/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Selasa, 17 Juli 2012

KANTIN PSIKOLOGI


Kamis itu, tepatnya saat terang siang berubah menjadi abu – abu mendung, gue udah ada di belakang boncengan motor Ano, temen gue. Kami sudah berada di kawasan salah satu Universitas terbesar, termahsyur, dan terbaik di Indonesia. Hari itu, disamping mengisi kekosongan waktu ( baca: menganggur, nggak ada kerjaan ) ,kebetulan kami ada suatu keperluan di sana, untuk mendapatkan beberapa informasi program perkuliahan ekstensi di sana.
Di sepanjang perjalanan tak henti gue menoleh kanan – kiri melihat dan merasakan atmosfer kampus itu.
“ Kambiiingggg….neh baru kampus, no!!, nggak kayak kampus situ sepi… “, kata gue.
 “kampus situ juga, njir!! “, Ano membalas.
Sejurus kemudian gue melihat gadis cantik melintasi trotoar jalan.
“ Tuh 10…10…!!” , sahut gue dari belakang.
“ 10 ape? “
“ Arah jam 10 geblek!! “, gue gemes terhadap kegeblekan teman gue itu.
“Oiye…beuh , beuh…seger. Ga ada tu yang modelnya kayak gitu di kampus kita”, kata Ano setelah tersadar.
“ Ya iyalah nggak ada, isinya aja hampir laki semua. Kalo ada juga mata lo nggak bakal burem terus kayak gitu”
“ Anjir lo “
**
Setelah kami mendapat berbagai informasi program perkuliahan di sekretariat, kami berniat untuk tidak langsung pulang. Perut gue lapar, butuh sesuatu untuk diisi.
“ Heh jy, samar – samar gue inget salah satu temen gue ada yang pernah ngomong… “ kalimat Ano berhenti, memberikan waktu untuk otaknya berpikir. “itu lo bukan sih yang ngomong?? ”, lanjut Ano.
“Ngomong apaan?, timpal gue.
“ Oh, berarti itu bukan lo ya yang ngomong ? “
Gue bersungut heran sama omongan Ano yang nggak jelas.
“ Iya jadi gini, temen gue bilang kalo suatu saat lo kelaperan pas lagi berada di kawasan ini kampus, lo makan aja ke kantinnya Fakultas Psikologi”, Ano melanjutkan.
“ Mang nape? “
“ Dia bilang lo bisa kenyang dua kali kalo makan disana”
“Padahal gue Cuma makan sekali, gitu maksut lo? “ , tanya gue tambah heran.
“Iya, maksudnya bukan perut lo noang yang kenyang, tapi mata lo ikut – ikutan   kenyang ”, kata Ano.
Gue udah bisa membaca kemana arah pembicaraan Ano itu.
“Ooooo…Oke ngarti gue, ngarti , ngarti “
“ Hehehehe…” ,Ano tersenyum licik. Senyum itu mematikan, karena pernah memakan korban, yaitu gue. Pernah pas gue demam, ngeliat senyum dia yang macam itu gue langsung muntah tak terkendali.
Gue sama Ano langsung meluncur mencari zona kayangan itu.
**
Sesampai di pelataran fakultas psikologi tersebut, hujan mulai turun. Tubuh gue bergetar, perut berguncang, hati berdebar. Beberapa gadis elok rupawan lalu lalang saat kami memasuki lobby, ini merupakan pemandangan mahal buat kami yang dalam kesehariannya sulit menemukan gadis di kampus, tempat kami kuliah saat ini.
“ elok nian para makhluk psikologi ini”, sesaat Ano mencoba menjadi pujangga sebelum kepalanya gue keplak.
“Busyet…Bahasa lo timpang ma muka !, udah gue laper, cari yok kantinnya”
Gue nggak bisa bohong, kalau sebenarnya gue juga takjub melihat para gadis cantik itu. Cuma, karena gue gengsi sama Ano, jadilah gue tahan niat gue untuk ikut mendendangkan pusi saat itu.
“ Masya Allah….” , kata Gue dan Ano berbarengan saat kami sampai di kantin.
Rupanya di sinilah tempat berkumpulnya bidadari kayangan kala mereka lapar di siang hari. Kalau saja gue menggunakan kode “arah jarum jam” untuk menunjukkan dimana gadis cantik berada saat ini, mungkin angka jam yang biasa kita lihat akan berubah dari 12 angka saja menjadi 30 angka. It’s  incredible !!...
“ Gue nge take-in meja dulu ya, jy. Lo pesenin alpuket sama… bakso juga boleh”, kata Ano
“Ah kambing, bisa aja lo nyolong start. Tapi okelah, daripada ga dapet tempat  nanti. Eh, no, ambil yang agak dipojokkan itu ya, kayaknya strategis tuh view nya” kata gue setengah berbisik.
“Apaan yang strategis?”, sahut Ano.
“View nya…” , jawab gue dengan senyum menyeringai.
Ano tetap terpaku tidak mengerti, dahinya mengernyit. Dia masih tidak mengerti maksud gue, kalau view itu sudut pandang pewe kita untuk cuci mata.
“View nya???”, kata Ano
“View…..view nyaaaaahhh!!”, suara gue berteriak namun tertahan, udah gemes sama kebolotan Ano.
“View ?”, Ano masih berpikir keras , sebelum akhirnya dia mengerti maksud gue.  “ Ooh, view itu maksudnya, oke oke ngerti gue”, kata Ano sedikit berbisik
Gue pengen ngakak merhatiin Ano menerobos melaju menembus meja – meja yang mostly dijajah para mahasiswi itu. Kelihatan banget dia agak canggung dari cara jalannya yang nggak kayak biasanya.
“ Bang, bakso dua, alpukat satu, ma aqua satu”, kata gue ke abang – abang kantin.
Gue berdiri nungguin aja sambil celingak – celinguk lagi ke arah meja – meja. Mudah – mudahan gue nggak bangun – bangun dari mimpi gue ini, para bidadari itu masih ada di sana, bahkan beberapa diantara mereka ada yang melihat kearah gue, wah bahagianya. Tapi mimpi gue langsung buyar waktu abang kantin tadi menepuk pundak gue dari belakang. Emosi gue langsung memuncak, gimana sih rasanya lo lagi mimpi indah terus dibangunin dengan cara dikagetin??...
“Udeh lo tunggu aja di meja sono, ntar gue anterin. Ah, elo kayak anak baru aja masih segen ma gue”, sentak abang kantin, yang rupanya tidak menyadari kalau gue bukan mahasiswa universitas itu. Berarti emang gue punya tongkrongan anak Psikologi ya, hehehe.
Berubah langsung muka gue yang tadi merah karena marah, jadi biru karena malu.
“ Oh, gitu ya…yaudah sip - sip bang”, jawab gue rada salting.
Gue menghampiri Ano yang jelas – jelas lagi baca buku untuk ngilangin rasa gugup dan mati gayanya. Kocak banget ngeliatnya.
“Oi, kura, baca apaan lo ?? ini- bapak - budi , ya? “, ledek gue dengan gaya pengucapan seorang guru TK sedang mengajari muridnya.
“Sst, njir pelan – pelan lo ngomong gitu!!” kata Ano. “Lo inget nong kita lagi dimana sekarang?, pemikiran makhluk – makhluk cantik di sekitar kita tu terpelajar, nggak kayak kita barbar. Jaga sikap lah sementara waktu… “
Bener juga kata Ano. “ Oiya ya.. sorry nggak kepikiran ma gue tadi”, kata gue.
Sesaat kemudian datang abang kantin tadi membawa pesanan kami.
“ neh bos, oiya tuh kecap sambel kalo mau ada di meja sebelah. Ambil sendiri ya”, kata abang kantin.
“ Sip bang, nggak usah repot – repot, kayak baru kenal aja lo masih segen ma gue”, sahut gue ngeledek.
“ Yeeee sempet aje lo ngebales…udeh, balik dulu gue ya…bayar jangan lupa”, kata abang kantin, sambil berlalu.
Kepala gue dikeplak sama Ano
“ Macam mahasiswa sini aja lo dah akrab ma doi,,hehehe” , kata Ano sambil cekikikan.
Hujan mulai turun agak deras dan kami lalu menyantap hidangan itu. Namun tak lama setelah itu ada yang mengganjal di hati gue. Kok mereka sembunyi pandang melihat kearah gue?. Mereka itu ya beberapa gadis yang meja nya terpaut beberapa baris noang dari meja kami. Muka gue memerah, malu, salting, gugup karena jarang – jarang aja gue berhadapan dengan situasi seperti ini.
Tanpa sepengetahuan Ano yang lagi takzim dengan baksonya, hati gue berdebar – debar kencang. Salah satu dari para gadis itu, ada yang intens ngelirik – ngelirik ke arah gue sambil tersenyum kecil saat mengobrol dengan temannya. Sebutlah gadis itu bernama “gadis ACER”, karena jemari – jemarinya terlihat kompeten memencet tooth – tooth laptop bermerk ACER. Ampun, gue gugup tak terperi, namun ada riak – riak bahagia menggelegar di hati gue. Is it what they called LOVE??
Gue berusaha untuk menghindari gede rasa, tapi gue nggak bisa menghindari hentakan kencang geledek di luar sana. BRRANGGGGG!!!!
Semua orang kaget tersentak tak terkecuali gue sama Ano.
“ KAMBING , LO KAMBING!!… “, gue spontan latah, dengan volume suara yang tidak bisa dikatakan kecil.
“ Subhanallah….”, kata Ano lebih bijak
“ Astagfirullah…iya iya maap nggak sengaja…Subhanallah”, gue tersadar.
Gadis itu ketawa cekikikan, mungkin karena melihat perangai gue yang bodoh saat kaget tadi. Gue tengsin berat lalu mencoba mengalihkan pandangan dari gadis ACER.
“ Eh, no gimana kalo kita cabut sekarang? Udah nggak nyaman neh gue”, ujar gue.
“ Yah baru kelar gue makan, belom puas cuci mata, lo udah puas emang?, kalo gue sih belom? “
“Ah, kura lo nggak asik, udah nggak enak neh perasaan gue”
“Yaelah, kok lo yang jadi manja gitu, udah kayak cewek gue lo”, Ano terganggu “kesibukannya” oleh oecehan gue.
“ Huh, kura kayak punya cewe aja lo !!“, kata gue, sambil mengeplak kepalanya.
“Emang kagak punya, kan calon –calonnya lagi bertebaran di sini…Siapa tau gue jadi rejekinya salah satu cewek – cewek itu. Makanya sabar dulu, jy, lagian masih hujan gede gitu”
Gue menghela nafas. Lalu gue tersadar bahwa semenjak tragedi latah gue tadi, mahasiswa – mahasiswa di beberapa meja lain ,sesekali melempar lirikan tajam kearah gue. Mungkin mereka merasa terusik dengan kehadiran gue berdua sama Ano, yang konyol dan tentunya berstatus asing bagi mereka . Tuh kan perasaan gue nggak enak.
Mereka yang serius, elegan dan sangat menyukai kehidupan yang terkonsep jelas tentunya merasa risih dengan kehadiran dua makhluk yang pecicilan, rada kumal, yang suka setengah – setengah dalam berkonsep ,kayak gue ma Ano. Setidaknya itu yang gue pikir saat itu.
Oiya!! Jangan – jangan si Gadis ACER adalah salah satu dari mereka. Mereka yang terganggu dengan kehadiran gue sama Ano. Tapi cara dia sedikit lebih sopan , cukup dengan menyunggingkan senyum dan tawa yang sebenarnya berniat melecehkan tingkah kami berdua.
Belum selesai hati ini bergemuruh hebat, datang lagi seekor penderitaan. ANJING!!!. Iya benar, melintas seekor anjing di samping meja kami. Sekelebat gue sempat berfikir kalau itu yang lewat macan, kaget bukan kepalang, soalnya warnanya kuning keemasan dan ukurannya yang naudzubillah, cukup gede. Muka gue pucat, Ano juga, tapi dia lebih bisa menyimpan ketakutannya dibanding gue. Huh,,,kenapa di sini bisa ada anjing, sih??
Jujur gue agak trauma sama anjing. Dulu waktu kecil pernah gue main sepakbola sama anak – anak tetangga. Salah satu dari teman gue ada yang nendang bolanya cukup kuat, jadilah bola itu mengenai anjing kampung yang sedang tidur. Lalu, layaknya sang Rambo yang mengamuk karena dicolek pantatnya sama bencong Los Angeles, anjing itu kalap menyerang kami membabi buta ( patut diingat yang menyerang kami hanya anjing, babi nggak ngikut waktu itu).
Dasar memang waktu itu gue termasuk yang paling kecil, dan lari gue nggak sekencang yang lain, jadilah gue  tertinggal sendirian, tinggal “one by one” dengan anjing itu.
GERRR!!, anjing itu menyalak marah ke arah gue, gue pun pucat pasi berada di situasi yang tidak menguntungkan, yaitu berdiri persis di tepi got yang menganga. Sebenarnya anjing itu cukup kecil ukurannya, tapi kelincahan dan kecepatannya nomor satu. Kalau dalam perkancahan Sepakbola dunia, mari kita analogikan ia layaknya seorang Lionel Messi nya versi anjing lah.
Dengan kecepatan kurang dari sedetik, ia melesat menyerang ke arah gue. Namun, dasar dari kecil sudah terlihat berbakat sebagai calon pesepakbola masa depan, gue dengan mudahnya menghindar dari serangan itu. Kurang lebih tiga kali gue mampu “menggocek” dan mengecoh anjing itu, layaknya Zidane menari – nari menggiring bola melewati para pemain lawan. Hampir semaput, anjing itupun akhirnya menyerah dan pergi menjauh.
Ya, kalau ditarik kesimpulan, secepat apapun Lionel Messi melesat tetap akan terkalahkan oleh tekhnik, karisma dan kejeniusan si Legenda Hidup Zinedine Zidane.  So, Gue 1 – 0 Anjing.
Kembali ke kantin Fakultas Psikologi. Sehebat- hebatnya dulu gue mengecoh anjing, tentu kondisinya berbeda dengan sekarang yang gue hadapi. Dulu gue masih kecil, belum berpikir panjang, anjingnya kecil pula. Sekarang, anjingnya segede kambing, dan gue udah gede pula. Masa iya, ditengah – tengah kantin gue harus “menggocek” itu anjing?. Lagian kalau boleh jujur, waktu itu “kemenangan” gue melawan Messi, eh anjing itu lebih dikarenakan naluri bocah aja, yang keluarnya spontan karena panik.  Sampai udah gede pun sebenarnya gue selalu jiper parah sama yang namanya anjing.
Anjing itu bersungut – sungut duduk di samping gue dan Ano. Seolah – olah itu adalah anjing remote control yang dikendaliin oleh salah satu dari para mahasiswa itu ( gue lagi di fakultas psikologi ato fakultas teknik, sih?? Kok ada robot anjing? ) . Mereka seakan mencoba mengusir gue perlahan dengan anjing itu.   Keringat dingin keluar dari tengkuk gue.
“ No, beneran gue dah nggak tahan di sini, kita cau yuk? “
“ iya yuk, tuh anjing kayaknya berasa kangen ma emaknya, tuh dari tadi adem ayem aja di samping lo “, ledek Ano
“kampret!! “
Kami menuju dengan jalan agak tergesa ke tempat abang kantin.
“Dua puluh lima ribu kan , bang?... Neh …“
Gue meletakkan uangnya dan segera pergi meninggalkan kantin, namun tetap mata gue terus mengawasi keadaan, kali aja itu anjing tiba – tiba meng –upper cut gue dari samping.
Lalu, sejurus kemudian  sempat gue melirik ke arah gadis ACER ,dan benar, dia dan teman – temannya terbahak cukup lama melihat gue berdua pergi meninggalkan kantin. Raut wajah yang pucat pasi plus keluarnya keringat dingin, dapat dengan mudah dikenali oleh para awam sebagai salah satu ciri orang yang sedang mengalami ketakutan. Well, apalagi di mata si Gadis ACER itu, yang notabene menjadi makanan sehari – harinya di bangku kuliah, sudah jelas tentunya dia lebih memahami ciri psikologis manusia secara mendalam. So, gue nggak heran ngeliat mereka ketawa – ketiwi seperti itu.
Emhh.... Niat cuci mata gue sama Ano, di kantin Fakultas Psikologi berakhir sial. Namun, gue berharap itu bukan pertanda penolakan Universitas hebat itu terhadap kami. Karena, seperti banyak pemuda di negeri ini,  gue dan Ano juga ingin merasakan perkuliahan di sana, suatu saat nanti. 
Guyuran hujan terus menerus membasahi aspal, namun tak henti Ano dan gue melaju diatas motor menerobos gerbang kampus itu. Tak lama setelah keluar gerbang, masih di sekitar pelataran kampus itu, gue yang masih dalam posisi dibonceng Ano, lalu menoleh ke arah belakang, seolah – olah ada supermagnet yang mampu memutar arah posisi kepala gue dengan cepat. Ada apa gerangan??....  Gue melihat adanya dua kata, dua puluh huruf, dengan font yang sangat besar, terukir di permukaan batu yang besar pula, persis di atas danau yang tenang.
Dua kata yang berdaya magnet super itu bertuliskan UNIVERSITAS INDONESIA……
-TAMAT-                                                                                 050309












Tidak ada komentar:

Posting Komentar