(12-05-2010)
Siang ini saya bersama Igo (teman saya) dan Ranggi (saudara saya)sudah berada di PATAS 45 jurusan ke arah blok M. Kami berencana ingin mengunjungi gedung SMESCO di jalan Gatot Subroto. Namun, bukan hal itu yang akan saya "pergunjingkan" di tulisan kali ini, karena ada hal lain yang menurut saya lebih menarik untuk "diperbincangkan"...
Ketika kami baru saja menaiki bus, sudah ada pengamen nyentrik di dalamnya. Laki-laki berumur sekitar 40/50an, berperawakan tidak terlalu tinggi, agak tambun, gelap kulitnya, topinya kupluk, rambut panjang sebahu dan dicat warna pirang, terakhir, Ukulele senjata andalannya.
Biasanya saya agak malas mendengarkan nyanyian pengamen yang tidak jarang menyanyikan lagu-lagu band-band IN**X atau DA**Y*T. Namun, bapak pengamen yang satu ini lain. Dia membawakan lagunya sendiri--katanya-- yang itu benar2 unik buat saya, dan mampu membuat saya tertawa.
" Oh iya, lagu berikutnya ini saya cipatakan sendiri. Beneran deh, ini disukain banget sama Ahmad Dhani..." kata Bapak pengamen itu, " Dia sering banget maen ke rumah saya,, suerrrr,,ini saya nggak boong"
Para penumpang --termasuk saya sendiri-- masih jaim, tampak masih menahan senyum atau tawa. Setelah itu dia langsung memulai lagunya. (Maaf saya tidak terlalu mengingat liriknya, jadi mungkin anda yang pernah melihat "perform"nya bapak ini bisa mengoreksi saya dalam penulisan liriknya).
Begini beberapa potongan liriknya :
" Di desa namanya Slamet...Di kota berubah jadi Salmond..."
" Di kampung namanya Markonah... Di kota jadi Merry...
dan masih banyak lagi nama2 orang yang diubah seenaknya untuk dijadikan bahan guyonan olehnya --sayang saya tidak sempat mencatat kesemua nama2 itu-- yang nyatanya sukses membuat beberapa penumpang mengeluarkan senyum kecilnya. Saya? Mungkin senyum saya yang paling lebar saat itu.
(lanjut)
Ini dia (kurang lebih) beberapa potongan lirik berikutnya:
" Sekarang udah banyak orang yang ganti nama. Yang jelek biar jadi keren..."
Kemudian masuk ke Reff ( dan ini yang membuat saya, Igo dan Ranggi tidak tahan lagi menahan tawa ) :
" Boleh aja ganti nama... Asal jangan nama Prancis... Bon Jovi...Bon Joko...Bon Rokok...Bon Warteg..." Reff 1.
" Boleh aja ganti nama...Asal jangan nama Belanda... Van Den Berg, Van Den Borg, Kedebog..." Reff 2.
" Boleh aja ganti nama...Asal jangan nama Inggris...Phill Collins, Phillkada, Phill koplo..." Reff 2.
Sayang anda tidak berada di sana saat itu, jadi anda tidak dapat merasakan apa yang kami rasakan. Tidak dapat merasakan kelucuan yang amat sangat dari pengamen itu.
Dia bawakan lagu itu dengan tidak jenaka, namun lawakannya mengalir-- seakan murni tidak dibuat2. Hal itu yang membuat saya kagum, karena metode lawak ini tidak common banget di Indonesia. Dan anda tahu, kali ini tawa kami tidak lah lagi kecil, melainkan sudah pecah tak terkendali. Beberapa penumpang lain pun sudah tidak tahan lagi tertawa, meskipun masih dengan mulut ditutupi. Ada juga yang masih berdiam tanpa reaksi. Entahlah, ada 3 kemungkinan bagi mereka, mungkin mereka merasa itu tidak lucu, mungkin mereka tetap jaim menahan tawa, atau mungkin sense of humor mereka sudah lenyap disapu oleh keruwetan kehidupan kota ???
Nyatanya saya tidak bertepuk tangan --tanda kalau saya masih jaim--ketika bapak itu bertanya " kok nggak ada yang tepuk tangan ??" ketika ia mengakhiri lagu. Namun, saya tidak bisa pungkiri kalau dia itu memang lucu.
" Ya saya ini penggantinya Mbah Surip... Nggak percaya? kalo nggak percaya silahkan di donlod lagu2 saya, saya baru aja rekaman kemaren..." kata bapak itu. Lagi-lagi raut wajahnya tidak terlihat seperti ingin melucu, bahkan terkesan serius. Namun, kami, khususnya saya sendiri tidak tahan tertawa mendengar tingkahnya.
" Atau kalo mau liat saya manggung...Anda bisa dateng ke Ancol, hari kamis malam Jumat Kliwon, jam 12 malem..." kata bapak itu serius, " Cuma harus tepat waktu datengnya, soalnya kalo udah lewat jam 12, saya udah bakalan ilang nggak ada lagi di sana.."
Tawa saya mulai mereda saat itu, namun senyum ini tetap terpajang. Saya benar2 takjub melihat "kegilaan" pengamen itu.
Dan benar... Banyak penonton yang sebagian dari mereka "malu2 kucing" ternyata cukup antusias dengan performa pengamen nyentrik itu. Hal ini jelas terlihat ketika ia mengedarkan ukulelenya pada para penumpang untuk dimasukkan uang. Uang2 Seribu Rupiah lah yang kebanyakan tampak.
Seketika bapak pengamen itu menghampiri saya, dan saya memberinya beberapa rupiah, saya bertanya " Bang, nama abang siapa ? "
" Sony... " tegas dia menjawab.
" Nama asli tuh bang ? ", tanya saya lagi sambil tersenyum.
" Ya kagak... Gue aslinya Somat !!" ,kalimat pamungkasnya keluar, sebelum dia turun dari bus.
Saya, Igo dan Ranggi terlonjak dan tertawa mendengar itu...
NB : Bang Sony a.k.a Somat,,, Saya tunggu kehadiran Abang di belantika dunia hiburan Indonesia !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar