/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Senin, 26 Agustus 2013

ARSENAL, GURUH GIPSY DAN NASIONALISME


ARSENAL, GURUH GIPSY DAN NASIONALISME


Sudah cukup lama saya tidak singgah di blog tercinta ini. Entah kenapa belakangan ini agak susah mengumpulkan niat dan mood untuk MEMULAI menulis. Saya mencoba mengambil kesimpulan: Mungkin disebabkan karena rutinitas harian yang menjemukan. Kerja dan Kuliah.

Tulisan yang akan saya tulis ini padahal sudah terjadi sekitar sebulan yang lalu, lho! Dan saya baru “berkesempatan” menulisnya sekarang. Ceritanya seperti ini..

Saya sebagai seorang Gooner alias fans Arsenal cukup beruntung bisa kedatangan tim asuhan Arsene Wenger itu ke Jakarta, Indonesia. Seorang saudara mengatakan kepada saya, “Wah, kamu beruntung banget ya, Ren. Belum tentu kalau suatu saat kamu ke Inggris bisa melihat langsung Arsenal. Ehh, malah sekarang mereka yang datang ke Jakarta dan samperin kamu.” Ya, saya mengamini itu.

Sekitar 3 bulan sebelum kick off  di Gelora Bung Karno, saya sudah membeli tiket pre-sale nya melalui komunitas fans Arsenal regional Jakarta. Sekedar jaga-jaga takut kehabisan dan harganya yang lebih miring.

Dan ternyata menjelang hari H saya mendapatkan durian runtuh. Di tempat saya bekerja sekarang ada salah satu klien, yang kebetulan fanpagenya saya pegang yakni beIN SPORT, melayangkan kepada kami untuk liputan di meet and greet bersama pemain Arsenal. Alhamdulillah, rejeki bulan Ramadhan sebut saya dalam hati. Namun, jujur saya tidak mau terlalu berharap banyak sebab dari beIN SPORT sendiri hanya menjatahkan 2 orang saja untuk meliput yang artinya bisa saja bukan saya yang diutus.

Namun, pada keesokan hari kepastiannya sudah jelas: Randy Angga Islamy berangkat ke hotel Keraton Indonesia, tempat di mana para pemain Arsenal menginap!

Kantor kami memang menawarkan aplikasi fanpage berupa Lucky Draw untuk meet and greet dengan pemain Arsenal. Gosipnya, yang akan kami temui adalah Olivier Giroud dan Theo Walcott. Namun, saya tidak terlalu peduli siapa pemainnya. Yang terpenting adalah saya bisa bertatap wajah langsung dengan para punggawa Arsenal. It’s great, it’s a dream come true for me. Terima kasih, Ya Allah!


HOTEL KERATON



Pagi itu saya sudah bersama mas Mike dan dua orang pemenang Lucky Draw di lobi Plaza Indonesia, untuk kemudian menuju ke hotel Keraton. Di sana sudah menunggu beberapa fans Arsenal, tidak begitu banyak ,sehingga pengamanannya meskipun cukup ketat namun berjalan dengan hangat dan bersahabat.

Wajah-wajah sumringah para Gooner dan Goonerettes menjadi pemandangan yang menyenangkan sehingga saya memotret mereka dengan kamera yang sengaja sudah saya persiapkan. Di sana saya juga berkenalan dengan seorang dari agency yang kebetulan sama seperti saya, merupakan seorang Gooner. Ya, kami adalah orang-orang beruntung dan terpilih! Hehehe..

Kami menunggu di lapangan bulu tangkis Hotel Keraton yang sudah dipersiapkan juga tenis meja. Tidak berapa lama kemudian seorang official Arsenal berseru, “Please Welcome, Wojceich Szcsezsny!” Lalu datanglah seorang kiper muda yang handal, bertubuh tinggi besar. Tak pelak, diri yang terkesima ini langsung menjepret kamera dengan jumlah yang banyak. Cezny, nama panggilan Wojceich, lalu menyalami kami satu persatu yang segera mengerubuti dan mengelilinginya. Dia begitu tinggi sehingga kepala saya harus mendongak ke atas. Tangannya pun besar, khas seorang kiper.

Selang semenit, Alex Oxlade Chamberlain datang menyusul! Wow, tubuhnya tak sekecil seperti yang terlihat di TV. Badannya kekar keras dan tingginya pun melampaui saya beberapa centimeter.

Sama seperti Cezny, Chambo, nama panggilan Chamberlain, menyapa dan menyalami kami satu persatu dengan ramah.

Kemudian mereka berdua langsung digiring oleh panitia untuk bermain tenis meja melawan fans Arsenal yang terpilih. Dan itu bukan saya tentunya. Padahal saya cukup mahir bermain olahraga ini. Serius.

Saya memang sudah tahu bahwa pemain-pemain Arsenal jago bermain tenis meja. Saya sudah pernah melihatnya di Youtube, pemain seperti Chambo dan Walcott dikenal handal main bola pingpong. Dan memang, itu terbukti di hari ini ketika Cezny dan Chambo apik bermain pingpong dengan teknik tinggi.

Susunan acara meet and greetnya terbilang kurang rapi dan cenderung random. Sehingga kami pun mencuri-curi kesempatan untuk berfoto atau meminta tanda tangan Cezny ketika Chambo sedang bermain tenis meja. Begitu juga sebaliknya ketika mereka secara bergantian bermain tenis meja. Ya, Alhamdulillah saya bisa berfoto bareng dengan keduanya!

Tak lama kemudian, acara meet and greet pun usai. Chambo dan Cezny segera ditarik untuk hadir di acara lain. Ya, mereka mesti datang ke acara music pagi yang terkenal itu, lho!



SESI LATIHAN ARSENAL DI GBK

Malamnya, setelah berbuka puasa, saya langsung pergi ke Gelora Bung Karno untuk menyaksikan para pemain Arsenal latihan. Hujan yang cukup deras pun tidak menjadi halangan bagi saya untuk menonton dan bagi para pemain Arsenal untuk terus berlatih.

Di sini, baru pertama kali saya melihat langsung bagaimana cara tim professional berlatih. Dari metode dan uji fisiknya sungguh memukau yang mana mereka, di tengah guyuran hujan, berlatih selama hampir 2 jam. Sesekali terdengar chants-chants beberapa pemain Arsenal dari para Gooners yang datang.

“Sagna.. Sagna.. Bacary Sagna! He’s a dodgy hair but we don’t care, Bacary Sagna!”

Untuk chants Sagna ini cukup lucu. Saya menangkap Lukas Podolski, saat chants dinyanyikan, ikut bernyanyi dan memain-mainkan pipi Bacary Sagna dengan gemas. Ya, Lukas Podolski memang termasuk “badut” di skuad Arsenal. Kehadirannya disukai oleh semua awak Arsenal karena sikapnya yang friendly dan bersahabat.

Berulang kali saya merekam suasana latihan dengan handphone. Momen ini sungguh harus diabadikan dan saya cukup menyesal tidak membawa kamera SLR karena takut tidak diperbolehkan dibawa masuk.

Diri ini pun “menyombongkan diri” saat beberapa fans meneriakkan nama Cezny yang berlatih sendiri (karena kiper memang berlatih terpisah). Dalam hati, “Hehehe kalian pasti capek kan teriakin nama Cezny. Gue enak dong bisa langsung ketemu dia dan bahkan Chamberlain juga! Hehehe..”



KICK OFF at GELORA BUNG KARNO: INDONESIA XI vs ARSENAL



Minggu 14 Juli 2013 menjadi hari yang bersejarah bagi Indonesia khususnya para Gooners dan saya. Arsenal bermain di bumi pertiwi tercinta untuk kedua kalinya setelah David O’leary dan skuad Gunners sempat bertandang ke Indonesia pada dua decade yang lalu. Hari ini akan kami, para Gooners, kenang dan akan diceritakan kepada anak cucu kami bahwa tim terhebat pernah bermain melawan timnas Indonesia.

Sengaja saya buka puasa di rumah dulu sebelum pergi ke GBK. Di sini, sudah datang ribuan orang penggemar Indonesia dan Arsenal tentunya dengan semangat yang meluap.

Namun, hal ini agak ternoda saat ada sedikit kericuhan di pintu masuk. Rupanya, satu pintu masuk lainnya tidak dibuka sehingga massa yang harusnya terbagi dua mesti menjadi satu. Alhasil, saya kami harus berhimpitan masuk ke dalam stadion. Emosi meluap, cemoohan dan umpatan kotor pun pecah mengarah panitia. Dalam kondisi ini, saya hanya kasihan kepada Goonerettes yang harus bersesakan terkepung oleh badan-badan besar penonton laki-laki.

Di tribun, saya Alhamdulillah dapat spot duduk yang lumayan oke. Chants-chants Arsenal pun terdengar megah sebelum pertandingan. Saya pun ikut berteriak menyanyikan chants yang hanya beberapa saja dihapal.

Pukul 20.45 WIB peluit kick off pun ditiup. Agak sedikit kecewa karena tidak ada nama Jack Wilshere di list pemain Arsenal. Belakangan diinformasikan bahwa ia terkena flu. Namun, bisa jadi memang ia sengaja disimpan karena Arsenal masih harus melawat ke Vietnam dan Jepang dalam laga tur pra musim Asia ini. Begitu juga Ryo Miyaichi yang terkena cedera ringan saat latihan kemarin, sehingga tidak dapat bermain hari ini.

Pemain-pemain muda Arsenal pun dimainkan di sini. Ada nama Chuba Akpom, Thomas Eitsfeld, Kris Ollson, Gideon Zelalem, Serge Gnabri dan Ignasi Miquel. Dari nama-nama ini, saya mendukung Serge Gnabri dan Gideon Zelalem untuk masuk ke skuad utama musim ini. Gnabry memiliki tipikal bermain seperti Chamberlain yang memiliki footwork baik dan kecepatan dribble memukau. Sedangkan Zelalem, meskipun bertubuh kurus namun visinya begitu luar biasa sebagai seorang gelandang tengah. Dia pun kemudian disebut-sebut memiliki kemiripan bermain seperti eks gelandang Gunners, Cesc Fabregas. Dan memang, selama pra musim di Asia ini Zelalem menjadi “bocah” Arsenal yang paling bersinar.

Pertandingan berjalan seru dan cenderung berat sebelah, hingga akhirnya skor akhir menunjukkan 0-7 untuk Arsenal. Gol dicetak oleh Walcott, Akpom, Giroud (2 gol), Podolski, Ollson dan Eitsfield.

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menyaksikan Arsenal secara langsung. Ini seperti “naik haji” bagi saya dan saya boleh berbangga untuk resmi melepas embel-embel “fans karbitan” hari ini. Sebab, selama ini saya hanya bisa membeli jersey KW Thailand alih-alih jersey original yang official. Nah, sekarang dari tiket yang saya beli itu artinya saya sudah memberi pemasukan langsung untuk Arsenal, yang dalam candaan saya bisa untuk tambahan pembelian Wayne Rooney atau Luis Suarez.

Setidaknya, saya tidak seperti fans klub sebelah. Yang selalu mengaku sebagai fans die hard tapi ketika tim mereka batal hadir, langsung mengamuk meminta uang tiketnya dikembalikan. Ya, kalau memang mengaku fans sejati mbo’ ya diikhlaskan saja uangnya. Is that what you called DIE HARD FANS, ha? Hehehe…

Beruntung saya bisa melihat langsung bagaimana besarnya tubuh Giroud yang membuatnya, tidak jauh seperti yang saya lihat di TV, terlihat agak lambat dan berat namun memiliki power, keeping ball juga positioning yang keren. Walcott dengan kecepatan larinya yang super, meskipun di pertandingan ini tidak terlalu ia perihatkan. Chamberlain yang di sini ditunjuk sebagai playmaker menggantikan posisi Cazorla. Kemampuan dribblingnya memang mengagumkan.

Menuju ke tengah, saya melihat begitu pesatnya perkembangan Aaron Ramsey sebagai penyeimbang tim dengan stamina yang di atas rata-rata. Lalu semakin sentralnya peran Mikel Arteta sebagai seorang pemimpin yang sanggup memberikan ketenangan kepada para pemain di tengah lapangan. Juga Tomas Rosicky yang di umurnya yang sudah tidak muda lagi tetap bisa memberikan kontribusi maksimal berupa dribbling dan visi bermain yang apik.

Mundur ke belakang. Per Mertesacker memang benar-benar seakan lamban dan melayang. Tubuhnya begitu tinggi namun dengan pengalamannya dapat membaca permainan dengan cukup baik di belakang. Laurent Koscielny merupakan sosok petarung sejati yang rela berjibaku demi mempertahankan gawangnya dari kebobolan. Lalu ada Kierran Gibbs yang semakin membuat saya yakin bahwa dia bisa menjadi the next Ashley Cole di Arsenal. Juga Bacary Sagna, yang menurut feeling saya potensial menjadi bek tengah di samping menjadi right full back. Mengingatkan saya pada sosok Lilian Thuram, bek dan legenda Prancis dan Juventus. Dan terkahir, Carl Jenkinson yang besar di keluarga Gooners bisa berkembang menjadi pilihan utama bek kanan Arsenal menyaingi Sagna. Karena bagi saya ada satu faktor yang membuat Jenkinson lebih baik dari Sagna: Kemampuan offense dan teknik yang lebih baik.

Dari sisi kiper, Cezny memang tidak bermain di pertandingan ini. Namun, kehadiran Lukas Fabianski membuat saya berpikir bahwa Arsenal tidak terlalu membutuhkan kiper baru semisal Julio Cesar. Karena duo kiper Polandia ini sudah cukup bagus di mistar gawang Arsenal.

Sedangkan untuk Arsene Wenger, saya sama seperti kebanyakan Gooners lainnya yang mendesak ia untuk membeli pemain baru. Kedalam skuad di Arsenal diperlukan bila ingin bisa konsisten di berbagai kompetisi yang diikuti The Gunners. Pemain yang saya harapkan Wenger bawa adalah: Luis Suarez, Ashley Williams dan Maouranne Fellaini. Setidaknya, Wenger harus memboyong tiga pemain bagus di tiga posisi itu: Striker, gelandang jangkar, dan bek tengah untuk memperkuat tim.



GURUH GIPSY

Well, tetap saja, kemenangan 7-0 ini menimbulkan banyak cercaan atau kecurigaan terhadap kami para gooners. Via twitter, status BBM dan banyak lagi, public dan juga ada beberapa teman saya yang mengira gooners kehilangan semangat nasionalismenya. Kurang lebih pernyataan mereka seperti ini:
-          Wah, pada seneng ya Indonesia dibantai Arsenal!
-          Bukannya dukung Indonesia malah dukung tim luar!
-          Sedih ngeliat para penonton seneng pas Arsenal golin gawang Kurnia Meiga
-          Dan banyak sindiran lain yang mengarah ke kami para Gooners

Ironisnya, salah satu kerabat yang sama, yang nyinyir perihal kesadisan Arsenal mengalahkan timnas Indonesia dan mengagungkan (katanya) semangat Nasionalisme, sepekan kemudian malah datang dan mendukung Liverpool (tentu mengenakan jersey Liverpool juga) mengalahkan Indonesia di Gelora Bung Karno. So funny, isn’t it?

Anyway, di sini saya coba meluruskan keadaan. Saya berbicara ini dari sudut pandang saya pribadi, ya. Kami, gooners, bukannya tidak nasionalisme kok. Melainkan hanya menghormati tamu yang kebetulan adalah klub favorit kami. Bukankah bangsa ini sendiri yang menanamkan pada kita nilai-nilai menghargai dan menghormati orang lain dalam hal ini tamu?

Lagipula, hal ini sudah menjadi mimpi kami sejak lama untuk melihat secara langsung permainan Arsenal. Terlebih seperti saya yang belum memiliki kecukupan finansial untuk menonton langsung Arsenal di Inggris tentu kesempatan ini tidak bisa disia-siakan begitu saja.


Jujur, agak aneh bagi saya untuk mendengar seruan NASIONALISME dari mereka yang masih memenuhi playlist Coldplay, Maroon 5, atau Rihanna di mp3 player atau handphone mereka ketimbang mendengarkan lagu Afgan, Noah, Gigi atau Rossa. Gengsi atau kurang keren kalau mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu Indonesia, katanya.

Coba saya tanya, lagu apa yang terakhir kalian dengar dan dendangkan dari smartphone atau laptop kalian?

Pula saya yakin bahwa berita kepastian band legend rock Metallica akan manggung di Jakarta tanggal 25 Agustus 2013, lebih menarik perhatian kalian ketimbang fakta bahwa ada grup band legendaris Indonesia besutan Guruh Soekarno Putra dan gank pegangsaan (Chrisye dan Keenan Nasution) bernama Guruh Gipsy, yang piringan hitam atau vinylnya masih dicari pecinta music luar negeri hingga saat ini.

Jangankan tertarik, saya juga yakin  tidak banyak dari kalian yang tahu bahkan pernah mendengar band bernama Guruh Gipsy ini.

Atau jika kita kembali berbicara sepakbola, pasti kalian lebih tahu nama anak Lionel Messi yakni Thiago ketimbang anaknya Bambang Pamungkas. Sama seperti halnya, ketidaktahuan kalian akan nama istri dari Firman Utina sedangkan kita fasih sekali menyebutkan nama kekasih Cristiano Ronaldo, Irina Shayk.

Ayolah, berat bagi kita yang “sok peduli” ini untuk menyebutkan kata NASIONALISME. Sebab Nasionalisme ini sakral dan tidak sembarangan orang bisa memaknai ini dengan sejati. Dan kita belum cukup modal untuk itu.

Percayalah, kami para Gooners, juga sedih kok saat Boaz gagal menyelesaikan peluang emas di depan gawang Arsenal. Bahkan saya pribadi juga kesal dengan permainan si naturalisasi yang bermain untuk Persib itu, yang menurut saya hanya bisa berlari-lari kecil dan melompat tidak jelas selama pertandingan. Melihat penampilannya yang miris, muncul kerinduan saya akan sosok Widodo C Putro, Rocky Putiray, Budi Sudarsono atau Ilham Jayakusuma di lini depan Garuda.

Dalam hati, saya berharap setidaknya Indonesia mampu mencetak gol dan juga Arsenal seharusnya tidak perlu mencetak gol sebanyak itu. Namun, saya paham mereka adalah pesepakbola professional yang hanya ingin menghibur para fansnya yang sudah membayar mahal untuk itu.

Lagipula, para punggawa Arsenal sudah lama tidak bermain bola imbas dari libur kompetisi. Jadi, setelah lama tidak bermain tentu ada kecenderungan menjadi “gila” saat bertemu kembali dengan bola.  Dalam hal lain pun kalian pasti juga akan merasakan hal ini ketika memiliki passion yang kuat terhadap sesuatu. Benar tidak?

Seperti yang pernah dikatakan oleh legenda hidup sepakbola asal Argentina, Diego Maradona.

“To see the ball, to run after it, makes me the happiest man in the world”

Sahabat, meskipun jersey yang kami kenakan adalah Arsenal dan berlogokan meriam, percayalah kalian semua bisa pastikan lalu belah dada kami. Di sana akan terlihat bahwa jantung kami masih berbentuk gagahnya GARUDA, aliran darah kami masih pekat berwarna MERAH dan tulang kami pun akan tetap selalu berwarna PUTIH.

It’s all just about respecting people and fulfilling our passion on being a GOONERS. That’s it. Case closed.


  










Minggu, 28 Juli 2013

Ke Jakarta Aku Kan Kembali

                                                                                                            16 Juni 2013




Saat ini saya baru saja melewati Stasiun Malang menuju jalan pulang ke Jakarta. Seperti yang sudah diperkirakan, kunjungan ke malang 2 hari 1 malam ini tidak cukup. Perjalanan banyak tersita di atas rel ketimbang jalanan aspal kota Malang.

Di hari pertama, setelah melalui kurang lebih 15-16 jam perjalanan keretam saya dan Igo langsung menemui Feby untuk segera ke rumah pengantin yakni teman kami, Dita. Tidak ada waktu istirahat, karena pada jam 11 acara resepsi akan berlangsung. Tak sia-sia perut kososng selama perjalanan, pada saat acara resepsi hampir semua jenis makanan yang tersedia kami lahap. Kenyang!

Setelah selesai acara resepsi, kami langsung menuju hotel untuk istirahat sejenak. Ema, teman kami menyusul ke hotel untuk kemudian mengajak kami untuk berwisata kuliner bakso bakar. FYI, Ema adalah teman kami –begitu juga Dita- saat  “berguru” di kampung Inggris-Pare, beberapa tahun yang lalu.

Malamnya, pengantun baru mengajak kami mlaku-mlaku alias jalan-jalan ke Batu. Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di daerah wisata Batu, tepat di alun-alunnya. Langsung saja kami menuju kedai susu murni yang terletak di pinggir alun-alun. Rasa susu hangatnya tetap sama, suegerr tenaaannn..

Suasana alun-alun begitu berbeda dibanding terakhir saya ke sini 4 tahun lalu. Orang lalu-lalang oenh dan disesaki pula oleh kendaraan bermotor yang memarkir di sana –sini. Kebetulan pula sedang ada BATU FAIR (sejenis Jakarta Fair) di sekitar alun-alun. Muda-mudi hilir mudik membuat mata yang mengantuk ini menjadi segar sekejap. Ditambah banyak penampakan gadis cantik rupawan di sini.

Alun-alunnya meriah sekali dikarenakan banyaknya arena bermain seperti kincir-kincir, playground dan mobil-mobilan kecil untuk anak bermain. Khusus kincir-kincir, bentuknya begitu megah mengingatkan saya kepada The London Eye-nya Inggris.




Di salah satu sudut pun kita bisa melihat anak-anak kecil main air. Airnya muncul dari bawah tanah, seperti permainan air mancur yang ada di Lollypop dalam mal-mal Jakarta. Tetapi yang ini berbeda, anak-anak bisa bermain secara cuma-cuma, ya Gratis. Hebat juga, ya, main air diselimuti udara dingin kota Batu..

Saya sungguh salut dengan pemerintah setempat yang bisa membaurkan masyarakat ke dalam suatu wadah yang meriah dan murah. Muda-mudi memadu kasih, anak kecil main yang ditemani para orang tua menjadi pemandangan lumrah di tengah warna-warni dan kelap-kelip alun-alun Batu.

Tidak lama kemudian kami pun pulang. Selain karena saya, Igo dan Feby sudah lelah tentu kami juga ingin mempersilakan Dita dan mas Fajar, suaminya, untuk melanjutkan “kegiatan” lainnya. If you know what I mean..

Pertandingan sepakbola antara Spanyol U-21 vs Norwegia U-21 pun menjadi tidak menarik bagi saya. Hanya sanggup menonton satu babak, akhirnya pun saya tertidur.

Keesokan paginya, saya menyempatkan diri untuk melihat aktivitas  “Car Free Day” di jalan raya sekitar hotel, sebelum sarapan pagi. Ya, ramai dan tertib.

Selepas dzuhur kami pun check out dari hotel kemudian kembali ke rumah Dita untuk pamitan. Seperti biasa, sambutan orangtua dan keluarganya begitu baik. Sang ibu memberi jaminan tempat numpang menginap bila suatu saat kami kembali datang ke Malang lagi. Kami benar-benar berterima kasih atas sambutan keluara Dita yang tulus. Keluarga yang hangat dan menyenangkan.

Empat stasiun sudah terlewati saat saya ingin mengakhiri tulisan ini. Oh iya, saat perjalanan kereta dari Jakarta menuju Malang kemarin saya mendapat kabar baik. Kakak saya melahirkan seorang putri cantik, Vania namanya. Tentu, sudah tidak sabar saya ingin bertemu dan mencium pipi imut si kecil Vania.

Bukan hanya itu, saya juga tidak sabar ingin bersua kembali denganmu, iya, kamu…

Ke Jakarta aku kan kembali…


Selasa, 09 Juli 2013

Ujian di Hari Pertama Ramadhan

Rabu, 9 Juli 2013.

Tuhan melalui JakartaNya langsung memberikan ujian berat buat gue di hari pertama bulan Ramadhan. Pulang kerja yang sudah seharusnya jam 5 sore, agak tertunda ketika gue masih ingin melanjutkan pekerjaan. Terlebih di luar hujan dari siang nggak berhenti-berhenti. Akhirnya pun gue keluar kantor tepat pukul 17.22 WIB.

Seperti biasa, Transjakarta di kondisi hujan seperti ini sulit untuk diharapkan, karena hujan sedikit saja sudah pasti membuat lajunya tersendat sehingga diharuskan menunggu waktu yang lama, ditambah kondisi jalanan macet membuat gue lebih memilih kereta sebagai transportasi alternatif.

Sial buat gue ketika angkot yang gue naiki ternyata harus berputar mencari jalan lain saat sang sopir menemui kebuntuan di kemacetan Jakarta. Padahal gue harus naik angkot ke-dua di step berikutnya. Jadilah gue diturunkan di dekat jembatan Jati Petamburan yang untuk menaiki angkot rute lain berikutnya.

Hujan benar-benar nggak mau berhenti dan gue lupa bawa jaket parasut. Kuyup.

Angkot yang gue tunggu-tunggu nggak kunjung datang. Akhirnya, gue memutuskan untuk jalan kaki di tengah guyuran hujan. Jalanan yang becek penuh genangan air yang tinggi membuat gue harus berhati-hati dalam berjalan. Trotoar yang semestinya sudah menjadi hak gue pun dijajah oleh para pedagang makanan warung tenda. Bahkan, ada satu adegan yang memuakkan ketika gue harus, “Permisi ya, pak. Numpang lewat, maaf,” mengatakan ini kepada pedagang tersebut saat melewati warung tendanya. Gue pun bingung kenapa bisa minta maaf pada mereka.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan gue berjalan di sisi kali Jati Petamburan yang airnya sudah begitu tinggi. Lagi-lagi gue harus berjibaku dengan motor-motor yang lewat plus trotoar yang dijajah oleh para pedagang. Jarak tempuh yang harus gue lalui dengan jalan kaki ini mungkin mencapai 1 km, dan hari sudah semakin senja, gue harus tetap bisa mengejar kereta jam 6 karena gue bertekad untuk berbuka puasa hari pertama di rumah.

Tak terhitung sudah berapa kali ucapan kotor berbau kebun binatang keluar dari benak atau mulut gue, memaki kondisi yang gue alami saat ini. Jarak yang jauh, cipratan genangan air dari pengendara sepeda motor dan hujan yang kadang deras-kadang sedang.

Akhirnya, setelah jalan kaki cukup jauh gue menaiki angkot yang mengarah stasiun Tanah Abang. Sebenarnya, nggak terlalu jauh, tapi karena gue harus mengejar waktu jadilah gue naik angkot ini. Sesampainya di stasiun, gue dan penumpang lainnya pun turun untuk lalu memberikan ongkos ke sopir. Di sini gue kalut, hehehe. Gue yang buru-buru pun kesal saat gue ingin kasih uang, sang Sopir malah sibuk menghitung uangnya. Jadilah gue melempar duit gue ke jok samping Sopir. Gue pun harus menabrak seorang penumpang untuk itu, saking nggak sabarnya.

Lalu, gue pun berlari menaiki tangga stasiun Tanah Abang tanpa terlalu memperdulikan kondisi anak tangga yang becek terkena hujan. Setelah membeli tiket, gue pun bertanya ke petugas, “kereta ke Bogor sudah datang?.” “Itu baru saja datang, buruan cepat ke peron 3!” kata petugas. Gue pun berlari dan menerobos puluhan orang yang baru turun kereta, di tangga stasiun menuju peron. Di sini gue sempat khilaf dengan agak kasar mendorong pemuda yang berjalan lambat di depan gue, untuk “overlapping."

Kereta masih menunggu, namun pintu sudah siap tertutup sampai, Gue berlari secepat mungkin masuk ke dalam kereta. Tak peduli, gue menabrak (lagi) sekumpulan penumpang kereta yang mengendap di mulut pintu. Untuk yang satu ini gue nggak peduli, dan nggak merasa bersalah sekalipun meskipun terdengar keluhan-keluhan minor dari mereka setelah gue menabrak –sebenarnya kata menyenggol lebih tepat—, karena siapa suruh mereka berkumpul di situ,di saat sebenarnya di deretan kursi masih banyak space kosong untuk berdiri. Gue paham sih, hal itu mereka lakukan agar nggak sulit turun ketika sudah sampai di stasiun tujuan.

Napas gue pun tersengal setelah melewati berbagai macam “rintangan” tadi menuju stasiun dari kantor. Sebenarnya untuk jadwal kereta Bogor berikutnya masih ada jam 18.33 WIB. Namun, butuh waktu setengah jam lagi buat gue tunggu. Jelas gue nggak mau, karena gue sudah tekad untuk berbuka puasa hari pertama di rumah.

Ahh, betapa durasi setengah jam sangat berarti di Jakarta. Meleset sedikit saja semuanya bisa berantakan. Kalau saja tadi gue telat beberapa detik saja, dipastikan gue bisa nggak ikut kereta 18.00 dan ini akan berujung pada kemacetan atau hambatan lain, sehingga gue akan telat berbuka puasa di rumah.


Adzan sayup-sayup terdengar dari masjid di dekat stasiun. Hampir saja gue lupa kalau saat ini gue sedang berpuasa. Korma 3 buah yang sudah gue siapkan pun jadi enggan gue cicipi karena kondisi dalam kereta yang cukup penuh.

Akhirnya, setelah sukses mengatur napas , gue pun membatalkan puasa pertama gue dengan tegukan air minum saja. Alhamdulillah.

Jumat, 29 Maret 2013

JAKARTA ADA-ADA SAJA, YA!


       Picture by: Gito Barkah


Ya, belum sampai seminggu kemarin ada mayat tergeletak di jembatan penyeberangan persis depan kantor gue. Beruntung gue tidak melihat langsung, berbeda dengan teman gue yang sempat melihat tubuh sang mayat mulai membiru. Tidak jelas disebabkan oleh apa, yang pasti fenomena itu cukup tidak lumrah buat gue sejauh gue tinggal di Jakarta.


Yaudahlah, topik tadi begitu menyeramkan. Bagaimana kalau kita membahas hal yang lebih menyenangkan?


Oke, suatu pagi seperti biasa gue berangkat kerja ke kantor via Transjakarta. Dan seperti biasa (lagi) gue berdiri, tidak dapat tempat duduk. Nah, pointnya di sini, nih. Ketika di depan gue ada seorang ibu dengan 3 anaknya, plus asisten rumah tangga.


Tidak ada yang aneh sampai tiba-tiba salah satu anak, yang gue takar kira-kira berumur 10 tahun, sedang menggenggam Samsung Tablet sambil duduk dengan sikap leyeh-leyeh. Yah, namanya juga anak-anak, mungkin dia belum dapat pelajaran sikap Tenggang Rasa, sehingga tidak mempedulikan gue yang berdiri sambil bersimbah peluh kegerahan. Well, gue tidak sedang mengeluh, ya. Hehehe.


Yang menarik adalah si anak Tab ini mendengarkan lagu dari Tabnya tanpa menggunakan earphone. Volumenya tak tanggung-tanggung: sepertinya mampu terdengar seantero Transjakarta. Lagunya? Jangan ditanya. Tak tanggun-tanggung lagunya Bruno Mars (maaf gue tidak tahu judulnya, yang pasti lagunya baru dan familiar di telinga) dan Laruku (gue juga tidak tahu judulnya). Dan bahasa tubuhnya pun sungguh menggemaskan. Mulutnya bergumam. Ya, dia hafal lirik lagu-lagu tersebut!


Yassalam, gue langsung flashback ke masa lalu saat gue seumuran dia kira-kira apa yang sering gue lakukan. Lalu, muncullah Galaksin, Tak Benteng, Taplak, Gundu alias Kelereng di benak, dan oh, timbullah “diobok-obok”nya Joshua, lagu-lagunya Sherina, (dulu gue naksir berat ini orang), Hits Trio Kwek-kwek yang dulu kadang segan gue nyanyikan karena gue pemalu. Ahh, pada pergi kemana kalian sekarang ini?


Tepat keesokan harinya, gue menemukan lagi cerita lain dari Jakarta. Sepulang kuliah, gue yang baru turun dari kereta langsung bergegas menuju angkot untuk pulang. Angkotnya ngetem seperti biasa (lagi-lagi). Pemandangan yang tidak lumrah, saat gue melihat sang sopir angkot sedang memangku anaknya, yang kira-kira masih 2 tahun, di depan kemudinya. Kesehariannya gue bisa melihat hal yang sama pada keponakan gue, yang dipangku bapaknya di depan setir, untuk jalan-jalan keliling sekedar untuk hiburan.


Yang ini jelas berbeda, si anak “dipaksa” orangtuanya untuk ikut dan menjadi saksi mata sang Ayah mencari nafkah. Tak lama, ibu nya datang. Pasangan suami-istri itu terbilang muda. Gue prediksi si Ayah tak lebih dari 24 tahun. Sedangkan istrinya mungkin sepantaran member JKT48 yang paling muda, deh.


Sepanjang perjalanan, si Ibu  menyuapi anaknya dengan tahu gorengan, yang tadi dibelinya dekat stasiun. Ayahnya merokok. Dan tak lama setelah ia selesai menghembuskan asap beracunnya itu, ia tarik lengan anaknya kembali ke pangkuannya. Sekarang, giliran sang Ibu yang merokok.


Gue sempat sedih waktu lengan anak itu ditarik Ayahnya, yang buat seumuran dia itu termasuk kasar. Keprihatinan gue tidak berhenti sampai di situ. Beberapa kilometer sebelum gue turun, angkot sempat menepi. Rupanya, duet maut Suami-Istri itu membeli sebungkus rokok tambahan serta minuman kopi kemasan. Yang namanya Ibu pasti rasa sayang ke anaknya begitu besar. Namun, masing-masing persona tentu memiliki caranya tersendiri untuk mengungkapkan hal tersebut.


Setelah selesai menyuapi goreng tahu ke anaknya, sang Ibu memberikan minuman kopi kemasannya itu untuk si buah hati. Ya, gue ulang dan lengkapi, minuman kopi kemasan yang mungkin harganya cuma Rp 1.000 dengan komposisi kafein yang tinggi! Jaman kuliah D3 dulu, gue sering minum kopi kemasan itu dan itu ampuh buat gue dan kawan-kawan menyelesaikan tugas sampai larut dengan mata melek sempurna.


Gue sih tidak tahu dampak apa yang diterima oleh bayi bila mengonsumsi kafein. Yang jelas itu bukanlah suatu hal yang positif.


Well, gue di sini sama sekali tidak menghakimi atau menyalahkan kedua orang tua tangguh tersebut atas gorengan, tarikan lengan yang kasar, kopi kemasan dan asap rokoknya. Mungkin bagi mereka itu cara terbaik dalam mendidik anaknya untuk lebih tangguh dalam menghadapi kerasnya Ibu Kota, kelak.


Saat menulis ini, ada satu kalimat yang langsung terngiang di otak gue: INI JAKARTA, BUNG!

Minggu, 17 Februari 2013

Surat Konvensional


Tidak ada maksud saya untuk merayakan hari Valentine. Namun, hanya kebetulan saja bila tulisan saya kali ini agak berhubungan dengan percintaan. Saya menyadari bahwa ada tulisan yang belum ter-posting di dokumen saya. Jadi, daripada tulisan ini nantinya akan terlupakan atau bahkan hilang, lebih baik saya dokumentasikan di blog ini.. Hehehe... So, here's the story begin:


Mungkin saya adalah satu dari sekian banyak orang yang merindukan penggunaan surat secara konvensional (surat tulis tangan + amplop) bisa kembali eksis. Tak bisa dipungkiri dalam beberapa tahun terakhir fungsi surat konvensional ini tergeser oleh maraknya penggunaan surat elektronik seperti email, sms, bbm, bahkan Whats App.

Mengapa saya merindukan hal tersebut? Karena saya yakin surat konvensional memiliki value yang lebih mengesankan, ditambah lagi esensinya lebih mengena dan yang pasti terkadang memiliki efek hasil akhir yang di luar perkiraan. Ya, mungkin perasaan ini dikarenakan kondisi yang ada sekarang (baca: email, bbm, dsb) “mempermudah” segala sesuatunya, sehingga tidak menimbulkan kesan tertentu pada akhirnya.

Ambil contoh, sebut saja sepasang kekasih bernama Kanda dan Dinda (Ingat, ini bukan tokoh di sinetron Ind*siar, ya). Sore itu, mereka merencanakan untuk jalan dan makan bareng dalam rangka merayakan 3 bulanan mereka. Beberapa hari sebelumnya, Kanda sudah menyiapkan surat (ya bisa dibilang surat cinta) untuk Dinda. Cuma ingat, Kanda tidak menuliskan suatu hal yang bersifat puitis, melainkan hanya surat biasa dengan topik pengalaman mereka berdua sejauh ini dan ucapan terima kasih.

Namun, ternyata hal-hal manis yang sudah dibayangkan oleh Kanda tidak semulus yang diharapkan. Ada beberapa kondisi yang membuat Kanda agak kesal dengan Dinda. Sore itu, perdebatan kecil terjadi di kostan nya Dinda. Kanda sebisa mungkin menahan amarah, karena dia tidak mau merusak kencannya malam nanti. Saat sudah menuju mobilpun situasi kaku pun kental terasa. Masing-masing menahan ego nya entah dengan tujuan apa.

Sesampainya di mobil, Kanda tidak langsung menginjak gasnya, melainkan berhenti sejenak, dan mempersilahkan Dinda membaca surat yang sudah Kanda letakkan di kursi depan. Perlahan suasana mencair. Ada seutas senyum dari mereka berdua. Kanda yang malu, memilih untuk agak menjauh beberapa meter untuk membiarkan Dinda membaca suratnya.

Selesai Dinda membacanya, Kanda melihat kekasihnya tersebut menangis. Lalu, didekatinya dan Kanda tidak menyangka situasinya akan seperti ini, “Kamu kenapa nangis?.”

“Aku sedih, terharu aja. Aku nggak nyangka kamu buat surat kayak gini,” kata Dinda dengan air mata sedikit menggenang. “Terima kasih ya, Kanda.”

Lalu, Kanda memberi seutas bunga mawar merah yang memang sudah dipersiapkan dari tadi. Tambahlah deras air mata Dinda.

Kali ini suasana begitu hangat. Hanya keindahan yang mereka berdua rasakan, saat masing-masing memeluk orang terkasihnya dengan sangat erat. Begitu dalam. Begitu lama. Hingga pudar segera rasa ego masing-masing.

“Maafin aku ya, Kanda.”

“Kamu yang mesti maafin aku. Karena aku ngerasa aku terlalu keras untuk masalah sesepele ini,” ujar Kanda, sesaat setelah mencium ubun-ubun kekasihnya itu.

Well, menulis surat secara konvensional memang menyenangkan. Sebab, sekalipun sederhana namun tak terduga efeknya begitu monumental.

Jumat, 16 November 2012

PSMS (Paul, Sheehan, Mike, Sherenian) @RockFest 2012


(photo by: Apri)

Malam itu saya dan 3 teman saya, Apri, Igo, dan Polin sudah berada di lapangan D Senayan untuk nonton RockFest. Jakarta yang baru saja diguyur air hujan nyatanya bersahabat dengan para pencinta music Rock. Lapangan yang dijadikan venue cukup kering dan tidak becek serta langit tidak menunjukkan “niat”nya untuk mengeluarkan hujan lagi.


“Gila, ini keren banget pawang hujannya,” celetuk Igo.

Di sana tampil begitu banyak band-band Rock yang notabene bukan mainstream seperti Besok Bubar Band, Miracle Band, dsb. Bahkan ada juga sebuah band, yang vokalisnya adalah Ringgo Agus Rahman (Artis Ibu kota) yang sayang musiknya tidak dapat saya cerna.

Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, yakni PSMS Band (Jangan heran akronimnya mirip dengan klub Sepakbola Indonesia milik Medan) bermaterikan Mike Portnoy (Drum), Derek Sherenian (Keyboard & Piano), Paul Macalpine, dan Billy Sheehan. Tak heran begitu banyak orang mengenakan kaos bertajuk Dream Theater dan MR BIG (saya pun mengenakan  kaos MR BIG). 

Terbersit di hati, “Wajar ya pakai baju MR BIG, soalnya kan Billy Sheehan masih menjadi salah satu personilnya. Nah, bagaimana dengan Dream Theater? Bukankah Mike Portnoy sudah terdegradasi dan belum lama ini digantikan oleh Mike Mangini?”

Langsung saja saya men-twit, “Menonton aksi Mike Portnoy dengan kaos Dream Theater kondisinya nyaris serupa dengan orang yang menonton aksi Manchester United dengan mengenakan jersey Arsenal bertuliskan nama punggung Van Persie. Susah Move On.”

Setelah gerai hitam diturunkan dari atas panggung, muncullah satu persatu sekelompok yang sudah lama kita nanti-nanti. Dimulai dari Derek Sherenian, disusul oleh Macalpine, lalu muncul sosok yang sudah kita “kenal” yakni Mr Billy Sheehan, dan terakhir Mike Portnoy maju dan menjadi pusat perhatian.

Saya harus mengakui bahwa saya bukanlah seorang musisi, saya bukanlah pula seorang drummer, melainkan saya hanya penikmat music. Namun, saya mendadak berkeinginan menjadi seorang drummer setelah menikmati music Dream Theater. Tak lain ini karena jasa seorang Portnoy. Performanya menggebuk drum membuat saya menepikan “dogma” lama yang bodohnya sudah terlalu lama melekat di otak saya, bahwa: Drum hanyalah elemen music pelengkap yang tidak terlalu penting.

Saya mensejajarkan skill Portnoy dengan Joe Satriani dalam versi Drum. Ya, dengan ketukan, speed, dan teknik Drumnya, Portnoy seolah bisa membuat alunan drum menjadi sebuah music yang indah tanpa menggunakan instrument lainnya.

PSMS Band hanya menampilkan music instrument tanpa ada vokalis. Di sela-selanya, bergantian mereka melakukan solo. Pertama, Tony Macalpine memamerkan keahliannya bermain gitar, yang bagi saya – orang awam yang tidak tahu menahu tentang teknik music – permainannya ya kurang lebih sama seperti John Petrucci dan Guitar heroes lainnya. Tony terbilang personel yang cukup kalem di sini.

Sedangkan Derek Sherenian lebih terlihat arogansinya. Lucu, sesaat setelah dia melakukan solo yang disusul oleh sorakan decak kagum penonton, dia memilih memasang muka angkuh (tentu dengan gaya bercanda), mengingatkan saya dengan tokoh Severus Snape dalam film Harry Potter.

Beralih ke Billy Sheehan. Ya, dia tidak banyak berubah dibanding saat saya menonton MR BIG di Java Rockinland 2009 lalu. Bergaya flamboyan – namun kali ini rambut kuncir emasnya mengenakan topi hitam-- , masih dengan jeans hitam ketat, dan sepatu ber-heels (gaya pria tentunya) agak tinggi. Dalam solonya dia banyak mengeluarkan jurus-jurus aneh, dengan manuver kedua tangannya yang bergerak dinamis. Saya pernah berkata pada Igo, “Go, dia tuh kayak gitu cuma gaya-gayaan ya?.” Igo menepis itu dengan mengatakan bahwa itu memang skill dia yang pastinya bawa perubahan besar dalam musiknya, dalam artian itu bukan asal-asalan yang nirmakna, melainkan itu ada tekniknya.

Seperti saya sebutkan di awal, bahwa Portnoy menjadi sorotan utama dalam pertunjukan kali ini. Bahkan, Portnoy yang saat maupun pasca menjadi personel Dream Theater memang banyak membentuk band project menjadi juru bicara selama konser. Dia lebih lantang berkali-kali menyapa kami para penonton  dengan beragam lawakannya, di jeda antar lagu. Yang cukup fenomenal adalah saat ia suatu kali menyinggung DREAM THEATER – tentu tanpa menyebutkan nama. Seperti kita ketahui bahwa Portnoy dikeluarkan oleh John Petrucci cs. dari band yang ironisnya juga dibentuk oleh Portnoy sendiri. Derek Sherenian pun juga “alumni” Dream Theater, yang kini posisinya ditempati oleh Jordan Rudes.

Ya, sepertinya band ini memang bentukkannya dia dan secara tak tertulis ini memang bisa disebut sebagai “konser tunggal”nya.

Saya tak hentinya berdecak kagum melihat permainan mereka membawakan lagu-lagu yang hampir seluruhnya saya tidak tahu. Hanya satu lagu yang sangat akrab di telinga saya, yakni saat Billy memainkan reff “To be with you” di tengah-tengah solonya. Selebihnya, belakangan saya ketahui bahwa PSMS juga membawakan lagu “Acid Rain” dan “Hells Kitchen” milik Dream Theater (correct me if I am wrong), secara instrumental.

Konser berjalan hampir 2  jam lamanya hingga mereka ber-4 perlahan meninggalkan panggung. Ahh cerita lama, ini hanyalah sebuah “aksi wajib” yang memancing penonton untuk meneriakkan ENCORE. Tak sampai 2 menit, mereka sudah kembali ke atas panggung. Lagu SHY BOY milik David Lee Roth band (yang juga di-cover oleh MR BIG) dibawakan sebagai lagu pamungkas. Di lagu ini, Billy Sheehan didaulat sebagai vokalis juga dan tentu sang actor utama, Mike Portnoy, ikut bernyanyi.

Selama pertunjukkan konser, mata saya hampir selalu tertuju pada Mike Portnoy. Entah apa yang salah, beberapa kali Portnoy berdiskusi dengan salah satu teknisi drumnya sepanjang lagu dimainkan. Saya ulangi lagi: sepanjang lagu dimainkan! Kepalanya menoleh ke samping untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang teknisi, tanpa harus kehilangan tempo bermusiknya. Ingat, music yang mereka mainkan adalah rock progresif. Tentu dibutuhkan skill yang dahsyat untuk meladeni tempo yang random (kadang cepat, kadang lambat), ketukan aneh, dan banyaknya settingan drum (tidak selumrah yang digunakan para drummer pada umumnya) yang ia gunakan. Portnoy melakukan itu semua dengan tanpa melihat, dan tanpa merusak irama lagu yang sedang dimainkan! Semuanya terlihat dan terdengar tetap perfect!

Saya sempat berpikir kalau Portnoy bukanlah manusia. Sama seperti Lionel Messi dalam kancah persepakbolaan. Ajaib dan di luar nalar manusia!

Maklum, saya menulis ini dengan point of view saya sebagai penikmat music yang tidak mahir bermain music, jadi apa yang disajikan oleh Portnoy dkk. Menjadi salah satu hal paling gila yang  pernah saya lihat, ya secara langsung. Terutama Portnoy, saya tak bosan dan henti mengatakan bahwa ketukan drumnya begitu empuk, cepat, dan mampu “membentuk”  indah suatu lagu itu sendiri. Flashback ke belakang, saya mengaguminya saat ia bersama Paul Gilbert meng-cover lagu  Led Zeppelin – band favorit saya. Yup, Portnoy juga merupakan pengagum berat almarhum John Bonham (Zeppelin's Drummer)

Saya dan teman-teman sempat menerobos masuk ke tenda tempat PSMS beristirahat pasca tampil. Sayang seribu sayang, mereka masih terlalu lama untuk berdiam di dalam tenda. Padahal saya ingin sekali bertemu dengan jarak yang dekat dengan Portnoy cs. saat nantinya mereka menaiki bus untuk menuju hotel. Yang membuat saya penasaran adalah: setinggi apa Mike Portnoy itu? Sepertinya tidak jauh dengan tinggi badan saya. Berbeda dengan Billy Sheehan yang memang cukup jangkung.

Kalau saja besoknya hari libur – bukannya hari Senin – tentu saya akan rela menunggu berjam-jam, bahkan menyusul ke hotel tempat mereka menginap.  Ya sudahlah, pada akhirnya saya hanya berharap bahwa Portnoy bakal menepati janjinya, sesaat sebelum turun panggung, untuk segera kembali datang ke Indonesia suatu hari nanti.

Ya, saya sudah menyaksikan langsung Mike Portnoy, drummer idola saya!

-RG-
16 Nov 2012
                                                                                                             (sumber foto: kapanlagi.com)