/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Kamis, 07 Oktober 2010

Siluet Nyata

ALLAHUAKBAR...ALLAHUAKBAR...LAA ILAA HAILALLAH...
MALING !!! MALING !!!

Senja itu, baru saja adzan magrib berangsur menuju akhir, ketika terdengar teriakan orang-orang menyebut Maling.

Sontak saya yang awalnya agak malas untuk beranjak dari tempat tidur --tidak menghiraukan seruan adzan-- jadi terbangun dengan agak tersentak. Teriakan maling itu bersumber dari mesjid samping rumah saya.

Dengan langkah sedikit terhuyung saya mengintip dari balik jendela. Seseorang sudah duduk berjongkok di perempatan gang. Dia menjadi pusat perhatian warga yang terus menerus berdatangan dari berbagai arah. Saya begitu penasaran ingin melihat maling tersebut. Tak berapa lama kemudian saya sudah menjadi bagian dari kerumunan dan menyaksikan maling itu.

Dari perbincangan singkat dengan salah satu warga saya mendapat info bahwa maling itu berusaha mencuri sendal juga sepatu,sebelum akhirnya tertangkap basah oleh warga. Sudah menjadi sebuah rutinitas di tiap harinya, mesjid samping rumah saya itu selalu didatangi orang-orang --terutama mereka yang beraktivitas di pasar Tebet dan sekitar-- untuk solat berjamaah. Rupanya,sebelum ini memang sudah tersiar kabar tidak jarang para jamaah kehilangan sandal maupun sepatunya.

Melihat kondisi jalan dipenuhi oleh membludaknya warga, pihak keamanan setempat berinisiatif untuk membawa maling tersebut ke posko keamanan. Karena dari tadi saya belum sempat melihat dengan jelas rupa sang maling, sayapun mengikuti mereka hingga ke posko.

Di sana baru terlihat jelas bahwa sosok maling itu adalah seorang pria dengan umur berkisar 30 tahun ke atas. Berperawakan pendek,kurus,berkulit gelap dan ikal pendek rambutnya. Dari atas batang hidungnya mengalir darah yang pekat. Saat digiring pihak keamanan tadi saya juga sempat melihat jalannya yang terpincang-pincang. Entah apa yang dilakukan oleh para warga saat pertama kali menyergapnya tadi.

Dengan tangan terikat di belakang, ia diinterogasi. Berbagai pertanyaan, pernyataan yang bernada ancaman muncul:
"Kamu tinggal di mana?!"
"Mana teman kamu?! Kamu sendiri atau berkomplot?!
"Masih untung kamu! Kalau di daerah lain kamu pasti sudah dibakar !!"

Bersandar pada sebuah tiang listrik dan beralaskan lembabnya aspal jalanan ia terus menjawab satu per satu pertanyaan, dengan nada mengiba, dengan wajah tertunduk.

Saat dompet dalam kantong kreseknya diperiksa, sama sekali tidak ada sehelaipun lembar uang. KTP maupun kartu identitas lainnya pun nihil. Lalu, seorang pemuda berseloroh "Pak, dibuka saja bajunya!". Dilepaskanlah kemeja lusuhnya itu. Tampaklah kemudian badan kurus kering yang nyatanya tidak segelap yang terlihat seperti sebelumnya.

Salah seorang keamanan sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul perut atau dadanya --saya tahu itu hanyalah sebuah gertakan semata-- ketika salah seorang ibu menegur dan melarang keras tindakan itu: "Sudah, jangan...Badan kurus kering begitu,kasihan..."

Kemudian saya teringat bahwa saya belum solat maghrib. Alih-alih terus menyaksikan interogasi itu sayapun memilih kembali ke rumah. Lagipula rasa iba saya berangsur memuncak melihat pemandangan seperti itu. Bulu kuduk inipun sempat lama tegak berdiri kala mengingat hukuman yang sudah,sedang dan akan diterima si maling akibat perbuatannya itu. Ya, mencuri sandal/sepatu di mesjid.

Baru saja saya membelok arah menuju rumah, sudah datang mobil sedan abu-abu, bersirine dan beratapkan lampu besar kelap-kelip, di perempatan gang tadi. Rupanya, seorang warga sudah melapor Polisi.

Saya tertegun. Mengapa harus seperti ini???

Dari ujung gang maling itu kembali digiring pihak keamanan dan beberapa warga, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mobil polisi. Wajahnya penuh dengan warna ketakutan. Dan jalannya masih tetap terpincang. Segera setelah ia didudukkan di kursi belakang, mobil polisi itupun berjalan meninggalkan kami semua.

Sepintas saya sempat menangkap pemandangan itu: Langit sudah menghitam, sedangkan terang sudah menjadi milik lampu jalan. Cahayanya yang kuning menyala menembus masuk kaca mobil polisi itu. Membentuk siluet nyata sang maling yang tengah duduk,tanpa bersandar pada punggung jok, dengan mata menerawang lurus ke depan.


Di suatu tempat, di hari yang lain, suasana yang berbeda dengan tajuk yang berlainan pula:
"Maaf kawan, terpaksa aku lakukan ini. Terkadang aktivitas anda kerap meresahkan masyarakat", kataku, setelah menepuk sepasang nyamuk yang tengah kawin, hingga tewas mengesankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar