minggir !!! “, teriak bapak itu tentunya dengan bahasa Padang.
“
Iya ,maaf pak “, kataku.
Aku
tidak kesal sama sekali, karena aku tahu mungkin bapak itu sedang sibuk dan
diburu oleh waktu. Di pundaknya teronggok karung tebal berisi beras. Berat
memang…
Setelah
itu aku langsung meluncur ke tempat gadis itu tadi berada, dan… Dia sudah tidak
ada…
Aduh
kemana perginya gadis itu??... Mataku mengelilingi seisi pasar mencarinya,
siapa tahu dia masih ada di sekitar sini. Akupun setengah berlari ke segala
penjuru untuk menemukannya. Tapi, tidak bisa kutemukan sama sekali. Dia benar –
benar menghilang.
Lalu aku teringat sesuatu. Ya, handycam !!.
Aku akan merewind rekamanku, siapa
tahu ada yang tidak terlihat olehku, namun terlihat oleh mata kameraku. Jantungku
berdegup kencang, hingga benar – benar
aku merasakan kecewa karena gadis itu luput pula dari penglihatan kameraku.
Keriuhan
transaksi sekelilingku perlahan memudarkan harapanku. Aku menyesal, sangat
menyesal. Coba saja tadi aku langsung menemuinya, berkenalan dengannya,
mengobrol… Bodoh !! Aku mengutuk diriku sendiri.
Lalu
aku kembali menemui kedua sahabatku. Mereka masih melahap es tebaknya. Ketika
mereka bertanya mengapa mukaku terlihat lesu, aku hanya menjawab hanya sedikit
lelah saja. Kelezatan Es tebak pun menjadi sedikit hambar di mulutku. Tanpa
para sahabatku sadari, aku terus saja menyesali diriku sendiri, dan pikiranku
terus melayang menuju sosok gadis elok itu.
Hei,
gadis elokku, mengapa kau lenyap begitu saja ? Siapakah namamu ?
Berasal
dari kampung manakah kamu?
Mengapa
pilihanmu aneh sekali? Ketika cuaca sangat terik seperti ini kamu memilih
pakaian berwarna hitam?
Tapi,
itu tidak masalah bagiku, mungkin hitam memang warna favoritmu…Hei aku juga
sedang mengenakan warna hitam !! dan aku juga memprioritaskan hitam dalam hari
- hariku…
Bukankah
kita sama? Bukankah kita berjodoh?...
Hari
berangsur menjadi gelap milik maghrib. Besok aku dan Agung akan kembali ke
Jakarta. Silungkang telah memberikan warna lain untuk perjalananku kali ini. Ini
adalah kampungku, tempat di mana para nenek moyangku bertempur melawan
kebengisan Jepang. Di Silungkang pula orangtuaku pertama kalinya menghirup
nafas bumi. Ini berarti jelas bahwa darah Silungkang mengalir deras di dalam
tubuhku.
Pada
akhirnya aku merasakan seperti ada sesuatu yang tertinggal di sini, tepatnya di
Pasar itu. Tapi, aku pasti akan kembali ke sini suatu hari nanti, dan saat itu
aku harap tuhan mempertemukan aku kembali dengannya. Percayalah bahwa si
keledai ini tidak akan sebodoh keledai – keledai lainnya yang jatuh terperosok dua
kali dalam lubang yang sama…
End
RG
(Diselesaikan
tgl 22-02-2010, jam 3 pagi…)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar