Kenapa jadinya seperti ini?
Aku benci ketika sekitar berjalan seperti ini
Hidup namun tidak bernafas, terbang namun hanya menggeliat di tanah
Aku seolah takut bergerak...
Padahal, siapa mereka?
Keabu-abuan mereka, keberingasan mereka toh hanya segelintir dunia
Hei, majulah anak muda...bergerak membuatmu selalu terjaga dari mati-mu
Sepele itu hanya akan menjadi bualan esok hari
Karena setengah sembilan malam akan bergerak ke setengah sembilan pagi
Dan itu pasti
HIDUP DI SEBUAH DUNIA YANG BERBEDA, DI MANA GUE NGGAK PERLU KHAWATIR AKAN SERANGAN KOLESTEROL ATAUPUN PARA PENJAHAT LAINNYA... KARENA DI SANA NGGAK ADA SIAPA2 SELAIN GUE SENDIRI...
Minggu, 27 Februari 2011
Minggu, 23 Januari 2011
Salut Untuknya...
Halo teman-teman, saudara-saudara serta para handai taulan semua…Rasanya sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Saya tak bisa pungkiri saat ini pekerjaan baru saya –setelah sekian lama menganggur, hehehe— cukup menyita waktu. Hari senggang selepas kerja lebih saya manfaatkan untuk berisitrahat atau mencari hiburan di luar sana. Maklum otak ini butuh di”refresh” agar tidak terlalu berantakan system kerjanya.
Oke, ada baiknya kalau mukaddimah yang tanpa maksud berbasa-basi di atas, kita akhiri segera. Karena si Pencerita ini sudah tidak sabar untuk mengabarkan isi hati dan pikiran kepada para pembaca, seperti sedia kala. Tentu bukan sembarang cerita karena ini merupakan “debut” pemikiran saya di tahun 2011 yang saya akan tuangkan di blog tercinta ini.
Saat ini saya sudah berkerja di salah satu Televisi swasta Indonesia selama hampir 2 bulan berjalan. Saya ikut terlibat dalam sebuah program Talkshow yang dipandu oleh sang Master Mentalist kawakan itu. Jadi, singkat cerita saya pernah mengobrol dengan salah satu kru. Obrolannya cenderung tidak terlalu istimewa hingga akhirnya merembet pada perilaku berbagai artis. Lebih signifikan lagi obrolan kita tertuju pada salah satu pelawak besar di Indonesia. Ia berkelakar “Iya, seru tuh setiap kerja bareng dia. Kita bakalan aman deh kalau syuting”. Saya tidak mengerti, “Maksudnya aman gimana ya,mas ?”. “Maksudnya kita nggak bakal khawatir ketinggalan solat. Karena pas adzan berkumandang dia bakal langsung berinisiatif untuk menunda syuting dan mengajak kita, para kru, untuk solat berjamaah”.
Mendengar itu ada sedikit kelegaan di hati ini. Selama ini saya hanya mengagumi sebatas keahliannya dalam melawak saja.
Hari itu datang juga. Program kami setelah jalan 2 bulan, akhirnya bisa mencocokkan jadwal dan mengundang pelawak itu menjadi tamu/narasumber kami. Tentunya kehadiran dia di acara kami sangat dinanti-nantikan pemirsa seantero negeri.
Bersahut adzan magrib, saat itu saya dan beberapa kru memanfaatkan break syuting untuk solat. Dan benar, si pelawak tersebut berada tepat di saf belakang saya. Belum selesai sampai situ. Karena ketika waktu Isya datang bahkan dia sudah “colong start” tiba di musola studio yang kecil dan sempit itu. Kali ini ia tidak bertindak sebagai makmum, melainkan sebagai Imam. Saya yang akhirnya menjadi masbuk (makmum yang tertinggal rakaat berjamaah) sempat mendengar bacaan suratnya yang cukup baik.
Dan lagi-lagi belum selesai : Si Pelawak itu pula yang memimpin kami berdoa usai solat isya berjamaah. Sebagai gambaran saja, biasanya yang melakukan ini adalah para imam masjid atau ustadz-ustadz yang memiliki ilmu agama tinggi saja.
Lalu, keterkejutan saya muncul kembali. Saya sedang memasang sepatu ketika si pelawak itu sudah siap menyantap mie ayam –yang disajikan oleh asistennya—tidak segan menawarkan makan pada saya : “Mas, mari makan”. Kalimat itu terlontar luwes seolah dia menanggalkan predikat “keartisan”nya saat itu juga. Saya berusaha menyembunyikan keheranan saya, lalu mencoba mencuri kesempatan untuk ber”foto bareng” dengannya (hehehe mau udik jangan tanggung-tanggung). Saya berfikir: kapan lagi saya memiliki kesempatan untuk foto bersama salah satu Legenda Lawak Indonesia??
Dan diapun tidak terlihat terpaksa mengiyakan permintaan sederhana saya itu
Sayapun mencoba mencairkan kegugupan diri ini, “ Mas, saya sudah jalan hampir 2 bulan kerja di sini, tapi kok baru bisa ketemu mas sekarang ya? Hehehe”. Dia pun menanggapi ramah dan santai sambil mengaduk-ngaduk mie ayamnya “Hmmm, oh lo baru 2 bulan ikut program talkshow ini?”. “Iya mas. Yaudah mas saya harus balik lagi ke stage. Makasih banyak ya,mas”, saya mengakhiri obrolan singkat itu dengan 2 alasan: pertama karena saya memang harus standby di stage dan kedua karena otak saya mendadak blank. Mungkin karena efek kegugupan saya yang over, jadinya saya tidak memiliki cadangan topik pembicaraan.
Tapi, setidaknya saya puas. Selain bisa mengabadikan momen dengan sang pelawak, saya juga berkesempatan bisa membuktikan fakta dari obrolan saya dengan salah satu kru, tempo hari. Dan masih begitu banyak sisi positif yang saya lihat dari dia, di lokasi syuting saat itu, yang tidak mungkin saya uraikan kesemuanya. Karena sepertinya tidaklah bijak kalau saya terlalu memuji seseorang setinggi langit, seolah tanpa cela.
Satu hal yang pasti: Bagi saya dan mungkin beberapa orang setuju bahwa lawakannya hampir selalu berhasil mengocok perut dan tidak sedikit pula pelawak lainnya yang terisnpirasi olehnya serta meniru gaya melawaknya. Juga Attitudenya yang bersahaja membuat saya bertambah kagum di mana dia besar di tengah-tengah lingkungan para tokoh hiburan, yang notabene hidup dalam gelap dan gemerlapnya dunia panggung.
Ya, saya melihat Sang Pelawak itu cukup jauh dari stereotype keartisan tersebut.
Salut untuknya : UHHHUUUUUUUYYYYYYYYYYYY !!!!
Oke, ada baiknya kalau mukaddimah yang tanpa maksud berbasa-basi di atas, kita akhiri segera. Karena si Pencerita ini sudah tidak sabar untuk mengabarkan isi hati dan pikiran kepada para pembaca, seperti sedia kala. Tentu bukan sembarang cerita karena ini merupakan “debut” pemikiran saya di tahun 2011 yang saya akan tuangkan di blog tercinta ini.
Saat ini saya sudah berkerja di salah satu Televisi swasta Indonesia selama hampir 2 bulan berjalan. Saya ikut terlibat dalam sebuah program Talkshow yang dipandu oleh sang Master Mentalist kawakan itu. Jadi, singkat cerita saya pernah mengobrol dengan salah satu kru. Obrolannya cenderung tidak terlalu istimewa hingga akhirnya merembet pada perilaku berbagai artis. Lebih signifikan lagi obrolan kita tertuju pada salah satu pelawak besar di Indonesia. Ia berkelakar “Iya, seru tuh setiap kerja bareng dia. Kita bakalan aman deh kalau syuting”. Saya tidak mengerti, “Maksudnya aman gimana ya,mas ?”. “Maksudnya kita nggak bakal khawatir ketinggalan solat. Karena pas adzan berkumandang dia bakal langsung berinisiatif untuk menunda syuting dan mengajak kita, para kru, untuk solat berjamaah”.
Mendengar itu ada sedikit kelegaan di hati ini. Selama ini saya hanya mengagumi sebatas keahliannya dalam melawak saja.
Hari itu datang juga. Program kami setelah jalan 2 bulan, akhirnya bisa mencocokkan jadwal dan mengundang pelawak itu menjadi tamu/narasumber kami. Tentunya kehadiran dia di acara kami sangat dinanti-nantikan pemirsa seantero negeri.
Bersahut adzan magrib, saat itu saya dan beberapa kru memanfaatkan break syuting untuk solat. Dan benar, si pelawak tersebut berada tepat di saf belakang saya. Belum selesai sampai situ. Karena ketika waktu Isya datang bahkan dia sudah “colong start” tiba di musola studio yang kecil dan sempit itu. Kali ini ia tidak bertindak sebagai makmum, melainkan sebagai Imam. Saya yang akhirnya menjadi masbuk (makmum yang tertinggal rakaat berjamaah) sempat mendengar bacaan suratnya yang cukup baik.
Dan lagi-lagi belum selesai : Si Pelawak itu pula yang memimpin kami berdoa usai solat isya berjamaah. Sebagai gambaran saja, biasanya yang melakukan ini adalah para imam masjid atau ustadz-ustadz yang memiliki ilmu agama tinggi saja.
Lalu, keterkejutan saya muncul kembali. Saya sedang memasang sepatu ketika si pelawak itu sudah siap menyantap mie ayam –yang disajikan oleh asistennya—tidak segan menawarkan makan pada saya : “Mas, mari makan”. Kalimat itu terlontar luwes seolah dia menanggalkan predikat “keartisan”nya saat itu juga. Saya berusaha menyembunyikan keheranan saya, lalu mencoba mencuri kesempatan untuk ber”foto bareng” dengannya (hehehe mau udik jangan tanggung-tanggung). Saya berfikir: kapan lagi saya memiliki kesempatan untuk foto bersama salah satu Legenda Lawak Indonesia??
Dan diapun tidak terlihat terpaksa mengiyakan permintaan sederhana saya itu
Sayapun mencoba mencairkan kegugupan diri ini, “ Mas, saya sudah jalan hampir 2 bulan kerja di sini, tapi kok baru bisa ketemu mas sekarang ya? Hehehe”. Dia pun menanggapi ramah dan santai sambil mengaduk-ngaduk mie ayamnya “Hmmm, oh lo baru 2 bulan ikut program talkshow ini?”. “Iya mas. Yaudah mas saya harus balik lagi ke stage. Makasih banyak ya,mas”, saya mengakhiri obrolan singkat itu dengan 2 alasan: pertama karena saya memang harus standby di stage dan kedua karena otak saya mendadak blank. Mungkin karena efek kegugupan saya yang over, jadinya saya tidak memiliki cadangan topik pembicaraan.
Tapi, setidaknya saya puas. Selain bisa mengabadikan momen dengan sang pelawak, saya juga berkesempatan bisa membuktikan fakta dari obrolan saya dengan salah satu kru, tempo hari. Dan masih begitu banyak sisi positif yang saya lihat dari dia, di lokasi syuting saat itu, yang tidak mungkin saya uraikan kesemuanya. Karena sepertinya tidaklah bijak kalau saya terlalu memuji seseorang setinggi langit, seolah tanpa cela.
Satu hal yang pasti: Bagi saya dan mungkin beberapa orang setuju bahwa lawakannya hampir selalu berhasil mengocok perut dan tidak sedikit pula pelawak lainnya yang terisnpirasi olehnya serta meniru gaya melawaknya. Juga Attitudenya yang bersahaja membuat saya bertambah kagum di mana dia besar di tengah-tengah lingkungan para tokoh hiburan, yang notabene hidup dalam gelap dan gemerlapnya dunia panggung.
Ya, saya melihat Sang Pelawak itu cukup jauh dari stereotype keartisan tersebut.
Salut untuknya : UHHHUUUUUUUYYYYYYYYYYYY !!!!
Minggu, 21 November 2010
Matanya Itu...
Matanya sayu menahan kantuk
Mata itu terus saja berkerja ketika seharusnya terpejam mengiringi malam
Kemudian matanya tertuju pada sekumpulan pohon
Mereka begitu tinggi lagi besar semua
Dedauannya nan lebat bergoyang,menari ikuti perintah desau angin
Ingin rasanya ia ikut menyatu dan menari bersama mereka, hingga tandas sudah rasa kantuk itu...
Mata itu terus saja berkerja ketika seharusnya terpejam mengiringi malam
Kemudian matanya tertuju pada sekumpulan pohon
Mereka begitu tinggi lagi besar semua
Dedauannya nan lebat bergoyang,menari ikuti perintah desau angin
Ingin rasanya ia ikut menyatu dan menari bersama mereka, hingga tandas sudah rasa kantuk itu...
Minggu, 07 November 2010
Lucu..Absurd..Tragis..
"Masih saja bergombal ria dalam kemelut yg absurd, bahkan kala diri nyaris ditelan nyatanya tepian jurang"
Kalimat di atas adalah isi status yang baru saja saya tulis di Facebook. Bukan tanpa alasan saya menulis status yang tidak common seperti itu --setidaknya bagi saya pribadi.
Alasan pertama: Saya sudah lama memendam hasrat untuk menggunakan kata Absurd dalam status Facebook. Karena saya beranggapan kata itu terlihat elegan jika dibaca. Seolah siapapun yang menuliskan kata itu pastilah bukan orang sembarangan,melainkan orang cerdas (hehehe...). Dan akhirnya saya mendapatkan kesempatan itu, hingga berujung kelegaan yang luar biasa. Fiuuhhhh....
Alasan kedua --ini bagian seriusnya-- mengapa saya menuliskan kalimat seperti itu??
Jelas saya bukan orang yang ringan tangan menulis status di facebook (FB). Makanya ketika saya melihat atau menghadapi sesuatu yang wah, maka terciptalah kalimat yang indah itu. Dan jangan mengira kalimat itu hanyalah omong kosong tiada isinya. Memang, sekilas seperti potongan bait sang pujangga, namun jujur saya tidak sedang berpuisi saat itu karena kata-kata itu melintas begitu cepat ketika saya mendapatkan buah pikiran (ditambah saya juga tidak ingin status yang sebenarnya merupakan sindiran ini, terlalu vulgar maknanya terlihat oleh si objek korban sarkas saya. Hitung-hitung kalimat bersayap di atas sengaja saya buat sebagai kamuflase).
Inilah penyebabnya:
Akhir-akhir ini Indonesia sedang mengalami bencana yang dahsyat. Mari kita kesampingkan sementara beragam bencana lainnya (baca: Bencana Moral, Bencana Politik, Bencana Hukum, Bencana Ekonomi, Bencana Sosial, Bencana Budaya) di negeri tercinta ini. Bencana alam yang terjadi di Wasior,Mentawai juga di daerah sekitar kawasan Merapi lebih menjadi sorotan akhir-akhir ini. Indonesia sedang berduka karena kehilangan banyak nyawa manusia dan mengalami kerugian-kerugian besar akibat bencana tersebut.
Namun,lucu buat saya karena masih saja di saat-saat mencekam seperti ini saya bertemu dengan "kasus" beberapa tulisan status Fecebook, lewat cerita di bawah ini :
Malam itu, saat sedang membuka laman Facebook, saya melihat "pemandangan" yang menarik. Salah satu teman di FB memiliki akun yang sama dengan kekasihnya. Sebutlah si Pemuda berlabel P, sedangkan Pemudi berlabel Pi. Dalam status yg pertama,Pi mengeluh akan sikap P yang selalu menaruh opsi tidak percaya (alias curiga) terhadapnya. Lalu, P membalas statusnya --ingat,dengan akun yang sama-- dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini : "siapa suruh anda cantik, andaikan saja tidak, pastilah saya tidak mencurigai anda"...
Baik si Pemuda maupun si Pemudi sebenarnya mensisipi racun-racun indah bernama Pujian di sela "kemarahan"nya masing-masing. Pi ingin mewartakan semua orang bahwa dia memiliki seorang kekasih yang loyal dan cinta padanya sehingga mudah merasa cemburu padanya. Sedangkan P pula ingin menyiarkan bahwa kekasihnya adalah gadis tercantik, dan ia bangga bisa "menaklukan"nya sejauh ini.
Terdengar seperti saya sedang iri?? saya harap tidak. Meskipun saya sudah menjomblo lebih dari 3 tahun, namun percayalah bahwa saya cukup bijak mencerna mana yang lumrah mana yang tidak dalam hal percintaan. Cerita lain berikut di bawah ini yang membuat diri tersadar bahwa saya masih terdaftar sebagai orang yang waras di hamparan bumi. Bahwa masih ada yang jauh lebih menyedihkan daripada jomblo yang seorang ini.
Lagi-lagi di FB...Lagi-lagi fenomena absurd...Seorang gadis haus apresiasi yang dibutakan kasih sayang sepihak. Mengapa sepihak? penjelasannya nanti terujar lebih lanjut.
Saya perhatikan gadis ini selalu melapor terkait hal relationshipnya dengan pujaan hati pada semua orang. Ba'da hang out ngelapor. Setelah Nonton bioskop ngelapor. Setelah putus ngelapor. Setelah kembali rujuk ngelapor...begitu seterusnya.
Namun --nah, ini dia bagian tragisnya dan terkait dengan kasih sayang sepihak yang sudah saya sebutkan sebelumnya--, hampir selalu tidak ada balasan dari sang kekasih ketika gadis itu menulis kata-kata mesra di status atau di wall sang kekasih. Rupanya,sepertinya, dan saya yakin bahwa si pemuda (sang kekasih) tidak nyaman dengan tingkah laku kekasihnya itu yang kelewat batas dalam konteks perwujudan ekspresi diri. Mungkin akan beda ceritanya kalau si pemuda membalas serta merta kata-kata mesra pacarnya itu, namun nyatanya tidak. Makanya saya tadi sebut kasih sayang sepihak atau sadisnya bertepuk sebelah tangan.
Lebih tragis lagi, saya perhatikan, seperti tidak ada evaluasi diri malah terus saja tingkah bodoh itu dilakukan oleh gadis itu via FB. Ia tidak mampu peka terhadap ketidaknyamanan si pasangan...Kasihan sekali jika memang benar ini diakibatkan oleh cinta yang buta.
Dari sini timbul pikiran saya: Kok,gadis itu jadi seperti (maaf) tidak memiliki harga diri ya?? Mengemis cinta, yang saya tahu terbesit di hatinya pasti ada terselip keinginan mengeksiskan diri di depan khalayak. Mengeksiskan diri? Iya lah,oleh sebabnya si Gadis terus menerus melakukan hal-hal --yang bagi saya sangat bodoh-- via FB. Tentu dia ingin semua orang tahu segala permaslahatan cinta yang dialaminya...
Sedih saya melihat kenyataan seperti itu. Karena tidak pantaslah seorang gadis mengemis cinta pada seorang pemuda. Cukup pemuda sajalah yang melakukan itu. Singkat cerita, pernah cinta saya ditolak beberapa kali oleh seorang gadis (hehehe curcol), namun itu tidak jadi masalah bagi saya, karena memang seperti itulah kodrat seorang pria seharusnya : Berjuang demi cinta (hehehe aseekkk), bahkan sampai mengemis bila diperlukan...
Ingin sekali suatu saat nanti saya bercakap dan menanyakan pendapat R.A Kartini perihal ini. Semoga saja tak sampai ia menangis nantinya.
Memang seketika FB datang, orang-orang, tak terkecuali saya, dapat mengekspresikan diri seluas-luasnya. Seolah semua batas dapat diterjang seenaknya demi ego diri. Aib, kebencian, bahkan mesum maupun hal-hal yang tidak pantas lainnya kita sajikan tanpa pertimbangan yang masak. Sepertinya hati tidak pernah plong manakala tersembunyi uneg-uneg, namun belum ditulis di status FB.
Mengenai dua cerita di atas semuanya kembali pada diri masing-masing dalam menanggapi. Saya tidak pernah ada masalah dengan tipikal-tipikal manusia seperti itu. Toh, bukan saya yang membayar internet berlanggan atau biaya warnet mereka. Toh, kembali lagi pada fungsi awal Facebook : Pengekspresian dan (mungkin) Pengeksisan diri. Semua orang punya kebijakan masing-masing dalam memilih-milah tulisan dalam status.
Terus berkarya teman-teman dalam tulisan status FB-mu !!! Sekalipun ada diantaranya yang tidak bermanfaat bagi orang lain, setidaknya itu pasti bermanfaat bagi PEMBUAL seperti saya untuk berpikir ...
Kalimat di atas adalah isi status yang baru saja saya tulis di Facebook. Bukan tanpa alasan saya menulis status yang tidak common seperti itu --setidaknya bagi saya pribadi.
Alasan pertama: Saya sudah lama memendam hasrat untuk menggunakan kata Absurd dalam status Facebook. Karena saya beranggapan kata itu terlihat elegan jika dibaca. Seolah siapapun yang menuliskan kata itu pastilah bukan orang sembarangan,melainkan orang cerdas (hehehe...). Dan akhirnya saya mendapatkan kesempatan itu, hingga berujung kelegaan yang luar biasa. Fiuuhhhh....
Alasan kedua --ini bagian seriusnya-- mengapa saya menuliskan kalimat seperti itu??
Jelas saya bukan orang yang ringan tangan menulis status di facebook (FB). Makanya ketika saya melihat atau menghadapi sesuatu yang wah, maka terciptalah kalimat yang indah itu. Dan jangan mengira kalimat itu hanyalah omong kosong tiada isinya. Memang, sekilas seperti potongan bait sang pujangga, namun jujur saya tidak sedang berpuisi saat itu karena kata-kata itu melintas begitu cepat ketika saya mendapatkan buah pikiran (ditambah saya juga tidak ingin status yang sebenarnya merupakan sindiran ini, terlalu vulgar maknanya terlihat oleh si objek korban sarkas saya. Hitung-hitung kalimat bersayap di atas sengaja saya buat sebagai kamuflase).
Inilah penyebabnya:
Akhir-akhir ini Indonesia sedang mengalami bencana yang dahsyat. Mari kita kesampingkan sementara beragam bencana lainnya (baca: Bencana Moral, Bencana Politik, Bencana Hukum, Bencana Ekonomi, Bencana Sosial, Bencana Budaya) di negeri tercinta ini. Bencana alam yang terjadi di Wasior,Mentawai juga di daerah sekitar kawasan Merapi lebih menjadi sorotan akhir-akhir ini. Indonesia sedang berduka karena kehilangan banyak nyawa manusia dan mengalami kerugian-kerugian besar akibat bencana tersebut.
Namun,lucu buat saya karena masih saja di saat-saat mencekam seperti ini saya bertemu dengan "kasus" beberapa tulisan status Fecebook, lewat cerita di bawah ini :
Malam itu, saat sedang membuka laman Facebook, saya melihat "pemandangan" yang menarik. Salah satu teman di FB memiliki akun yang sama dengan kekasihnya. Sebutlah si Pemuda berlabel P, sedangkan Pemudi berlabel Pi. Dalam status yg pertama,Pi mengeluh akan sikap P yang selalu menaruh opsi tidak percaya (alias curiga) terhadapnya. Lalu, P membalas statusnya --ingat,dengan akun yang sama-- dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini : "siapa suruh anda cantik, andaikan saja tidak, pastilah saya tidak mencurigai anda"...
Baik si Pemuda maupun si Pemudi sebenarnya mensisipi racun-racun indah bernama Pujian di sela "kemarahan"nya masing-masing. Pi ingin mewartakan semua orang bahwa dia memiliki seorang kekasih yang loyal dan cinta padanya sehingga mudah merasa cemburu padanya. Sedangkan P pula ingin menyiarkan bahwa kekasihnya adalah gadis tercantik, dan ia bangga bisa "menaklukan"nya sejauh ini.
Terdengar seperti saya sedang iri?? saya harap tidak. Meskipun saya sudah menjomblo lebih dari 3 tahun, namun percayalah bahwa saya cukup bijak mencerna mana yang lumrah mana yang tidak dalam hal percintaan. Cerita lain berikut di bawah ini yang membuat diri tersadar bahwa saya masih terdaftar sebagai orang yang waras di hamparan bumi. Bahwa masih ada yang jauh lebih menyedihkan daripada jomblo yang seorang ini.
Lagi-lagi di FB...Lagi-lagi fenomena absurd...Seorang gadis haus apresiasi yang dibutakan kasih sayang sepihak. Mengapa sepihak? penjelasannya nanti terujar lebih lanjut.
Saya perhatikan gadis ini selalu melapor terkait hal relationshipnya dengan pujaan hati pada semua orang. Ba'da hang out ngelapor. Setelah Nonton bioskop ngelapor. Setelah putus ngelapor. Setelah kembali rujuk ngelapor...begitu seterusnya.
Namun --nah, ini dia bagian tragisnya dan terkait dengan kasih sayang sepihak yang sudah saya sebutkan sebelumnya--, hampir selalu tidak ada balasan dari sang kekasih ketika gadis itu menulis kata-kata mesra di status atau di wall sang kekasih. Rupanya,sepertinya, dan saya yakin bahwa si pemuda (sang kekasih) tidak nyaman dengan tingkah laku kekasihnya itu yang kelewat batas dalam konteks perwujudan ekspresi diri. Mungkin akan beda ceritanya kalau si pemuda membalas serta merta kata-kata mesra pacarnya itu, namun nyatanya tidak. Makanya saya tadi sebut kasih sayang sepihak atau sadisnya bertepuk sebelah tangan.
Lebih tragis lagi, saya perhatikan, seperti tidak ada evaluasi diri malah terus saja tingkah bodoh itu dilakukan oleh gadis itu via FB. Ia tidak mampu peka terhadap ketidaknyamanan si pasangan...Kasihan sekali jika memang benar ini diakibatkan oleh cinta yang buta.
Dari sini timbul pikiran saya: Kok,gadis itu jadi seperti (maaf) tidak memiliki harga diri ya?? Mengemis cinta, yang saya tahu terbesit di hatinya pasti ada terselip keinginan mengeksiskan diri di depan khalayak. Mengeksiskan diri? Iya lah,oleh sebabnya si Gadis terus menerus melakukan hal-hal --yang bagi saya sangat bodoh-- via FB. Tentu dia ingin semua orang tahu segala permaslahatan cinta yang dialaminya...
Sedih saya melihat kenyataan seperti itu. Karena tidak pantaslah seorang gadis mengemis cinta pada seorang pemuda. Cukup pemuda sajalah yang melakukan itu. Singkat cerita, pernah cinta saya ditolak beberapa kali oleh seorang gadis (hehehe curcol), namun itu tidak jadi masalah bagi saya, karena memang seperti itulah kodrat seorang pria seharusnya : Berjuang demi cinta (hehehe aseekkk), bahkan sampai mengemis bila diperlukan...
Ingin sekali suatu saat nanti saya bercakap dan menanyakan pendapat R.A Kartini perihal ini. Semoga saja tak sampai ia menangis nantinya.
Memang seketika FB datang, orang-orang, tak terkecuali saya, dapat mengekspresikan diri seluas-luasnya. Seolah semua batas dapat diterjang seenaknya demi ego diri. Aib, kebencian, bahkan mesum maupun hal-hal yang tidak pantas lainnya kita sajikan tanpa pertimbangan yang masak. Sepertinya hati tidak pernah plong manakala tersembunyi uneg-uneg, namun belum ditulis di status FB.
Mengenai dua cerita di atas semuanya kembali pada diri masing-masing dalam menanggapi. Saya tidak pernah ada masalah dengan tipikal-tipikal manusia seperti itu. Toh, bukan saya yang membayar internet berlanggan atau biaya warnet mereka. Toh, kembali lagi pada fungsi awal Facebook : Pengekspresian dan (mungkin) Pengeksisan diri. Semua orang punya kebijakan masing-masing dalam memilih-milah tulisan dalam status.
Terus berkarya teman-teman dalam tulisan status FB-mu !!! Sekalipun ada diantaranya yang tidak bermanfaat bagi orang lain, setidaknya itu pasti bermanfaat bagi PEMBUAL seperti saya untuk berpikir ...
Rabu, 27 Oktober 2010
Mengkhianati Angan ? Tidak...
Terus saja kaki ini melaju dari Terminal Ciamis menuju entah kemana...Tengah hari yang semestinya terik itu kini malah menjadi mendung. Tapi aku tidak peduli. Datanglah sang hujan kalau memang Dia maunya seperti itu. Saat ini aku sedang tidak berselera untuk mengeluh. Sekalipun nanti turun hujan dan membasah kuyupkan badan, setidaknya di saat-saat seperti itu akan ada banyak orang yang dapat mencuri setitik kebahagiaan. Mereka itu selalu menantinya bukan sebaliknya: mengeluhkan.
Langkah ini terhenti di Stadion Galuh --tak jauh dari Terminal Ciamis. Kosong, di sana tidak ada siapa-siapa. Rasanya tempat ini cocok untuk rehatku sebentar,sementara otak berpikir mengenai langkahku berikutnya. Lalu lalang bermacam kendaraan menjadi tontonan saat aku duduk di salah satu pojokan luar stadion.
Cukup lama berpikir hingga aku menemukan jawabannya: SOLO !!! aku harus pergi ke sana sekarang juga.
Sedari dulu hanya angan ini saja yang sudah menginjak tanah Solo, tempat di mana Stadion Manahan berada. Mungkin secara tidak langsung ada suatu kontak yang kuat antara stadion di mana aku berpijak saat ini dengan stadion Manahan itu, sehingga secara tidak sadar daya magis ini mengingatkanku pada sesuatu yang sebenarnya telah lama mengendap di memoriku.
Sebuah bis yang kuyakin baru saja lepas dari Terminal melintas. Aku bergegas menghentikan lajunya, lalu mendapatkan kursi di bagian dekat pintu depan. Ada kelegaan yang amat sangat saat aku mampu memuaskan dan meringankan beban angan lamaku ini.
Di dalam bis belum terlalu ramai sesak penumpang, meskipun baru saja masuk sepasang ibu-bapak bersama satu anaknya yang masih bocah. Sedangkan, angan ini kembali beranjak ke Solo. Aku mulai mempersiapkan apa saja nanti yang akan aku lakukan seketika sampai di Stadion Manahan.
Ahhh..banyak orang yang mengatakan: kita semua seharusnya mampu membayangkan berbagai hal di otak kita,karena Tuhan sudah menganugerahi manusia dengan sebuah teater mimpi yang besar, yang bisa kita utak-atik semaunya, sekehendak hati kita. Namun, nyatanya tetap saja anganku tidak benar-benar sanggup membayangkan seperti apa rupa Stadion itu, seperti apa wajah Solo tersebut.
Aku memang sudah sepatutnya tidak harus selalu menyerap mentah-mentah perkataan orang-orang macam itu. Itu akan kumulai dari sekarang.
Sementara bis terus melaju, di luar sana hujan mulai turun rintik-rintik dan tidak butuh waktu lama, sekonyong-konyong hujan deras mulai turun dengan megah. Dan kemegahannya itu kemudian seenaknya membelot menukik masuk ke dalam bis melalui pintu masuk, yang berada tepat di depanku. Tubuhku diterpa angin dan air hujan dingin jadinya.
Ingat, jangan pernah ada yang berpikir aku akan berkhianat pula seperti laju hujan itu, menilik pada perkataanku sebelumnya: Aku tidak akan mengeluh kala hujan datang. Buktinya, sekalipun perlahan pakaian dan tubuhku basah sebagian aku tetap tidak berpindah ke kursi lain --yang masih banyak belum terisi. Aku akan mencoba menikmatinya tanpa harus memikirkan akibat di beberapa jam kemudian. Namun,jangan lalu menyalahkanku ketika sang kondektur kemudian malah menutup pintu itu demi kenyamanan para penumpangnya --yang tentunya bukan saja aku seorang.
Kulempar pandangku ke luar lewat jendela. Kulihat tiga anak kecil, masih di tengah guyuran hujan, sedang bermain sepak bola di sebuah lapangan sepakbola yang hijau, terbuka dan luas. Melihat sekilas dari bentuk lapangannya, layaknya melihat sekelompok petani yang sedang bercocok tanam menggarap sawah. Rumput-rumputnya tinggi yang tertanam pada tanah dengan genangan air yang tinggi pula.
Sesaat lagi aku akan meninggalkan Ciamis. Daerah yang sangat kuyakin tidak pernah aku singgahi sebelumnya.
Benar saja, sejumput kemudian aku sudah berada di Tasikmalaya. Segera menuju Pool Bis yang mengantarkanku ke Jakarta.
Jakarta?
Ya, aku harus pulang ke Jakarta sekarang. Aku tidak peduli, dan bahkan aku mendapatkan ilmu baru: selain tidak lagi mempercayai mentah-mentah perkataan orang, aku juga tidak akan mempercayai segelimang anganku begitu saja.
Jadi, akan kubiarkan anganku saja yang pergi ke Solo, ke Stadion Manahan, namun, tidak serta merta diriku...Itu pasti.
Langkah ini terhenti di Stadion Galuh --tak jauh dari Terminal Ciamis. Kosong, di sana tidak ada siapa-siapa. Rasanya tempat ini cocok untuk rehatku sebentar,sementara otak berpikir mengenai langkahku berikutnya. Lalu lalang bermacam kendaraan menjadi tontonan saat aku duduk di salah satu pojokan luar stadion.
Cukup lama berpikir hingga aku menemukan jawabannya: SOLO !!! aku harus pergi ke sana sekarang juga.
Sedari dulu hanya angan ini saja yang sudah menginjak tanah Solo, tempat di mana Stadion Manahan berada. Mungkin secara tidak langsung ada suatu kontak yang kuat antara stadion di mana aku berpijak saat ini dengan stadion Manahan itu, sehingga secara tidak sadar daya magis ini mengingatkanku pada sesuatu yang sebenarnya telah lama mengendap di memoriku.
Sebuah bis yang kuyakin baru saja lepas dari Terminal melintas. Aku bergegas menghentikan lajunya, lalu mendapatkan kursi di bagian dekat pintu depan. Ada kelegaan yang amat sangat saat aku mampu memuaskan dan meringankan beban angan lamaku ini.
Di dalam bis belum terlalu ramai sesak penumpang, meskipun baru saja masuk sepasang ibu-bapak bersama satu anaknya yang masih bocah. Sedangkan, angan ini kembali beranjak ke Solo. Aku mulai mempersiapkan apa saja nanti yang akan aku lakukan seketika sampai di Stadion Manahan.
Ahhh..banyak orang yang mengatakan: kita semua seharusnya mampu membayangkan berbagai hal di otak kita,karena Tuhan sudah menganugerahi manusia dengan sebuah teater mimpi yang besar, yang bisa kita utak-atik semaunya, sekehendak hati kita. Namun, nyatanya tetap saja anganku tidak benar-benar sanggup membayangkan seperti apa rupa Stadion itu, seperti apa wajah Solo tersebut.
Aku memang sudah sepatutnya tidak harus selalu menyerap mentah-mentah perkataan orang-orang macam itu. Itu akan kumulai dari sekarang.
Sementara bis terus melaju, di luar sana hujan mulai turun rintik-rintik dan tidak butuh waktu lama, sekonyong-konyong hujan deras mulai turun dengan megah. Dan kemegahannya itu kemudian seenaknya membelot menukik masuk ke dalam bis melalui pintu masuk, yang berada tepat di depanku. Tubuhku diterpa angin dan air hujan dingin jadinya.
Ingat, jangan pernah ada yang berpikir aku akan berkhianat pula seperti laju hujan itu, menilik pada perkataanku sebelumnya: Aku tidak akan mengeluh kala hujan datang. Buktinya, sekalipun perlahan pakaian dan tubuhku basah sebagian aku tetap tidak berpindah ke kursi lain --yang masih banyak belum terisi. Aku akan mencoba menikmatinya tanpa harus memikirkan akibat di beberapa jam kemudian. Namun,jangan lalu menyalahkanku ketika sang kondektur kemudian malah menutup pintu itu demi kenyamanan para penumpangnya --yang tentunya bukan saja aku seorang.
Kulempar pandangku ke luar lewat jendela. Kulihat tiga anak kecil, masih di tengah guyuran hujan, sedang bermain sepak bola di sebuah lapangan sepakbola yang hijau, terbuka dan luas. Melihat sekilas dari bentuk lapangannya, layaknya melihat sekelompok petani yang sedang bercocok tanam menggarap sawah. Rumput-rumputnya tinggi yang tertanam pada tanah dengan genangan air yang tinggi pula.
Sesaat lagi aku akan meninggalkan Ciamis. Daerah yang sangat kuyakin tidak pernah aku singgahi sebelumnya.
Benar saja, sejumput kemudian aku sudah berada di Tasikmalaya. Segera menuju Pool Bis yang mengantarkanku ke Jakarta.
Jakarta?
Ya, aku harus pulang ke Jakarta sekarang. Aku tidak peduli, dan bahkan aku mendapatkan ilmu baru: selain tidak lagi mempercayai mentah-mentah perkataan orang, aku juga tidak akan mempercayai segelimang anganku begitu saja.
Jadi, akan kubiarkan anganku saja yang pergi ke Solo, ke Stadion Manahan, namun, tidak serta merta diriku...Itu pasti.
Kamis, 07 Oktober 2010
Siluet Nyata
ALLAHUAKBAR...ALLAHUAKBAR...LAA ILAA HAILALLAH...
MALING !!! MALING !!!
Senja itu, baru saja adzan magrib berangsur menuju akhir, ketika terdengar teriakan orang-orang menyebut Maling.
Sontak saya yang awalnya agak malas untuk beranjak dari tempat tidur --tidak menghiraukan seruan adzan-- jadi terbangun dengan agak tersentak. Teriakan maling itu bersumber dari mesjid samping rumah saya.
Dengan langkah sedikit terhuyung saya mengintip dari balik jendela. Seseorang sudah duduk berjongkok di perempatan gang. Dia menjadi pusat perhatian warga yang terus menerus berdatangan dari berbagai arah. Saya begitu penasaran ingin melihat maling tersebut. Tak berapa lama kemudian saya sudah menjadi bagian dari kerumunan dan menyaksikan maling itu.
Dari perbincangan singkat dengan salah satu warga saya mendapat info bahwa maling itu berusaha mencuri sendal juga sepatu,sebelum akhirnya tertangkap basah oleh warga. Sudah menjadi sebuah rutinitas di tiap harinya, mesjid samping rumah saya itu selalu didatangi orang-orang --terutama mereka yang beraktivitas di pasar Tebet dan sekitar-- untuk solat berjamaah. Rupanya,sebelum ini memang sudah tersiar kabar tidak jarang para jamaah kehilangan sandal maupun sepatunya.
Melihat kondisi jalan dipenuhi oleh membludaknya warga, pihak keamanan setempat berinisiatif untuk membawa maling tersebut ke posko keamanan. Karena dari tadi saya belum sempat melihat dengan jelas rupa sang maling, sayapun mengikuti mereka hingga ke posko.
Di sana baru terlihat jelas bahwa sosok maling itu adalah seorang pria dengan umur berkisar 30 tahun ke atas. Berperawakan pendek,kurus,berkulit gelap dan ikal pendek rambutnya. Dari atas batang hidungnya mengalir darah yang pekat. Saat digiring pihak keamanan tadi saya juga sempat melihat jalannya yang terpincang-pincang. Entah apa yang dilakukan oleh para warga saat pertama kali menyergapnya tadi.
Dengan tangan terikat di belakang, ia diinterogasi. Berbagai pertanyaan, pernyataan yang bernada ancaman muncul:
"Kamu tinggal di mana?!"
"Mana teman kamu?! Kamu sendiri atau berkomplot?!
"Masih untung kamu! Kalau di daerah lain kamu pasti sudah dibakar !!"
Bersandar pada sebuah tiang listrik dan beralaskan lembabnya aspal jalanan ia terus menjawab satu per satu pertanyaan, dengan nada mengiba, dengan wajah tertunduk.
Saat dompet dalam kantong kreseknya diperiksa, sama sekali tidak ada sehelaipun lembar uang. KTP maupun kartu identitas lainnya pun nihil. Lalu, seorang pemuda berseloroh "Pak, dibuka saja bajunya!". Dilepaskanlah kemeja lusuhnya itu. Tampaklah kemudian badan kurus kering yang nyatanya tidak segelap yang terlihat seperti sebelumnya.
Salah seorang keamanan sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul perut atau dadanya --saya tahu itu hanyalah sebuah gertakan semata-- ketika salah seorang ibu menegur dan melarang keras tindakan itu: "Sudah, jangan...Badan kurus kering begitu,kasihan..."
Kemudian saya teringat bahwa saya belum solat maghrib. Alih-alih terus menyaksikan interogasi itu sayapun memilih kembali ke rumah. Lagipula rasa iba saya berangsur memuncak melihat pemandangan seperti itu. Bulu kuduk inipun sempat lama tegak berdiri kala mengingat hukuman yang sudah,sedang dan akan diterima si maling akibat perbuatannya itu. Ya, mencuri sandal/sepatu di mesjid.
Baru saja saya membelok arah menuju rumah, sudah datang mobil sedan abu-abu, bersirine dan beratapkan lampu besar kelap-kelip, di perempatan gang tadi. Rupanya, seorang warga sudah melapor Polisi.
Saya tertegun. Mengapa harus seperti ini???
Dari ujung gang maling itu kembali digiring pihak keamanan dan beberapa warga, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mobil polisi. Wajahnya penuh dengan warna ketakutan. Dan jalannya masih tetap terpincang. Segera setelah ia didudukkan di kursi belakang, mobil polisi itupun berjalan meninggalkan kami semua.
Sepintas saya sempat menangkap pemandangan itu: Langit sudah menghitam, sedangkan terang sudah menjadi milik lampu jalan. Cahayanya yang kuning menyala menembus masuk kaca mobil polisi itu. Membentuk siluet nyata sang maling yang tengah duduk,tanpa bersandar pada punggung jok, dengan mata menerawang lurus ke depan.
Di suatu tempat, di hari yang lain, suasana yang berbeda dengan tajuk yang berlainan pula:
"Maaf kawan, terpaksa aku lakukan ini. Terkadang aktivitas anda kerap meresahkan masyarakat", kataku, setelah menepuk sepasang nyamuk yang tengah kawin, hingga tewas mengesankan.
MALING !!! MALING !!!
Senja itu, baru saja adzan magrib berangsur menuju akhir, ketika terdengar teriakan orang-orang menyebut Maling.
Sontak saya yang awalnya agak malas untuk beranjak dari tempat tidur --tidak menghiraukan seruan adzan-- jadi terbangun dengan agak tersentak. Teriakan maling itu bersumber dari mesjid samping rumah saya.
Dengan langkah sedikit terhuyung saya mengintip dari balik jendela. Seseorang sudah duduk berjongkok di perempatan gang. Dia menjadi pusat perhatian warga yang terus menerus berdatangan dari berbagai arah. Saya begitu penasaran ingin melihat maling tersebut. Tak berapa lama kemudian saya sudah menjadi bagian dari kerumunan dan menyaksikan maling itu.
Dari perbincangan singkat dengan salah satu warga saya mendapat info bahwa maling itu berusaha mencuri sendal juga sepatu,sebelum akhirnya tertangkap basah oleh warga. Sudah menjadi sebuah rutinitas di tiap harinya, mesjid samping rumah saya itu selalu didatangi orang-orang --terutama mereka yang beraktivitas di pasar Tebet dan sekitar-- untuk solat berjamaah. Rupanya,sebelum ini memang sudah tersiar kabar tidak jarang para jamaah kehilangan sandal maupun sepatunya.
Melihat kondisi jalan dipenuhi oleh membludaknya warga, pihak keamanan setempat berinisiatif untuk membawa maling tersebut ke posko keamanan. Karena dari tadi saya belum sempat melihat dengan jelas rupa sang maling, sayapun mengikuti mereka hingga ke posko.
Di sana baru terlihat jelas bahwa sosok maling itu adalah seorang pria dengan umur berkisar 30 tahun ke atas. Berperawakan pendek,kurus,berkulit gelap dan ikal pendek rambutnya. Dari atas batang hidungnya mengalir darah yang pekat. Saat digiring pihak keamanan tadi saya juga sempat melihat jalannya yang terpincang-pincang. Entah apa yang dilakukan oleh para warga saat pertama kali menyergapnya tadi.
Dengan tangan terikat di belakang, ia diinterogasi. Berbagai pertanyaan, pernyataan yang bernada ancaman muncul:
"Kamu tinggal di mana?!"
"Mana teman kamu?! Kamu sendiri atau berkomplot?!
"Masih untung kamu! Kalau di daerah lain kamu pasti sudah dibakar !!"
Bersandar pada sebuah tiang listrik dan beralaskan lembabnya aspal jalanan ia terus menjawab satu per satu pertanyaan, dengan nada mengiba, dengan wajah tertunduk.
Saat dompet dalam kantong kreseknya diperiksa, sama sekali tidak ada sehelaipun lembar uang. KTP maupun kartu identitas lainnya pun nihil. Lalu, seorang pemuda berseloroh "Pak, dibuka saja bajunya!". Dilepaskanlah kemeja lusuhnya itu. Tampaklah kemudian badan kurus kering yang nyatanya tidak segelap yang terlihat seperti sebelumnya.
Salah seorang keamanan sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul perut atau dadanya --saya tahu itu hanyalah sebuah gertakan semata-- ketika salah seorang ibu menegur dan melarang keras tindakan itu: "Sudah, jangan...Badan kurus kering begitu,kasihan..."
Kemudian saya teringat bahwa saya belum solat maghrib. Alih-alih terus menyaksikan interogasi itu sayapun memilih kembali ke rumah. Lagipula rasa iba saya berangsur memuncak melihat pemandangan seperti itu. Bulu kuduk inipun sempat lama tegak berdiri kala mengingat hukuman yang sudah,sedang dan akan diterima si maling akibat perbuatannya itu. Ya, mencuri sandal/sepatu di mesjid.
Baru saja saya membelok arah menuju rumah, sudah datang mobil sedan abu-abu, bersirine dan beratapkan lampu besar kelap-kelip, di perempatan gang tadi. Rupanya, seorang warga sudah melapor Polisi.
Saya tertegun. Mengapa harus seperti ini???
Dari ujung gang maling itu kembali digiring pihak keamanan dan beberapa warga, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mobil polisi. Wajahnya penuh dengan warna ketakutan. Dan jalannya masih tetap terpincang. Segera setelah ia didudukkan di kursi belakang, mobil polisi itupun berjalan meninggalkan kami semua.
Sepintas saya sempat menangkap pemandangan itu: Langit sudah menghitam, sedangkan terang sudah menjadi milik lampu jalan. Cahayanya yang kuning menyala menembus masuk kaca mobil polisi itu. Membentuk siluet nyata sang maling yang tengah duduk,tanpa bersandar pada punggung jok, dengan mata menerawang lurus ke depan.
Di suatu tempat, di hari yang lain, suasana yang berbeda dengan tajuk yang berlainan pula:
"Maaf kawan, terpaksa aku lakukan ini. Terkadang aktivitas anda kerap meresahkan masyarakat", kataku, setelah menepuk sepasang nyamuk yang tengah kawin, hingga tewas mengesankan.
Kamis, 09 September 2010
POINT BLANK Kontra Bentengan !!!
"Mas, nunggu bentar nggak apa-apa?? masih lumayan banyak nih yang data mas ini yang mau diprint..." kata mbak Warnet sambil menunjuk seorang pemuda disebelahnya.
"Yaudah Sip, nggak apa-apa mbak" kata saya.
Sore itu saya sudah duduk manis di sebuah warnet. Ada sedikit data yang harus saya print. Namun, saya harus menunggu giliran karena sudah ada orang lain yang terlebih dulu meminta jasa print-an warnet itu. Ya, sudah tidak masalah, karena kebetulan saya tidak juga diburu waktu.
Agak mati gaya juga saya pada waktu itu. Handphone tidak terbawa, koran atau majalah juga tidak tampak, acara TV juga tidak cukup menarik untuk sekedar membunuh waktu. Sampai pada akhirnya perhatian ini teralih pada sekelompok anak-anak yang sedang bermain game online, di tengah-tengah gelintir kecil pemuda yang tampaknya kesemuanya itu --tanpa terkecuali-- sedang bermain PointBlank (Game Online Perang).
Saya hanya fokuskan pada sekelompok anak-anak tersebut. Mereka begitu antusias bermain: kesepuluh jari bergerak dinamis tanpa henti, badan duduk begitu tegak tegang terlihat meskipun tetap bersandar pada punggung kursi, juga mata mereka begitu tajam menghujam layar monitor dengan hanya sesekali berkedip. Interaksipun tetap muncul diantara sesama mereka (baca: gamers anak-anak) sekalipun mata dan perhatiannya tidak pernah luput dari monitor.
Kebanyakan dari mereka sungguhlah masih kecil. Saya coba takar kemungkinan mereka itu berusia 11 tahun ke bawah. Bahkan saya melihat ada beberapa diantara mereka yang masih mengenakan busana muslim. Semoga saja anak-anak itu tidak "cabut" dari pengajian mereka, batin saya. Soalnya sore itu, jam masih menunjukkan pukul 15.15 WIB dimana biasanya tempat pengajian mengusaikan kegiatannya pada ba'da ashar atau lebih...Ya, saya cukup mahfum mengenai hal ini karena dulu saya pernah menjadi seperti mereka sekarang itu...
Visualpun beranjak terbang menuju nostalgia pada masa itu :
Saya yang masih bocah SD "diwajibkan" untuk ikut pengajian usai sekolah, 3 kali seminggu, oleh orang tua saya. Seperti bocah kebanyakan, sayapun cenderung seringkali ogah-ogahan pergi mengaji. Apalagi ketika sedang lelah sehabis berkegiatan di sekolah dasar. Namun, sekalipun jika akhirnya saya pergi mengaji,toh ada saja banyak hal yang menyenangkan yang didapat selain ilmu agama.
Pada zamannya saya itu, kami semua --para santri-- selalu senang jika waktu istirahat datang. Karena akan ada banyak pilihan buat kami bermain, mengisi kekosongan waktu. Jika tidak ingin mengeluarkan banyak keringat cukuplah permainan seperti kelereng ataupun taplak menyenangkan hati kami. Sedangkan, jika semangat sedang tinggi-tingginya, biasanya kami memilih permainan yang dapat memacu keringat seperti Sepakbola, Galaksin(maaf jika ada kesalahan dalam penguraian huruf), maupun Bentengan. Khusus yang terakhir, mungkin menjadi salah satu momok bagi saya. Karena permainan ini selain membutuhkan taktik juga sangat mengedepankan kecepatan berlari. Disinilah masalahnya: saat itu saya terbilang cukup gemuk,yang tidak memungkinkan saya dapat berlari secepat yang lainnya.
Namun, berbeda dengan permainan yang saya sebut di awal. Sepakbola merupakan "gawean" saya sejak dulu. Bolehlah badan saya gemuk dan kurang lincah, namun dengan bekal teknik-strategi (efek menggemari tontonan sepakbola di TV), juga skill dan finishing yang memukau, dapat dipastikan --untuk ukuran anak bocah-- saya menjadi salah satu andalan dalam tim, pada waktu itu.
Kami selalu bermain penuh semangat, tanpa menghiraukan waktu dan lainnya. Cuma, kegirangan kami itu mendadak langsung berubah menuju kekecewaan kala guru mengaji kami menyuruh kami untuk berhenti, karena waktu istirahat telah usai. Aneh memang mengingat waktu istirahat itu malah kami pergunakan tidak untuk beristirahat, melainkan untuk berlari-larian kesana-kemari. Hingga akhirnya kami memulai kembali pelajaran dengan kondisi basah kuyup, pakaian apek-kumal, peci putih menjadi kecoklatan tersambar tanah karena sering lepas dari kepala, dan muka memerah panas tersengat matahari siang.
Hampir tiap mengaji selalu begitu kondisinya. Entahlah pelajaran yang dipaparkan dapat masuk ke otak atau tidak. Semoga saja Kak Slamet dan Kak Zairohidin, begitu kami memanggil guru kami, selalu bisa memaklumi tingkah pola kami. Namanya juga anak-anak.
Sepulang dari warnet itu, tiba-tiba terbersit pikiran: "Andai saja pada zaman itu permainan game online sudah marak dan saya sudah terampil memainkannya, pastinya saya dan teman-teman tidak perlu lagi bermandikan keringat saat memasuki kelas mengaji --karena warnet biasanya selalu berfasilitas AC-- sehingga suasana kelas tidak berbau apek dan Guru-guru kami dapat dengan mudahnya memasuki ilmu-ilmu ke dalam otak kami.."
Dan juga yang pasti, jika pada saat itu saya sudah menjadi gamers yang handal tentunya saya sudah tidak se"GAPTEK" sekarang ini... Hehehehe...
"Yaudah Sip, nggak apa-apa mbak" kata saya.
Sore itu saya sudah duduk manis di sebuah warnet. Ada sedikit data yang harus saya print. Namun, saya harus menunggu giliran karena sudah ada orang lain yang terlebih dulu meminta jasa print-an warnet itu. Ya, sudah tidak masalah, karena kebetulan saya tidak juga diburu waktu.
Agak mati gaya juga saya pada waktu itu. Handphone tidak terbawa, koran atau majalah juga tidak tampak, acara TV juga tidak cukup menarik untuk sekedar membunuh waktu. Sampai pada akhirnya perhatian ini teralih pada sekelompok anak-anak yang sedang bermain game online, di tengah-tengah gelintir kecil pemuda yang tampaknya kesemuanya itu --tanpa terkecuali-- sedang bermain PointBlank (Game Online Perang).
Saya hanya fokuskan pada sekelompok anak-anak tersebut. Mereka begitu antusias bermain: kesepuluh jari bergerak dinamis tanpa henti, badan duduk begitu tegak tegang terlihat meskipun tetap bersandar pada punggung kursi, juga mata mereka begitu tajam menghujam layar monitor dengan hanya sesekali berkedip. Interaksipun tetap muncul diantara sesama mereka (baca: gamers anak-anak) sekalipun mata dan perhatiannya tidak pernah luput dari monitor.
Kebanyakan dari mereka sungguhlah masih kecil. Saya coba takar kemungkinan mereka itu berusia 11 tahun ke bawah. Bahkan saya melihat ada beberapa diantara mereka yang masih mengenakan busana muslim. Semoga saja anak-anak itu tidak "cabut" dari pengajian mereka, batin saya. Soalnya sore itu, jam masih menunjukkan pukul 15.15 WIB dimana biasanya tempat pengajian mengusaikan kegiatannya pada ba'da ashar atau lebih...Ya, saya cukup mahfum mengenai hal ini karena dulu saya pernah menjadi seperti mereka sekarang itu...
Visualpun beranjak terbang menuju nostalgia pada masa itu :
Saya yang masih bocah SD "diwajibkan" untuk ikut pengajian usai sekolah, 3 kali seminggu, oleh orang tua saya. Seperti bocah kebanyakan, sayapun cenderung seringkali ogah-ogahan pergi mengaji. Apalagi ketika sedang lelah sehabis berkegiatan di sekolah dasar. Namun, sekalipun jika akhirnya saya pergi mengaji,toh ada saja banyak hal yang menyenangkan yang didapat selain ilmu agama.
Pada zamannya saya itu, kami semua --para santri-- selalu senang jika waktu istirahat datang. Karena akan ada banyak pilihan buat kami bermain, mengisi kekosongan waktu. Jika tidak ingin mengeluarkan banyak keringat cukuplah permainan seperti kelereng ataupun taplak menyenangkan hati kami. Sedangkan, jika semangat sedang tinggi-tingginya, biasanya kami memilih permainan yang dapat memacu keringat seperti Sepakbola, Galaksin(maaf jika ada kesalahan dalam penguraian huruf), maupun Bentengan. Khusus yang terakhir, mungkin menjadi salah satu momok bagi saya. Karena permainan ini selain membutuhkan taktik juga sangat mengedepankan kecepatan berlari. Disinilah masalahnya: saat itu saya terbilang cukup gemuk,yang tidak memungkinkan saya dapat berlari secepat yang lainnya.
Namun, berbeda dengan permainan yang saya sebut di awal. Sepakbola merupakan "gawean" saya sejak dulu. Bolehlah badan saya gemuk dan kurang lincah, namun dengan bekal teknik-strategi (efek menggemari tontonan sepakbola di TV), juga skill dan finishing yang memukau, dapat dipastikan --untuk ukuran anak bocah-- saya menjadi salah satu andalan dalam tim, pada waktu itu.
Kami selalu bermain penuh semangat, tanpa menghiraukan waktu dan lainnya. Cuma, kegirangan kami itu mendadak langsung berubah menuju kekecewaan kala guru mengaji kami menyuruh kami untuk berhenti, karena waktu istirahat telah usai. Aneh memang mengingat waktu istirahat itu malah kami pergunakan tidak untuk beristirahat, melainkan untuk berlari-larian kesana-kemari. Hingga akhirnya kami memulai kembali pelajaran dengan kondisi basah kuyup, pakaian apek-kumal, peci putih menjadi kecoklatan tersambar tanah karena sering lepas dari kepala, dan muka memerah panas tersengat matahari siang.
Hampir tiap mengaji selalu begitu kondisinya. Entahlah pelajaran yang dipaparkan dapat masuk ke otak atau tidak. Semoga saja Kak Slamet dan Kak Zairohidin, begitu kami memanggil guru kami, selalu bisa memaklumi tingkah pola kami. Namanya juga anak-anak.
Sepulang dari warnet itu, tiba-tiba terbersit pikiran: "Andai saja pada zaman itu permainan game online sudah marak dan saya sudah terampil memainkannya, pastinya saya dan teman-teman tidak perlu lagi bermandikan keringat saat memasuki kelas mengaji --karena warnet biasanya selalu berfasilitas AC-- sehingga suasana kelas tidak berbau apek dan Guru-guru kami dapat dengan mudahnya memasuki ilmu-ilmu ke dalam otak kami.."
Dan juga yang pasti, jika pada saat itu saya sudah menjadi gamers yang handal tentunya saya sudah tidak se"GAPTEK" sekarang ini... Hehehehe...
Langganan:
Postingan (Atom)